Share

Operasi Ingus Asin

Author: Money Angel
last update publish date: 2026-07-16 10:54:10

Aiden berdiri di belakang sofa Alexander sengaja memiringkan kepalanya. Dengan nada yang sangat pelan namun berfrekuensi tajam, ia menggumamkan sesuatu menggunakan bahasa sandi kuno Noctis yang hanya dipahami oleh lingkaran dalam mereka.

"Rekanku bilang, laporan taktis hari ini. Tim digital mendeteksi ada seekor singa bodoh yang sedang mencoba merayu pemilik rekor Ingus Asin kita."

Mendengar frasa nista itu disandingkan lagi di depan Alexander Sterling, pertahanan batin Evelyn yang sudah digemp
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hidup Kedua Ibu Pewaris Yang Terbuang   Hanya Aku Yang Hancur

    Alexander tertawa renyah mendengarnya. "Anak pintar! Paman memang yang paling tampan... setidaknya di mata istri Paman." Pikiran Alexander mendadak terlempar pada ingatan masa lalu. Suara Evelyn kembali terngiang di kepalanya. ‘Suamiku memang yang paling tampan di dunia!’ "Mama juga selalu bilang begitu padaku. Katanya aku anak paling tampan di dunia. Bahkan kata Mama, ketampanan Daddy saja masih kalah denganku," cerocos Xander percaya diri. "Oh, ya? Tentu saja kau yang paling tampan. Tapi... kenapa wajahmu terasa sangat mirip dengan Paman? Kau tidak merasa kita mirip?" Alexander mengutarakan rasa penasaran yang menggantung di hatinya. "Sepertinya begitu, tapi itu belum cukup buat jadi bukti. Tunggu sebentar, boleh aku lihat ponsel Paman?" pinta Xander mengatur. "Untuk apa?" tanya Alexander heran. "Foto bersama, apalagi? Dengan begitu kita bisa tahu sia

  • Hidup Kedua Ibu Pewaris Yang Terbuang   Duka Keluarga O'Conner

    "Kakek, aku pulang..." bisik Evelyn lembut seraya berlutut dan mengecup buku-buku jari sang kakek buyut. Di sisi lain ranjang, Xavier memeriksa indikator medis dan denyut nadi Jenderal Raymond O'Conner dengan cermat. Kondisi sang Jenderal sangat kritis. Organ tubuhnya mengalami kegagalan fungsi akibat usia yang terlampau senja. "Kakek, bertahanlah... Jangan seperti ini," isak Evelyn, mencoba menahan air mata seraya menuntun Xander mendekat. "Lihat, Kek. Ini Xander..." Jenderal Raymond membuka kelopak matanya yang berat dengan perlahan. "Evelyn... kau sudah kembali, Nak?" sahutnya lemas. "Dan ini si kecil Xander? Kemarilah, Nak... mendekat pada Kakek Buyut..." Xander mendongak menatap ibunya. Usai Evelyn mengangguk lembut, si cilik genius itu mendekat dan membiarkan jemari renta Kakek Buyut menyentuh pipinya. Suasana kamar perawatan berubah kelabu. Sophia terisak dalam pelukan Jenderal Arthur, sementara tangis Ethan pecah ditahan di samping sang ibu. Pintu kamar terbuka t

  • Hidup Kedua Ibu Pewaris Yang Terbuang   Sang Jenderal Kritis

    Sementara itu, di markas militer Silvercrest... "Kakek Buyut, ini Ethan," panggil Ethan Sterling lembut pada sang Jenderal yang terbaring lemah di ranang perawatannya. "Ethan... kau datang, Nak?" balas Jenderal Raymond O'Conner dengan suara serak dan napas yang pendek. "Apa Papamu ikut ke sini juga?" "Aku di sini, Tuan Jenderal. Bagaimana keadaan Anda?" Alexander melangkah mendekat, berdiri di sisi ranjang dengan raut khawatir. "Dasar keras kepala! Berapa kali harus kukatakan... panggil aku Kakek. Kau adalah bagian dari keluarga ini, Alexander!" omel sang Jenderal di sela napasnya yang terasa makin berat. "Baiklah, Kek," jawab Alexander tanpa membantah. "Sebaiknya Kakek istirahat lagi. Aku dan Ethan akan menunggu di luar." Sang Jenderal menggeleng pelan, seolah masih ada hal penting yang menuntut untuk disampaikan. "Sebelum aku memejamkan mata, maukah kau menjawab pertanyaan orang tua ini, Nak?" "Kapan pun Kakek ingin, aku akan menjawabnya. Kakek tidak boleh bicara s

