LOGIN"Kenapa, Lila?" desak pria itu geram.
Kalila menggeleng. "Ha, hanya kecelakaan kecil, Kak," ucapnya terbata. Erik tentu tidak percaya. Tatapannya yang tajam tanpa harus berusaha mengerutkan dahi pun membuat Kalila ketakutan. Gadis itu kembali menggeleng. "Hanya ketidaksengajaan saja, Kak. Lila yang salah, Lila tidak apa-apa," ucap Kalila meyakinkan. Erik mematikan mesin mobilnya, kemudian beranjak keluar tanpa mengucapkan apa-apa. Kalila yang panik dengan cepat mengikuti pria itu. "Kak Erik, Kak, Lila mohon, Kak, jangan seperti ini. Lila tidak apa-apa. Lika yang salah." Kalila berusaha mencegah sang kakak yang tampak tenang melangkah menuju sekolahannya. Kalila memang masih kelas tiga SMA, sekolah favorit di negaranya yang tidak semua orang bisa masuk dengan mudah ke sana, dan yang menjadi murid di tempat itu pastinya bukan orang-orang biasa. Kali ini sang kakak ingin mencari orang yang melukainya. "Di mana anak yang berani membuat wajahmu membiru seperti itu? Katakan," desak Erik. Kalila terdiam. Gadis itu nyaris menangis di tempatnya. Dia tidak ingin menambah masalah yang akan membuat Brianna jadi murka. Apalagi Kak Erik adalah orang yang tidak punya rasa iba. "Katakan, Lila," geram Erik, terus mendesak sang adik untuk berkata jujur kepadanya. Kalila masih dilema. Dia takut akan terjadi apa-apa dengan temannya, namun diam saja bukanlah pilihan yang tepat jika itu bersangkutan dengan sang kakak. Kalila menunduk saat berkata, "Ta, tadi Lila nggak sengaja nabrak anak kelas sebelah. Sekarang mereka di kantin," ucapnya takut-takut, kemudian mendongak saat pria di hadapannya itu melakukan pergerakan. "Ka Erik, Kak Erik!" cegah gadis itu cepat dengan menyentuh lengan sang kakak yang dibalut jas kerja dengan rapi. Penampilannya teramat tampan sekali, tapi kali ini bukanlah waktu yang tepat untuk memuji. "Lila mohon, Kak Erik, tolong jangan membuat masalah. Lila takut," rengeknya. Tentu saja pria tampan berwajah dingin itu tidak mengindahkan rengekan sang adik. "Hanya aku yang boleh menindasmu di dunia ini. Orang lain tidak berhak akan hal itu," ucap Erik, dengan segera dia mencari orang yang telah berani mengganggu adiknya. Kalila menunjuk ke arah kerumunan kelompok gadis sosialita yang terlihat tengah asyik bercengkrama, berkumpul di meja kantin paling tengah. Pria itu pun segera menghampirinya. Kemunculan Erik dengan penampilan yang amat berbeda dari seragam yang mereka kenakan pun menjadi pusat perhatian. Kalila menunduk dalam, pria itu terus menarik pergelangan tangannya. Wah, tampan sekali pria itu, kira-kira siapa ya? Eh, ada si gadis bisu bersamanya, mungkin keluarganya. Kurasa memang dia kakaknya, tapi kenapa tidak mirip. Sayup-sayup Kalila dapat menangkap obrolan para siswi pengunjung kantin. Dia jadi benar-benar malu sekarang, mereka benar-benar menjadi pusat perhatian. Suara tawa dari satu gadis berambut panjang yang memunggungi Erik tampak menggema. "Kau lihat tadi wajah Kalila yang cantik itu ketakutan, padahal aku hanya menggertaknya sedikit saja," ujarnya merasa puas. Gadis di sebelahnya menyambut, "Kau sampai menampar pipinya, bagaimana anak itu tidak merasa takut," sambungnya kemudian tertawa. Dua gadis di hadapan mereka yang menyadari kedatangan Erik mulai memberikan isyarat agar temannya mau menoleh, dan belum sempat keduanya berbalik, dengan keras Erik menggebrak meja hingga suasana berubah hening. Sesaat, alih-alih merasa terkejut, keempat gadis yang menghuni meja itu tampak terpana. Ketampanan Erik cukup membuat mulut mereka ternganga. "Kalian mengganggu adikku, benar?" tanya Erik dengan tenang, namun raut wajahnya yang terlihat dingin cukup membuat bulu kuduk mereka meremang. Satu gadis