LOGIN“I, Scarlett Rossi, might have just started a war by sleeping with my Pack’s biggest enemy.” Scarlet Rossi, forgotten daughter of Beta Vincent is betrothed to Alpha’s brother. The cruel brother has a reputation for torturing his women to death. She would willingly give up her life than marry the monster, and so she planned her last revenge on her family. It was giving away her virginity to a stranger whose name she refused to know. She met the captivating stranger at ball organized by the pack’s biggest enemy. Before she knew, the stranger turned to be the enemy pack’s Alpha who happened to kidnap her on her wedding day. Before she could commit suicide. In the twist of fate, she became the forbidden temptation of Alpha Dante, the one he could neither possess nor resist.
View More“Kenapa Mas?” Sandra terlihat malu.
Ia segera melepaskan tangannya dari pinggang Alan. “Aku kebelet pipis.” Jawab Alan canggung. Ia geser posisi duduknya untuk membuat jarak dengan Sandra. Matanya yang dulu selalu melihat Sandra dengan penuh cinta kini lebih memilih melihat ke langit-langit kamar. Belum juga Sandra sempat berkomentar, Alan kemudian bangkit dari tempat tidur. Meninggalkan sang istri yang sudah berusaha merekatkan kembali hubungan mereka Begitu lah hubungan pernikahan Sandra dan Alan. Sudah lebih dari enam bulan lamanya semenjak Sandra melahirkan, Alan tidak pernah menyentuhnya. Memang pada tiga bulan pertama Sandra lah yang menolak karena masa nifas dan rasanya masih takut saja berhubungan setelah melahirkan apalagi saat melahirkan Sandra mendapatkan banyak jahitan. Lagi pula badan Sandra yang menggemuk di akhir kehamilan membuat kepercayaan diri wanita itu turun. Ia tidak ingin memperlihatkan tubuh gemuknya pada sang suami. Namun, bulan-bulan selanjutnya juga tidak terjadi apa-apa pada mereka. Sandra sibuk dengan Rio, anak pertamanya juga pekerjaan di kantor karena cuti hamilnya sudah habis. Lalu Alan juga tidak berusaha untuk mendekati Sandra hingga tahu-tahu hubungan keduanya merenggang. Sudah beberapa kali Sandra mencoba membuat suaminya mendekat. Namun, berkali-kali juga gagal. Alan seperti tidak tertarik pada Sandra dan itu membuat wanita itu tidak tenang. ***** Sandra mengoleskan ulang lipstick merah di bibirnya yang seksi sebagai penutup. Wanita itu melihat tampilannya di cermin toilet dan merasa sudah sempurna. Setelah puas, ia bergegas ke luar dari toilet untuk menemui suami yang sudah menunggunya di meja. Malam ini untuk pertama kalinya Sandra dan Alan keluar untuk makan bersama. Sandra harap jalan-jalan sesekali seperti ini bisa mengingatkan Alan akan masa pacaran mereka dan bisa membuat hubungannya kembali utuh. Keduanya sibuk dengan urusan masing-masing. Sandra yang tidak pernah mengurus anak kecil sebelumnya harus belajar banyak dari sang mertua kerepotan, ditambah lagi beban kerja setelah cuti hamil yang menuntut untuk diselesaikan membuat Sandra tidak memiliki waktu untuk suaminya. Sedangkan Alan memang dari dulu sosok yang dingin, tapi itu lah yang menjadi daya tariknya. “Mas?” Sandra menyapa Alan yang sedang memandangi jendela. Tidak ada yang menarik, hanya seorang ibu bertubuh gemuk, berdaster kuning yang sedang kerepotan menggendong bayi dan menjaga balitanya. “Mas? Kamu ngeliatin apa?” tanyanya. Mendapati pandangan mata Alan persis seperti cara Alan memandang Sandra dulu, ketika mereka masih belum menikah. “Eh? Ng-nggak.” Alan menjawab dengan terbata-bata. Sandra merasa agak curiga. Namun, di luar sana memang tidak ada yang bisa dilihat. Baginya, tidak mungkin sang suami memandangi ibu-ibu gemuk berdaster begitu padahal ada dirinya di sini, cantik dengan tubuh seksi. “Kamu kangen Rio?” mungkin Alan rindu pada anaknya di rumah, pikir Sandra. “Ah, iya. Aku kepikiran Rio.” Jawab Alan lega. “Oh iya, ini dimakan dulu, ntar dingin.” Tawarnya, mengalihkan pembicaraan. Sandra yang baru sadar kalau di meja makan ada banyak sekali makanan mendadak kaget. “Kita makan ini semua?” setidaknya ada lima porsi makanan berbeda-beda di sana. “Kamu kuat makan semua ini?” “Ya nggak aku yang makan semua. Kamu kan masih menyusui, jadi harus makan yang banyak.” “Tapi kan nggak sebanyak ini juga Lan. Kalau sebanyak ini bisa-bisa aku muntah. Diet aku gimana dong, baru juga badanku balik kayak semula.” Alan terlihat tidak senang. Lelaki itu memandangi Sandra dari tas