LOGINmau nyoba nyapa para pembaca. kali aja ada yang nyaut biar ora suudzon dikira pembaca ghoib alias bot. btw buat yang punya saran entah segi penulisan atau narasi atau apapun, boleh banget komen. anggep aja biar nih lapak ora sepi kayak hatinya penulis.
BRAKKK "akhirnya kau datang juga yaa sialan" suara menjengkelkan yang sedang tidak ingin kudengar kini mendobrak masuk dengan bantingan pintu yang cukup keras. Derap langkah yang kasar kini terdengar semakin dekat hingga kepalanya yang besar menutupi langit kamar. "Apa maksud surat yang kau kirimkan itu, sialan?"Dahiku berkerut dengan bola mata berputar malas kearah kanan menghindari pandangannya, "Surat? Surat apa yang kau maksud?" jawabku malas. Alisnya kini menukik keatas seperti orang yang tengah menahan emosinya, "kau bercanda kan?" Kedua bahuku kini terangkat rendah "tidak juga" tanganku kini menepis kepalanya dengan kasar membuat tubuhnya spontan mundur beberapa centi dari ranjang. "sialan""Kau tau seberapa banyak kesulitan yang ku alami saat kau bertugas di kediaman keluarga Winston?" protesnya tiba - tiba dengan mata melotot kearahku. Aku sendiri hanya bisa menghela nafas sembari beranjak dan mengalihkan pandanganku kearah sisi luar jende
KETOPAK... KETOPAK... KETOPAK... kereta yang berguncang, dengan suara rintik hujan deras membasahi kereta kuda dengan pemandangan langit kelabu yang begitu pekat. tubuhku termenung menatap kearah jendela sambil menggenggam beberapa buku yang sengaja kubawa keatas kereta, berfikir untuk membacanya selagi bosan. Tapi alih - alih merasa bosan, kepalaku merasa begitu penuh hingga buku yang kubawa terasa tidak begitu menarik untuk pertama kalinya. Tazzzzz Suara gemuruh petir yang menyambar. bersamaan dengan guncangan kereta yang jauh lebih tak terkendali, tak membuat ingatan itu lepas dari pikiranku. Perlahan, kusandarkan tubuhku sambil menarik nafas dalam - dalam. Kubuka mataku perlahan dan menatap apapun yang bisa kulihat. Ukiran kayu berbentuk bunga mawar yang mekar, memang menarik perhatianku untuk sementara, namun sudut mataku kini tanpa sadar mengarah padanya. rambutnya yang terikat rapih memperlihat tekuknya, yang selalu berse
"ayo" "saya antarkan kekamar nona" tukasku sambil berjalan pelan mendahului Claire yang masih terlihat gusar di sisi tangga. kakinya kini mulai melangkah kaku dengan kedua tangannya terlipat kedepan. Claire berusaha untuk tidak menoleh kearahku disaat matanya terus melirik setiap 5 detik sekali. diantara cahaya remang yang menuntun kami menaiki anak tangga. tidak ada percakapan apapun selain sibuk dengan isi pikiran masing - masing. suasana terasa begitu hening dan senyap. Meninggal derap langkah kaki yang menemani perjalanan kami. begitu berada diambang pintu kakiku kini berhenti sambil berbalik badan kearah Claire yang ikut terhenti di belakang punggungku. "sudah sampai" Claire kini menganggukan kepalanya dengan kaku sambil memainkan jemari tangannya. kakinya kini berjalan mendahului tubuhku sambil meraih gagang pintu kamarnya yang mulai meninggalkan celah kecil disana. Claire sempat menatap celah pintu itu cukup lama sebelum jemarinya melepas gagang pintu dan membalika
