Mag-log inTorn between a fight for love and survival, Eleanor must stand her ground as the Alpha she is in love with, has nothing but good sex to offer. A sex she will never be able to refuse. What happens when the Alpha she cherishes, peels open her deepest wound? Will she ever be able to forgive him or herself when nature finally unveils itself? **** Alpha Cruz had gotten her as a pet. Nothing but a stand-in for his real bride. Until he starts to crave her presence and her perfect body. What happens when she becomes his biggest threat? What becomes of them when she looks like she will be his downfall? Especially when his real bride shows up. Find out about Alpha Cruz's and Eleanor's complicated yet beautiful love life, and who knows, they might be your next favorite heroes.
view more"Kamu bentar lagi gajihan, kan? Adek kamu mau lulus, Ibu minta uang ya buat bayar kelulusan sama buat bayar biaya pendaftaran."
Bunga menatap koper di depan lemari dengan senyum miris. Awalnya dia berencana untuk mengundurkan diri. Namun, mendengar keluh kesah ibunya dia jadi ragu apakah keluar dari pekerjaan ini keputusan yang tepat? Ya, Bunga memutuskan untuk berhenti karena melihat kondisinya sudah tidak aman. Majikannya itu sering kali bertengkar, entah apa penyebabnya. Itulah yang membuat Bunga tidak nyaman untuk melanjutkan bekerja di sini, karena menurut Bunga, mentalnya juga ikut-ikutan terganggu karena terlalu sering mendengar teriakan, umpatan kasar, dan juga barang pecah. Bisa-bisa nanti dirinya ikut terkena akibat dari pertengkaran sang majikan. "Kok diam? Kamu nggak mau bantu Ibu ya, Bunga?” Ibunya kembali berkata. “Terus kalau bukan kamu siapa lagi yang bakal Ibu andalkan? Ayah kamu baru aja dipecat. Katanya pengurangan karyawan karena bentar lagi proyeknya udah selesai. Ya gitu dah, namanya pekerjaan kuli bangunan pasti selalu aja kayak gitu." Bunga semakin sedih mendengarnya. "Berapa biayanya, Bu?" tanya Bunga dengan lirih pada akhirnya. "Enggak banyak kok, cuma tiga juta aja." Bunga menghela napas berat. Cuma tiga juta? Bahkan itu sudah hampir seluruh gaji yang dia dapatkan sekarang. "Bu, gaji aku cuma tiga juta dua ratus. Kalau aku kasih ke Ibu semua, terus di sini aku gimana? Aku juga punya kebutuhan, Bu." Bunga mencoba untuk bernegosiasi, siapa tahu ibunya tidak terlalu menekan dan mengerti posisi Bunga saat ini. "Maksud kamu apa? Kebutuhan kamu yang mana? Bukannya sekarang kamu tinggal sama majikan kamu? Otomatis makan juga ditanggung, kan?” balas sang ibu. “Ayolah, Bunga, pikirkan adik kamu. Masa kamu tega sama dia?" "Kebutuhan aku nggak cuma sekedar makan dan tempat tinggal, Bu," terang Bunga, berusaha sabar. "Keperluan aku yang lain juga ada. Tidak mungkin ditanggung majikanku semuanya.” “Ck. Lalu kamu nggak bakal kirim uang, begitu?” “Nggak, Bu. Nanti pasti bakal aku kirim, tapi nggak sebanyak yang Ibu minta, ya.” Bunga menghela napas pelan. Kali ini Bunga memberanikan diri untuk bersikap tegas pada ibunya. “Mungkin aku cuma bisa kasih setengahnya aja." "Itu kurang, Bunga. Astaga! Harus berapa kali sih Ibu bilang?" Bunga kembali menghela napas berat. Ibunya sangat keras kepala, dan ... sangat egois. “Kamu kan kerja di kota. Majikanmu pasti kaya, kan? Kalau memang gajimu nggak cukup sekarang, coba cari pinjaman saja.” Sebenarnya, memang kesepakatan awal ketika Bunga bekerja di rumah majikan, gajinya akan naik secara bertahap. Nyonya rumah ini, Sofia, mengatakan jika kinerja Bunga bagus, maka akan dinaikkan gajinya. Namun, Bunga baru-baru saja bekerja di sini. Belum ada satu bulan! Dan lagi, memangnya pantas Bunga meminta lebih? Apalagi pinjaman? Yang benar saja. Kepala Bunga mendadak pening memikirkannya. Akan tetapi, gadis itu tidak mampu menolak perintah ibunya. "Oke, nanti aku coba bilang ke Bu Sofia ya, Bu. Mudah-mudahan aja beliau mau kasih pinjaman,” ucap Bunga pada akhirnya. Menyerah. “Kalau udah aku kasih uang, tolong diirit-irit ya, Bu.” Karena cari uang itu susah, lanjut Bunga dalam hati. "Nggak usah ngajarin Ibu begitu. Ibu juga udah berusaha buat irit-irit, tapi ya namanya apa-apa semakin mahal mau gimana lagi, Bunga.” Ibunya menggerutu. “Ya sudah. Tolong diusahakan ya, Ibu dikasih tenggat waktu katanya disuruh lunasin secepatnya." "Iya, Bu. Aku usahakan." *** Prang! Bunga berjengit kaget karena mendengar barang pecah dari dalam kamar majikannya. Wanita itu pun seketika memundurkan langkahnya dan mengurungkan niat untuk menemui Sofia. Tangan yang tadinya ingin mengetuk pintu kamar itu seketika terhenti di udara. "Kamu habis tidur sama siapa? Cepat jawab!" Langkah Bunga terhenti karena mendengar teriakan Gama, suami majikannya, tubuhnya