Beranda / Romansa / Hot Brother / Kakak laki-laki

Share

Kakak laki-laki

Penulis: ade annisa
last update Tanggal publikasi: 2025-12-20 20:40:59

"Kenapa, Lila?" desak pria itu geram.

Kalila menggeleng. "Ha, hanya kecelakaan kecil, Kak," ucapnya terbata.

Erik tentu tidak percaya. Tatapannya yang tajam tanpa harus berusaha mengerutkan dahi pun membuat Kalila ketakutan. Gadis itu kembali menggeleng.

"Hanya ketidaksengajaan saja, Kak. Lila yang salah, Lila tidak apa-apa," ucap Kalila meyakinkan.

Erik mematikan mesin mobilnya, kemudian beranjak keluar tanpa mengucapkan apa-apa. Kalila yang panik dengan cepat mengikuti pria itu.

"Kak Erik, Kak, Lila mohon, Kak, jangan seperti ini. Lila tidak apa-apa. Lika yang salah." Kalila berusaha mencegah sang kakak yang tampak tenang melangkah menuju sekolahannya.

Kalila memang masih kelas tiga SMA, sekolah favorit di negaranya yang tidak semua orang bisa masuk dengan mudah ke sana, dan yang menjadi murid di tempat itu pastinya bukan orang-orang biasa. Kali ini sang kakak ingin mencari orang yang melukainya.

"Di mana anak yang berani membuat wajahmu membiru seperti itu? Katakan," desak Erik.

Kalila terdiam. Gadis itu nyaris menangis di tempatnya. Dia tidak ingin menambah masalah yang akan membuat Brianna jadi murka. Apalagi Kak Erik adalah orang yang tidak punya rasa iba.

"Katakan, Lila," geram Erik, terus mendesak sang adik untuk berkata jujur kepadanya.

Kalila masih dilema. Dia takut akan terjadi apa-apa dengan temannya, namun diam saja bukanlah pilihan yang tepat jika itu bersangkutan dengan sang kakak.

Kalila menunduk saat berkata, "Ta, tadi Lila nggak sengaja nabrak anak kelas sebelah. Sekarang mereka di kantin," ucapnya takut-takut, kemudian mendongak saat pria di hadapannya itu melakukan pergerakan.

"Ka Erik, Kak Erik!" cegah gadis itu cepat dengan menyentuh lengan sang kakak yang dibalut jas kerja dengan rapi.

Penampilannya teramat tampan sekali, tapi kali ini bukanlah waktu yang tepat untuk memuji. "Lila mohon, Kak Erik, tolong jangan membuat masalah. Lila takut," rengeknya.

Tentu saja pria tampan berwajah dingin itu tidak mengindahkan rengekan sang adik.

"Hanya aku yang boleh menindasmu di dunia ini. Orang lain tidak berhak akan hal itu," ucap Erik, dengan segera dia mencari orang yang telah berani mengganggu adiknya.

Kalila menunjuk ke arah kerumunan kelompok gadis sosialita yang terlihat tengah asyik bercengkrama, berkumpul di meja kantin paling tengah. Pria itu pun segera menghampirinya.

Kemunculan Erik dengan penampilan yang amat berbeda dari seragam yang mereka kenakan pun menjadi pusat perhatian.

Kalila menunduk dalam, pria itu terus menarik pergelangan tangannya.

Wah, tampan sekali pria itu, kira-kira siapa ya?

Eh, ada si gadis bisu bersamanya, mungkin keluarganya.

Kurasa memang dia kakaknya, tapi kenapa tidak mirip.

Sayup-sayup Kalila dapat menangkap obrolan para siswi pengunjung kantin. Dia jadi benar-benar malu sekarang, mereka benar-benar menjadi pusat perhatian.

Suara tawa dari satu gadis berambut panjang yang memunggungi Erik tampak menggema. "Kau lihat tadi wajah Kalila yang cantik itu ketakutan, padahal aku hanya menggertaknya sedikit saja," ujarnya merasa puas.

