LOGINShe was my boss's only daughter. A soon to be billionaire. Zoya Ali, daughter of the renowned Billionaire Rehmat Ali placed a tough contract before me. I, Abrar Zafar, a simple guy with an ugly income couldn't digest her offer. However, I was forced by her to save my job by pretending to be her husband. She hid the actual reason for that contract from me. Unaware of the truth, I started falling for her. I didn't know what the actual reason was behind a billionaire girl offering a low middle-class boy for a fake marriage? But her one decision changed my life completely. I fall in love for the first time and destroyed by love. I realised my first mistake was to love her also the last mistake was loving her madly.
View MoreSore itu sekolah sudah mulai sepi, menyisakan koridor panjang yang terasa sedikit angker.
Arjuna Dewangga alias Juna, menyeka keringat yang bercucuran deras di dahi menggunakan punggung tangannya yang kasar.
Dia memanggul keranjang plastik berisi sisa botol jamu dagangannya yang beratnya lumayan menguras tenaga.
Untungnya, sinom dan beras kencur buatan Ibu Lastri selalu ludes diborong teman-teman sekolah yang kehausan setelah jam pelajaran selesai.
“Alhamdulillah, kalau laris begini terus, uang obat Ibu buat bulan depan aman,” batin Juna sambil tersenyum kecut mengingat kondisi Ibunya di rumah.
Langkah kaki Juna menggema di koridor lantai dua, melewati deretan kelas yang sudah terkunci rapat.
Entah kenapa, perasaannya mendadak tidak enak saat mendekati lorong toilet guru wanita di ujung selasar.
Lorong itu terkenal sunyi, apalagi lampu neonnya sering berkedip-kedip seperti di film horor murahan..
Satu botol kaca jamu mendadak tergelincir dari tumpukan di keranjang plastik Juna karena pegangannya yang sudah agak longgar.
Duggg….Duggg..Duggg...Klontang…!
Benda itu menghantam lantai, namun tidak pecah, melainkan menggelinding dengan kecepatan penuh ke arah toilet wanita.
"Waduh, mampus! Botol modal ituh…!" umpat Juna dengan suara tertahan.
Dia segera berlari kecil mengejar botol itu yang seolah punya nyawa sendiri.
Celakanya, botol itu menggelinding masuk ke celah pintu bilik paling ujung yang sedikit terbuka.
Juna berhenti tepat di depan pintu toilet guru yang biasanya dilarang dimasuki siswa pria mana pun.
“Aduh, gimana inih? Kalau ketahuan Pak Broto, habis aku dikuliti hidup-hidup,” batin Juna sambil menoleh ke kanan dan kiri dengan waspada.
Rasa takut akan hukuman kalah telak oleh rasa sayang Juna pada barang dagangannya.
Juna menarik napas panjang, lalu menyelinap masuk ke dalam area toilet guru yang beraroma wangi mawar itu.
Dia membungkuk rendah, berusaha meraih botol jamu yang bersembunyi di balik bayangan pintu bilik.
Namun, tepat saat tangannya hampir menyentuh botol, Juna mendengar suara yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari tenggorokan.
"Ahhh... essshhh... sedikit lagihhh...!"
Suara desahan itu terdengar sangat berat, basah, dan penuh tekanan.
Juna membeku di posisi membungkuk, kepalanya tanpa sengaja melewati celah pintu yang terbuka sekitar sepuluh sentimeter.
Di dalam sana, di atas kloset duduk, Ibu Arini Kusuma sedang berada dalam kondisi yang menghancurkan seluruh logika Juna sebagai siswa teladan.
Guru Bahasa Indonesia yang terkenal anggun dan selalu rapi itu kini tampak berantakan.
Rok span hitam ketat miliknya sudah tersingkap sangat tinggi, bahkan melewati batas paha atasnya yang putih mulus.
“Be-Beneran mulusss... lebih mulus dari porselen di toko bangunan!” batin Juna dengan mata melotot liar.
