เข้าสู่ระบบAku menyesap secangkir teh hangat yang baru saja disajikan. Membiarkan aroma daun teh hitam menyeruak hingga ke tenggorokanku.
Tidak ada banyak hal yang kami lakukan diruang penerima tamu. Selain aku menyadari bahwa dari proporsi tubuh hingga wajahnya. nampaknya ia masih belum genap berusia 17 tahun. Tentu aku tidak masalah dengan pertunangan dibawah umur. Para bangsawan sering melakukannya dengan gadis berusia 16 hingga 17 tahun. Hingga Terkadang aku bertanya - tanya bagaimana nasib mereka yang kehilangan kebebasan bahkan di umur mereka yang belia. Apakah mereka bahagia? Atau justru merasa sengsara? Entahlah. aku bukan wanita dan aku memiliki latar belakang yang berbeda dengan mereka.Tak "Jadi, anda nona clairence Winston?" Gadis itu mengangguk pelan sambil memutar bola matanya seakan enggan berbicara denganku. Tentu aku memahami bahwa tidak semua orang harus menyukaiku. Bahkan remaja sekalipun. "Maaf yaa tuan. anak ini memang sedikit agak pemalu dengan orang baru" tukas countess Winston sambil tersenyum canggung kearahku. Tentu aku yakin bahwa countess tidak ingin membuat kesalahpahaman di hari pertama aku bekerja disini. Di sela pembicaraan kami, salah seorang pelayan tiba - tiba mengetuk pintu kamar claireTok Tokk Tokkk "Maaf menganggu waktunya, tapi nyonya- Pelayan itu menjeda kalimatnya yang segera membawa countess Winston untuk beranjak dari kursinya dan menghampirinya didepan pintu kamar. Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan namun setelahnya, "Tuan Harrie, sepertinya saya tidak bisa menemani anda lebih lama karna ada urusan mendadak yang harus segera saya urus" "Jadi, Sementara saya pergi. Tuan Harrie bisa berbicara langsung dengan Claire" Countess sempat memberi senyuman permintaan maaf sebelum akhirnya suara langkah kakinya menghilang ketika pintu kamar Claire telah tertutup rapatBrak aku menyesap teh kembali sambil tersenyum kearahnya. Entah kenapa, suasananya tiba - tiba mendadak canggung yang entah karna merasa belum terbiasa atau merasa tidak nyaman dengan tatapannya.Tak "Ehem! Jadi nona Claire- Kalimatku terpotong ketika Claire tiba - tiba membuka suara "Clairence. aku tidak suka orang asing memanggil namaku dengan nama panggilan" "Baik nona clairence- "Winston. Clairence Winston" Aku menghela nafas frustasi "Baik, jadi nona clairence Winston. Apa saya sudah benar sekarang?" Tanyaku dengan senyum penuh arti. Gadis itu mengangguk pelan seakan mempersilahkan diriku untuk berbicara. "Baik, jadi nona clairence Winston. Sebelumnya, apakah nona sudah tau kabar ini?" "Tentang?" "Tentang pertunangan nona dengan Duke Eric Dominique?" Dahinya kini mengkerut hingga membuat kedua alisnya menyatu "Serius anda bertanya tentang hal ini?" "Yaa Tuhan. Apa yang sedang anda pikirkan sekarang?" "anda pasti berfikir bahwa gadis kecil ini tidak tau apa - apa soal pertunangan dan pernikahan? Yaampun inilah kenapa aku benci orang dewasa" Gadis itu nampak mendengus frustasi dan aku bisa melihat sorot matanya yang seakan merutuk namaku didalam hati maupun pikirannya. "anda hanya perlu menjawab pertanyaannya. Iya, apa tidak?" "Apakah jawabanku masih belum jelas?" Aku berusaha menenangkan jiwa yang sebentar lagi akan meledak. "Aku anggap jawabannya adalah adalah iya. nona tau tentang pertunangan ini" "Jadi, biar saya memperkenalkan diri lebih jelas kepadamu" "Nama saya Harrie Smith, seorang guru dari keluarga Dominique yang bertugas untuk membimbing nona clairence Winston selaku calon tunangan keluarga Dominique untuk menjadi calon duchess sempurna keluarga Dominique" "Untuk itu, saya berharap nona clairence Winston bersedia mengikuti pembelajaran saya selama satu tahun sebelum pertunangan