"apa maksudnya nyubit - nyubit?" "mentang - mentang udah ketahuan makanya jadi bersikap seenaknya?"jawabnya ketus dengan suara parau yang tengah menahan tangisannya untuk pecah. Kepalaku kini menggeleng pelan sambil menunjuk kearah ruang utama yang sepenuhnya telah senyap tanpa suara bahkan bayangan dari cahaya lilin. Claire kini memberanikan diri untuk menolehkan wajahnya hanya untuk mendapati tubuhnya kehilangan tenaga. bulir air mata kini turun dari pelupuk matanya untuk kedua kalinya. Membuatku berfikir 'apa terlalu berlebihan membuatnya menangis dua kali dalam satu malam seperti ini?' dengan isakan kecil. Claire yang kehilangan seluruh tenaganya kini terjatuh dalam posisiku terpelungkup diatas dadaku.membuat pakaian tipis yang kugunakan. untuk kedua kalinya kembali digenangi oleh air mata yang sama yang kini membasahi ditempat yang berbeda. Jika sebelumnya genangan itu terbentuk diatas pundak kanan. sekarang genangan itu terbentuk diatas dada layaknya lingkaran sungai di b
perlahan kutolehkan kepalaku dengan pelan kearahnya dengan gerakan kaku seperti engsel pintu yang terlalu tua untuk digunakan.Pipinya yang bersemu merah seperti buah Cherry dimusim semi, kini menatapku dengan tatapan lekat yang sungguh membuat jantungku berpacu lebih cepat lagi.Deru nafasnya yang kembang kempis kini mampu kurasakan dengan jarak yang tidak lebih dari satu centi. perlahan, aku mulai memundurkan tubuhku sebelum tubuhnya ikut mendekat seberapa keras aku berusaha menjaga jarak dengannya. "kenapa tuan Harrie membisu? apa anda masih belum menemukan jawaban yang tepat untuk mengatakannya?" Kutelan Salivaku dengan kesulitan dan mulai menarik nafas dalam - dalam "s-saya.. Tap Tap Tap "suara siapa itu?" Derap langkahnya yang terdengar terburu - buru membuatku dan juga Claire mendadak kalang kabut hingga lilin tak sengaja tersenggol oleh tangannya dan padam dalam sekejap. situasi semakin tidak kondusif disaat tubuhnya mulai terjatuh tepat diatas dadaku dengan pos
suara langkah kaki itu kian mendekat. baik aku dan claire nampak saling berdiam diri mematung satu sama lain sambil menatap kearah pintu berukuran sedang disamping tubuh kami. suaranya semakin terdengar jelas. hingga.. Tap Tap Tap "madam, saya menemukan beberapa barang di dalam dapur dalam keadaan berantakan" "apa yang kau temukan?" "Pisau yang tergeletak diatas meja. dan ada bekas darah segar yang masih menempel diujung pisau" mendengar hal itu sontak tanganku kini menyentuh dahi kepalaku yang yang masih menyisakan luka meski darah segar sudah tidak keluar dari sana. Claire nampak cemas menatapku sebelum aku berusaha menenangkannya dan mendengar percakapan mereka kembali. aku memang tidak terlalu mendengarnya tapi yang jelas, wanita paruh baya itu menyuruh para penjaga untuk berpatroli keseluruh ruangan yang ada tanpa terkecuali. Ketukan langkahnya kini mulai senyap bersamaan dengan bayangan tubuhnya yang mulai terlihat membesar lewat langkah kakinya y
Srak Sunyinya ruangan perpustakaan menyisakan suara pergerakan kertas yang terus berbunyi, setiap mataku selesai membaca setiap kalimat dalam buku yang ku baca. TokTokkTokkk Pintu berbahan kayu tebal dengan ukiran tangan di lambang pintu mulai terbuka. Meninggalkan suara engsel pintu yang se
Mataku kini Lamat - Lamat memperhatikan wajah Claire sebelum, "Aku akan mengabulkan apapun permintaanmu asal nona tidak mengirim saya kembali kesana" mendengar hal itu, claire nampak mengedipkan matanya tidak percaya. Matanya kini berpendar kearah lainnya seakan menimbang - nimbang tentang permi
Sudah satu jam aku terduduk di meja kerja sambil mengamati selembar kertas kosong yang masih polos tanpa coretan pena didalamnya.jujur, aku merasa bingung harus menuliskan tentang apa disurat informasi mingguan yang sudah menjadi salah satu kesepakatan antara aku dan Eric. Eric memintaku untuk
Mataku spontan terbelalak ketika melihat Claire sudah terduduk rapih diatas sofa dengan beberapa buku, kertas dan juga pena diatas meja. Aku sempat mengucek mataku yang membawa gelak tawa pada Claire yang masih duduk manis diatas sofa. "Ada apa tuan Harrie?" Tukasnya sambil tersenyum ramah kear