Gadis di sebelahnya menyambut, "Kau sampai menampar pipinya, bagaimana anak itu tidak merasa takut," sambungnya kemudian tertawa.

Dua gadis di hadapan mereka yang menyadari kedatangan Erik mulai memberikan isyarat agar temannya mau menoleh, dan belum sempat keduanya berbalik, dengan keras Erik menggebrak meja hingga suasana berubah hening.

Sesaat, alih-alih merasa terkejut, keempat gadis yang menghuni meja itu tampak terpana. Ketampanan Erik cukup membuat mulut mereka ternganga.

"Kalian mengganggu adikku, benar?" tanya Erik dengan tenang, namun raut wajahnya yang terlihat dingin cukup membuat bulu kuduk mereka meremang.

Satu gadis berambut panjang menoleh pada Kalila yang kemudian langsung menunduk. Hal itu tidak lepas dari perhatian Erik. Dia dengan cepat merenggut dagu gadis itu dan membuat teman-temannya ketakutan.

"Jika kau masih sayang dengan dirimu sendiri, jangan pernah sekali-kali mengganggu adikku lagi," ancam Erik.

Gadis berambut panjang itu mengernyit ketakutan. "Sa, sakit, Kak," rintihnya.

Tidak ada yang berani menolong gadis itu, meskipun banyak dari mereka yang menonton kejadian tersebut.

"Sentuh adikku sekali lagi, akan kutampar wajahmu seribu kali!" Ancam Erik, dengam kasar melepaskan dagu gadis itu setelah mengangguk ketakutan.

Erik berbalik, menggenggam pergelangan tangan Kalila dan berniat pergi dari sana. Tapi, langkahnya terhenti saat seorang wanita yang baru datang kemudian menghalanginya.

"Erik?" tanya wanita itu, lalu menoleh pada salah satu gadis yang tergabung dalam kerumunan. "Ada urusan apa kau dengan adikku?" tanyanya.

"Gadis itu adikmu?" tanya Erik.

"Ya, namanya Brianna. Dia adikku," balasnya riang.

"Adikmu, mengganggu adikku."

Wanita itu tampak tidak menyangka, lalu menyuruh sang adik untuk meminta maaf pada mereka.

"Sebagai permohonan maaf, bagaimana jika aku traktir kalian makan," tawarnya.

"Tidak perlu," tolak Erik mentah-mentah.

"Ada yang ingin kubicarakan, bisa kan?" Paksanya.

Erik melirik sebentar ke arah Kalila, lalu mengangguk menyetujuinya. "Ok, baiklah."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hot Brother   Bahagia

    Kalila mendekat pada suaminya. "Kau lapar?" tanya wanita itu. Seperti tengah mengalihkan perhatian.Erik tidak menanggapi, fokus pada Roy yang kemudian pamit undur diri, dan colekan di pipinya dari sang istri membuat pria itu menoleh. "Aku lapar," ucap Kalila. Erik yang diam saja kemudian mendapat cubitan di pipinya. "Kita makan di luar." Erik memberikan saran. "Untuk apa, di sini banyak makanan," tolak wanita itu. Kalila mengambil dua gelas minuman berwarna yang seorang pelayan bawa dengan nampan, wanita itu memberikan satu pada suaminya. "Aku tidak haus," tolak Erik, namun kemudian ia terima juga uluran gelas dari istrinya. "Minumlah, aku merasa hawa di sini sangat panas," sindir Kalila. Erik tidak menanggapi ledekan itu, dia menenggak habis cairan manis di tangannya, kemudian memberikangelas kosong pada pelayan yang melewatinya."Tidak haus, Tuan Erik?" Kalila kembali menggoda suaminya. "Ayo kita pulang," ajak Erik dengan merangkulkan sebelah tangannya pada pinggang Kalila,

