LOGIN"apa maksudnya nyubit - nyubit?" "mentang - mentang udah ketahuan makanya jadi bersikap seenaknya?"jawabnya ketus dengan suara parau yang tengah menahan tangisannya untuk pecah. Kepalaku kini menggeleng pelan sambil menunjuk kearah ruang utama yang sepenuhnya telah senyap tanpa suara bahkan bayangan dari cahaya lilin. Claire kini memberanikan diri untuk menolehkan wajahnya hanya untuk mendapati tubuhnya kehilangan tenaga. bulir air mata kini turun dari pelupuk matanya untuk kedua kalinya. Membuatku berfikir 'apa terlalu berlebihan membuatnya menangis dua kali dalam satu malam seperti ini?' dengan isakan kecil. Claire yang kehilangan seluruh tenaganya kini terjatuh dalam posisiku terpelungkup diatas dadaku.membuat pakaian tipis yang kugunakan. untuk kedua kalinya kembali digenangi oleh air mata yang sama yang kini membasahi ditempat yang berbeda. Jika sebelumnya genangan itu terbentuk diatas pundak kanan. sekarang genangan itu terbentuk diatas dada layaknya lingkaran sungai di b
perlahan kutolehkan kepalaku dengan pelan kearahnya dengan gerakan kaku seperti engsel pintu yang terlalu tua untuk digunakan.Pipinya yang bersemu merah seperti buah Cherry dimusim semi, kini menatapku dengan tatapan lekat yang sungguh membuat jantungku berpacu lebih cepat lagi.Deru nafasnya yang kembang kempis kini mampu kurasakan dengan jarak yang tidak lebih dari satu centi. perlahan, aku mulai memundurkan tubuhku sebelum tubuhnya ikut mendekat seberapa keras aku berusaha menjaga jarak dengannya. "kenapa tuan Harrie membisu? apa anda masih belum menemukan jawaban yang tepat untuk mengatakannya?" Kutelan Salivaku dengan kesulitan dan mulai menarik nafas dalam - dalam "s-saya.. Tap Tap Tap "suara siapa itu?" Derap langkahnya yang terdengar terburu - buru membuatku dan juga Claire mendadak kalang kabut hingga lilin tak sengaja tersenggol oleh tangannya dan padam dalam sekejap. situasi semakin tidak kondusif disaat tubuhnya mulai terjatuh tepat diatas dadaku dengan pos
suara langkah kaki itu kian mendekat. baik aku dan claire nampak saling berdiam diri mematung satu sama lain sambil menatap kearah pintu berukuran sedang disamping tubuh kami. suaranya semakin terdengar jelas. hingga.. Tap Tap Tap "madam, saya menemukan beberapa barang di dalam dapur dalam keadaan berantakan" "apa yang kau temukan?" "Pisau yang tergeletak diatas meja. dan ada bekas darah segar yang masih menempel diujung pisau" mendengar hal itu sontak tanganku kini menyentuh dahi kepalaku yang yang masih menyisakan luka meski darah segar sudah tidak keluar dari sana. Claire nampak cemas menatapku sebelum aku berusaha menenangkannya dan mendengar percakapan mereka kembali. aku memang tidak terlalu mendengarnya tapi yang jelas, wanita paruh baya itu menyuruh para penjaga untuk berpatroli keseluruh ruangan yang ada tanpa terkecuali. Ketukan langkahnya kini mulai senyap bersamaan dengan bayangan tubuhnya yang mulai terlihat membesar lewat langkah kakinya y
Claire yang sejak tadi menggerutu seorang diri kini kubungkam dengan salah satu tanganku. membuat tubuhnya kini memberontak kecil sambil berusaha melepas bekapan tanganku dari mulutnya. "mphh hmphhh?"kuhela nafasku sambil berbisik ditelinganya "ada suara langkah kaki dilantai dua" mendengar hal itu Claire seketika berhenti memberontakan tubuhnya dan mulai menoleh kearah anak tangga yang tidak jauh dari tempat kami berdiri. suara derap langkah juga kian terdengar jelas bersamaan Claire yang kini menarik pakaianku sambil menunjuk ruangan sempit dibawah anak tangga. awalnya aku menggeleng pelan berusaha menolak ide konyolnya. bagaimana mungkin ruangan yang hampir berukuran setengah kamar tidurku mampu menampung dua orang dalam satu tempat. mungkin itu akan cukup untuknya. tapi bagaimana denganku? aku menggeleng seraya berpendar kesekitar mencari sudut atau ruang kosong diantara keterbatasan pandangan antara cahaya lilin dan juga kegelapan. "Siapa disana?" suara salah seorang wani
"saya memang tidak melihatnya secara langsung. tapi entah kenapa saya berfikir bahwa nona memang tidak bisa tidur dalam keadaan gelap gulita"Claire mengangguk anggukan kepalanya dengan pelan dan memijit jemari tangannya dengan gusar. menciptakan suasana canggung diantara senyapnya malam dengan pencahayaan yang remang. terlebih. kami berdiam - diaman cukup lama karna kebingungan dengan apa yang harus dibicarakan. Membuat suasananya jauh lebih canggung dari biasanya."a-apa nona sudah menemukannya?" tanyaku memutus untuk membuka suara.Claire nampak tersentak dalam lamunannya seraya tangannya kini menyelipkan anak rambutnya kesisi telinga "b-belum. saya belum menemukannya" tukasnya sambil menggeleng kaku. "mau saya bantu carikan?" Hening. Claire tidak menjawab pertanyaanku dan sibuk termenung menatap kegelapan diluar pintu dapur yang entah mengapa sedikit membuatku merinding untuk sesaat. merasa di abaikan, aku berniat untuk mencarinya seorang diri sebelum pakaianku ditarik kencang
Kutarik nafasku dan perlahan kuhembuskan dengan berat "aku.. menyukaimu tuan Harrie"hening. Kelopak matanya yang terbuka kini mulai tertutup menunjukan bola mata ambernya yang membulat sempurna. Claire sempat menatapku dengan helaan nafas yang panjang, sebelum tangannya dengan segera ia singkirkan begitu menyadari pisau yang ia acungkan begitu dekat dengan dadaku "ah, maaf tuan Harrie" lirihnya sambil terburu - buru menaruh pisau itu diatas meja.aku sendiri hanya bilang menghela nafas lega dan perlahan menurunkan kedua tanganku ke samping pinggang. Disaat bola mata claire kini bergetar begitu menyadari goresan pisau yang ia torehkan berhasil menembus lapisan kulit kepalaku yang tipis hingga darah segar mengalir dari sana. "ah, yaampun" "kenapa anda tidak bilang pada saya?" tanya Claire dengan nada khawatir. Keadaan ruang dapur yang remang membuat claire semakin cemas tak terkendali. ia terus meraba apa yang bisa ia temukan dilemari atau meja dapur. sebelum kuraih pergelangan tan