berambut panjang menoleh pada Kalila yang kemudian langsung menunduk. Hal itu tidak lepas dari perhatian Erik. Dia dengan cepat merenggut dagu gadis itu dan membuat teman-temannya ketakutan. "Jika kau masih sayang dengan dirimu sendiri, jangan pernah sekali-kali mengganggu adikku lagi," ancam Erik. Gadis berambut panjang itu mengernyit ketakutan. "Sa, sakit, Kak," rintihnya. Tidak ada yang berani menolong gadis itu, meskipun banyak dari mereka yang menonton kejadian tersebut. "Sentuh adikku sekali lagi, akan kutampar wajahmu seribu kali!" Ancam Erik, dengam kasar melepaskan dagu gadis itu setelah mengangguk ketakutan. Erik berbalik, menggenggam pergelangan tangan Kalila dan berniat pergi dari sana. Tapi, langkahnya terhenti saat seorang wanita yang baru datang kemudian menghalanginya. "Erik?" tanya wanita itu, lalu menoleh pada salah satu gadis yang tergabung dalam kerumunan. "Ada urusan apa kau dengan adikku?" tanyanya. "Gadis itu adikmu?" tanya Erik. "Ya, namanya Brianna. Dia adikku," balasnya riang. "Adikmu, mengganggu adikku." Wanita itu tampak tidak menyangka, lalu menyuruh sang adik untuk meminta maaf pada mereka. "Sebagai permohonan maaf, bagaimana jika aku traktir kalian makan," tawarnya. "Tidak perlu," tolak Erik mentah-mentah. "Ada yang ingin kubicarakan, bisa kan?" Paksanya. Erik melirik sebentar ke arah Kalila, lalu mengangguk menyetujuinya. "Ok, baiklah."Dua hari setelah kejadian itu, Kalila tidak menemukan Erik di mana pun. Ibunya bilang sang kakak ada jadwal kerja ke luar kota, dan Kalila justru senang karenanya.Hingga beberapa hari kemudian, gantian sang ibu juga ayahnya yang akan pergi ke luar kota, dan gadis itu merengek ingin ikut dengan mereka.“Kenapa sih, kok tumben sekali kamu manja gini,” ujar sang mami.Kalila menggeleng. Tidak mungkin juga dia mengatakan bahwa dia takut ditinggal hanya berdua dengan kakaknya, tidak mungkin juga mengadukan pelecehan yang dilakukan pria itu terhadapnya selama ini.Erik yang baru saja keluar dari kamarnya kemudian berucap, “Mami tidak usah khawatir, biar Erik yang jaga Lila,” kemudian menoleh ke arah di mana Kalila masih berdiri kaku di tempatnya.Tanpa Kalila sadari, Erik sudah berdiri di sebelahnya. Buku jarinya merayap di punggung gadis itu, memberikan efek meremang yang terasa menegangkan.Kalila sejenak menahan napas.“Ya sudah, mami berangkat dulu, takut macet. Jaga Lila ya, Sayang,”
Mobil yang menepi di pinggir jalan membuat Kalila kembali merasa was-was. Sebelumnya, aksi pria itu terhenti karena lampu yang berubah hijau. Tapi, kali ini pria itu bahkan menepikan mobilnua di tempat sepi, sungguh Kalila takut sekali.“Kak Erik, kenapa berhenti?”Erik mengendurkan dasi di lehernya, menoleh pada gadis itu dengan tatapan bergairah. "Selama aku tinggal di luar negri, apa kamu pernah punya pacar?" tanyanya tiba-tiba."Ti, tidak, Kak Erik," jawab Kalika terbata."Sungguh?" Erik menyentuh pipi Kalila, menyingtkirkan anak rambut dari wajahnya. "Kau sangat cantik, benar tidak ada yang mendekatimu?"Kalila beringsut mundur, kemudian menggeleng. Dia memang tidak pernah punya pacar, Erik selalu tidak percaya saat dia mengatakannya.“Kemarilah, Lila, naik ke atas pangkuanku,” pinta Erik.Tentu saja Kalila tidak mau. Gadis itu dengan sekuat tenaga menolak permintaan sang kakak, bahkan sampai menampar pipinya. Karena hal itulah Erik sangat murka.“Turun dari mobilku. Kamu bisa pu
