Masuk“Uhuk! Uhuk!” Aku batuk beberapa kali, tidak perlu berakting lebih meyakinkan karena kondisiku yang memang sudah buruk.“Maaf Tuan jika saya terlihat tidak sopan, tapi saya sedang kurang sehat. Kalau berbalik dan terlalu dekat dengan Tuan, takutnya virusnya menyebar,” ucapku beralasan, Seno tidak mengatakan apapun selama beberapa detik.Keheningan yang membuat suasana semakin menegangkan.“Siapa namamu?” tanyanya akhirnya.“R-rena, Tuan,” jawabku gugup.“Kalau sedang sakit, istirahat saja. Jangan menyebar penyakitmu ke pelayan lain, nanti seisi rumah jadi repot.” Seno terdengar mendengus, kalimat itu jelas bukan bentuk perhatian melainkan hanya antisipasi.“Baik Tuan, kalau begitu saya permisi.” Aku menunduk sekali lagi, bersiap mengambil langkah seribu menuju dapur, ketegangan ini benar-bener membuat perutku mual.Tapi suara ketukan sepatu hak tinggi tiba-tiba terdengar mendekat.“Lagi ngobrol sama siapa, Kak?” tanya Friska pada Seno, aku sempat meliriknya sebentar. Wanita itu meling
Aku tidak sanggup mengatakan apapun hingga bibirku bergetar, semua kata yang ingin ku sampaikan pada Rena tertahan di ujung tenggorokan. Perasaanku bercampur tidak karuan antara sedih, terharu, juga marah pada keadaan.Apa aku pantas mendapat pengorbanan seperti ini dari orang-orang terdekatku? Mau bagaimanapun, semua bencana yang membakar hampir semua orang ini berawal dariku yang memilih Seno sebagai suami.Aku harusnya ikut hancur dan terbakar bersama Seno, kan? Tapi kenapa…“Nyonya! Tidak ada waktu lagi, saya mohon bergeraklah.” Rena mau tidak mau menarikku yang terus diam di tempat, aku yang kembali sadar mengedipkan mata beberapa kali.“Rena, kamu yakin?” tanyaku untuk terakhir kalinya, lebih seperti meyakinkan diriku sendiri.“Saya lebih dari sekadar yakin, Nyonya, Saya siap.” Rena meraih tanganku yang sudah berdiri di sisi ranjang, lalu kami berjalan menuju sudut kamar mandi agar tidak terlihat oleh penjaga di luar.“Tuan Bara Askara sudah menunggu di gerbang, Nyonya bisa perg
Aku menatap layar ponsel Rena yang berisi histori panggilan dari nomor tanpa nama.“Awalnya saya mengira ini hanya nomor asing yang melakukan penipuan atau spam tidak jelas, tapi setelah beberapa kali ditelepon oleh nomor yang sama akhirnya saya memberanikan diri menjawab,” kata Rena, menghela napas.“Orang itu mengenalkan dirinya sebagai Bara Askara, pria itu bilang kalau dia adalah orang terdekat Nyonya.”Detak jantungku terasa berpacu ketika mendengar nama itu. “Bara Askara?”“Benar, Nyonya. Namanya terdengar tidak asing, saya pernah mendengar nama itu beberapa kali di berita dan majalah-majalah. Apa dia benar orang terdekat Anda? Saya yakin dia bukan orang biasa.” Aku mengangguk cepat, membenarkan.“Benar, dia memang orang terdekatku dan kamu tidak sedang kena telepon scam,” ucapku sambil menggenggam ujung selimut yang menutupi pangkuan, tanpa sadar meremasnya erat-erat. “Aku yang kasih nomor kamu ke dia beberapa hari yang lalu.”Rencana B.Aku memejamkan mata sejenak, menyerahkan
Ketika Ibu Seno hendak membuka mulut, suara ketukan di pintu membuyarkan percakapan kami.“Bu, tamu Ibu udah dateng tuh, nungguin di ruang tamu.” Aku dan Ibu Seno menoleh hampir bersamaan, Seno berdiri di ambang pintu.“Oh, Friska, ya?” Ibu Seno memperbaiki posisi berdirinya, mengusap pelan rambut bersanggul yang sudah sangat rapi itu. “Dia sih bukan tamu, tapi calon istri kamu,” selorohnya, terkekeh.“Bu, please, deh. Jangan ngomong begitu di depan Mia, dia itu masih istri sahku,” protes Seno, menyilangkan tangan di depan dada sambil bersandar di salah satu sisi pintu. “Ucapan Ibu tadi jangan terlalu dipikirin, ya. Kamu tahu sendiri kan Ibu orangnya emang gitu.”Aku mendelik, menatapnya dengan tatapan muak. “Aku juga nggak peduli dia benar calon istri kamu atau bukan, keluar dari penjara ini jauh lebih penting dari itu.”Seno tersenyum, menggeleng pelan. “Kalau kamu menarik ucapan kamu kemarin, aku akan dengan senang hati membebaskan kamu sekarang juga.”“Ucapan apa? Tentang aku yang
Bara hampir terjatuh, lututnya bagai kehilangan tumpuan. Apa yang baru saja kukatakan bahkan membuatnya tidak bisa lagi berdiri tegak, matanya bergetar menatapku.“Kenapa tiba-tiba begini, Mia? Kenapa kamu memutuskan menikah begitu terburu-buru?” Suara Bara terdengar lemas, menopang tubuhnya sendiri dengan bersandar di dinding.“Memangnya kenapa? Mau menikah cepat atau tidak, itu urusan Mia.” Seno menjawab lebih dulu dengan nada ketus. “Keputusan ini murni diambil dengan kepala dingin dan tanpa paksaan.”Seno sedikit mengangkat dagu, menatap pongah pada Bara yang jelas sedang terluka karena baru mengetahui hal sebesar ini.“Mia, bisa kita bicara sebentar?” pinta Bara, seolah berusaha mengerahkan tenaga dan usaha terakhir.Tapi Seno lebih dulu menarikku ke belakang punggungnya, tidak memberiku kesempatan sedikit pun membalas ucapan Bara. Aku hanya bisa menunduk, menatap lantai marmer yang berkilauan terkena pantulan cahaya lampu.Meski kini aku mencintai Seno, tapi melihat Bara yang sa
Hening yang begitu pekat mengudara di ruang kerja Kakek Garry, ditemani suara detik jam dinding besar bergaya antik di sudut ruangan yang terdengar begitu jelas. Di luar jendela, cuaca yang tadinya begitu cerah tiba-tiba terlihat mulai redup, digantikan awan-awan mendung yang semakin lama semakin gelap.Seumur hidup, aku tidak pernah meninggikan suara dan membentak Kakek seperti ini, beliau adalah orang yang paling ku hormati.Namun karena dibutakan cinta, aku kehilangan diriku sepenuhnya.“Kek, Mia sudah dewasa, Mia bisa menentukan jalan hidup sendiri,” ucapku dengan suara yang tidak sekeras sebelumnya, merapatkan posisiku di samping Seno seolah mengatakan bahwa saat ini aku sepenuhnya berada di pihak pria itu.“Jadi Mia mohon, beri Mia restu agar bisa memulai lembar baru dengan Mas Seno. Mia tidak mau melangkah menuju jalan hidup ini dengan langkah berat,” pintaku sedikit memelas, menangkupkan kedua tangan di hadapan Kakek Garry.Beliau akhirnya menggeleng pelan tanda menyerah, memi







