Home / Romansa / Hot Brother / rasa takut

Share

rasa takut

Author: ade annisa
last update Last Updated: 2025-12-20 20:43:12

Perempuan itu selalu menyusahkan dirinya sendiri. Dia sering kali suka terhadap seseorang yang disukai banyak orang, seperti Kalila yang menyukai Erik, kakak angkatnya yang berdiri di atas podium.

Kakaknya itu diangkat sebagai direktur Utama hotel baru milik ayah mereka, posisi tertinggi yang menandai kepercayaan penuh Arlan Smith terhadap putra sulungnya. Tepuk tangan bergema memenuhi ruangan saat nama Erik disebutkan, sorot lampu mengarah padanya, dan Kalila hanya bisa menatap dari kejauhan, menyimpan rasa yang tak seharusnya ia simpan.

Meski Erik kerap bertindak kurang ajar kepadanya, tapi entah kenapa Kalila tidak bisa untuk mengabaikan pesona pria itu.

Berada di keramaian membuat Kalila merasa pusing, dia lalu berkata pada saudaranya agar memberitahu sang ibu tentang keadaannya.

Tidak berselang lama, seorang wanita paruh baya menghampiri Kalila dengan raut panik, kemudian menangkup wajah gadis itu. “Kamu tidak apa-apa kan, sayang? Tadi Helena bilang kamu tidak enak badan."

Kalila mengangguk. “Lila sedikit pusing, Mi,” ucap gadis itu dengan menurunkan tangan sang mami dari kedua pipinya.

Acara peresmian hotel belum juga selesai. Tentu saja Erina bingung harus berbuat apa. “Tunggu sebentar lagi ya, Sayang. Mami akan mengusahakan agar kita bisa cepat pulang,” ucapnya.

Kalila tersenyum. Erina adalah malaikat bagi gadis itu. Meski dia tidak terlahir dari rahimnya, tapi kasih sayang wanita itu melimpah kepadanya. Begitu juga dengan Arlan Smith, suami wanita itu, yang juga menganggap Kalila sebagai putri bungsu keluarga mereka.

Erina tampak melambaikan tangan, dan hal itu membuat Kalila menoleh pada seseorang yang dimaksud wanita itu.

“Eh, Mami jangan,” ucap Kalila panik, saat ternyata yang dipanggil sang mami adalah Erik, kakak angkatnya, orang yang paling ia hindari setiap hari.

Wanita itu menggeleng. “Tidak apa-apa, sayang. Erik, kemarilah.” Erina kembali memanggil putra sulungnya.

Kalila menoleh, menatap pria berusia dua puluh delapan tahun itu dengan takut saat tatapan keduanya saling bertemu. Tajam, dingin, dan gelap, sekiranya seperti itulah yang dapat Kalila rasakan dari aura yang terpancar lewat mata hazel lelaki itu.

“Kamu bilang mau pulang lebih awal kan? Jika begitu, sekalian saja ajak Kalila pulang denganmu,” ucap Erina pada putra sulungnya, dan tanpa berkata apa-apa pria itu kemudian mengangguk.

Kalila berbisik dengan begitu pelan saat sudah mencondongkan tubuhnya pada sang mami. “Lila tidak mau pulang dengan Kak Erik, Mi. Lila mau pulang dengan mami saja,” mohonnya.

Erina mengerutkan dahi, bingung dengan penolakan sang putri yang sepertinya takut sekali dengan kakaknya.

“Kamu kenapa? Kalian sedang tidak ada masalah, kan?” tanya wanita itu.

Kalila sedikit terlihat gugup, kemudian menoleh pada sang kakak di hadapannya. Tatapan pria itu yang amat menusuk membuat dia menahan napas, kemudian menggeleng.

“Ya sudah, mami menemui papi kalian dulu. Kamu hati-hati ya bawa mobilnya,” ucap Erina kepada putranya dengan menepuk lengan pria tampan itu.

Erik tersenyum pada sang ibu, dan saat wanita itu berlalu, raut wajahnya kembali datar, menoleh pada Kalila dengan tatapan seperti biasa.

“Jadi, kau mau ikut pulang atau tidak?” tanya Erik. Nada suaranya begitu rendah, tapi cukup membuat Kalila tersentak dari lamunannya.

Gadis itu mengangguk, kemudian ikut melangkah saat pria di hadapannya sudah menggerakkan kaki terlebih dahulu.

Dengan perasaan takut, Kalila mencoba berusaha untuk tetap tenang, mengikuti pria itu sampai ke tempat di mana kendaraannya diparkirkan.

Kalila yang tidak mendapatkan bantuan membuka pintu jadi bingung harus duduk di sebelah mana. Dia melihat pria itu sudah duduk di balik kemudinya, dan dengan cepat dirinya membuka pintu belakang dan masuk ke dalam.

Sesaat hening, hanya detak jantung Kalila yang terdengar bertalu-talu oleh telinganya sendiri. Gadis itu mulai was-was karena sang kakak belum juga melajukan kendaraan.

“Kau pikir aku ini supirmu? Cepat pindah ke depan.”

Kalimat itu membuat Kalila sedikit tersentak. Gadis itu segera turun dari mobil dan berpindah ke kursi depan, di sebelah sang kakak yang duduk di balik kemudi.

Sebelum menyalakan mesin mobil, Erik membuka jas dari tubuhnya dan melemparkannya ke jok belakang, kemudian menaikkan lengan panjang kemeja yang ia kenakan sampai batas siku. Kalila menelan ludah takut-takut. Urat-urat yang menonjol pada lengan Erik menggambarkan betapa gagahnya pria itu.

Kalila menahan napas saat Erik menoleh kepadanya. Tatapan mata pria itu selalu melumpuhkan sisa keberanian yang ada pada dirinya. Untuk sekadar saling bertatap muka saja, dia benar-benar tidak mampu melakukannya.

Saat Erik mengulurkan tangan dan sedikit mencondongkan tubuhnya, gadis itu refleks memejamkan mata. Namun ternyata pria itu hanya memasangkan sabuk pengaman pada tubuhnya. Dia pun menghela napas saat sang kakak kembali ke tempatnya semula.

Bukan apa-apa, sudah sering Kalila mendapat perlakuan tidak senonoh saat mereka tengah berdua. Untuk itulah sebisa mungkin Kalila terus menghindar dari kakak angkatnya.

Perjalanan yang cukup lama membuat Kalila sedikit mengantuk, namun kemudian tersentak saat pria di sebelahnya sedikit menyingkap gaun yang ia kenakan dan mulai mengelus sekitar paha, hingga gadis itu berubah ketakutan.

“Kak Erik."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hot Brother   ancaman

    Kalila yang tidak bisa menyelam tampak sedikit kelabakan, degup jantung yang semakin berantakan membuat suasana hatinya tidak karuan, ada apa dengan dirinya yang justru malah tampak kebingungan. "Tolong jangan macam-macam, atau aku akan berteriak dan mengadukan semuanya pada papi, dan dia akan menendangmu dari sini." Ancaman gadis itu menggelitik perasaan Erik, pria itu tertawa kecil. "Mengadukan apa, Kalila?" pria itu bertanya dengan nada menggoda, mengikis jarak tubuh mereka yang tersisa beberapa jengkal saja. "Aku masuk ke kamar ini bahkan atas perintah papimu sendiri," imbuh pria itu lagi. "Kau bohong!" tukas Kalila yang semakin merasakan dingin pada telapak tangannya, mungkin terlalu lama berendam membuatnya sedikit demam. "Aku akan tetap mengadukan pada papi tentang kelancanganmu memeriksa isi kamar ini," ancam Kalila lagi. Erik tampak menyeringai, yang justru membuat ketampanan di wajahnya itu bertambah berkali lipat dari sebelumnya. Dan Kalila teramat benci untuk mengakuin

  • Hot Brother   berani

    "Berani-beraninya kau melakukan ini padaku." Saking kesalnya, Kalila memukul air di dalam bathtub, dan malah terciprat pada wajahnya, gadis itu semakin murka.Erik berjengit mundur saat air sabun itu nyaris mengenai wajahnya, pria itu beranjak berdiri. "Aku tunggu di luar, atau mau sekalian aku mandikan?" goda pria itu lagi. "Dasar Brengsek!" geram Kalila, tatapan tajam penuh dendam ia hujamkan pada pria di hadapannya. Erik terkekeh pelan, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana, dan Sorot matanya tidak pernah lepas dari tubuh Kalila. Tatapan teduh pria itu membuat Kalila menyadari sesuatu, kemudian menunduk pada baju putih yang ia kenakan, terlihat basah dan transparan. "Sialaaan!" teriaknya dengan menyilangkan kedua lengan di depan dada, dalaman warna hitam tampak tercetak jelas di sana. "Kau benar-benar pengawal yang kurang ajar, aku akan mengadukan pada papi, agar segera memecatmu sekarang juga," ancam gadis itu. Erik terkekeh lagi. "Untuk apa kau tutupi, Kalila, aku

