Home / Romansa / Hot Brother / tidak cemburu

Share

tidak cemburu

Author: ade annisa
last update Last Updated: 2025-12-20 20:42:13

Pertemuan Erik dengan wanita yang ia kenali itu membawa mereka mampir ke restoran untuk sedikit bercengkrama.

Erik sebenarnya tidak suka, hanya saja wanita muda itu adalah rekan bisnisnya, jadi mau tidak mau sopan santunnya harus sedikit ia jaga.

Erik melirik pada Kalila yang tampak sibuk menyantap hidangan di hadapannya. Sepertinya gadis itu lapar, dan entah kenapa tidak ada raut tidak suka di wajah cantiknya itu.

Erik berharap Kalila cemburu pada wanita yang kini bersama mereka, tapi nyatanya dia malah biasa saja.

Saat sang kakak meletakkan potongan daging di piringnya, Kalila refleks mendongak. "Kak Erik tidak makan?" tanya gadis itu.

Erik yang semula diam saja kemudian menggeleng. "Cepat habiskan makananmu, kita harus segera pulang," ucapnya memberi perintah, dan Kalila kembali menganggukkan kepala.

Gadis itu makan dengan cepat, tapi bukan karena dirinya lapar. Dia takut mendapat omelan sang kakak jika harus berlama-lama, dan pria itu malah menambahkan makanannya.

Erik berdehem, meralat ucapannya. "Makanlah perlahan, Lila. Kau bisa tersedak. Aku akan menunggumu," ucapnya lembut.

Kalila melirik sebentar, kemudian mengulas senyum. "Iya, Kak."

"Kalian begitu dekat?" tanya Belinda. Wanita itu kakak kandung dari Brianna yang saat ini tengah ikut makan bersama mereka.

Sesekali Brianna mencuri pandang pada Kalila, dan dengan gengsi membuang muka saat Kalila balik menatapnya.

Belinda memang menaruh hati pada Erik. Wanita mana yang tidak akan tertarik dengan paras tampan pria itu yang begitu menarik. Erik Estraga adalah magnet para wanita, sayangnya dia terlalu dingin pada siapa saja. Kecuali pada sang adik, dan Belinda menyadarinya.

"Kami memang satu rumah, seperti kau yang satu rumah dengan adikmu. Bukankah tidak ada yang aneh?" sindir Erik saat dirasa pertanyaan wanita di hadapannya itu menjurus ke arah curiga.

Status Kalila yang bukan anak kandung dari keluarganya tentu saja sudah banyak yang mengetahuinya.

Saat Belinda sedikit mendekatkan tubuhnya, Erik hanya melirik dengan sekilas. "Kudengar kalian bukan saudara kandung," usut wanita itu.

Erik menghela napas tak acuh. Dengan telunjuknya mendorong wanita itu agar menjauh. "Bukan urusanmu," ucapnya malas.

Percuma saja jika ia berusaha untuk bersopan santun, toh sejak awal wanita itu sudah lancang mencampuri urusan pribadinya.

Wanita yang mengabaikan makanan di hadapannya itu kemudian menopang dagu. Tatapannya tertuju pada wajah tampan Erik yang selalu ia bayangkan akan menjadi suaminya.

Dengan semanis mungkin, Belinda berusaha tersenyum menggoda. "Kudengar kau belum punya kekasih. Pria setampan dirimu, apakah benar gosip itu?" tanyanya.

Entah kenapa Brianna merasa jengah dengan kakaknya sendiri. Pria di hadapannya memang begitu tampan, tapi bukan begitu juga cara dia menebar umpan, seperti tidak laku saja, begitu pikirnya.

"Kakak, aku ke toilet dulu ya." Brianna beranjak berdiri tanpa menunggu balasan atas permohonan izinnya itu. Dia pun melesat ke kamar mandi.

Kalila melirik pada wanita cantik bernama Belinda. Pakaian seksi yang membungkus tubuhnya membuat ia menelan ludah.

Mungkin Kak Erik suka dengan model wanita seperti itu. Dia jadi penasaran wanita seperti apakah yang biasa kakaknya itu kencani, dan apa yang mereka lakukan selama keduanya berpacaran, sedangkan dengan dirinya yang merupakan adik angkatnya saja Kak Erik begitu mesum kepadanya.

"Apa itu penting?" Erik balik bertanya, dia lalu menyinggung tentang apa yang ingin Belinda bicarakan kepadanya.

Sesaat Belinda berpikir, kemudian tersenyum. "Tidak ada, aku hanya ingin mentraktirmu makan siang saja, anggap sebagai permintaan maaf."

Erik melengos sebal, melilat lengannya di depan dada dan bersandar ke kursinya.

"Maaf sudah menganggu waktu Tuan Erik yang berharga," canda Belinda saat melihat Erik memoerhatikan jam di pergelangan tangannya.

Kalila diam saja dan berusaha menghabiskan makanannya, Belinda tiba-tiba mengajaknya berbicara.