Jari tangan kanan Ibu Arini bergerak ritmis di balik kain tipis yang menutupi area ‘apem tembem’ miliknya.
Wajah Ibu Arini memerah padam, keringat sebesar biji jagung membasahi leher jenjangnya.
Napasnya memburu, menciptakan uap hangat yang terasa memenuhi bilik sempit tersebut.
Juna merasakan suhu tubuhnya mendadak naik drastis seolah dia baru saja menenggak satu galon jamu penguat stamina.
“Gustiii... Ibu Arini lagi mainin anunya sendiri? Di toilet sekolah?” batin Juna sambil menelan ludah dengan susah payah.
Rasanya ada sesuatu yang mengeras di balik celana seragam Juna yang sudah mulai kerasa kekecilan itu.
‘Batangan nakal’ miliknya mendadak bereaksi, menegang kaku seolah mendapatkan sinyal magnetis dari pemandangan di depannya.
Juna yang panik mencoba menarik kembali kepalanya, namun sialnya, kakinya justru tersandung botol kaca tadi.
Takkk…!
Bunyi botol yang membentur keramik terdengar begitu nyaring di ruangan yang sunyi itu.
Ibu Arini tersentak, matanya yang tadi terpejam sayu langsung membelalak lebar.
Dia menunduk dan langsung beradu pandang dengan wajah Juna yang masih membeku di bawah sana.
"Ju-Juna?!" pekik Ibu Arini dengan suara yang pecah karena kaget sekaligus malu.
Juna refleks menutup kedua matanya rapat-rapat menggunakan kedua telapak tangannya.
"A-A-Anu, Bu! S-Sumpah, Juna cuma mau ambil botol yang gelinding!" seru Juna dengan suara bergetar sehebat gempa bumi.
Dia merasa wajahnya terbakar, apalagi dia tahu posisi Ibu Arini masih sangat terbuka di depannya.
“Mampus aku! Habis ini pasti dikeluarkan dari sekolah! Mana beasiswa lagih…!” batin Juna meratap histeris.
Keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya, membasahi tangannya yang masih menutupi mata.
"Junaaa... kamuuu... kamu lihat apa saja tadi?" tanya Ibu Arini dengan nada yang aneh, antara marah dan memohon.
"E-Enggak lihat apa-apa, Bu! Gelap semua! Sumpah, mata Juna minusnya nambah mendadak!" bohong Juna sambil gemetaran.
Dia mencoba membalikkan badan, berniat lari sekencang mungkin tanpa mempedulikan botol jamunya lagi.
Namun, sebelum Juna sempat melangkah keluar dari bilik, sebuah tangan yang terasa sangat panas mencengkeram pergelangan tangannya.
Cengkeraman itu begitu kuat, seolah-olah ditarik oleh seorang atlet angkat besi, bukan seorang guru wanita.
Srettt…!
"Masuk ke sini!" perintah Ibu Arini dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Juna terseret mundur masuk ke dalam bilik yang hanya berukuran satu kali satu meter itu.
Brakkkk!
Pintu bilik ditendang tutup oleh kaki Ibu Arini yang masih belum menurunkan rok spannya secara sempurna.
Klik!
Suara kunci pintu yang diputar terdengar seperti vonis hukuman mati bagi Juna.
Punggung Juna menghantam dinding keramik yang dingin, namun dadanya justru bersentuhan dengan bahu Ibu Arini yang panas.
Aroma parfum mawar bercampur dengan bau keringat yang sangat tajam dan menggairahkan langsung menyerang hidung Juna.
Ibu Arini menyandarkan kepalanya di dada Juna, bahunya naik turun seiring dengan napasnya yang belum teratur.
"B-Bu... i-iniii… salah paham, Bu. Juna janji nggak akan bilang siapa-siapa kalau Ibu lagiii... anu..." ucap Juna dengan suara mencicit.
Ibu Arini mendongak, menatap Juna dengan mata yang tampak sangat sayu dan dipenuhi gairah yang belum tuntas.
