Home / Urban / Hestia / Chapter 48 - Hides it for The Best

Share

Chapter 48 - Hides it for The Best

Author: Dyara
last update publish date: 2026-04-14 08:35:08
“Kamu yakin nggak ada masalah yang mau kamu ceritain?” tanya Talia sambil menatap Patra lekat-lekat. Patra sangat tidak nyaman.

Apalagi mereka sedang tidak di tempat yang bisa membicarakan masalah privasi masing-masing.

“Kenapa kamu nanya begitu?” balas Patra malas. Talia membuang napas keras. Perempuan itu tampak gelisah. Manik mata Talia berkali-kali melirik Patra ragu, kecewa, tetapi tetap berharap.

Talia akhirnya menceritakan sepupu dari ‘wanita kedua’ kakeknya ternyata bertemu Patra
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hestia   Chapter 50 - Love After Silence

    Kamar tamu di rumah De Rucci terlihat polos. Seprai putih yang tidak kusut, meja kecil tanpa debu. Lampu tidur kekuningan yang redup membuat semuanya cocok hanya dipandang, tidak memberi kenyamanan. Patra terduduk di ujung ranjang. Sudah lewat dua jam setelah makan malam berakhir. Talia pergi ke kamarnya sendiri setelah kekasihnya itu mendapat gestur peringatan dari sang ayah. Begitu juga Janette yang melayangkan pandangan menilai sebelum Patra naik ke kamar tamu. Pintu terbuka pelan, dan Talia masuk tanpa suara. Ia sudah mengganti kaos santai dengan piyama, rambutnya diikat seadanya, wajahnya lelah. Sudah pasti perkara obrolan panjang di ruang makan tadi. Patra langsung menoleh, seolah hanya itu yang ia tunggu sejak tadi.“Kenapa kamu belum tidur?” tanya Talia pelan sambil menutup pintu. Ia melangkah masuk tanpa terburu-buru, seperti memberi ruang bagi Patra untuk memilih mau bicara atau tidak. Patra menggeleng kecil, matanya tidak lepas dari wajah Talia.“Belum ngantuk,” jawab Pa

  • Hestia   Chapter 49 - The Place Patra’s New Mom Used to be….

    Ruang makan keluarga De Rucci selalu terlihat seperti tempat yang terlalu rapi untuk manusia biasa. Meja panjang dengan taplak putih bersih, piring porselen berjejer simetris, dan lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya ke wajah-wajah yang tampak tenang—atau terlalu terlatih untuk terlihat tenang.Patra duduk di antara Talia dan kursi kosong yang katanya untuk tamu lain. Akan tetapi, kursi itu tidak pernah terisi. Menimbulkan rasa tidak nyaman yang sejak awal sudah menempel di tengkuk Patra.Janette duduk di ujung meja, punggungnya tegak. Perempuan itu tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya seperti garis batas. Tidak perlu meninggikan suara untuk membuat orang lain tahu kapan harus diam, Janette, ibu dari Talia cukup datang dengan senyuman tipis tanpa kehangatan.Gerald duduk di sebelah Janette, sesekali mengangguk atau menimpali pembicaraan ringan ayahnya—kakek Talia, Luca. Tidak banyak emosi, tapi cukup untuk menjaga suasana tetap berkesan “keluarga.”Hera datang terakhir be

  • Hestia   Chapter 48 - Hides it for The Best

    “Kamu yakin nggak ada masalah yang mau kamu ceritain?” tanya Talia sambil menatap Patra lekat-lekat. Patra sangat tidak nyaman. Apalagi mereka sedang tidak di tempat yang bisa membicarakan masalah privasi masing-masing. “Kenapa kamu nanya begitu?” balas Patra malas. Talia membuang napas keras. Perempuan itu tampak gelisah. Manik mata Talia berkali-kali melirik Patra ragu, kecewa, tetapi tetap berharap. Talia akhirnya menceritakan sepupu dari ‘wanita kedua’ kakeknya ternyata bertemu Patra di bisnis restorannya. Patra tampak berdebat kasar ke seseorang setelah adik sepupu Talia, yang ternyata Odi, setelah teman kantor Patra itu pulang. *** Athena berdiri tidak jauh dari keramaian, seolah sengaja memilih sudut yang tidak terlalu terang. Tangannya terlipat santai, tetapi matanya tidak lepas dari arah Talia yang meninggalkan Patra untuk mengambil minum. Dari dispenser sebelah tempat Athena berdiri. Talia yang sadar lebih dulu akhirnya mendekat. Langkahnya pelan, seperti seda