resmi diumumkan" "tidak mau" Satu kata singkat yang ia lontarkan sontak membuat senyumanku kini mulai memudar "Maaf, kenapa tidak- "Serius deh. Mau berapa banyak lagi guru yang akan datang kerumah dan mengacaukan hari - hariku" "Tiga guru saja sudah membebani pikiranku. Sekarang bertambah satu orang lagi" Gadis itu mulai mendengus sebal sambil memutar bola mata malas. Matanya sempat melirik kearahku sebelum akhirnya ia membuang muka dan mendengus kearah jendela. Jujur, selama aku bekerja diakademi banyak murid hebat yang memiliki ambisi yang besar disetiap pelajaran yang mereka kuasai. Mereka jarang mengeluh dan lebih sering menghabiskan waktunya untuk bertanya atau sekedar mencari jawaban lewat berbagai buku yang telah mereka kumpulkan. Bahkan ketika aku mengajar di kediaman Dominique, anak - anak dari keluarga kerabat terdekat ataupun jauh, akan diberikan kesempatan untuk tinggal di kediaman utama untuk mendapat pendidikan yang layak sebelum masuk ke akademi. Banyak dari mereka yang tumbuh dengan ambisi sebagai anak yang terlahir sebagai pewaris namun beberapa lainnya juga memiliki kecenderungan rasa malas yang tinggi akibat rasa jenuh atau pemikiran yang tidak stabil. Tapi ini. dia bahkan lebih buruk dari mereka yang memiliki kecenderungan rasa malas. Entahlah, mungkin aku terlalu melebih - lebihkannya. Aku berharap pembelajaran esok bisa berjalan dengan lancar. ... Yap, tepat ketika aku sadar bahwa ucapanku tidak berlebihan. Aku menghela nafas panjang sambil mengamati jam kantung yang menunjukan pukul 12 siang yang dimana aku telah menunggu kehadirannya selama 4 jam lebih lamanya. Salah seorang pelayan tiba - tiba mengetuk pintu ruangan "Tuan Harrie. Makan siang telah siap" "Tuan bisa segera turun selagi masih hangat" tukasnya dengan lembut sambil menutup pintu ruangan kembali. Aku kini menoleh kearah jendela, menatap seorang gadis yang berjalan riang dihalaman depan sambil melompat - lompat kecil. Entahlah, aku tidak tau darimana ia pergi, Tapi yang jelas, aku harus bertindak setegas mungkin. Ketika gadis itu mulai masuk kedalam, aku beranjak dari kursiku. Menaruh setiap buku yang masih dalam keadaan posisi terbuka, tertumpuk diatas meja. dan segera turun menuruni tangga. Countess Winston yang melihatku menuruni tangga nampak menyapa dengan senyuman ramah diwajahnya "Apakah tuan Harrie lapar?" "Pelayan kami Baru saja memasak ayam panggang untuk menyambut tuan Harrie" "Benarkah? Sepertinya lezat" Countess Winston nampak tersenyum sambil menghentikan langkahnya. Seakan ia menunggu untuk berjalan bersama menuju meja makan. Disisi lain, Claire yang hendak berjalan riang menuju meja makan tak sengaja berpapasan dengan countess Winston. Membuat rautnya berubah panik bahkan ketika ia menyadari bahwa tubuhku juga berada di tempat yang sama. Countess Winston yang melihat putrinya berada dari lantai yang berbeda nampak bingung sekaligus bertanya - tanya. Matanya kini bersilah pandang kearahku dan juga Claire bergantian. Melihat adanya sebuah kesempatan, aku menyeringai sambil bersiap untuk memainkan sebuah sandiwara kecil. "Ada apa countess Winston? Sepertinya anda terlihat bingung?" "Ohh! yaampun nona clairence Winston, Selamat siang. Nona clairence Winston sangat cantik hari ini. Dress berwarna coklat muda sangat cocok dengan anda" Melihat sandiwara kecilku. Claire kini melempar tatapan tajam kearahku bersamaan dengan countess Winston yang mencoba untuk menegaskan kembali. "Maaf, bukannya Claire belajar pagi ini. Kenapa- "maaf. bukannya nona clairence ada urusan pagi ini?"untuk suara benda seperti,pintu,gesekan piring,suara cangkir dan lain- lainya sengaja saya buat tebal untuk membedakan narasi dan juga suara.