  • Hot Brother   pesta

    Erik tampak diam, dan begitu juga dengan istrinya, dan saat pria itu menghentikan laju kendaraannya di lampu merah, dia kemudian bertanya. "Apa yang kalian bicarakan?" Kalila menoleh pada suaminya, kemudian tertawa kecil, dia tahu pria itu pasti akan menanyakan tentang hal ini. "Menurutmu?" tanyanya menggoda. Erik berdecak, kembali melajukan kendaraannya saat lampu berubah hijau, dan sikapnya yang tak acuh itu membuat Kalila gemas dan mencubit pipinya. "Dia hanya menanyakan hadiah apa yang disukai oleh seorang wanita," ucap Kalila menjelaskan. "Untukmu?" Erik kemudian bertanya, dan malah membuat Kalila jadi tertawa. "Tentu saja bukan," sangkal wanita itu, dan kembali mencubit pipinya. Sampai di dalam kamar Kalila mendapati suaminya itu lebih banyak diam, bahkan sudah lebih dulu merebahkan diri di atas kasur, biasanya pria itu selalu mengganggunya. Setelah mengganti gaunnya dengan baju tidur seperti biasa, Kalila kemudian naik ke atas ranjang dan mencolek pipi suaminya. "Kau ta

  • Hot Brother   cemburu

    "Seharusnya tidak perlu," ucap Kalila dengan berusaha bangkit dari pangkuan Erik, namun pria itu menahannya. "Kau bilang ada rapat, cepat lepaskan aku," pintanya. Bukan menurut, suaminya itu malah tersenyum. Kalila mengerutkan dahi saat Sorot mata pria di hadapannya itu terlihat sendu, dan dia tahu arti tatapan itu. "Kak Eriik, kau bilang sibuk."***Erik yang tengah memasang kembali sepatunya duduk di tepi ranjang, sesekali pria itu menoleh pada jarum jam di pergelangan tangan, memastikan bahwa waktunya masih banyak tersisa. "Sudah lewat tigapuluh menit loh Kak," ucap Kalila mendekat dengan air putih di tangannya, kemudian ia taruh di atas meja, Kalila menghampiri suaminya dan berdiri di hadapan pria itu untuk membantu memasangkan dasi di lehernya. "Papi kamu juga belum datang, sepertinya dia ada urusan juga," ucap Erik sedikit menggoda, dengan sibuk mengancingkan lengan kemejanya. Kalila berdecak, melirikkan matanya dengan sinis ke arah suaminya namun kemudian tersenyum juga. "M

  • Hot Brother   peran

    "Awas, Kak. Aku harus membalikkan telur nanti gosong," ucap Kalila dengan tertawa, dan setelah suaminya itu menyingkir dia justru kembali kebingungan. "Aku tidak bisa mengendalikannya!" "Apa yang harus aku lakukan?" Erik kemudian bertanya. Dan sang istri menyuruh untuk mematikan kompornya. Sesaat berperang dengan spatula dan dapur yang berantakan, Kalila meletakan mi goreng dan telur ceplok setengah gosong di atas meja. "Maaf aku tidak bisa masak," Sesalnya. Erik menatap wajah cantik sang istri yang terlihat begitu kontras dengan hasil masakan di piringnya, namun pria yang duduk pada kursi di ujung meja itu menarik piring dari hadapan Kalila agar mendekatinya. Kalila sedikit terkesip saat suaminya itu menyendok masakannya kemudian ia makan. "Jangan, Kak Erik!" cegahnya dengan mendekat, kemudian duduk di sebelah Erik dan menyentuh lengannya, Kalila takut sang suami akan keracunan dengan hasil masakannya, belum apa-apa masa dia harus menjadi janda. Erik sedikit mengernyit saat rasa

