MasukAda banyak pelarian yang bisa diambil untuk melepaskan penat, marah dan segala emosi. Sayangnya tak semua mengambil tempat pelarian yang tepat. Grazian salah satunya yang memilih menjadi nakal untuk melepaskan emosinya walau dia tahu tak pernah ada yang selesai dari jalan yang dipilihnya.
Semakin malam semakin ramai jalanan di tepi kota yang akan menjadi arena balap dadakan. Sekumpulan muda-muda membentuk dua kelompok di sisi kiri dan kanan jalan. Mendukung jagoan mereka masing-masing. Grazian sendiri tentu lebih mengandalkan Genta siswa SMA yang nasibnya hampir sama dengan Grazian. Punya orang tua tapi, terasa yatim piatu.
Gadis-gadis berpakaian seksi, celana pendek yang dipadu dengan tangtop ketat. Satu dari mereka bergelayut manja di lengan Grazian. Tidak tahu siapa namanya tapi, Grazian menikmati ketenarannya di antara para gadis. Membiarkan satu dari mereka menciumnya atau memberikannya minum. Grazian tidak turun ke jalan dia hanya akan mengawasi Genta Jagoannya mal ini.
Saat seorang gadis dengan syal merah turun ke tengah jalan dan mulai berhitung lalu melepas syal merah itu ke udara dua motor yang bersaing malam ini mulai melaju. Benar-benar mereka menikmati malam ini sebagai jiwa yang bebas. Mengklaim diri mereka adalah raja jalanan, menentang takdir Tuhan. Grazian sendiri duduk santai menunggu Genta sampai ke garis finish.
“Sayang malam ini free enggak?” tanya gadis itu manja sembari membelai rahang Grazian dengan sensual.
Menanggapi gadis asing yang baru pertama dikenalnya itu, Grazian tersenyum lantas mengecup bibirnya singkat. “Di tungguin mama, beib.”
“Iiiih… kok gitu sih padahalkan aku lagi pengen.” Rengek gadis berbaju merah super ketat itu.
Grazian terkekeh geli tapi, dia memang berencana akan langsung pulang setelah balapan selesai. Besok pagi masih ada kuliah, Merona akan marah jika dirinya bolos kuliah dan Grazian tidak suka jika Merona marah padanya. Pernah satu kali Merona marah karena Grazian kedapatan beberapa kali bolos kuliah lalu Merona mendiamkan dirinya berhari-hari. Menghadapi Merona yang tengah marah Grazian tak sanggup.
Sorak-sorai menyambut Genta yang memasuki garis finish. Grazian beranjak dari tempatnya untuk menghampiri Genta. Memberikan selamat sembari menjabat tangannya khas lelaki. “Bulan depan siap-siap lo.” Katanya kemudian.
“Oke bang!” Genta kemudian melirik lawannya yang usianya jauh lebih tua darinya. Mungkin sama-sama duduk di bangku kuliah. “Mana duitnya?”
Lelaki berambut berantakan itu menyerahkan segepok uang dengan jumlah tak sedikit pada Genta sambil bersungut marah. “Urusan kita belum selesai!”
“Iyain biar cepat.” Balas Genta.
Grazian melirik lawan Genta dengan tidak minat sesaat lalu kembali pada Genta dan teman-temannya. “Gue cabut duluan.”
“Lho bang, enggak ngikuti nongkrong?” tanya salah satu kawan Genta.
“Lain kali.” balas Grazian lalu berjalan ke tempat motornya berada. Bukannya untuk pulang ke apartemennya tapi, Grazian akan pulang ke apartemen Rachel. Ada hasrat yang harus dipuaskan.
Ajakan wanita sebelumnya tidak membuat Grazian berminat sebab tahu, jika wanita-wanita yang ada di kerumunan balap motor tersebut rata-rata bukan wanita yang aman untuk diajak bercinta. Grazian walaupun brengsek tapi, selalu memastikan lawan bercintanya bersih dan selalu main aman. Rachel adalah salah satunya. Gadis itu juga punya ketentuan ketika bercinta dengan pria. Grazian pada akhirnya menentukan sendiri aturan mainnya dan Rachel menyetujuinya.
Angin malam yang berhembus membuat Grazian menikmati perjalanannya menuju kediaman Rachel tapi, sebelum sampai dia membeli makanan lebih dahulu di kedai yang buka dua puluh empat jam setelahnya Grazian kembali memacu motornya dengan kecepatan penuh. Bisingnya seperti gaungan Singa yang marah. Tak lama Grazian akhirnya sampai, dia memarkirkan motornya di basement.
