ANMELDENTempat makan itu tidak seramai yang Patra bayangkan. Meja-meja kayu disusun rapi, cahaya matahari siang jatuh miring dari jendela, dan aroma roti panggang bercampur mentega memenuhi udara dengan cara yang anehnya menenangkan.Patra duduk sendirian di meja dekat kaca, memandangi jalanan Setiabudi yang mulai ramai oleh orang-orang makan siang. Odi sudah pulang setengah jam lalu. Katanya ada revisi mendadak dari klien YouTuber yang harus segera dikerjakan.Patra mengangguk waktu itu, pura-pura santai. Padahal ia tidak benar-benar ingin ditinggal sendirian di tempat yang sebelumnya terasa “ramai” karena ada Odi.Ia memesan dua menu toast. Satu untuk dirinya, satu lagi—entah kenapa—tetap ia pesan untuk Nero. Jam di ponselnya menunjukkan pukul satu siang lewat tujuh menit ketika pintu kaca itu terbuka pelan.Nero masuk tanpa tergesa. Kaos hitamnya sama seperti pagi tadi, tapi ekspresinya lebih kosong, seolah-olah sudah melewati sesuatu yang tidak ingin ia ceritakan.Ia berhenti sebentar, me
Namun, Patra pun juga jadi memikirkan pekerjaan cadangan yang tidak hanya menambah penghasilan. Peralihan atensi setelah capek bekerja dari jam sembilan pagi sampai lima sore bak robot. “Gue suka nulis, sih, ngetik … bantuin orang lain yang komunikasi verbalnya nggak sebagus itu….” “Agensi yang fokus sediain jasa PR?” sambar Nero asal. Patra lantas merespons lebih serius. Baginya komunikasi verbal itu berjasa di banyak hal. Para manajer atau CEO sebuah perusahaan yang cara pidatonya masih kaku, atau para influencers maupun penulis yang butuh jasa menulis orang lain untuk mempersingkat proses kreatif. “Kalau butuh konsultan bisnis baru lo itu, bilang-bilang ya!”“Oh, lo kerja di ranah marketing?” tanya Patra.Nero menggeleng. “Videografer rangkap fotografer di agen konsultan. Masih, magang, tapi udah ditawarin perpanjang jadi kontrak tiga bulan—mungkin karena gue iya-iya aja waktu uang saku sendiri—gue relain mereka potong….” “Lah, jangan dibiarin!” elak Patra tidak terima. Ia langsu
Patra berdiri canggung di dekat pintu terbuka. Masih di ruang laundry. Ia dan Nero bersama-sama menunggu selimut laki-laki itu selesai digiling. Kedua mata Nero fokus ke kaca mesin cuci yang memperlihatkan selimutnya bergulung-gulung dihiasi busa. Sementara atensi Patra tidak lepas dari Nero yang sesekali mendapat notifikasi dari ponsel laki-laki itu. Si pemilik benda pipih berakhir melengos tidak minat membuka pesan yang terus membuat ponselnya bergetar. Kepala Patra tidak berhenti berpikir. Ia tidak pernah sekalipun mengalami apa yang terjadi di mimpinya barusan setiap menonton film sama Talia. ‘Oke, next, gue harus ajak Talia nonton lagi,’ ucap batin Patra ke diri sendiri. ‘Tapi, masa gue ngajak nonton supaya dia megang-megang gue doang?’Patra menghembuskan napas berat. Kepalanya ia sandarkan ke dinding, tetapi tubuhnya kembali terdorong ke depan. Bagaimana tidak? Patra terlalu keras melempar kepala ke dinding. Sampai Nero yang daritadi menghiraukannya pun menoleh kaget. “Benta
Patra menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri. Lehernya mendadak terasa pegal karena menunduk. Usai menggelar kantung tidur milik Odi, sedangkan si empunya kamar kos tidur di kasur, Patra memang tertidur dengan tubuh meringkuk di balik selimut. ‘Tapi sejak kapan kipas angin di kamar Odi sedingin ini?’ pikir Patra masih enggan mengangkat kelopak matanya yang sebenarnya tidak terlalu berat. Patra merentangkan tangan ke atas sampai kursi kepala yang ia sandari memantulkan kepalanya…. “Eh?” pekik Patra kaget dan seketika membuka matanya lebar. ‘Gue … lagi ngapa–lagi nonton apa, nih, gue?’ Di depan Patra terbentang layar besar berbaris-baris kursi di depannya. Ruangan bioskop yang gelap menjadikan film dari layar lebar itu menjadi satu-satunya pencahayaan. Baru saja Patra ingin mengikuti alur mimpinya, mempertanyakan film apa yang sedang ditonton ke kursi seberang. Di mana seorang wanita duduk, tetapi suara dari sisi kiri Patra menghambat gerak mulutnya. “Kenapa? Nggak suka sama fi
