LOGINPertemuan Erik dengan wanita yang ia kenali itu membawa mereka mampir ke restoran untuk sedikit bercengkrama.
Erik sebenarnya tidak suka, hanya saja wanita muda itu adalah rekan bisnisnya, jadi mau tidak mau sopan santunnya harus sedikit ia jaga. Erik melirik pada Kalila yang tampak sibuk menyantap hidangan di hadapannya. Sepertinya gadis itu lapar, dan entah kenapa tidak ada raut tidak suka di wajah cantiknya itu. Erik berharap Kalila cemburu pada wanita yang kini bersama mereka, tapi nyatanya dia malah biasa saja. Saat sang kakak meletakkan potongan daging di piringnya, Kalila refleks mendongak. "Kak Erik tidak makan?" tanya gadis itu. Erik yang semula diam saja kemudian menggeleng. "Cepat habiskan makananmu, kita harus segera pulang," ucapnya memberi perintah, dan Kalila kembali menganggukkan kepala. Gadis itu makan dengan cepat, tapi bukan karena dirinya lapar. Dia takut mendapat omelan sang kakak jika harus berlama-lama, dan pria itu malah menambahkan makanannya. Erik berdehem, meralat ucapannya. "Makanlah perlahan, Lila. Kau bisa tersedak. Aku akan menunggumu," ucapnya lembut. Kalila melirik sebentar, kemudian mengulas senyum. "Iya, Kak." "Kalian begitu dekat?" tanya Belinda. Wanita itu kakak kandung dari Brianna yang saat ini tengah ikut makan bersama mereka. Sesekali Brianna mencuri pandang pada Kalila, dan dengan gengsi membuang muka saat Kalila balik menatapnya. Belinda memang menaruh hati pada Erik. Wanita mana yang tidak akan tertarik dengan paras tampan pria itu yang begitu menarik. Erik Estraga adalah magnet para wanita, sayangnya dia terlalu dingin pada siapa saja. Kecuali pada sang adik, dan Belinda menyadarinya. "Kami memang satu rumah, seperti kau yang satu rumah dengan adikmu. Bukankah tidak ada yang aneh?" sindir Erik saat dirasa pertanyaan wanita di hadapannya itu menjurus ke arah curiga. Status Kalila yang bukan anak kandung dari keluarganya tentu saja sudah banyak yang mengetahuinya. Saat Belinda sedikit mendekatkan tubuhnya, Erik hanya melirik dengan sekilas. "Kudengar kalian bukan saudara kandung," usut wanita itu. Erik menghela napas tak acuh. Dengan telunjuknya mendorong wanita itu agar menjauh. "Bukan urusanmu," ucapnya malas. Percuma saja jika ia berusaha untuk bersopan santun, toh sejak awal wanita itu sudah lancang mencampuri urusan pribadinya. Wanita yang mengabaikan makanan di hadapannya itu kemudian menopang dagu. Tatapannya tertuju pada wajah tampan Erik yang selalu ia bayangkan akan menjadi suaminya. Dengan semanis mungkin, Belinda berusaha tersenyum menggoda. "Kudengar kau belum punya kekasih. Pria setampan dirimu, apakah benar gosip itu?" tanyanya. Entah kenapa Brianna merasa jengah dengan kakaknya sendiri. Pria di hadapannya memang begitu tampan, tapi bukan begitu juga cara dia menebar umpan, seperti tidak laku saja, begitu pikirnya. "Kakak, aku ke toilet dulu ya." Brianna beranjak berdiri tanpa menunggu balasan atas permohonan izinnya itu. Dia pun melesat ke kamar mandi. Kalila melirik pada wanita cantik bernama Belinda. Pakaian seksi yang membungkus tubuhnya membuat ia menelan ludah. Mungkin Kak Erik suka dengan model wanita seperti itu. Dia jadi penasaran wanita seperti apakah yang biasa kakaknya itu kencani, dan apa yang mereka lakukan selama keduanya berpacaran, sedangkan dengan dirinya yang merupakan adik angkatnya saja Kak Erik begitu mesum kepadanya. "Apa itu penting?" Erik balik bertanya, dia lalu menyinggung tentang apa yang ingin Belinda bicarakan kepadanya. Sesaat Belinda berpikir, kemudian tersenyum. "Tidak ada, aku hanya ingin mentraktirmu makan siang saja, anggap sebagai permintaan maaf." Erik melengos sebal, melilat lengannya di depan dada dan bersandar ke kursinya. "Maaf sudah menganggu waktu Tuan Erik yang berharga," canda Belinda saat melihat Erik memoerhatikan jam di pergelangan tangannya. Kalila diam saja dan berusaha menghabiskan makanannya, Belinda tiba-tiba mengajaknya berbicara. "Maafkan Brianna