  • Hot Brother   penghuni baru

    "Bagaimana dengan kamarnya, kamu suka?" tanya pria itu lagi. Erik mengangguk. "Terima kasih, Paman," ucapnya yang kembali membuat Kalingga menepuk pundaknya lagi, kemudian pamit undur diri dan beranjak pergi. Roy masih berada satu ruangan dengan Erik, pria itu seperti ingin mengutarakan sesuatu, dan Erik menatapnya dengan ekspresi menunggu. "Kau senang sudah sejauh ini?" Roy bertanya ambigu, dan Erik pura-pura tidak mengerti dengan maksud pria di hadapannya itu. "Apa maksudmu, Roy?" Erik bertanya, tanpa rasa kebingungan yang seharusnya terpancar dari wajahnya, karena justru raut menjengkelkan yang terlihat begitu kentara. Roy melangkahkan kakinya semakin dalam, sebagai pria yang paling dekat dengan Kalila selama tiga tahun ini, dia merasa derajatnya lebih tinggi dibanding pemuda itu. "Kau mengharapkan Kalilamu kembali, Erik?" Roy tertawa mendengus, "itu tidak akan pernah terjadi," imbuh pria itu lagi. Erik terdiam, menoleh ke arah lain saat tatapan Roy tampak mengintimidasi, dia

  • Hot Brother   hari pertama

    Erik tidak menyangka dirinya akan kena tipu juga, dia mungkin sering mendengar tentang kejahilan gadis itu, tapi berhadapan secara langsung dengannya tentu saja dia tidak pernah menduga, bahwa gadis yang dulu amat penurut bisa bersikap begitu tega.Dulu Kalila bahkan akan menangis jika melihat orang lain dalam kesulitan, dan sosoknya yang sekarang justru malah menjadi pusat dari kesulitan itu sendiri.Erik menoleh sekeliling, mengamati ruangan pengap itu dan mencari jendela untuk dirinya keluar, namun suara anak kunci diputar membuat pria itu menoleh ke arah pintu, dan kemudian membuka benda itu. Seorang wanita berseragam pelayan sedikit terkejut melihat sosoknya, dan kemudian menunduk. "Maaf, Tuan. Saya mendengar suara ketukan dari dalam jadi saya membukanya," ucap wanita itu. Erik justru berterima kasih, jika tidak ada wanita itu entah kapan dirinya berada di ruangan ini. "Apa Kalila yang menyuruhmu membukanya?" pria itu bertanya. Pelayan yang Erik tahu bernama Lusi itu kemudia

  • Hot Brother   Jahil

    Kalingga beranjak berdiri. "Aku ingin bicara denganmu, Roy," ucapnya yang membuat Roy menoleh dan ikut berdiri, keduanya melangkah menuju ruangan pribadi pria itu. "Sebenarnya ini tugas ayahmu, hanya saja sulit sekali aku menemuinya." Samar-samar Erik masih dapat menangkap obrolan keduanya, setelah pandangannya mengikuti arah langkah kedua pria itu, dia kemudian menoleh pada Kalila yang ternyata tengah menatap wajahnya. Sedetik dua detik waktu terlewati, namun Erik tampak diam saja, dan Kalila lebih dulu memutus pandangan mereka dengan beranjak berdiri dari duduknya. "Biar kutunjukkan kamarmu," ucap gadis itu. Perlahan Erik pun ikut berdiri, mengikuti gadis yang berjalan pelan di hadapannya, sesekali rok a-lina selutut yang ia kenakan ikut bergerak seiring langkah yang ia ayunkan. Jujur, Erik sangat-sangat merindukan gadis dibhadapannya, jika boleh, ia ingin memeluknya dengan erat dan menyalurkan rasa itu, namun sekali lagi yang wajib diingat oleh dirinya, bahwa kini di mata Kalil

  • Hot Brother   Orang baru

    "Pengawal baru?" Kalila mengulang kalimat sang papa, saat pria paruh baya itu mengenalkan tamunya yang mengaku bernama Erik itu sebagai bodyguard baru untuk dirinya. "Jeff kemana? Apa dia sudah menyerah sebelum berperang?" gadis itu menekankan kata terakhir dan melirikkan ekor matanya pada Erik, memberitahu pria tampan itu bahwa menjadi pengawal untuknya tidaklah mudah."Kalila," ucap sang papa mengingatkan putrinya, sesaat pria paruh baya itu ragu apakah Erik bisa bertahan. Karena sejauh ini, banyak sekali anak buahnya yang kewalahan. Dia tidak yakin Erik bisa menaklukkan anak gadisnya.Roy yang diam-diam menyimak obrolan mereka tampak terkekeh pelan, sedikit mencondongkan duduknya. "Kalila sudah tidak butuh pengawal, Paman. Dia sudah dewasa." Pembelaan itu membuat Kalila yang duduk di sebelahnya menoleh simpati, mengacungkan ibu jarinya pada pria itu."Nah benar yang Kak Roy katakan, aku sudah tidak butuh pengawal lagi, Papi. Aku bisa menjaga diriku sendiri," imbuh gadis itu, meyaki

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status