"Maafkan Brianna ya, Kalila. Dia sebenarnya anak yang baik," bujuk wanita itu.

Kalila mengangguk. Menoleh sekilas pada Erik yang raut wajahnya semakin masam. "Tidak apa-apa, Kak," balasnya.

"Ah iya, Kalila. Apa kamu tahu, kakakmu itu sudah punya pacar belum?"

Kalila menggeleng. "Tidak tahu," jawabnya.

"Sayang sekali," gumam Belinda dengan melirik Erik dan tersenyum jahil kepadanya.

Merasa adiknya itu terlalu lama, Belinda akhirnya menyusul gadis itu, dan berpesan pada pria di hadapannya untuk jangan ke mana-mana.

"Sebentar, aku tidak akan lama," ucapnya.

Erik menaruh lembaran uang di atas meja, kemudian beranjak berdiri dan meraih tangan Kalila.

"Kak Erik, bukankah kita harus menunggu Kak Belin dulu?" tanyanya.

"Tidak perlu, aku sudah membuang-buang waktu," ucapnya sembari menarik lengan Kalila beranjak keluar dari pintu.

Saat Erik sudah duduk di balik kemudi, dengan cepat Kalila ikut duduk di sebelahnya. Tidak lama setelah gadis itu memasang sabuk pengamannya sendiri, kendaraan yang mereka tumpangi sudah melesat ke jalan raya.

Sepertinya sang kakak sedang tidak bagus suasana hatinya. Meski setiap saat pria itu memang terlihat tidak bersahabat, tapi kali ini sedikit berbeda. Kalila tidak tahu pria itu kesal karena apa.

Kalila dengan segera membuka sabuk pengaman di tubuhnya saat kendaraan Erik sudah berhenti di halaman rumah orang tua mereka, belum sempat gadis itu membuka pintu, Erik sudah lebih dulu mencekal lengannya.

“Jika kau tudak suka, katakan saja?”

Pertanyaan Erik membuat Kalila bingung.

"Tidak suka karena apa?" tanya gadis itu.

"Saat aku menerima ajakan Belinda."

Mana berani Kalika berkata tidak suka, dia takut Erik akan memarahinya.

"Tidak apa-apa, Kak Erik."

Kalila tidak mengerti kenapa Erik semakin marah. Pria itu keluar dari mobil dan pergi begitu saja.

Sungguh Kalila tidak mengerti dengan sikap Erik. Tapi, dengan Erik tidak bersikap kurang ajar kepadanya saja, dia sudah merasa lega.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hot Brother   ancaman

    Kalila yang tidak bisa menyelam tampak sedikit kelabakan, degup jantung yang semakin berantakan membuat suasana hatinya tidak karuan, ada apa dengan dirinya yang justru malah tampak kebingungan. "Tolong jangan macam-macam, atau aku akan berteriak dan mengadukan semuanya pada papi, dan dia akan menendangmu dari sini." Ancaman gadis itu menggelitik perasaan Erik, pria itu tertawa kecil. "Mengadukan apa, Kalila?" pria itu bertanya dengan nada menggoda, mengikis jarak tubuh mereka yang tersisa beberapa jengkal saja. "Aku masuk ke kamar ini bahkan atas perintah papimu sendiri," imbuh pria itu lagi. "Kau bohong!" tukas Kalila yang semakin merasakan dingin pada telapak tangannya, mungkin terlalu lama berendam membuatnya sedikit demam. "Aku akan tetap mengadukan pada papi tentang kelancanganmu memeriksa isi kamar ini," ancam Kalila lagi. Erik tampak menyeringai, yang justru membuat ketampanan di wajahnya itu bertambah berkali lipat dari sebelumnya. Dan Kalila teramat benci untuk mengakuin

  • Hot Brother   berani

    "Berani-beraninya kau melakukan ini padaku." Saking kesalnya, Kalila memukul air di dalam bathtub, dan malah terciprat pada wajahnya, gadis itu semakin murka.Erik berjengit mundur saat air sabun itu nyaris mengenai wajahnya, pria itu beranjak berdiri. "Aku tunggu di luar, atau mau sekalian aku mandikan?" goda pria itu lagi. "Dasar Brengsek!" geram Kalila, tatapan tajam penuh dendam ia hujamkan pada pria di hadapannya. Erik terkekeh pelan, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana, dan Sorot matanya tidak pernah lepas dari tubuh Kalila. Tatapan teduh pria itu membuat Kalila menyadari sesuatu, kemudian menunduk pada baju putih yang ia kenakan, terlihat basah dan transparan. "Sialaaan!" teriaknya dengan menyilangkan kedua lengan di depan dada, dalaman warna hitam tampak tercetak jelas di sana. "Kau benar-benar pengawal yang kurang ajar, aku akan mengadukan pada papi, agar segera memecatmu sekarang juga," ancam gadis itu. Erik terkekeh lagi. "Untuk apa kau tutupi, Kalila, aku