  • Hidup Kedua Ibu Pewaris Yang Terbuang   Panggilan Ke Silvercrest

    Bagaimana bisa Evelyn melupakan sosok Alexander Sterling—pria yang begitu ia cintai hingga detik ini? Walau bibir dan pikirannya keras menolak untuk mengingat kembali kenangan itu, hatinya tidak bisa dibodohi. Rasa cinta itu masih tersimpan rapi, terbawa ke mana pun ia melangkah. ‘Alexander, aku dan anak kita bahagia di sini... walau nyatanya, kebahagiaan ini terasa semu bagiku tanpamu. Lalu, bagaimana denganmu di sana?’ bisik batin Evelyn seraya menatap langit senja yang luas dari pekarangan rumahnya di Riverside City. Di bawah naungan langit yang sama di daratan Silvercrest, seorang pria bertubuh tegap dengan garis wajah tegas yang kini menapak usia akhir tiga puluhan, tengah berbaring di kursi santai tepi kolam renang. Kedua tangannya mendekap erat sebuah figura foto berukuran kecil di dada. Kacamata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya hanyalah sebuah alibi—alibi sederhana untuk menyembunyikan sepasang mata yang sembab dan memerah setelah meluapkan rasa rindu yang tak

  • Hidup Kedua Ibu Pewaris Yang Terbuang   Berapa Lama Lagi

    Xavier kemudian berdiri tegak dan menatap Kepala Sekolah serta wali kelas dengan ketenangan penuh wibawa. "Baiklah. Saya sebagai ayahnya Xander akan membawa putra kami pulang dan akan mempertimbangkan dengan saksama seluruh saran dari Bapak Kepala Sekolah dan Ibu Wali Kelas. Terima kasih atas waktunya, dan mohon dimaklumi kekhawatiran istri saya saat ini. Kami permisi," ucap Xavier tegas dan lugas. Dalam satu keputusan mantap, Xavier mengakhiri pertemuan tersebut tanpa memberi ruang untuk perdebatan lebih panjang. Ia merangkul Evelyn dan menggandeng tangan Xander keluar dari ruangan. Pembawaannya yang tenang dan berwibawa seketika meyakinkan kedua pengajar tersebut, meninggalkan Evelyn yang hanya bisa menghela napas pasrah melihat kekompakan Xavier dan Xander yang lagi-lagi memenangkan situasi. "Sav, kau sudah gila! Kenapa membawaku keluar dari sana? Aku ingin membujuk mereka agar tetap menerima Xander bersekolah di sana!" cetus Evelyn meluapkan kekesalannya begitu mereka bert

  • Hidup Kedua Ibu Pewaris Yang Terbuang   Ulah Xander

    "Bisakah kau mengatakan padaku, berapa hasil dari lima puluh tujuh dikali seratus tiga puluh lima?" tanya guru tersebut seraya tersenyum miring. Xander mendesah pelan. Karena merasa jenuh, ia sengaja menunda jawabannya beberapa detik. Namun, jeda singkat itu ditafsirkan berbeda oleh gurunya. Sang guru mengira Xander telah terpojok dan segera bersiap melempar pertanyaan itu ke murid lain untuk mempermalukannya. "Baiklah! Siapa yang—" "Tujuh ribu enam ratus sembilan puluh lima. Akar kuadratnya adalah delapan puluh tujuh koma dan seterusnya," potong Xander telak sebelum sang guru menyelesaikan kalimatnya.Bukannya berhasil mempermalukan Xander, sang guru justru merasa dipermainkan. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia mengambil kalkulator di atas mejanya dan menghitung sendiri pertanyaan yang baru saja ia lontarkan. Mata wali kelas itu membelalak sempurna saat melihat hasil di layar kalkulator persis dengan angka yang disebutkan Xander. ‘Dunia benar-benar sudah gila...’ ba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status