"saya memang tidak melihatnya secara langsung. tapi entah kenapa saya berfikir bahwa nona memang tidak bisa tidur dalam keadaan gelap gulita"Claire mengangguk anggukan kepalanya dengan pelan dan memijit jemari tangannya dengan gusar. menciptakan suasana canggung diantara senyapnya malam dengan pencahayaan yang remang. terlebih. kami berdiam - diaman cukup lama karna kebingungan dengan apa yang harus dibicarakan. Membuat suasananya jauh lebih canggung dari biasanya."a-apa nona sudah menemukannya?" tanyaku memutus untuk membuka suara.Claire nampak tersentak dalam lamunannya seraya tangannya kini menyelipkan anak rambutnya kesisi telinga "b-belum. saya belum menemukannya" tukasnya sambil menggeleng kaku. "mau saya bantu carikan?" Hening. Claire tidak menjawab pertanyaanku dan sibuk termenung menatap kegelapan diluar pintu dapur yang entah mengapa sedikit membuatku merinding untuk sesaat. merasa di abaikan, aku berniat untuk mencarinya seorang diri sebelum pakaianku ditarik kencang
Kutarik nafasku dan perlahan kuhembuskan dengan berat "aku.. menyukaimu tuan Harrie"hening. Kelopak matanya yang terbuka kini mulai tertutup menunjukan bola mata ambernya yang membulat sempurna. Claire sempat menatapku dengan helaan nafas yang panjang, sebelum tangannya dengan segera ia singkirkan begitu menyadari pisau yang ia acungkan begitu dekat dengan dadaku "ah, maaf tuan Harrie" lirihnya sambil terburu - buru menaruh pisau itu diatas meja.aku sendiri hanya bilang menghela nafas lega dan perlahan menurunkan kedua tanganku ke samping pinggang. Disaat bola mata claire kini bergetar begitu menyadari goresan pisau yang ia torehkan berhasil menembus lapisan kulit kepalaku yang tipis hingga darah segar mengalir dari sana. "ah, yaampun" "kenapa anda tidak bilang pada saya?" tanya Claire dengan nada khawatir. Keadaan ruang dapur yang remang membuat claire semakin cemas tak terkendali. ia terus meraba apa yang bisa ia temukan dilemari atau meja dapur. sebelum kuraih pergelangan tan
ku berbaring kesana, kemari mencari posisi yang pas untuk memejamkan mata hanya untuk mendapati suara Rei yang terus bergema dikepalaku tanpa henti "nona mungkin terlihat bodoh dimata anda. tapi sesungguhnya, itu hanya sebagian kebohongan yang ia buat untuk menutupi sifat aslinya yang nyata""Karna pada dasarnya, tuan hanya tau bayangannya saja. bukan tubuh aslinya"aku terbangun dalam tidurku dengan mata segar tanpa rasa kantuk mengintai tubuhku. sungguh, disuasana gelap tanpa penerangan. aku hanya bisa menataplangit - langit kamar yang gelap gulita. Beradaptasi dengan pekatnya kegelapan sejauh mata ini memandang. Kuusap wajahku dengan nafas berat seraya jemariku mulai meraba - raba korek api yang tersimpan diatas meja. memercik api kehidupan yang meski terlihat kecil namun cahayanya sudah cukup menerangi gelapnya pandangan yang berbayang hitam. Aku memutuskan bangkit dari ranjangku seraya berjalan pelan keluar kamar dengan lilin kecil menemani perjalananku. suasana senyap dan s