"Saya menderita penyakit langka, Juna. Sesuatu yang hanya muncul jika saya terlalu lama menahannya," gumam Ibu Arini lirih.
Juna semakin bingung, otaknya yang sudah mesum makin sulit diajak bekerja sama.
"Pee…Penyakit apa, Bu? Butuh jamu kunyit asam saya?" tanya Juna dengan polosnya.
Ibu Arini menggeleng, lalu menarik tangan Juna menuju ke arah pinggangnya yang ramping.
"Ini bukan penyakit yang bisa sembuh dengan jamu murahmu itu, Juna."
Wajah Ibu Arini mendekat ke arah telinga Juna, membisikkan sesuatu yang membuat seluruh saraf Juna menegang.
"Tubuh saya mendadak terasa dingin seperti es jika tidak ada yang menyentuhnya... dan kamu, Juna, tubuhmu terasa sangat panas."
Tangan Ibu Arini kini mulai meraba dada bidang Juna, mencari detak jantung pemuda itu yang berpacu gila.
"A-A-Anu... Bu... J-Juna harus pulang," ucap Juna terbata-bata sambil mencoba melepaskan diri.
Namun, Ibu Arini justru semakin merapatkan tubuhnya, membuat Juna bisa merasakan kenyalnya "melon" besar milik gurunya itu menekan dadanya.
Deggg...
Juna merasa dunianya seolah berhenti berputar detik itu juga.
Ibu Arini menatap lurus ke mata Juna, lalu berkata dengan suara yang sangat serius.
"Saya ingin kamu menjadi 'obat' pribadi saya mulai sore ini, Juna."
"Aa... apanya yang diobati, Bu?" tanya Juna dengan keringat dingin yang semakin deras.
Ibu Arini menarik tangan Juna lebih rendah lagi, menuju ke arah kakinya yang masih terbuka lebar.
"Semuanya. Dan jika kamu menolak, saya pastikan beasiswamu dicabut besok pagi."
Juna tertegun, ancaman itu menghantamnya tepat di ulu hati.
Di satu sisi dia ketakutan, tapi di sisi lain, batin mesumnya justru mulai menikmati aroma dan kehangatan tubuh Ibu Arini.
“Sialan... kenapa ini malah jadi kontrak ranjang?!” batin Juna menjerit dalam dilema.
Pintu toilet mendadak terdengar diketuk dari luar dengan keras.
Tok! Tok! Tok!
"Arini? Kamu di dalam?" suara berat Pak Broto terdengar di balik pintu toilet luar.
Juna dan Ibu Arini seketika membeku, saling menatap dengan napas tertahan.
"Mampus... Pak Broto!" bisik Juna dengan wajah yang mendadak pucat pasi.
Ibu Arini segera membungkam mulut Juna dengan telapak tangannya yang harum.
Dia memberi isyarat agar Juna tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Masalahnya, wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter saja, dan tangan Juna masih tertahan di atas paha mulus gurunya itu.
Ibu Arini menatap pintu bilik dengan tajam, sementara tangan lainnya mulai meraih kunci pintu seolah siap melakukan sesuatu yang nekat.
Nikhat"He's the photocopy of Abrar", Mrs. Ali says, holding the newborn. After eight months of our marriage, Zoya delivered a cute baby boy. He's a premature baby, indeed but still out of all danger by the grace of God. "Just pray that he gets the same tactics as me. I can't handle two short-tempered creatures", Abrar laughs."Wait! You just wait. Let me get a bit healthier", Zoya shoots him a glare. "You can scream only. What else can you do?" Abrar rolls his eyes."You—"And they continue.I take the newborn in my arms, giggling at him lovingly."First and foremost rule, Mrs. Wife", Kaif whispers near me. "No future planning after this"He's always so scared!"I know right? Stop worrying!" I scowl at him. So many things changed over time but he didn't. At first, he was scared to love someone and get married. Now, he's scared of having a baby. I don't mind it though. It's just a matter of time. I'm happy the way I am.I was promoted to the company with my salary getting doubled.