Dari basement Grazian masuk ke lift menekan angka sepuluh dimana unit Rachel berada. Gadis itu sudah menunggunya, terbukti ketika pintu diketuk Rachel langsung berlari menghampiri untuk membukakannya. Seperti yang sudah-sudah penampilan Rachel selalu menggoda.
“Aku bawa makanan.” Kata Grazian sembari menyodorkan kantong makanannya.
“Tapi, aku maunya makan kamu.” balas Rachel menggoda. Tangannya bergerak meraih pinggang Grazian, dengan kepala mendongak dia meminta Grazian untuk mencium bibirnya.
“Santapan yang sempurna.” Kata Grazian di atas bibir Rachel.
Lalu yang terjadi setelahnya adalah malam panas mereka habiskan di atas ranjang milik Rachel. Dinding-dinding ruangan itu menjadi saksi bisu setiap erangan yang keluar dari dua insan yang bergelung nikmat di bawah selimut itu. Selalu panas dan menggairahkan setiap percintaan yang Grazian lakukan pada gadis manapun.
***
“PT Makmur Sejahtera adalah perusahan yang bergerak dibidang industri kimia yang berdampak pada lingkungan masyrakat. Dari kaidah hukum yang tertulis bahwa PT Makmur Sejahtera bersifat bertentangan dengan kewajiban hukum pelaku dan juga melanggar hak subjektif orang.” Dosen wanita di depan para mahasiswa itu menjeda penjelasannya, lalu matanya menyisiri seisi kelas. “Grazian! Perbuatan melawan hukum meliputi beberapa hal, bisa sebutkan apa saja?”
Grazian langsung menegakan badannya. Menguap lebar kemudian dengan malas dia menjawab. “Perbuatan yang bertentangan dengan hak milik orang lain, perbuatan yang bertentangan dengan kesusilaan, yang bertentangan dengan kewajiban hukumnya sendiri dan perbuatan yang bertentangan dengan kehati-hatian atau keharusan di dalam pergaulan masyarakat yang baik."
Jawaban Grazian diapresiasi. “Lain kali jangan tidur di kelas saya. Selanjutnya, perbuatan melanggar hukum memiliki tiga katagori. Pertama melawan hukum karena kesengajaan, kedua melawan hukum karena kelalain dan ketika, perbuatan hukum tanpa kesalahan atau tanpa kesengajaan dan kesalahan….”
Penjelasan panjang lebar dosen wanita tersebut pada akhirnya didengar samar-samar oleh Grazian yang mengantuk berat. Semalam setelah selesai bercinta dengan Rachel lelaki itu langsung pulang dipukul setengah enam pagi. Lalu mandi dan bersiap ke kampus. Grazian belum tidur lalu menjadikan kelas hukum perdata lahan tidurnya.
Sang dosen mulai sebal dengan Grazian, meskipun cerdas tapi, akhlak lelaki itu sangat buruk. Lagi sang dosen menjadikan Grazian sasarannya. “Grazian! sebutkan unsur-unsur perbuatan melawan hukum.”
“Bu, kenapa saya terus sih? Nanti saya tambah pinter, yang lain aja.” Jawab Grazian malas dengan kepalanya yang masih menempel di meja.
“Teman-teman sekelas kamu duduk tegak menyimak penjelasan saya dan kamu satu-satunya yang tidur….”
Belum selesai sang dosen bicara Grazian memotong. “Yang duduk tegak dan menyimak belum tentu mengerti bu. Ibu tanya aja sama mereka, pasti kayak orang linglung.”
“Saya tanyanya kamu, bukan mereka!”
“Saya jawab ya bu tapi, kalau benar saya hari ini keluar lebih cepat dari kelas ibu.”
“Tidak bisa begi…”
“Bisa dong kan saya bayar, ibu dapet gaji dari uang saya juga.”
Perdebatan antara Grazian dan dosennya menyita perhatian seisi kelas. Semua tahu kalau bad boy si cerdas yang tak punya akhlak. Mereka berani menjamin kalau Grazian pasti dikeluarkan dari kampus kalau bukan cucu dari donator terbesar di kampus. Apalagi kecerdasan Grazian juga tidak bisa disepelekan. Beberapa dosen sering berdebat dengannya. Sebagian mengerti dan menerima argument Grazian dengan lapang dada tapi, sebagain lagi tidak karena merasa tersaingi oleh mahasiswa mereka sendiri.