Srak Srak Pandanganku kini tertuju pada suara goresan sekop yang beradu dengan tumpukan salju yang menggunung tebal menutupi jalan masuk menuju gerbang utama. Para pelayan saling bahu membahu, menggunakan pakaian yang jauh lebih tebal dan berlapis untuk membersihkan halaman kediaman yang cukup memakan waktu dan tenaga. sedangkan pandanganku sempat teralih pada kereta kuda asing yang terparkir diluar dengan posisi gerbang terbuka lebar. Meninggalkan kuda berwarna coklat muda itu berdiam diri disana cukup lama hingga bibirku bermonolog, merasa iba melihatnya berdiri tegap disaat angin musim dingin menerpa. Kakiku kini melangkah menjauh meninggalkan ambang jendela hanya untuk berbaring di atas ranjang sambil menatap langit - langit kamar yang terasa begitu membosankan. Kuhembuskan nafasku ke langit - langit sambil menutup kedua mataku. Ingatan demi ingatan terlintas. pertanyaan yang claire ajukan dan perubahan sikapnya yang sulit aku mengerti. aku bahkan bisa melihat dengan jel
Pelayan itu pamit undur diri dan kembali menutup pintu ruang kelas dengan rapat. Claire mulai meraih sekeping kue kering kedalam mulutnya. sambil menyesap teh chamomilenya sedikit demi sedikit seperti yang biasa ia lakukan. "Jadi, apa jawabannya?" "jawaban?" tanyaku dengan mata yang masih sepenuhnya terpaut pada kertas jawaban dihadapanku. Claire kini menaruh cangkir berbahan keramik itu keatas meja. meninggalkan suara yang nyaring bersamaan dengan nadanya yang lebih terdengar riang "iyaa jawaban. apa jawaban tuan Harrie?"Dahiku seketika mengernyit. pandanganku kini mengintip diantara kertas jawaban milik Claire yang kini menutupi seluruh wajahku. Jemari yang dipijat pelan dengan ketukan kaki yang ia lakukan saat merasa gugup. aku tau bahwa ia begitu penasaran dengan jawabannya. Kuperbaiki postur tubuhku dan berusaha bersikap setenang mungkin. "Jawaban? eum.. belum" Claire seketika menoleh dengan mata terbelalak seakan tidak percaya "belum? tuan Harrie belum memutuskan jawaban
kembali aku terduduk disisi ranjang sembari meratapi surat yang Eric kirimkan padaku sore hari tadi. .. Untukmu Harrie Smith Sebelumnya, aku ingin meminta maaf karna tidak memberitahu bagian terpenting dari rencanaku padamu. aku sungguh - sungguh ingin mengatakannya tapi, aku pikir akan lebih baik jika memberitahukannya tepat setelah makan malam. namun, berhubung kau sudah tau. mungkin aku akan menjelaskannya tepat setelah perjamuan makan malam yang akan kalian hadiri nanti. karna rasanya, ada banyak pertanyaan dan penjelasan yang mungkin tidak akan muat jika ditulis disatu lembar surat ini. Dan, aku sudah mengirimkan surat undangan resmi pada countess Winston untuk mengundangnya dan calon tunanganku "clairence" ke perjamuan makan malam Minggu depan. Jadi, kau tidak perlu memberitahukannya lagi karna aku sudah mengirimkan undangannya langsung kepadanya. dan.. Aku memang tidak mengatakannya didalam surat undangan yang kukirimkan pada countess. Tapi, biar kuberi tahu