  • Hot Brother   penghuni baru

    "Bagaimana dengan kamarnya, kamu suka?" tanya pria itu lagi. Erik mengangguk. "Terima kasih, Paman," ucapnya yang kembali membuat Kalingga menepuk pundaknya lagi, kemudian pamit undur diri dan beranjak pergi. Roy masih berada satu ruangan dengan Erik, pria itu seperti ingin mengutarakan sesuatu, dan Erik menatapnya dengan ekspresi menunggu. "Kau senang sudah sejauh ini?" Roy bertanya ambigu, dan Erik pura-pura tidak mengerti dengan maksud pria di hadapannya itu. "Apa maksudmu, Roy?" Erik bertanya, tanpa rasa kebingungan yang seharusnya terpancar dari wajahnya, karena justru raut menjengkelkan yang terlihat begitu kentara. Roy melangkahkan kakinya semakin dalam, sebagai pria yang paling dekat dengan Kalila selama tiga tahun ini, dia merasa derajatnya lebih tinggi dibanding pemuda itu. "Kau mengharapkan Kalilamu kembali, Erik?" Roy tertawa mendengus, "itu tidak akan pernah terjadi," imbuh pria itu lagi. Erik terdiam, menoleh ke arah lain saat tatapan Roy tampak mengintimidasi, dia

  • Hot Brother   hari pertama

    Erik tidak menyangka dirinya akan kena tipu juga, dia mungkin sering mendengar tentang kejahilan gadis itu, tapi berhadapan secara langsung dengannya tentu saja dia tidak pernah menduga, bahwa gadis yang dulu amat penurut bisa bersikap begitu tega.Dulu Kalila bahkan akan menangis jika melihat orang lain dalam kesulitan, dan sosoknya yang sekarang justru malah menjadi pusat dari kesulitan itu sendiri.Erik menoleh sekeliling, mengamati ruangan pengap itu dan mencari jendela untuk dirinya keluar, namun suara anak kunci diputar membuat pria itu menoleh ke arah pintu, dan kemudian membuka benda itu. Seorang wanita berseragam pelayan sedikit terkejut melihat sosoknya, dan kemudian menunduk. "Maaf, Tuan. Saya mendengar suara ketukan dari dalam jadi saya membukanya," ucap wanita itu. Erik justru berterima kasih, jika tidak ada wanita itu entah kapan dirinya berada di ruangan ini. "Apa Kalila yang menyuruhmu membukanya?" pria itu bertanya. Pelayan yang Erik tahu bernama Lusi itu kemudia

  • Hot Brother   Jahil

    Kalingga beranjak berdiri. "Aku ingin bicara denganmu, Roy," ucapnya yang membuat Roy menoleh dan ikut berdiri, keduanya melangkah menuju ruangan pribadi pria itu. "Sebenarnya ini tugas ayahmu, hanya saja sulit sekali aku menemuinya." Samar-samar Erik masih dapat menangkap obrolan keduanya, setelah pandangannya mengikuti arah langkah kedua pria itu, dia kemudian menoleh pada Kalila yang ternyata tengah menatap wajahnya. Sedetik dua detik waktu terlewati, namun Erik tampak diam saja, dan Kalila lebih dulu memutus pandangan mereka dengan beranjak berdiri dari duduknya. "Biar kutunjukkan kamarmu," ucap gadis itu. Perlahan Erik pun ikut berdiri, mengikuti gadis yang berjalan pelan di hadapannya, sesekali rok a-lina selutut yang ia kenakan ikut bergerak seiring langkah yang ia ayunkan. Jujur, Erik sangat-sangat merindukan gadis dibhadapannya, jika boleh, ia ingin memeluknya dengan erat dan menyalurkan rasa itu, namun sekali lagi yang wajib diingat oleh dirinya, bahwa kini di mata Kalil

  • Hot Brother   Orang baru

    "Pengawal baru?" Kalila mengulang kalimat sang papa, saat pria paruh baya itu mengenalkan tamunya yang mengaku bernama Erik itu sebagai bodyguard baru untuk dirinya. "Jeff kemana? Apa dia sudah menyerah sebelum berperang?" gadis itu menekankan kata terakhir dan melirikkan ekor matanya pada Erik, memberitahu pria tampan itu bahwa menjadi pengawal untuknya tidaklah mudah."Kalila," ucap sang papa mengingatkan putrinya, sesaat pria paruh baya itu ragu apakah Erik bisa bertahan. Karena sejauh ini, banyak sekali anak buahnya yang kewalahan. Dia tidak yakin Erik bisa menaklukkan anak gadisnya.Roy yang diam-diam menyimak obrolan mereka tampak terkekeh pelan, sedikit mencondongkan duduknya. "Kalila sudah tidak butuh pengawal, Paman. Dia sudah dewasa." Pembelaan itu membuat Kalila yang duduk di sebelahnya menoleh simpati, mengacungkan ibu jarinya pada pria itu."Nah benar yang Kak Roy katakan, aku sudah tidak butuh pengawal lagi, Papi. Aku bisa menjaga diriku sendiri," imbuh gadis itu, meyaki

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status