ke bawah lalu berkata. “Kamu cantik kok kalau gemuk.” ***** Sandra pulang dalam keadaan dongkol. Rencana makan malam untuk memperbaiki hubungan malah membuatnya kesal. Alan memaksa Sandra makan sangat banyak. Dan meski pun Sandra sudah kenyang, lelaki itu tetap memaksa Sandra makan dengan alasan Rio butuh ASI yang baik. Padahal selama ini Sandra mengurangi kalori untuk menurunkan berat badan, wanita itu masih makan makanan bergizi. Buktinya Rio baik-baik saja, riang dan sehat meski ia menurukan berat badan. “Bagaimana, senang jalan-jalannya?” sambut ibu mertua yang sedang menggendong Rio. Wanita tua yang wajahnya selalu ceria itu segera memberikan Rio pada Sandra yang baru pulang. Dengan usianya yang semakin tua, tubuh gemuk dan nyeri pinggang yang sering dirasakan, menjaga anak kecil bukan hal yang mudah. Begitu Rio diserahkan pada Sandra, bayi mungil berusia empat bulan itu lantas menangis. Ia meronta-ronta, menjambak rambut Sandra hingga Sandra berteriak dan mengulurkan Rio pada suaminya. Begitu lah, meski Sandra yang melahirkan Rio, Rio sepertinya tidak betah berlama-lama dengan Sandra kecuali sedang disusui. “Mungkin bau parfum sama make up kamu ganggu.” Kata Alan sambil menenangkan Rio yang tangisnya langsung reda. “Nggak usah pakai make up atau parfum dulu lah.” Sandra mendengus kesal. Padahal ia berdandan demi suaminya, tapi malah tidak dihargai. ***** Alan tidak merasa bersalah meski Sandra merajuk. Lelaki itu malah menyibukkan diri di ruang kerjanya setelah menyerahkan Rio untuk disusui Sandra. Tidak minta maaf atau tidak mencoba untuk membuat suasana hati Sandra menjadi lebih baik. Sandra tahu dirinya bukan istri yang sempurna dan juga bukan ibu yang sempurna. Alan tahu itu. Sandra adalah anak tunggal di keluarganya, ia hidup cukup dimanja dan tidak pernah mengurus bayi sama sekali. Sebelum menikah Sandra sudah membicarakan hal ini, lalu kenapa sekarang dia berubah? [Sil, kira-kira apa yang membuat laki-laki nggak tertarik sama perempuan?] Sandra mencoba menghubungi Sisil, sahabatnya. [Belok?] jawab Sisil disertai emotikon tertawa. [Tapi dia cowok normal.] Sandra kesal, sahabatnya yang satu itu memang tidak bisa serius. [Mungkin dia nggak tertarik lagi atau perempuan itu bukan tipenya.] Balasan dari Sisil membuat badan Sandra terasa dingin. Ia tidak pernah membayangkan jika suaminya akan bisa berselingkuh. Rio sudah tidur nyenyak setelah disusui. Rasa penasaran membuat Sandra ingin memastikan sesuatu. Seperti yang sering ia tahu, untuk memastikan suami berselingkuh atau tidak, bisa dimulai dari mengecek ponselnya. Sandra lega mendapati ponsel Alan ada di meja sebelah tempat tidur, seperti biasa. Itu berarti lelaki itu tidak mencoba untuk menyembunyikan apapun. Begitu juga password yang digunakan masih sama hingga Sandra dengan leluasa bisa membukanya. Tidak ada pesan aneh di aplikasi chat suaminya begitu pula panggilan telponnya. Bahkan ketika Sandra memeriksa riwayat transaksi M-banking suaminya, wanita itu tidak menemukan apapun yang aneh. Namun, seketika Sandra memicingkan mata ketika membongkar riwayat pencarian internet suaminya. ‘Wanita Gemuk Dengan Daster’ muncul paling atas dan kata kunci mirip seperti itu setidaknya ada lima di bawahnya. Ia kemudian menutup browser dan membuka galeri ponsel, tidak ada yang aneh hingga ia menemukan sebuah folder dengan nama ‘unknown’ yang ternyata dikunci. Jantung Sandra berdesir, entah mengapa ia yakin ada yang aneh dari sang suami. *****“Dante!” I screamed, feeling a sharp stabbing pain shoot through my entire body. It was like something was tearing me apart from the inside.“Baby, calm down!” Dante said gently, rubbing my back with his warm hand, trying to help me breathe through the pain.“Calm down?” I snapped at him, my voice filled with rage. “How dare you tell me to calm down right now?!”“I’m sorry, baby,” he said softly, looking worried and helpless.“Don’t you ‘sorry’ me!” I shouted, breathing heavily. “You’re not the one going through this!”I was shaking from the pain, the exhaustion, and the frustration. I turned to the doctors. They were checking how far along I was, how many centimeters dilated. But they kept saying I wasn’t ready yet. Not fully dilated. Not yet time. But it felt like it was time. My body was screaming at me. It felt like I was going to die.“What the hell is wrong with everyone?!” I shouted, tears running down my face. “I’m in so much pain, and no one is helping!”Dante stayed by my si