Perempuan itu selalu menyusahkan dirinya sendiri. Dia sering kali suka terhadap seseorang yang disukai banyak orang, seperti Kalila yang menyukai Erik, kakak angkatnya yang berdiri di atas podium.Kakaknya itu diangkat sebagai direktur Utama hotel baru milik ayah mereka, posisi tertinggi yang menandai kepercayaan penuh Arlan Smith terhadap putra sulungnya. Tepuk tangan bergema memenuhi ruangan saat nama Erik disebutkan, sorot lampu mengarah padanya, dan Kalila hanya bisa menatap dari kejauhan, menyimpan rasa yang tak seharusnya ia simpan.Meski Erik kerap bertindak kurang ajar kepadanya, tapi entah kenapa Kalila tidak bisa untuk mengabaikan pesona pria itu. Berada di keramaian membuat Kalila merasa pusing, dia lalu berkata pada saudaranya agar memberitahu sang ibu tentang keadaannya. Tidak berselang lama, seorang wanita paruh baya menghampiri Kalila dengan raut panik, kemudian menangkup wajah gadis itu. “Kamu tidak apa-apa kan, sayang? Tadi Helena bilang kamu tidak enak badan."Kali
Pertemuan Erik dengan wanita yang ia kenali itu membawa mereka mampir ke restoran untuk sedikit bercengkrama. Erik sebenarnya tidak suka, hanya saja wanita muda itu adalah rekan bisnisnya, jadi mau tidak mau sopan santunnya harus sedikit ia jaga.Erik melirik pada Kalila yang tampak sibuk menyantap hidangan di hadapannya. Sepertinya gadis itu lapar, dan entah kenapa tidak ada raut tidak suka di wajah cantiknya itu.Erik berharap Kalila cemburu pada wanita yang kini bersama mereka, tapi nyatanya dia malah biasa saja.Saat sang kakak meletakkan potongan daging di piringnya, Kalila refleks mendongak. "Kak Erik tidak makan?" tanya gadis itu.Erik yang semula diam saja kemudian menggeleng. "Cepat habiskan makananmu, kita harus segera pulang," ucapnya memberi perintah, dan Kalila kembali menganggukkan kepala.Gadis itu makan dengan cepat, tapi bukan karena dirinya lapar. Dia takut mendapat omelan sang kakak jika harus berlama-lama, dan pria itu malah menambahkan makanannya.Erik berdehem,
"Kenapa, Lila?" desak pria itu geram.Kalila menggeleng. "Ha, hanya kecelakaan kecil, Kak," ucapnya terbata.Erik tentu tidak percaya. Tatapannya yang tajam tanpa harus berusaha mengerutkan dahi pun membuat Kalila ketakutan. Gadis itu kembali menggeleng."Hanya ketidaksengajaan saja, Kak. Lila yang salah, Lila tidak apa-apa," ucap Kalila meyakinkan.Erik mematikan mesin mobilnya, kemudian beranjak keluar tanpa mengucapkan apa-apa. Kalila yang panik dengan cepat mengikuti pria itu."Kak Erik, Kak, Lila mohon, Kak, jangan seperti ini. Lila tidak apa-apa. Lika yang salah." Kalila berusaha mencegah sang kakak yang tampak tenang melangkah menuju sekolahannya.Kalila memang masih kelas tiga SMA, sekolah favorit di negaranya yang tidak semua orang bisa masuk dengan mudah ke sana, dan yang menjadi murid di tempat itu pastinya bukan orang-orang biasa. Kali ini sang kakak ingin mencari orang yang melukainya."Di mana anak yang berani membuat wajahmu membiru seperti itu? Katakan," desak Erik.Ka
“Apa kau tahu ini benda apa?”Kalila tengah menggosok rambutnya yang basah dengan handuk saat keluar dari kamar mandi, lalu terkejut mendapati sang kakak sudah berada di kamarnya.“Kak Erik?” pekik gadis itu. Handuk di tangannya pun terjatuh.“Kenapa benda ini ada di dalam tasmu?” Erik menunjukkan benda kecil terbungkus plastik berwarna merah di tangannya.“I-itu bukan punya Lila, Kak,” sangkal gadis itu. Kalila tahu dari temannya bahwa itu adalah alat kontrasepsi. Ia tidak mengerti kenapa benda itu bisa berada di dalam tasnya.“Bukan milikmu? Jadi ini milik teman priamu?” tanya Erik menuntut.Dengan cepat Kalila menggelengkan kepala untuk menyangkal tuduhan itu. Ia mengatakan pada sang kakak bahwa ia tidak tahu mengapa benda tersebut bisa ada di sana.Kalila memundurkan langkah saat Erik perlahan mendekatinya. Gadis itu mengenakan pakaian lengkap, meski hanya kaos dan celana pendek, namun tatapan tajam Erik seolah mampu menelanjanginya.Erik kembali menunjukkan benda di tangannya, la