Dosen perempuan kebanyakan lebih memakai hati ketika meladeni Grazian dan berkakhir dengan mereka yang marah lalu mengusir Grazian dari kelas tapi, terkadang mereka tidak melakukan itu sebab tentu saja Grazian akan girang. Maka, pilihan dosen perdata itu adalah mengalah tak lagi mendebat Grazian dan membiarkan lelaki itu terlelap di sisa jam kelasnya. Setengah jam berikutnya kelas perdata selesai dan Grazian menjadi yang paling cepat keluar dari kelas. Dia mengirim pesan pada Merona meminta gadis itu untuk menemuinya di halaman belakang kampus saat jam makan siang.
Tapi, karena jam makan siang masih ada satu jam lagi Grazian memanfaatkan kesempatan itu untuk menggoda beberapa gadis yang lewat di depannya. Seperti biasa para gadis akan tersipu-sipu atas godaan Grazian. Seseorang menepuk pundaknya dengan keras.
“Anjing!” Grazian mengumpat pada pelakunya.
Daren terkekeh atas tindakan Grazian. “Gadang lagi lo semalam?”
“Hmm.”
“Sama Rachel? Berapa ronde?”
Grazian tak menjawab. Dia melengos pergi, lalu Daren mengikuti. “Rachel selalu tahu apa yang gue mau.”
“Kakek mau ketemu lo.” Akhirnya Daren menyuarakan maksudnya sejak awal. Mereka adalah sepupu. Daren tahu masalah apa yang dihadapai Grazian.
“Bilang ke kakek, temui gue sore ini di pemakaman nenek.”
Malam menjelang subuh ketika Grazian tiba di ruang kerja pribadinya. Arbitrase saham The King berkedip di layar—jutaan dolar berpindah dalam detik—tapi pikirannya bukan pada uang, bukan pada kekuasaan.Merona dan Sagara.Nama yang seharusnya ia jauhkan dari hidupnya. Nama yang justru paling ingin ia lindungi.Jhon, tangan kanan yang paling dipercayainya, berdiri di sisi ruangan. Ia melihat ekspresi bosnya dan tahu — badai yang lebih besar akan datang.“Semua sudah diatur seperti perintahmu,” ujar Jhon pelan. “Keputusanmu sudah final?”Grazian menyandarkan tubuh di kursi, menarik napas panjang, lalu mengambil ponselnya.“Tidak,” gumamnya lirih. “Tapi aku tidak punya pilihan.”Ia mengetik pesan dengan gerakan jari yang pelan—terlalu pelan untuk ukuran pria yang biasa memerintah dunia kelam:> “Aku tidak bisa menemui kalian beberapa hari ke depan.Tunggu aku. Jangan datang ke kota. Jangan biarkan Sagara keluar setelah sekolah.Ini penting.”Ia menatap teks itu lama, seolah tiap huruf men
Hujan turun tajam malam itu, seolah berniat membelah atap gedung kaca The King. Kilat sesekali menyambar, memantul pada wajah Grazian yang berdiri di balkon, memandang Jakarta dari ketinggian seakan sedang mengukur seluruh hidupnya.Ia berpikir tentang kebebasan—dan betapa mustahilnya kata itu selama ia masih bernapas dalam lingkaran keluarga Danuwiratmadja.Suara pintu otomatis terbuka. “Dia sudah datang,” lapor Jhon, tangan kanan Grazian.Grazian tidak bergerak. Hanya asap rokok yang mengepul dari bibirnya. “Sendirian?”“Tidak. Dia datang dengan—”“—tiga orang bodyguard, semuanya bersenjata?” Grazian memotong datar.Jhon mengangguk. “Seolah dia lupa siapa bos sesungguhnya di gedung ini.”Grazian membuang rokok dalam hujan. “Tidak. Dia hanya ingin menunjukkan bahwa ia masih merasa berhak atas hidupku.”Ia melangkah masuk. Setiap langkah berat, bukan karena takut… tapi karena rasa muak yang selama ini ia tahan.---Ruang rapat The King terasa seperti arena pembantaian yang sunyi. Lamp