  • Hestia   Chapter 47 - Double Date

    Sehari sebelum ulang tahun neneknya Talia, Patra diajak kekasihnya itu melepas penat bersama kakak perempuan tiri dan suaminya. Hera dan Remi. Ya, Patra juga berbohong tentang alasan ia menangis beberapa hari sebelumnya—keletihan karena jadwal kerja yang menyita akhir pekan. Malam itu,Talia pulang dengan ekspresi khawatir yang terus menghiasi wajahnya sampai masuk ke lift. Talia yang biasanya membalas pesan, keesokan paginya ia duluan yang mengirim pesan. Bahkan sempat bertanya apakah mereka bisa call. Patra yang kesiangan hari itu, jelas menolak halus sebelum mengirim selfie tersenyum manis. “Gue belum tau lagi ceritanya Odyssey,” keluh Remi yang berjalan di sebelah kiri Patra. Sejak bertemu di rumah Artemis, Patra sudah mendapatkan kesan tenang, sopan, dan bersifat menutup diri. Hera, yang membeli popcorn dan minuman bersama Talia, menyusul dari belakang dan berjalan di antara sang suami dan Patra. “Waktu itu, kan, aku nunjukin video musikal tentang Odysseus—yang Talia kirim!” tu

  • Hestia   Chapter 46 - No Toast for Heteropesimist

    Tempat makan itu tidak seramai yang Patra bayangkan. Meja-meja kayu disusun rapi, cahaya matahari siang jatuh miring dari jendela, dan aroma roti panggang bercampur mentega memenuhi udara dengan cara yang anehnya menenangkan.Patra duduk sendirian di meja dekat kaca, memandangi jalanan Setiabudi yang mulai ramai oleh orang-orang makan siang. Odi sudah pulang setengah jam lalu. Katanya ada revisi mendadak dari klien YouTuber yang harus segera dikerjakan.Patra mengangguk waktu itu, pura-pura santai. Padahal ia tidak benar-benar ingin ditinggal sendirian di tempat yang sebelumnya terasa “ramai” karena ada Odi.Ia memesan dua menu toast. Satu untuk dirinya, satu lagi—entah kenapa—tetap ia pesan untuk Nero. Jam di ponselnya menunjukkan pukul satu siang lewat tujuh menit ketika pintu kaca itu terbuka pelan.Nero masuk tanpa tergesa. Kaos hitamnya sama seperti pagi tadi, tapi ekspresinya lebih kosong, seolah-olah sudah melewati sesuatu yang tidak ingin ia ceritakan.Ia berhenti sebentar, me

  • Hestia   Chapter 45 - You Like Having Options, but Not as An Option

    Namun, Patra pun juga jadi memikirkan pekerjaan cadangan yang tidak hanya menambah penghasilan. Peralihan atensi setelah capek bekerja dari jam sembilan pagi sampai lima sore bak robot. “Gue suka nulis, sih, ngetik … bantuin orang lain yang komunikasi verbalnya nggak sebagus itu….” “Agensi yang fokus sediain jasa PR?” sambar Nero asal. Patra lantas merespons lebih serius. Baginya komunikasi verbal itu berjasa di banyak hal. Para manajer atau CEO sebuah perusahaan yang cara pidatonya masih kaku, atau para influencers maupun penulis yang butuh jasa menulis orang lain untuk mempersingkat proses kreatif. “Kalau butuh konsultan bisnis baru lo itu, bilang-bilang ya!”“Oh, lo kerja di ranah marketing?” tanya Patra.Nero menggeleng. “Videografer rangkap fotografer di agen konsultan. Masih, magang, tapi udah ditawarin perpanjang jadi kontrak tiga bulan—mungkin karena gue iya-iya aja waktu uang saku sendiri—gue relain mereka potong….” “Lah, jangan dibiarin!” elak Patra tidak terima. Ia langsu

  • Hestia   Chapter 39 - We Should Be More Honest, from the start

    “Lo kayak nenek-nenek, Pat,” kekeh Nero di belakang dua kursi bersebelahan yang diduduki Patra dan Shannon. Talia meninggalkan Patra yang rambutnya sudah digulung rod kecil dan sedang, untuk mencari krim pengeriting atau obat perming. Sementara itu, rambut kekasih Nero sedang digunting oleh Ifa. “

  • Hestia   Chapter 37 - You Don't Think You're Handsome?

    Rumah baru Talia sedikit mirip seperti rumah susun. Akan tetapi, sejauh mata Patra memandang tempat baru pacarnya, suasananya lebih tenang. Bukan hanya karena penyewaan rumah vertikal Boris operasikan bersama sebuah organisasi di dalam perumahan—yang memiliki taman bersama, dekat stasiun kereta, da

  • Hestia   Chapter 36 - Jamie once says, ‘You’re not interesting enough.”

    “Tante Talia bisa pacaran? Sejak kapan?”Patra melenguh seraya meregangkan otot-otot dan sendi tubuhnya. Laki-laki itu mendorong sedikit kedua tangan Talia yang bergelung di bawah kepala dan lehernya. Ketika kedua kelopak mata Patra terbuka, seorang remaja laki-laki berpakaian kemeja cokelat polos

  • Hestia   Chapter 35 - No Moving Skins

    Tidak hanya Patra dan Talia, seseorang yang akan pindah ke rumah vertikal—usaha Boris besok. Minggu pagi. Tashi, Boris, dan Cherry juga menginap di rumah Artemis. Archie diajak tidur bersama kedua orang tuanya, begitu juga dengan keluarga kecil satunya lagi yang menempati kamar Archie. Dikarenaka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status