  • Hot Brother   liburan

    Tidak terasa satu minggu sudah mereka berada di tempat itu, Kalila pun sudah mulai lelah menjelajahi semua tempat wisata yang tidak akan pernah bosan meski berkali-kali mengunjunginya, tapi sungguh dia sangat merindukan mami Erina, dia ingin pulang ke rumah orang yang saat ini sudah menjadi mami mertuanya.Kedatangan mereka tentu disambut gembira oleh Erina, yang sudah menyiapkan makanan banyak untuk putra dan menantunya. "Bagaimana liburan kalian, apa menyenangkan?" Erina bertanya dengan sedikit menggoda Kalila tentang bagaimana rasanya malam pertama, keduanya kemudian terlibat obrolan. Erik lebih banyak diam saat berada di ruang makan, menyaksikan dua wanita kesayangannya terlihat bahagia dia sudah begitu senang. "Jadi, niatnya kalian mau tinggal di mana?" Pertanyaan itu terlontar dari Arlan, yang saat ini ikut makan malam bersama mereka. Sama seperti Erik, pria paruh baya itu juga lebih banyak diam. "Tinggal di rumah mami saja ya," bujuk Erina dengan menyentuh lengan Kalila. D

  • Hot Brother   kenangan baru

    Erik menatap kedua bolamata Kalila yang terlihat jernih, kabut yang semula memenuhi netranya itu terlihat menghilang. "Aku suka melihat pancaran matamu, dan perubahannya saat kau aku sentuh," ucapnya dengan mengusapkan kembali tangannya pada perut rata Kalila, memainkan jahitan luka yang sedikit membekas di sana. Sejenak Kalila tertegun, pria yang berbaring miring menghadapnya dan menopang kepala dengan tangan itu semakin membuatnya merasa malu. "Apa kau selalu seperti ini?" tanya Kalila hati-hati. Erik yang masih menatap wajah cantik istrinya itu kemudian mengangkat alis. "Seperti ini bagaimana?" tanyanya tidak mengerti. Kalila mengalihkan pandangannya pada langit-langit kamar, sorot teduh pria itu selalu membuatnya merasa masuk ke dalam labirin rumit yang tidak tahu di mana jalan keluar. "Kau masih berpakaian lengkap sedangkan aku nyaris tidak mengenakan apa-apa." Mendengar kalimat itu keluar dengan nada malu-malu membuat Erik kemudi tertawa, pria itu merebahkan diri dan menar

  • Hot Brother   Takut

    Erik menghentikan laju kendaraannya di depan sebuah Restoran mewah di dekat pantai, saat keduanya keluar dari mobil, deburan ombak sesekali terdengar memecah keheningan. "Pesan lah sesukamu," ucap Erik saat gadis yang duduk di hadapannya itu membuka buku menu. Kalila tampak bingung, semua menu ya

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Hot Brother   jujur

    Erik menghindar saat gadis dalam pelukannya itu terus saja berusaha mencium dirinya. "Hentikan, Lila," ucapnya yang tampak kesulitan mengendalikan tingkah gadis itu. Mereka sudah berada di penginapan, Erik menyuruhnya untuk segera beristirahat. Kalila tertawa-tawa. "Kak Erik, Kak Erik, kau tampan

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Hot Brother   Pantai

    Erik melepaskan kacamata hitamnya saat Kalila terus menarik lengan pria itu untuk berlari di atas hamparan pasir. Kalila yang hanya mengenakan kaus dan celana pendek itu terlihat niat sekali ingin berenang.Gadis itu berlari sendiri menyambut kedatangan air laut saat Erik terlihat malas untuk berma

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Hot Brother   Kencan

    Erik tampak menahan senyum, kemudian mengusap kepala gadis itu dengan sayang, namun Kalila justru dengan halus menepis tangannya. "Berhenti melakukan itu, Kak Erik. Aku bukan anak kecil." Kalila menolak diusap kepalanya, karena menurutnya perlakuan itu hanya untuk anak-anak saja. Melihat itu Erik

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status