ya, Kalila. Dia sebenarnya anak yang baik," bujuk wanita itu. Kalila mengangguk. Menoleh sekilas pada Erik yang raut wajahnya semakin masam. "Tidak apa-apa, Kak," balasnya. "Ah iya, Kalila. Apa kamu tahu, kakakmu itu sudah punya pacar belum?" Kalila menggeleng. "Tidak tahu," jawabnya. "Sayang sekali," gumam Belinda dengan melirik Erik dan tersenyum jahil kepadanya. Merasa adiknya itu terlalu lama, Belinda akhirnya menyusul gadis itu, dan berpesan pada pria di hadapannya untuk jangan ke mana-mana. "Sebentar, aku tidak akan lama," ucapnya. Erik menaruh lembaran uang di atas meja, kemudian beranjak berdiri dan meraih tangan Kalila. "Kak Erik, bukankah kita harus menunggu Kak Belin dulu?" tanyanya. "Tidak perlu, aku sudah membuang-buang waktu," ucapnya sembari menarik lengan Kalila beranjak keluar dari pintu. Saat Erik sudah duduk di balik kemudi, dengan cepat Kalila ikut duduk di sebelahnya. Tidak lama setelah gadis itu memasang sabuk pengamannya sendiri, kendaraan yang mereka tumpangi sudah melesat ke jalan raya. Sepertinya sang kakak sedang tidak bagus suasana hatinya. Meski setiap saat pria itu memang terlihat tidak bersahabat, tapi kali ini sedikit berbeda. Kalila tidak tahu pria itu kesal karena apa. Kalila dengan segera membuka sabuk pengaman di tubuhnya saat kendaraan Erik sudah berhenti di halaman rumah orang tua mereka, belum sempat gadis itu membuka pintu, Erik sudah lebih dulu mencekal lengannya. “Jika kau tudak suka, katakan saja?” Pertanyaan Erik membuat Kalila bingung. "Tidak suka karena apa?" tanya gadis itu. "Saat aku menerima ajakan Belinda." Mana berani Kalika berkata tidak suka, dia takut Erik akan memarahinya. "Tidak apa-apa, Kak Erik." Kalila tidak mengerti kenapa Erik semakin marah. Pria itu keluar dari mobil dan pergi begitu saja. Sungguh Kalila tidak mengerti dengan sikap Erik. Tapi, dengan Erik tidak bersikap kurang ajar kepadanya saja, dia sudah merasa lega.Dua hari setelah kejadian itu, Kalila tidak menemukan Erik di mana pun. Ibunya bilang sang kakak ada jadwal kerja ke luar kota, dan Kalila justru senang karenanya.Hingga beberapa hari kemudian, gantian sang ibu juga ayahnya yang akan pergi ke luar kota, dan gadis itu merengek ingin ikut dengan mereka.“Kenapa sih, kok tumben sekali kamu manja gini,” ujar sang mami.Kalila menggeleng. Tidak mungkin juga dia mengatakan bahwa dia takut ditinggal hanya berdua dengan kakaknya, tidak mungkin juga mengadukan pelecehan yang dilakukan pria itu terhadapnya selama ini.Erik yang baru saja keluar dari kamarnya kemudian berucap, “Mami tidak usah khawatir, biar Erik yang jaga Lila,” kemudian menoleh ke arah di mana Kalila masih berdiri kaku di tempatnya.Tanpa Kalila sadari, Erik sudah berdiri di sebelahnya. Buku jarinya merayap di punggung gadis itu, memberikan efek meremang yang terasa menegangkan.Kalila sejenak menahan napas.“Ya sudah, mami berangkat dulu, takut macet. Jaga Lila ya, Sayang,”
Mobil yang menepi di pinggir jalan membuat Kalila kembali merasa was-was. Sebelumnya, aksi pria itu terhenti karena lampu yang berubah hijau. Tapi, kali ini pria itu bahkan menepikan mobilnua di tempat sepi, sungguh Kalila takut sekali.“Kak Erik, kenapa berhenti?”Erik mengendurkan dasi di lehernya, menoleh pada gadis itu dengan tatapan bergairah. "Selama aku tinggal di luar negri, apa kamu pernah punya pacar?" tanyanya tiba-tiba."Ti, tidak, Kak Erik," jawab Kalika terbata."Sungguh?" Erik menyentuh pipi Kalila, menyingtkirkan anak rambut dari wajahnya. "Kau sangat cantik, benar tidak ada yang mendekatimu?"Kalila beringsut mundur, kemudian menggeleng. Dia memang tidak pernah punya pacar, Erik selalu tidak percaya saat dia mengatakannya.“Kemarilah, Lila, naik ke atas pangkuanku,” pinta Erik.Tentu saja Kalila tidak mau. Gadis itu dengan sekuat tenaga menolak permintaan sang kakak, bahkan sampai menampar pipinya. Karena hal itulah Erik sangat murka.“Turun dari mobilku. Kamu bisa pu
Perempuan itu selalu menyusahkan dirinya sendiri. Dia sering kali suka terhadap seseorang yang disukai banyak orang, seperti Kalila yang menyukai Erik, kakak angkatnya yang berdiri di atas podium.Kakaknya itu diangkat sebagai direktur Utama hotel baru milik ayah mereka, posisi tertinggi yang menandai kepercayaan penuh Arlan Smith terhadap putra sulungnya. Tepuk tangan bergema memenuhi ruangan saat nama Erik disebutkan, sorot lampu mengarah padanya, dan Kalila hanya bisa menatap dari kejauhan, menyimpan rasa yang tak seharusnya ia simpan.Meski Erik kerap bertindak kurang ajar kepadanya, tapi entah kenapa Kalila tidak bisa untuk mengabaikan pesona pria itu. Berada di keramaian membuat Kalila merasa pusing, dia lalu berkata pada saudaranya agar memberitahu sang ibu tentang keadaannya. Tidak berselang lama, seorang wanita paruh baya menghampiri Kalila dengan raut panik, kemudian menangkup wajah gadis itu. “Kamu tidak apa-apa kan, sayang? Tadi Helena bilang kamu tidak enak badan."Kali
Pertemuan Erik dengan wanita yang ia kenali itu membawa mereka mampir ke restoran untuk sedikit bercengkrama. Erik sebenarnya tidak suka, hanya saja wanita muda itu adalah rekan bisnisnya, jadi mau tidak mau sopan santunnya harus sedikit ia jaga.Erik melirik pada Kalila yang tampak sibuk menyantap hidangan di hadapannya. Sepertinya gadis itu lapar, dan entah kenapa tidak ada raut tidak suka di wajah cantiknya itu.Erik berharap Kalila cemburu pada wanita yang kini bersama mereka, tapi nyatanya dia malah biasa saja.Saat sang kakak meletakkan potongan daging di piringnya, Kalila refleks mendongak. "Kak Erik tidak makan?" tanya gadis itu.Erik yang semula diam saja kemudian menggeleng. "Cepat habiskan makananmu, kita harus segera pulang," ucapnya memberi perintah, dan Kalila kembali menganggukkan kepala.Gadis itu makan dengan cepat, tapi bukan karena dirinya lapar. Dia takut mendapat omelan sang kakak jika harus berlama-lama, dan pria itu malah menambahkan makanannya.Erik berdehem,
"Kenapa, Lila?" desak pria itu geram.Kalila menggeleng. "Ha, hanya kecelakaan kecil, Kak," ucapnya terbata.Erik tentu tidak percaya. Tatapannya yang tajam tanpa harus berusaha mengerutkan dahi pun membuat Kalila ketakutan. Gadis itu kembali menggeleng."Hanya ketidaksengajaan saja, Kak. Lila yang salah, Lila tidak apa-apa," ucap Kalila meyakinkan.Erik mematikan mesin mobilnya, kemudian beranjak keluar tanpa mengucapkan apa-apa. Kalila yang panik dengan cepat mengikuti pria itu."Kak Erik, Kak, Lila mohon, Kak, jangan seperti ini. Lila tidak apa-apa. Lika yang salah." Kalila berusaha mencegah sang kakak yang tampak tenang melangkah menuju sekolahannya.Kalila memang masih kelas tiga SMA, sekolah favorit di negaranya yang tidak semua orang bisa masuk dengan mudah ke sana, dan yang menjadi murid di tempat itu pastinya bukan orang-orang biasa. Kali ini sang kakak ingin mencari orang yang melukainya."Di mana anak yang berani membuat wajahmu membiru seperti itu? Katakan," desak Erik.Ka
“Apa kau tahu ini benda apa?”Kalila tengah menggosok rambutnya yang basah dengan handuk saat keluar dari kamar mandi, lalu terkejut mendapati sang kakak sudah berada di kamarnya.“Kak Erik?” pekik gadis itu. Handuk di tangannya pun terjatuh.“Kenapa benda ini ada di dalam tasmu?” Erik menunjukkan benda kecil terbungkus plastik berwarna merah di tangannya.“I-itu bukan punya Lila, Kak,” sangkal gadis itu. Kalila tahu dari temannya bahwa itu adalah alat kontrasepsi. Ia tidak mengerti kenapa benda itu bisa berada di dalam tasnya.“Bukan milikmu? Jadi ini milik teman priamu?” tanya Erik menuntut.Dengan cepat Kalila menggelengkan kepala untuk menyangkal tuduhan itu. Ia mengatakan pada sang kakak bahwa ia tidak tahu mengapa benda tersebut bisa ada di sana.Kalila memundurkan langkah saat Erik perlahan mendekatinya. Gadis itu mengenakan pakaian lengkap, meski hanya kaos dan celana pendek, namun tatapan tajam Erik seolah mampu menelanjanginya.Erik kembali menunjukkan benda di tangannya, la