mendadak terasa kaku. "Aku nggak ada tidur sama siapa pun!" "Menjijikkan! Sudah ada bukti tapi kamu masih bisa mengelak? Aku sungguh muak melihat wajahmu, Sofia! Secepatnya aku akan menceraikanmu!" pekik pria itu membuat Bunga menelan salivanya dengan susah payah. "Astaga! Jadi Bu Sofia selingkuh?” gumam Bunga lirih. “Apa sih yang kurang dari Pak Gama? Udah ganteng, tajir, apa lagi sih yang dicari?” Bunga menggeleng tanpa sadar dan merutuki kebodohannya karena sudah lancang menguping pembicaraan mereka. Tak tahan mendengar perdebatan mereka, Bunga pun memutuskan untuk menjauh, mungkin nanti saja dia bertemu dengan Sofia ketika mood wanita itu sudah membaik. Sayangnya dia terlambat pergi karena tiba-tiba saja Sofia keluar dari kamar dan melihat keberadaannya di depan pintu. "Bu," panggil Bunga pelan. "Nanti aja, aku harus pergi." Sofia langsung berucap. Padahal itu adalah kesempatan besar agar Bunga berbicara dengan Sofia, mengingat sulit sekali menemui majikannya itu. "Tapi, Bu ...." Ah, suara Bunga dianggap angin lalu oleh Sofia, wanita itu terus saja melangkah menghiraukan panggilan Bunga. Bunga menghela napas berat, dia pun memutuskan untuk kembali ke kamar. Namun, tanpa dia duga-duga tiba-tiba saja dia mendengar suara deheman seorang pria. "Sedang apa kamu di sini?" tanya pria itu dingin. Bunga menggeleng, dia ingin segera pergi namun sialnya tangan Bunga dicekal oleh Gama. Bunga pun langsung melepasnya. "Sa–saya–" "Siapa yang menyuruhmu datang ke sini? Lancang sekali.” Gama langsung menyela ucapan Bunga. Bunga kicep seketika, mulutnya gatal sekali ingin menyela, sialnya yang dikatakan Gama memang benar karena dia sudah lancang berdiri di kamar majikannya. "Saya minta maaf, Pak. Saya–” Namun, Gama tidak menunggu Bunga menyelesaikan ucapannya dan langsung pergi meninggalkan kamarnya. Keluar entah ke mana. Bunga menghela napas. Tidak berkomentar apa pun mengenai tingkah kedua majikannya, apalagi saat kepalanya penuh dengan pikiran mengenai uang yang harus ia kirim ke ibunya. Toh, konflik suami istri itu tidak ada hubungannya dengan Bunga. Bunga tidak menyangka, malam itu juga, Bunga mendapatkan pembuktian bahwa ia salah besar. "Pak, tolong ... jangan seperti ini ….” Tak pernah dia sangka, jika kedatangannya ke kamar ini malah membawa ke dalam petaka. Tadinya, Bunga hanya menolong majikannya untuk kembali ke kamar utama karena saat Gama, pria itu, datang, tubuhnya sempoyongan dan ia tidak bisa berjalan lurus. Kondisi Gama tampak mengenaskan. Penampilan pria itu yang tampak begitu acak-acakan. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa pria itu akan melakukan hal seperti ini. "Temani aku malam ini," ujar pria itu, suaranya terdengar begitu lirih. Bunga menggeleng cepat. Mana mungkin dia berani melakukan seperti itu? Apalagi ini ada di dalam kamar! Bagaimana kalau sampai ketahuan oleh istri Gama? "Anda jangan bercanda, Pak,” ujar Bunga dengan suara tegas. “Mana mungkin saya akan melakukannya, dan perlu Anda ketahui, saya ini bukan istri Anda, saya ini pembantu Anda, pembantu!" Bunga pikir ketika dia menjelaskan semuanya, Gama akan dengan cepat melepaskannya. Namun, nyatanya? Pria itu malah memeluknya makin erat. Gama bahkan membawa wajahnya ke ceruk leher Bunga dan menarik napas di sana sebelum mulai menciumi kulitnya yang halus. Hal itu membuat Bunga begidik. “Pak, mohon hentikan–!” "Aku tidak membutuhkan siapa pun, yang aku butuhkan adalah kamu." Pria itu kembali berbisik. Bunga mencoba kembali berontak, tapi gagal. Air mata Bunga mengalir deras ketika Gama berhasil merenggut satu-satunya hal berharga yang dia jaga selama ini. Malam yang begitu memilukan untuk Bunga rasakan, malam terpahit yang Bunga alami sepanjang masa. Hancur sudah pernikahan impian yang selama ini dia idam-idamkan, karena nyatanya dia tidak bisa menjaga mahkotanya sendiri. Ketika akhirnya si majikan jatuh terlelap, Bunga memunguti kembali pakaiannya dan keluar setelah berpakaian. "Tuhan, kenapa jadi seperti ini? Kenapa, Tuhan!" isak Bunga seraya memukul dadanya yang terasa begitu sesak.AUTHOR’S POVEleanor held her baby cot as she watched the little Ivy sleep so soundly. A bright smile curled up her lips. Her once-heavy heart becomes lighter with time. Her eyes darted from Ivy towards where Nimah and Dante were playing.It had been weeks since they got to the palace. Two days since their wedding. Since they walked down the aisle and exchanged beautiful vows, since she and Cruz had decided to adopt Dante During the visit to the Farms, Eleanor had stumbled on him looking sad and dirty. After minutes of persuading him, he finally confessed that JoJo, his little sister, had died.The news had made Eleanor’s heart clench tight because she knew how lonely it would feel for him. She immediately took it upon herself to tell Cruz, and he was more than excited to have another child.She rolled the beautiful ring on her finger, and a smile parted her lips. She loved him so much. She was glad that they ended up together after everything.“How is my little princess doing?” She he