Scarlet’s POV“I can finally breathe,” I said softly to myself as I stepped into our home in the capital. The house was perfectly situated near the beach, and the gentle sound of the ocean waves drifting through the windows made me feel a calm I hadn’t known in days. It was incredible to finally be somewhere that felt safe, somewhere that wasn’t filled with whispers, conspiracies, or the constant tension that seemed to follow us.Amy was beyond excited to be home. She ran ahead of Dante and me, showing him every corner of the house as if it were a magical castle she had just discovered. Her laughter echoed in the halls, and it was infectious as I couldn’t help but smile. Meanwhile, I wandered into the kitchen, my stomach growling as hunger hit me hard. The kitchen staff had already stocked the counters with everything we might need and had even prepared a few dishes in advance. I settled on a sandwich, perching on the kitchen counter as I took my first bite.There was a different kin
Scarlet’s POV“What script is he following?” I whispered to Dante as I saw the king serving me breakfast himself. When we entered the dining room, he was already there, smiling so wide that it almost felt unsettling.“Don’t pay him any attention,” Dante muttered under his breath.How could I not? The man looked far too cheerful for breakfast. He laughed as though I owed him money or had just made his day by showing up. The whole thing was making my skin crawl.“Scarlet, is the food not to your liking?” the king asked suddenly, his tone soft and almost tender, like a side of him I didn’t even know existed.“No, it’s fine,” I replied quickly, forcing a polite smile. “How’s Violet?”“The doctors said she is doing much better,” he said with visible relief.“That’s good,” I nodded. “Dante and I were actually thinking of leaving for the Phantom Moon.”“Why so early?” he asked, his brows knitting together. “Violet is still recovering. It would be better if you stayed for a while longer.”“Sca
Scarlet’s POV“You need to rest now,” Dante said firmly as he wrapped his arms around me, keeping me close against his chest. His voice was soft but left no room for argument. “You’ve been running around all day. I can’t let you fall sick too.”Amy was already fast asleep in the small bed beside ours, her tiny body curled up like a kitten under the blanket. We were staying in the guest wing of the palace, but something about this place always felt strange to me, like it was too quiet kr too cold. I could never feel at ease here, no matter how much I tried. It was like some invisible wall stood between me and everyone else. My instincts never let me lower my guard, not even for a moment.“I know…” I whispered, my voice weak and tired. For a while, I just rested my head against Dante’s shoulder, trying to steady my thoughts. Then I said softly, “Dante, when I was in Violet’s room earlier, the Crown Prince came in.”Dante looked at me instantly, his hold tightening.“There was something
Amy looked around in panic, and her eyes landed on the one person she trusted above all others when her parents weren’t close by.“Brother!” she called out, her voice rising above the crowd.Ace was already moving before she finished the word.Ace reached his little sister in a matter of seconds, q
Dante’s POVAs we stepped into the hospital, the familiar sterile air and the low hum of fluorescent lights welcomed us. Dr. Maddison was on duty tonight. She spotted me immediately and walked toward us with concern in her eyes.“Alpha,” she greeted formally.“Dr. Blackthorn,” I nodded in return, w
Dante’s POVAfter Ace stormed out, Scarlet dropped the playful act she had put on to make him feel comfortable. Her expression shifted, and she looked at me with that commanding glint in her eyes.“Spill the tea, baby daddy.”God, she looked so hot when she was bossy like that.“What tea, baby?” I
Scarlet’s POVToday was important in more ways than one.It was the first large-scale public event since the war ended and the new territories were unified. For the first time in years, the whole pack, old and new, wounded and healed, had gathered in one place to celebrate survival, honor courage,






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore