LOGINPerempuan itu selalu menyusahkan dirinya sendiri. Dia sering kali suka terhadap seseorang yang disukai banyak orang, seperti Kalila yang menyukai Erik, kakak angkatnya yang berdiri di atas podium.
Kakaknya itu diangkat sebagai direktur Utama hotel baru milik ayah mereka, posisi tertinggi yang menandai kepercayaan penuh Arlan Smith terhadap putra sulungnya. Tepuk tangan bergema memenuhi ruangan saat nama Erik disebutkan, sorot lampu mengarah padanya, dan Kalila hanya bisa menatap dari kejauhan, menyimpan rasa yang tak seharusnya ia simpan. Meski Erik kerap bertindak kurang ajar kepadanya, tapi entah kenapa Kalila tidak bisa untuk mengabaikan pesona pria itu. Berada di keramaian membuat Kalila merasa pusing, dia lalu berkata pada saudaranya agar memberitahu sang ibu tentang keadaannya. Tidak berselang lama, seorang wanita paruh baya menghampiri Kalila dengan raut panik, kemudian menangkup wajah gadis itu. “Kamu tidak apa-apa kan, sayang? Tadi Helena bilang kamu tidak enak badan." Kalila mengangguk. “Lila sedikit pusing, Mi,” ucap gadis itu dengan menurunkan tangan sang mami dari kedua pipinya. Acara peresmian hotel belum juga selesai. Tentu saja Erina bingung harus berbuat apa. “Tunggu sebentar lagi ya, Sayang. Mami akan mengusahakan agar kita bisa cepat pulang,” ucapnya. Kalila tersenyum. Erina adalah malaikat bagi gadis itu. Meski dia tidak terlahir dari rahimnya, tapi kasih sayang wanita itu melimpah kepadanya. Begitu juga dengan Arlan Smith, suami wanita itu, yang juga menganggap Kalila sebagai putri bungsu keluarga mereka. Erina tampak melambaikan tangan, dan hal itu membuat Kalila menoleh pada seseorang yang dimaksud wanita itu. “Eh, Mami jangan,” ucap Kalila panik, saat ternyata yang dipanggil sang mami adalah Erik, kakak angkatnya, orang yang paling ia hindari setiap hari. Wanita itu menggeleng. “Tidak apa-apa, sayang. Erik, kemarilah.” Erina kembali memanggil putra sulungnya. Kalila menoleh, menatap pria berusia dua puluh delapan tahun itu dengan takut saat tatapan keduanya saling bertemu. Tajam, dingin, dan gelap, sekiranya seperti itulah yang dapat Kalila rasakan dari aura yang terpancar lewat mata hazel lelaki itu. “Kamu bilang mau pulang lebih awal kan? Jika begitu, sekalian saja ajak Kalila pulang denganmu,” ucap Erina pada putra sulungnya, dan tanpa berkata apa-apa pria itu kemudian mengangguk. Kalila berbisik dengan begitu pelan saat sudah mencondongkan tubuhnya pada sang mami. “Lila tidak mau pulang dengan Kak Erik, Mi. Lila mau pulang dengan mami saja,” mohonnya. Erina mengerutkan dahi, bingung dengan penolakan sang putri yang sepertinya takut sekali dengan kakaknya. “Kamu kenapa? Kalian sedang tidak ada masalah, kan?” tanya wanita itu. Kalila sedikit terlihat gugup, kemudian menoleh pada sang kakak di hadapannya. Tatapan pria itu yang amat menusuk membuat dia menahan napas, kemudian menggeleng. “Ya sudah, mami menemui papi kalian dulu. Kamu hati-hati ya bawa mobilnya,” ucap Erina kepada putranya dengan menepuk lengan pria tampan itu. Erik tersenyum pada sang ibu, dan saat wanita itu berlalu, raut wajahnya kembali datar, menoleh pada Kalila dengan tatapan seperti biasa. “Jadi, kau mau ikut pulang atau tidak?” tanya Erik. Nada suaranya begitu rendah, tapi cukup membuat Kalila tersentak dari lamunannya. Gadis itu mengangguk, kemudian ikut melangkah saat pria di hadapannya sudah menggerakkan kaki terlebih dahulu. Dengan perasaan takut, Kalila mencoba berusaha untuk tetap tenang, mengikuti pria itu sampai ke tempat di mana kendaraannya diparkirkan. Kalila yang tidak mendapatkan bantuan membuka pintu jadi bingung harus duduk di sebelah mana. Dia melihat pria itu sudah duduk di balik kemudinya, dan dengan cepat dirinya membuka pintu belakang dan masuk ke dalam. Sesaat hening, hanya detak jantung Kalila yang terdengar bertalu-talu oleh telinganya sendiri. Gadis itu mulai was-was karena sang kakak belum juga melajukan kendaraan. “Kau pikir aku ini supirmu? Cepat pindah ke depan.” Kalimat itu membuat Kalila sedikit tersentak. Gadis itu segera turun dari mobil dan berpindah ke kursi depan, di sebelah sang kakak yang duduk di balik kemudi. Sebelum menyalakan mesin mobil, Erik membuka jas dari tubuhnya dan melemparkannya ke jok belakang, kemudian menaikkan lengan panjang kemeja yang ia kenakan sampai batas siku. Kalila menelan ludah takut-takut. Urat-urat yang menonjol pada lengan Erik menggambarkan betapa gagahnya pria itu. Kalila menahan napas saat Erik menoleh kepadanya. Tatapan mata pria itu selalu melumpuhkan sisa keberanian yang ada pada dirinya. Untuk sekadar saling bertatap muka saja, dia benar-benar tidak mampu melakukannya. Saat Erik mengulurkan tangan dan sedikit mencondongkan tubuhnya, gadis itu refleks memejamkan mata. Namun ternyata pria itu hanya memasangkan sabuk pengaman pada tubuhnya. Dia pun menghela napas saat sang kakak kembali ke tempatnya semula. Bukan apa-apa, sudah sering Kalila mendapat perlakuan tidak senonoh saat mereka tengah berdua. Untuk itulah sebisa mungkin Kalila terus menghindar dari kakak angkatnya. Perjalanan yang cukup lama membuat Kalila sedikit mengantuk, namun kemudian tersentak saat pria di sebelahnya sedikit menyingkap gaun yang ia kenakan dan mulai mengelus sekitar paha, hingga gadis itu berubah ketakutan. “Kak Erik."Kalila mendekat pada suaminya. "Kau lapar?" tanya wanita itu. Seperti tengah mengalihkan perhatian.Erik tidak menanggapi, fokus pada Roy yang kemudian pamit undur diri, dan colekan di pipinya dari sang istri membuat pria itu menoleh. "Aku lapar," ucap Kalila. Erik yang diam saja kemudian mendapat cubitan di pipinya. "Kita makan di luar." Erik memberikan saran. "Untuk apa, di sini banyak makanan," tolak wanita itu. Kalila mengambil dua gelas minuman berwarna yang seorang pelayan bawa dengan nampan, wanita itu memberikan satu pada suaminya. "Aku tidak haus," tolak Erik, namun kemudian ia terima juga uluran gelas dari istrinya. "Minumlah, aku merasa hawa di sini sangat panas," sindir Kalila. Erik tidak menanggapi ledekan itu, dia menenggak habis cairan manis di tangannya, kemudian memberikangelas kosong pada pelayan yang melewatinya."Tidak haus, Tuan Erik?" Kalila kembali menggoda suaminya. "Ayo kita pulang," ajak Erik dengan merangkulkan sebelah tangannya pada pinggang Kalila,
Erik tampak diam, dan begitu juga dengan istrinya, dan saat pria itu menghentikan laju kendaraannya di lampu merah, dia kemudian bertanya. "Apa yang kalian bicarakan?" Kalila menoleh pada suaminya, kemudian tertawa kecil, dia tahu pria itu pasti akan menanyakan tentang hal ini. "Menurutmu?" tanyanya menggoda. Erik berdecak, kembali melajukan kendaraannya saat lampu berubah hijau, dan sikapnya yang tak acuh itu membuat Kalila gemas dan mencubit pipinya. "Dia hanya menanyakan hadiah apa yang disukai oleh seorang wanita," ucap Kalila menjelaskan. "Untukmu?" Erik kemudian bertanya, dan malah membuat Kalila jadi tertawa. "Tentu saja bukan," sangkal wanita itu, dan kembali mencubit pipinya. Sampai di dalam kamar Kalila mendapati suaminya itu lebih banyak diam, bahkan sudah lebih dulu merebahkan diri di atas kasur, biasanya pria itu selalu mengganggunya. Setelah mengganti gaunnya dengan baju tidur seperti biasa, Kalila kemudian naik ke atas ranjang dan mencolek pipi suaminya. "Kau ta
"Seharusnya tidak perlu," ucap Kalila dengan berusaha bangkit dari pangkuan Erik, namun pria itu menahannya. "Kau bilang ada rapat, cepat lepaskan aku," pintanya. Bukan menurut, suaminya itu malah tersenyum. Kalila mengerutkan dahi saat Sorot mata pria di hadapannya itu terlihat sendu, dan dia tahu arti tatapan itu. "Kak Eriik, kau bilang sibuk."***Erik yang tengah memasang kembali sepatunya duduk di tepi ranjang, sesekali pria itu menoleh pada jarum jam di pergelangan tangan, memastikan bahwa waktunya masih banyak tersisa. "Sudah lewat tigapuluh menit loh Kak," ucap Kalila mendekat dengan air putih di tangannya, kemudian ia taruh di atas meja, Kalila menghampiri suaminya dan berdiri di hadapan pria itu untuk membantu memasangkan dasi di lehernya. "Papi kamu juga belum datang, sepertinya dia ada urusan juga," ucap Erik sedikit menggoda, dengan sibuk mengancingkan lengan kemejanya. Kalila berdecak, melirikkan matanya dengan sinis ke arah suaminya namun kemudian tersenyum juga. "M
