LOGINLucas was known as one of the strongest alphas who ever existed. Not because he was gifted or any sort of special, but only because he was cursed... Not just him but all his people in general, and his Luna in person. The only way to break his spell is to learn how to love. Years passed, and Lucas got to see his mate on more than just one occasion. It always starts and ends up in the same way, "the death of his mate". However, he tries his best to avoid her, if by not having her in his life maybe she would survive. Moreover, she gets in one way or another. The same things keep on happening for about 1400 years, and every time it ends up the same. Well, this was the least of his problems since he came to discover that his Luna might lose her life once and for all..... Two Luna's souls are locked in one body, one is cursed – the other is dark. The cursed one was taking full control over the years; her curse was to lose her life when she met her mate. On the other hand, the dark one refused to be locked in the shadows anymore. She decided to take back what she lost – a life. Well, a prophecy is taking place to the surface, the same prophecy holds nothing more than the doom that the dark Luna would bring along with her. ⇲ If you are into Lycans, Werewolves, Vampires, Hybrid, and Witches, then this is going to be your book...
View More"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNGStephanie's point of view: I can't get over what happened a night ago. Just as we were about to sleep, a knock on the door woke the both of us. We found a box, a closed box. As the box was opened, both of us were shocked by what we had seen… A gasp ran out of me. As for my mate who was by my side, his first move after the box was opened was to hold me between his arms and to take my face away from the box. But he was late. I saw what was in the box… And I’m terrified, more than just shocked. I might not be new to the supernatural world, but never in my life has someone sicker than Chris. In the box, there was Selina’s head, besides a letter written with her blood. {To my Stephany…My future queen.} …. The moment Lucas noticed what was written in the box, his eyes went black before he let out a furious growl, then he started destroying things around – not to mention that he ended up tightening his hold on me as he started sniffing my scent - his hybrid was in control again... I
Lucas' point of view: After having breakfast with my mate, I decided to make my way to my company. I didn't have to put much efforts to keep up with the act just as my mate has to do. Unlike her, I'm always known to be cold-hearted with everyone. Well, like every day. I made my way toward my office, not caring to greet back any of those whom were greeting me. My day supposed to be a normal day, not until I reached my office. " Stark!" I called the name of my assistant and pack member. " Yes, sir!" He answered with a cheerful attitude. Thee same attitude he was known for. " What's this?" I ask him, only then he seemed to notice that my office was totally destroyed. " My lord! What's this?" He asked, and I snapped at him. " If I knew, would I be asking you?" My office was more than just destroyed. My folders were all on the ground. My desk was thrown on the wall. The window
Lucas point of view:The moment I lost control of my Lycan, I wasn't going to regain it how harder I've tried. And my Lycan seemed to blame the girls for what happened to my mate, and he wasn't stepping back until he takes his revenge...He started destroying the shield created by Keyla, and I've tried to stop him, but I was unable to do anything. How all of this ended up that way. We supposed to fake the girl's death, not to cause it. Never had I expected that my mate would die for real. But she's dead right now, and I don't feel anything about it.Wait, I don't feel anything about it. That shall mean...My Lycan isn't trying to kill the girls. He knows what he had to do. I decided on helping him by talking through him. One of the coolest things about being a Lycan is that you can speak through your Lycan." Keyla! It's Lucas, let me hold my babies."" Not gonna happen." She declaims, " You 're going to hurt them, no way I
Lucas' point of view: When we arrive at my place, my mate was out of consciousness. Hopefully, Keyla was able to wake her up, and now they're both in the bedroom. I don't know what they're doing, but my mate seems to be in great pain. She's screaming louder than anyone I've ever encountered. What happening here is none legal, hopefully, we're having Keyla. She's like our luck stone. With one of her spells, she made it impossible for anyone to hear what's happening around us. I was sitting outside waiting for fir that nightmare to be over. If you look at me right now, I might seem as if I'm not feeling anything. The truth is that I die from the inside whenever my mate screams, and the time seems not moving at all. I'm afraid that anything might happen to any of them. My Lycan on the other hand is making it hard for me to think, as he's fighting for control since he saw his mate unconscious. If I've learned something the har
Stephanie's point of view:What are you?" A werewolf." He told me." What king of werewolves?" I re-asked. I've never seen a werewolf with green eyes. There are alphas, the hold of red eyes. Each alpha led his own pack.An alpha is followed by beta
Stephanie's point of view:" Don't lie at me. I'm not going anywhere with you. Just get lost. I don't want to see your face anymore."" Me? What I've done to you right now?"" It's all because of you..."Before I was done speaking, he started l
Milany's point of view:Laying my bed I was - facing the roof while thinking. About what I was thinking? I don't really know. I was just thinking.May things are up in my mind, yet, I was too lost than to know what to think about first. Maybe the pain I was feel
Stephanie's point of view:" No, this is not what I mean." She corrected, causing me to ask her again." And what do you mean?"" I mean, like me, you are a mage. And what's inside of you are not normal creatures. They're the same as you and your sister."
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore