LOGINRuang makan keluarga De Rucci selalu terlihat seperti tempat yang terlalu rapi untuk manusia biasa. Meja panjang dengan taplak putih bersih, piring porselen berjejer simetris, dan lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya ke wajah-wajah yang tampak tenang—atau terlalu terlatih untuk terlihat tenang.Patra duduk di antara Talia dan kursi kosong yang katanya untuk tamu lain. Akan tetapi, kursi itu tidak pernah terisi. Menimbulkan rasa tidak nyaman yang sejak awal sudah menempel di tengkuk Patra.Janette duduk di ujung meja, punggungnya tegak. Perempuan itu tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya seperti garis batas. Tidak perlu meninggikan suara untuk membuat orang lain tahu kapan harus diam, Janette, ibu dari Talia cukup datang dengan senyuman tipis tanpa kehangatan.Gerald duduk di sebelah Janette, sesekali mengangguk atau menimpali pembicaraan ringan ayahnya—kakek Talia, Luca. Tidak banyak emosi, tapi cukup untuk menjaga suasana tetap berkesan “keluarga.”Hera datang terakhir be
“Kamu yakin nggak ada masalah yang mau kamu ceritain?” tanya Talia sambil menatap Patra lekat-lekat. Patra sangat tidak nyaman. Apalagi mereka sedang tidak di tempat yang bisa membicarakan masalah privasi masing-masing. “Kenapa kamu nanya begitu?” balas Patra malas. Talia membuang napas keras. Perempuan itu tampak gelisah. Manik mata Talia berkali-kali melirik Patra ragu, kecewa, tetapi tetap berharap. Talia akhirnya menceritakan sepupu dari ‘wanita kedua’ kakeknya ternyata bertemu Patra di bisnis restorannya. Patra tampak berdebat kasar ke seseorang setelah adik sepupu Talia, yang ternyata Odi, setelah teman kantor Patra itu pulang. *** Athena berdiri tidak jauh dari keramaian, seolah sengaja memilih sudut yang tidak terlalu terang. Tangannya terlipat santai, tetapi matanya tidak lepas dari arah Talia yang meninggalkan Patra untuk mengambil minum. Dari dispenser sebelah tempat Athena berdiri. Talia yang sadar lebih dulu akhirnya mendekat. Langkahnya pelan, seperti seda
Sehari sebelum ulang tahun neneknya Talia, Patra diajak kekasihnya itu melepas penat bersama kakak perempuan tiri dan suaminya. Hera dan Remi. Ya, Patra juga berbohong tentang alasan ia menangis beberapa hari sebelumnya—keletihan karena jadwal kerja yang menyita akhir pekan. Malam itu,Talia pulang dengan ekspresi khawatir yang terus menghiasi wajahnya sampai masuk ke lift. Talia yang biasanya membalas pesan, keesokan paginya ia duluan yang mengirim pesan. Bahkan sempat bertanya apakah mereka bisa call. Patra yang kesiangan hari itu, jelas menolak halus sebelum mengirim selfie tersenyum manis. “Gue belum tau lagi ceritanya Odyssey,” keluh Remi yang berjalan di sebelah kiri Patra. Sejak bertemu di rumah Artemis, Patra sudah mendapatkan kesan tenang, sopan, dan bersifat menutup diri. Hera, yang membeli popcorn dan minuman bersama Talia, menyusul dari belakang dan berjalan di antara sang suami dan Patra. “Waktu itu, kan, aku nunjukin video musikal tentang Odysseus—yang Talia kirim!” tu
Tempat makan itu tidak seramai yang Patra bayangkan. Meja-meja kayu disusun rapi, cahaya matahari siang jatuh miring dari jendela, dan aroma roti panggang bercampur mentega memenuhi udara dengan cara yang anehnya menenangkan.Patra duduk sendirian di meja dekat kaca, memandangi jalanan Setiabudi yang mulai ramai oleh orang-orang makan siang. Odi sudah pulang setengah jam lalu. Katanya ada revisi mendadak dari klien YouTuber yang harus segera dikerjakan.Patra mengangguk waktu itu, pura-pura santai. Padahal ia tidak benar-benar ingin ditinggal sendirian di tempat yang sebelumnya terasa “ramai” karena ada Odi.Ia memesan dua menu toast. Satu untuk dirinya, satu lagi—entah kenapa—tetap ia pesan untuk Nero. Jam di ponselnya menunjukkan pukul satu siang lewat tujuh menit ketika pintu kaca itu terbuka pelan.Nero masuk tanpa tergesa. Kaos hitamnya sama seperti pagi tadi, tapi ekspresinya lebih kosong, seolah-olah sudah melewati sesuatu yang tidak ingin ia ceritakan.Ia berhenti sebentar, me