"Awas, Kak. Aku harus membalikkan telur nanti gosong," ucap Kalila dengan tertawa, dan setelah suaminya itu menyingkir dia justru kembali kebingungan. "Aku tidak bisa mengendalikannya!" "Apa yang harus aku lakukan?" Erik kemudian bertanya. Dan sang istri menyuruh untuk mematikan kompornya. Sesaat berperang dengan spatula dan dapur yang berantakan, Kalila meletakan mi goreng dan telur ceplok setengah gosong di atas meja. "Maaf aku tidak bisa masak," Sesalnya. Erik menatap wajah cantik sang istri yang terlihat begitu kontras dengan hasil masakan di piringnya, namun pria yang duduk pada kursi di ujung meja itu menarik piring dari hadapan Kalila agar mendekatinya. Kalila sedikit terkesip saat suaminya itu menyendok masakannya kemudian ia makan. "Jangan, Kak Erik!" cegahnya dengan mendekat, kemudian duduk di sebelah Erik dan menyentuh lengannya, Kalila takut sang suami akan keracunan dengan hasil masakannya, belum apa-apa masa dia harus menjadi janda. Erik sedikit mengernyit saat rasa
Tidak terasa satu minggu sudah mereka berada di tempat itu, Kalila pun sudah mulai lelah menjelajahi semua tempat wisata yang tidak akan pernah bosan meski berkali-kali mengunjunginya, tapi sungguh dia sangat merindukan mami Erina, dia ingin pulang ke rumah orang yang saat ini sudah menjadi mami mertuanya.Kedatangan mereka tentu disambut gembira oleh Erina, yang sudah menyiapkan makanan banyak untuk putra dan menantunya. "Bagaimana liburan kalian, apa menyenangkan?" Erina bertanya dengan sedikit menggoda Kalila tentang bagaimana rasanya malam pertama, keduanya kemudian terlibat obrolan. Erik lebih banyak diam saat berada di ruang makan, menyaksikan dua wanita kesayangannya terlihat bahagia dia sudah begitu senang. "Jadi, niatnya kalian mau tinggal di mana?" Pertanyaan itu terlontar dari Arlan, yang saat ini ikut makan malam bersama mereka. Sama seperti Erik, pria paruh baya itu juga lebih banyak diam. "Tinggal di rumah mami saja ya," bujuk Erina dengan menyentuh lengan Kalila. D
Erik menatap kedua bolamata Kalila yang terlihat jernih, kabut yang semula memenuhi netranya itu terlihat menghilang. "Aku suka melihat pancaran matamu, dan perubahannya saat kau aku sentuh," ucapnya dengan mengusapkan kembali tangannya pada perut rata Kalila, memainkan jahitan luka yang sedikit membekas di sana. Sejenak Kalila tertegun, pria yang berbaring miring menghadapnya dan menopang kepala dengan tangan itu semakin membuatnya merasa malu. "Apa kau selalu seperti ini?" tanya Kalila hati-hati. Erik yang masih menatap wajah cantik istrinya itu kemudian mengangkat alis. "Seperti ini bagaimana?" tanyanya tidak mengerti. Kalila mengalihkan pandangannya pada langit-langit kamar, sorot teduh pria itu selalu membuatnya merasa masuk ke dalam labirin rumit yang tidak tahu di mana jalan keluar. "Kau masih berpakaian lengkap sedangkan aku nyaris tidak mengenakan apa-apa." Mendengar kalimat itu keluar dengan nada malu-malu membuat Erik kemudi tertawa, pria itu merebahkan diri dan menar
Hal itu membuat Arlan semakin merasa penasaran, dia pun membuka benda itu dan mengeluarkan isinya dari sana, mendapati foto Erik yang begitu mesra dengan Kalila, membuat darahnya naik ke kepala, pria itu benar-benar merasa kecewa. "Erik," geramnya dengan meremas foto di tangan kanannya. "Kendalika
Erik tengah berada di kantor, duduk di kursi ruangan pribadinya dengan meneliti pekerjaan yang beberapa hari ini ia tinggalkan.Suara pintu terbuka membuat pria itu menoleh, seorang wanita yang ia kenali masuk dari sana, disusul oleh sekretarisnya yang terlihat merasa bersalah."Maaf, Pak Erik, Non
"Lepaskan dia," gertak Erik, tatapannya tajam pada Ben yang kemudian tertawa.Pria brengsek itu menghampiri adiknya dan menjambak rambut gadis itu, memaksa mendongakkan kepala."Lepaskan dia, Ben!" Erik berteriak murka. Belinda ikut tertawa, dari raut wajah Erik yang berubah, juga ketakutan yang t
"Dia, ayah kandungmu."Kalimat itu membuat Kalila sedikit terlonjak, sang ibu yang duduk di sebelahnya memberikan pelukan pada gadis itu, mengetahui bahwa dirinya bukan anak kandung dari keduanya sejak dulu pun dia sudah menerima. Tapi, kini dia harus tahu sebuah kenyataan bahwa dirinya adalah anak