ELEANOR’S POVA chilly air brushed past me, causing the hair on my body to stand at alert. My breath hitched in my throat, and my heart started to pound so loud as I watched Damon get closer.Who would have thought that he was the bad guy? “Don’t do anything stupid, Damon, please.” I pleaded, my voice quivering while my eyes stayed glued on the glittering knife he held.“Too late, El. Why use just her when I use you both? When can I finally get to rule the world?” He responded, a smirk curling up his lips.“Let her be, Damon. If you are truly a man, then face me!” Cruz dared, his pitch high as he struggled to set himself free.Damon let out a dry laugh.“A god, Cruz. That is what I will become.” He said pridefully.My eyes stung with tears, and I gently tilted my head sideways to look at the Wolf I had learned to love. My eyes trailed over his facial features, his sharp jaw, and the beauty that lay in his eyes.I knew it was the end. It's too bad that our story would have to end this
AUTHOR’S POV“Who are you?” Eleanor yelled as fear crawled through her, her fingers clutching tightly onto Cruz’s cloth while his arms were wrapped around her.She could feel her heart thumping fast.The strange man let out a long, satisfying laugh.“If it isn't the so-called Dema. How does it feel to be here, Eleanor? Especially after knowing that you can never make it out alive.” He mocked with a slight smile on his face.Cruz couldn't believe his eyes. He refused to comprehend why Eleanor’s neighbors would want to do anything to her.“What the fuck do you want, Fred?” He questioned in an obviously pissed tone.Fred twitched his lips gently.“Soon you shall know. For now, keep walking until I tell you to stop.” He ordered, causing Cruz to clench his teeth.“And if I don't?” He confronted him because, obviously, he couldn't afford to put Eleanor in more danger. At this point, he was more than willing to fight tooth and nail to get out of here.Fred dragged in the air, then chuckled m
AUTHOR’S POVHe went still. His breath hitched in his throat as he stared at her. It felt as though he had just heard the most absurd words ever existing.“How?” He questioned, a little bit scared to mention the word again because he was aware of what the dangers of being one were.Eleanor inflicted gentle pain on her fingers as she thought of the best way to explain because she, too, had no idea.“Talk to me, El!” He ordered, his voice shaking a little.The tears stinging her eyes started to let themselves roll down her cheeks. He curbed her chin up to stare at her confused expression, his other fingers running through his hair.“Fuck!” He cussed because he knew she could get killed if they knew. He was willing to lose the same person he just got back.Her sobs heightened.“I’m sorry, Cruz. I should have told you earlier. I just thought you might…despise me.” She confessed, her heart squeezing hard at each word.The pain spread through her like fire at the thought of losing him beca
CRUZ’S POV. My fist clenched into that of anger as I listened to her with rapt attention. My blood was boiling hot. I was so pissed that Wolves whom should have had her back had betrayed her in a cruel way instead. No one deserved that. I doubted that anyone did. We had that in common, I guess. Wol
ELEANOR’S POV. It had been a week since I last saw Alpha Cruz, and I wondered where he had headed. He had his Beta inform me of his traveling, although he never said a word about where he went to. The house had been so quiet without him, meal times too. I know we rarely spoke, but all the same, his
ELEANOR’S POV I drifted my eyes apart. My head was banging so severely, and I immediately knew it had to be an aftermath of the alcohol. The hangover. It was the most terrible part of consuming alcohol. My blurry vision was getting more precise, and I only saw a strange room. A room different from m
CRUZ’S POV. I still couldn't believe I had let myself get driven by my need last night. I found it hard to understand why I couldn't have resisted or pushed her away when she leaned in to kiss me. Her touch on my lips made my cock nod. It sent sensations running through my spine, and I never thought












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Rebyu