Hari-hari Patra berjalan baik-baik saja. Selain bekerja dan menghabiskan akhir pekan berdua saja dengan Talia—terkadang bermain bersama Archie, mereka juga memberanikan diri konsultasi ke psikolog. Psikolog tersebut memang khusus menyediakan layanan konsultasi untuk pasangan, baik yang menikah, pra-menikah, maupun sedang berpacaran. Ketakutan Patra dan Talia sama-sama mengalir begitu saja keluar dari mulut mereka. Talia yang masih trauma menyaksikan bagaimana kehidupan berkeluarga beberapa saudara, khususnya Hera, yang disfungsional terhadap Jamie. Sementara itu, Patra juga takut kalau hanya ia yang merasa disayang dan dipenuhi hasratnya kalau menikah nanti. Awalnya Talia langsung mengelak kalau perempuan itu sama sekali tidak merasa terpaksa saat melakukannya. Sampai Patra memberikan petunjuk dengan mengetik nama Apollo tanpa suara di ponselnya. Talia melihat itu dan menggerakkan dua matanya ke si pskolog. Seakan memastikan, ‘Kamu yakin nggak mau sekalian nanya ada hubungannya
Ketika kepercayaan membayangi setiap langkah Patra, tidak terasa tujuh bulan berlalu. Selama itu ia mengikat pikiran, hati, dan tubuhnya untuk Hestia. Oh, salah. Talia. Patra terlalu serius tenggelam dalam sajak-sajak Nikita Gill. Dagu Patra mendongak ke belakang—jam dinding di ruang divisi PR kantornya. Masih agensi yang sama. Pandangan mata Patra yang berbinar karena jam sudah menunjukkan waktu pulang kerja, beralih ke mejanya. Ada sebuah plakat kecil bertuliskan Manajer PR. Patra terbiasa menyembunyikan benda yang terasa menggemakan jabatannya itu di dalam laci meja, tetapi Hardi memperingatkan agar jangan disembunyikan. ‘Mimpin yang humble itu emang bener, Pat, tapi lo kasih batas, ingetin anak-anak divisi lo untuk tau batas dan ngehargain kepala divisi mereka.’ Patra sudah meninggalkan keyakinan bahwa ia masih memiliki harga diri, sejak empat, atau lima tahun lalu. Kepala Patra sudah semakin lelah mengumandangkan nama pelaku yang bebas dari hukum tahanan. Talia menghargai bat
Tidak hanya Patra dan Talia, seseorang yang akan pindah ke rumah vertikal—usaha Boris besok. Minggu pagi. Tashi, Boris, dan Cherry juga menginap di rumah Artemis. Archie diajak tidur bersama kedua orang tuanya, begitu juga dengan keluarga kecil satunya lagi yang menempati kamar Archie. Dikarenaka
“Gue susah definisiin situasi lo … maaf ya, gue nggak pernah punya pengalaman sama orang yang nggak terlalu intim—tapi gue bisa bantu lo fokus bersyukur sama keadaan sekarang,” komentar Tashi sambil mengunyah keripik kentang, kudapan Cherry, anak perempuannya yang sedang bermain dengan Archie. Pere
Patra tidak percaya ia menghabiskan sisa jam kerja–sepanjang petang–bersama orang yang menjadi penyebab pertengkarannya dengan Talia. ‘Apa anak-anak muda jaman sekarang emang seliar itu?’ batin Patra tentu berasumsi negatif karena memang ada alasan yang mengganggu. Selama Patra berceletuk ria, ata
Sisa jam makan malam itu dihabiskan Talia yang melahap sisa bebek dan sopnya, tanpa menawari Patra. Biasanya mereka saling berbagi dan mencicipi. Patra berusaha berpikir positif, toh, miliknya juga sudah habis. “Kamu kalau udah selesai pulang aja,” tutur Talia memecah keheningan yang selama beberap