Namun, Patra pun juga jadi memikirkan pekerjaan cadangan yang tidak hanya menambah penghasilan. Peralihan atensi setelah capek bekerja dari jam sembilan pagi sampai lima sore bak robot. “Gue suka nulis, sih, ngetik … bantuin orang lain yang komunikasi verbalnya nggak sebagus itu….” “Agensi yang fokus sediain jasa PR?” sambar Nero asal. Patra lantas merespons lebih serius. Baginya komunikasi verbal itu berjasa di banyak hal. Para manajer atau CEO sebuah perusahaan yang cara pidatonya masih kaku, atau para influencers maupun penulis yang butuh jasa menulis orang lain untuk mempersingkat proses kreatif. “Kalau butuh konsultan bisnis baru lo itu, bilang-bilang ya!”“Oh, lo kerja di ranah marketing?” tanya Patra.Nero menggeleng. “Videografer rangkap fotografer di agen konsultan. Masih, magang, tapi udah ditawarin perpanjang jadi kontrak tiga bulan—mungkin karena gue iya-iya aja waktu uang saku sendiri—gue relain mereka potong….” “Lah, jangan dibiarin!” elak Patra tidak terima. Ia langsu
Patra berdiri canggung di dekat pintu terbuka. Masih di ruang laundry. Ia dan Nero bersama-sama menunggu selimut laki-laki itu selesai digiling. Kedua mata Nero fokus ke kaca mesin cuci yang memperlihatkan selimutnya bergulung-gulung dihiasi busa. Sementara atensi Patra tidak lepas dari Nero yang sesekali mendapat notifikasi dari ponsel laki-laki itu. Si pemilik benda pipih berakhir melengos tidak minat membuka pesan yang terus membuat ponselnya bergetar. Kepala Patra tidak berhenti berpikir. Ia tidak pernah sekalipun mengalami apa yang terjadi di mimpinya barusan setiap menonton film sama Talia. ‘Oke, next, gue harus ajak Talia nonton lagi,’ ucap batin Patra ke diri sendiri. ‘Tapi, masa gue ngajak nonton supaya dia megang-megang gue doang?’Patra menghembuskan napas berat. Kepalanya ia sandarkan ke dinding, tetapi tubuhnya kembali terdorong ke depan. Bagaimana tidak? Patra terlalu keras melempar kepala ke dinding. Sampai Nero yang daritadi menghiraukannya pun menoleh kaget. “Benta
Patra menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri. Lehernya mendadak terasa pegal karena menunduk. Usai menggelar kantung tidur milik Odi, sedangkan si empunya kamar kos tidur di kasur, Patra memang tertidur dengan tubuh meringkuk di balik selimut. ‘Tapi sejak kapan kipas angin di kamar Odi sedingi
Hari-hari Patra berjalan baik-baik saja. Selain bekerja dan menghabiskan akhir pekan berdua saja dengan Talia—terkadang bermain bersama Archie, mereka juga memberanikan diri konsultasi ke psikolog. Psikolog tersebut memang khusus menyediakan layanan konsultasi untuk pasangan, baik yang menikah,
Ketika kepercayaan membayangi setiap langkah Patra, tidak terasa tujuh bulan berlalu. Selama itu ia mengikat pikiran, hati, dan tubuhnya untuk Hestia. Oh, salah. Talia. Patra terlalu serius tenggelam dalam sajak-sajak Nikita Gill. Dagu Patra mendongak ke belakang—jam dinding di ruang divisi PR ka
“Lo kayak nenek-nenek, Pat,” kekeh Nero di belakang dua kursi bersebelahan yang diduduki Patra dan Shannon. Talia meninggalkan Patra yang rambutnya sudah digulung rod kecil dan sedang, untuk mencari krim pengeriting atau obat perming. Sementara itu, rambut kekasih Nero sedang digunting oleh Ifa. “







