Home / Young Adult / Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah! / Memberi Pelajaran Pada Rangga

Share

Memberi Pelajaran Pada Rangga

Author: Eve Seraphine
last update publish date: 2026-11-04 19:44:14

“Siapa yang membocorkan semua ini kepada Gavin? Bukankah kalian sudah memastikan tidak ada bukti yang tersisa?”

Rangga membanting beberapa lembar dokumen ke atas meja. Wajahnya memerah menahan amarah setelah membaca isi map yang diberikan Gavin.

Dia tidak menyangka Gavin sudah mengumpulkan bukti tentang kejadian di kapal pesiar. Beberapa dokumen bahkan memuat catatan transaksi dan salinan percakapan yang selama ini dia kira aman.

Seorang pria yang berdiri di hadapannya tampak gugup.

“Tenang dul
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah!   Rangga Semakin Terpojok

    “Berani sekali dia mengirim orang untuk menemui saksi yang sudah berada dalam perlindungan tim hukum kita.”Gavin menatap laporan di tangannya. Wajahnya mengeras setelah mendengar penjelasan dari kepala tim hukumnya.“Siapa yang mengirim orang itu?” tanyanya.“Kami belum mengetahui identitasnya secara pasti, Pak. Tapi orang tersebut berusaha menemui Damar di tempat tinggal sementaranya.”Gavin meletakkan laporan itu di atas meja.“Rangga.”“Sepertinya begitu, Pak. Damar juga mengenali salah satu orang yang datang. Dia pernah melihat pria itu bersama Rangga.”Gavin menyandarkan punggung. Dia sudah menduga Rangga enggak akan tinggal diam setelah mengetahui Damar berada di pihaknya.“Pastikan Damar tetap aman. Jangan biarkan siapa pun menemuinya tanpa sepengetahuan kita.”“Baik, Pak.”“Dan cari tahu siapa saja yang terlibat dalam upaya mendekatinya. Kalau Rangga mencoba menghalangi saksi, catat semuanya.”Kepala tim hukum itu mengangguk.“Kami akan mengurusnya.”Gavin kembali membuka lap

  • Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah!   Memberi Pelajaran Pada Rangga

    “Siapa yang membocorkan semua ini kepada Gavin? Bukankah kalian sudah memastikan tidak ada bukti yang tersisa?”Rangga membanting beberapa lembar dokumen ke atas meja. Wajahnya memerah menahan amarah setelah membaca isi map yang diberikan Gavin.Dia tidak menyangka Gavin sudah mengumpulkan bukti tentang kejadian di kapal pesiar. Beberapa dokumen bahkan memuat catatan transaksi dan salinan percakapan yang selama ini dia kira aman.Seorang pria yang berdiri di hadapannya tampak gugup.“Tenang dulu, Pak. Kita belum tahu dari mana Gavin mendapatkan dokumen itu.”“Lalu untuk apa aku membayar kalian kalau hal seperti ini saja enggak bisa kalian pastikan?”Pria itu menunduk. “Saya akan mencari tahu. Mungkin ada seseorang yang membocorkan informasi.”Rangga menatapnya tajam.“Jangan mungkin-mungkin. Aku ingin tahu siapa orangnya dan bagaimana bukti itu sampai ke tangan Gavin.”“Baik, Pak.”Rangga mengambil kembali dokumen dari meja. Dia membaca beberapa halaman sekali lagi, berusaha menemukan

  • Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah!   Penguntit

    “Semakin cantik saja perempuan ini. Rupanya menikah dengan Gavin Pradipta membuat pesonanya semakin terlihat.”Rangga memperbesar foto yang muncul di grup WhatsApp para pemilik tenant. Foto itu memperlihatkan Gavin dan Mentari berdiri berdampingan di acara resepsi pernikahan mereka. Gavin merangkul pinggang istrinya dengan sikap yang begitu mesra.Rangga tidak menyangka perempuan yang pernah bekerja di Pradipta Group itu kini menjadi istri sang CEO.“Dia dulu bekerja di perusahaan Gavin, bukan?” tanya seorang pria yang duduk di hadapannya.Rangga mengangguk. “Benar. Namanya Mentari.”“Sekarang sudah menjadi Nyonya Gavin Pradipta. Hebat juga dia.”Senyum tipis muncul di wajah Rangga. “Bukan hanya hebat. Dia cukup menarik untuk membuat pria seperti Gavin jatuh cinta.”Pria itu tertawa kecil. “Kamu tertarik kepadanya?”“Jangan buru-buru menyimpulkan.” Rangga meletakkan ponselnya. “Aku hanya penasaran dengan perempuan yang berhasil mendapatkan Gavin.”Sejak malam itu, Rangga mulai mencari

  • Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah!   Hari Resepsi

    “Kalau ada yang masih meragukan posisi Mentari di keluarga ini, dengarkan baik-baik. Dia bukan sekadar perempuan yang datang bersamaku malam ini. Dia istriku!”Suara Gavin terdengar jelas melalui pengeras suara. Ruangan resepsi yang semula dipenuhi percakapan mendadak hening. Semua tamu mengarahkan pandangan ke panggung, tempat Gavin berdiri dengan setelan jas hitam dan satu tangan menggenggam tangan Mentari.Mentari tersenyum tipis. Sejak memasuki ballroom, dia sudah merasakan banyak pasang mata mengamatinya. Sebagian tamu mengenalnya sebagai mantan kekasih Andika. Sebagian lagi mungkin hanya tahu bahwa perempuan yang berdiri di samping CEO Pradipta Group itu pernah bekerja di perusahaan yang sama.Gavin mengangkat tangan Mentari sedikit lebih tinggi.“Perkenalkan, ini Mentari Pradipta. Perempuan yang saya pilih untuk menjadi pendamping hidup saya.”Tepuk tangan memenuhi ruangan. Mentari menoleh kepada suaminya. Senyum Gavin terlihat tenang, tetapi ibu jarinya terus mengusap punggung

  • Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah!   CEO Galak Gagal Fokus

    “Mas, kalau cuma diminta menatap istrinya sendiri, kenapa wajah CEO Pradipta Group malah kelihatan gugup?”Gavin menatap Mentari yang berdiri di hadapannya. Perempuan itu mengenakan gaun putih sederhana dengan rambut tertata rapi. Sejak sesi pemotretan dimulai, Gavin memang sulit mengalihkan pandangan darinya.“Siapa yang gugup?” jawab Gavin datar.Mentari tersenyum jahil. “Mas. Dari tadi fotografer sudah tiga kali meminta Mas melihat kamera.”“Aku sedang melihat kamu.”“Justru itu masalahnya. Ini foto prewedding, bukan sesi menatap istri seharian.”Fotografer yang berdiri beberapa meter dari mereka menahan senyum. Ia kembali mengangkat kamera dan mencoba mengarahkan posisi pasangan tersebut.“Pak Gavin, boleh melihat ke arah kamera sebentar?”Gavin mengalihkan pandangan. Namun, begitu Mentari tersenyum kepadanya, matanya kembali tertuju pada sang istri.“Sepertinya Bapak benar-benar sulit fokus,” goda fotografer.“Lanjutkan saja pekerjaannya,” jawab Gavin.Mentari tertawa kecil. Ia t

  • Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah!   Gavin Penuh Persiapan

    “Mas, kita mau foto prewedding atau membuat album bukti kalau aku sudah resmi menjadi milik Mas?”Gavin mengangkat wajah dari katalog dekorasi yang sedang diperiksanya. Mentari duduk di sebelahnya sambil menahan tawa. Sejak mereka bertemu wedding organizer pagi itu, Gavin terus ikut campur dalam setiap keputusan.“Apa salahnya memastikan semua orang tahu kamu istriku?”“Enggak salah. Tapi Mas sudah memilih dekorasi, bunga, warna meja, bahkan bentuk undangan.”“Karena pilihannya kurang sesuai.”Mentari menunjuk salah satu halaman katalog. “Yang ini bagus. Dekorasinya sederhana, warnanya lembut.”Gavin melirik gambar tersebut. “Terlalu sederhana.”“Mas, kita mau resepsi, bukan mengadakan pesta kenegaraan.”“Aku ingin semuanya terlihat pantas untuk istriku.”Mentari tersenyum. “Kalau begitu, biar aku yang memilih. Mas cukup duduk manis.”Gavin menatapnya datar. “Aku tidak bisa duduk manis.”“Memangnya kenapa?”“Karena aku ingin memastikan kamu mendapatkan yang terbaik.”Mentari tertawa k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status