Danuwiratmadja Rudolph terbaring di ranjang hitam berlapis satin.Di balik tubuh renta dan kulit keriput, masih tampak bayangan pria yang dulu menaklukkan benua dengan tangan besi.Aroma obat-obatan bercampur dengan parfum mahal menandai kenyataan pahit: sang raja sedang sekarat.Meski begitu, matanya tidak kehilangan cahaya kekuasaan. Ia tidak mau mati… sebelum memastikan perang terakhirnya selesai.Arman berdiri di sisi tempat tidur. “Dokter bilang kondisinya stabil malam ini, Tuan Muda.”Grazian tidak menjawab. Ia hanya memandang kakeknya, tidak dengan iba — tetapi dengan luka yang tidak pernah sembuh.“Akhirnya kau datang,” suara Rudolph serak, namun tetap mengandung perintah, bukan permohonan.“Aku datang karena ingin selesai,” jawab Grazian datar.“Bagus.” Rudolph tersenyum tipis. “Karena aku juga ingin selesai.”Ia menepuk ranjang, memberi isyarat agar cucunya duduk. Grazian tidak bergerak.“Baik,” Rudolph menghela napas ringan. “Kalau kau mau berdiri, berdirilah. Tapi dengarka
Pagi berikutnya, Grazian tetap datang ke rumah kecil itu.Bukan karena berani.Bukan karena mengabaikan ancaman kakeknya.Tapi karena ia tahu — jika ia mundur, maka semua ketakutan dan ancaman itu menang.Dan ia sudah terlalu lama hidup kalah.---Saat ia mengetuk pintu, Sagara langsung berlari menyambutnya — tanpa ragu, tanpa curiga, tanpa tahu dunia gelap apa yang sedang bergerak di belakang punggung mereka.“Om Zian! Aku bikin gambar! Iniiii!”Gambar dinosaurus berwarna biru yang mirip dengan gambar yang mereka buat bersama kemarin.Grazian merasakan hatinya meremas… dan sembuh… dalam waktu yang sama.Merona muncul dari dapur dengan wajah canggung — berusaha menyembunyikan betapa ia rindu pria itu datang.“Kamu beneran datang,” katanya pelan.“Aku janji,” jawab Grazian. “Aku nggak mau bikin Saga nunggu.”Tapi ketika ia bicara, tatapannya tidak pernah lepas dari Merona.Dan Merona tahu — itu janji yang ditujukan juga untuknya.Tak ada pelukan.Tak ada sentuhan.Tapi dekat sekali… sa
Satu minggu sejak kedekatannya dengan Sagara dan Merona semakin tak terhindarkan, hidup Grazian berjalan seolah dua dunia sedang tarik menarik dirinya.beberapa hari yang lalu saat pagi hari ia ada di gedung kaca megah—rapat, laporan profit, transaksi gelap yang dibungkus rapi dalam istilah “investasi offshore” sekarang Grazian sudah sangat dekat dengan mimpi yaitu Merona dan Sagara, tapi untuk malam ini Grazian dipanggil pulang ke kediaman keluarga Danuwiratmadja. Rumah yang terasa seperti museum: megah, penuh simbol kekuasaan, dan dingin.Ia sudah terlatih untuk membekukan hati setiap kali memasuki tempat itu. Namun malam ini, ada firasat buruk yang sulit diabaikan.Saat memasuki ruang utama, kakeknya sudah duduk menunggunya.Danuwiratmadja Rudolph — pria tua dengan kekuasaan seperti bayangan yang tidak pernah pudar. Tatapannya tajam, bukan karena usia melemahkan… tapi karena kekuasaan menguatkan.“Duduk.”Grazian duduk tanpa kata. Tak ada sapaan keluarga — hanya perintah dan ketaat
Sejak percakapan malam itu, tidak ada kata cinta, tidak ada pengakuan eksplisit, tidak ada keputusan apa pun.Tapi sesuatu berubah.Tanpa disadari — tanpa disepakati — mereka mulai hidup dengan kesadaran satu sama lain.Merona tahu Grazian akan datang.Grazian tahu Merona tidak benar-benar ingin dia menjauh.Dan Sagara… seolah menjadi poros yang menyatukan tanpa ia mengerti apa pun.---Satu malam setelah Merona selesai shift sore di rumah sakit, Sagara demam ringan. Tidak parah, hanya tubuh lelah karena kelelahan bermain di sekolah.Namun yang membuat Merona panik bukan demam itu — melainkan satu kalimat:“Om Zyan bilang kalau aku sakit, Om bakal datang.”Merona menghela napas panjang. “Saga, Om Zyan tidak harus datang setiap kamu sakit.”“Tapi aku ingin dia datang.” Mata Sagara memerah, suara seraknya mengandung kekhawatiran yang hanya dimiliki anak kecil. “Kalau dia datang, aku cepat sembuh.”Dan kalimat itu — sederhana namun tajam — menggoyahkan Merona.Bagaimana mungkin ia memisa