Nikhat"Are you hungry already?" Kaif asks from behind.I drift my eyes outside and look at him from near the window with a smile. He is munching a subway burger with a tight-lipped smile on his face. "Wouldn't it be better if you had gotten something for me instead of just asking?" I shrug, jumping behind and sitting at the edge of the window."Hey, careful", his eyes widen. "You're gonna fall""I'm used to it", I giggle. "This is not the first time I'm sitting at your window"He chuckles, walking toward me. "Yeah, but definitely you never hoped onto it wearing a lehenga", he scoffs as I stare down at him. He stops just an inch away from me and spirals his left arm around my waist. I shudder with the abrupt contact and lack of distance between us. My heart starts thudding against my chest and my body vibrates when he tightens his grip around me. It's been a year since we were engaged but never before has he touched me this way. I didn't want him to. But if he wanted, I wouldn't ev
Author's POVRuzina goes completely shocked but it doesn't take her much time to understand what is exactly happening. "How wouldn't I come, Mrs Ruzina?" Irtaza chuckles. "After all, the alliance maker should be there?" Zoya presses her lips tightly so she doesn't burst into laughter by watching Ruzina's stunned face. On the other hand, Nikhat gets confused with Irtaza's words."Alliance maker?" She exclaims."We can discuss that later", Zoya jumps into the conversation. "Let the guests in, Nikhat""I'm sorry", she smiles and makes a way for them to get in. As others follow Ridwan and Nikhat inside, Ruzina keeps standing there and gazing at Irtaza."You look stunned, Mrs Ruzina", Zoya rolls her eyes. "Ah, well, let me introduce myself. Zoya Zafar, Irtaza's business partner and your would-be son-in-law's friend"Ruzina curls up her face and doesn't even smile at any of them. Zoya crosses her arms and takes a step toward her, raising her eyebrows."What did you think Mrs Ruzina? Onl
NikhatI have been waiting for the evening the entire day and finally, the moment arrived. Kaif has indeed replied to me with a message which said, "it's fine"The text didn't sound genuine to me at all. Especially when he sent only two words in the reply to my entire paragraph. Couldn't he realise the urgency in that message? I don't know if I'm overthinking. He's not bound to send me a paragraph just because I did. "Nikhat, shall we leave?" Mia asks. "No. I have some work left", I lie. I don't have any pending work. Besides, Irtaza already told us that he doesn't need the whole team today. I should have left. "I thought you were done", Mia roll her eyes."No. I—" I stammer. "I'm yet to complete a few""Okay, then. Goodnight", grabbing her stuff, Mia walks towards the exit. I get back to my desk and look for some work to do. "Nikhat!" Irtaza's voice hits my ear as I look up, finding him walking out of his cabin which is straight in front of me. "You didn't leave yet"I don't kn
KaifI returned to the resort after roaming near the alley for almost an hour. As far as I remember around that time Nikhat comes to her balcony. I have been going there at the same time every night just for the small eye to eye meeting with no words— only eye contact and smiles. Today she didn't com
Nikhat"It's done", I say, finding Mia and Irtaza talking near the window.Both of them squirm abruptly with my presence and pass me a smile. I think they were having some private conversation. "Please, join", I smile and walk to the living room. I'm surprised that Ruzina isn't bothering Irtaza with h
Zoya Reena aunty is getting on my nerves for not telling her about Nikhat being her. I was so stupid to hide that from her for that dumbhead Kaif. Imagine lying to save your friend and they end up doing the opposite to ruin all your efforts. I wish I could kick his ass off. Never in my life have I e
KaifShe holds my arm softly when the flashes of Irtaza holding her crash into my sanity. I feel an unusual burn and gulp down. However, I realise she had hurt her hand. "How's your arm?" She freezes for a second and mumbles."It's fine. How do you know?""The accident yesterday. I was in the cab. I sa












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore