Share

page 4 makan siang

Author: Lekerchoco
last update Last Updated: 2025-10-31 23:23:01

Suara gesekan garpu beserta pisau diatas piring kaca mengisi ruang makan yang terasa kosong tanpa pembicaraan hangat didalamnya.

Aku melirik kearah Claire sesekali sambil mengunyah potongan ayam panggang yang terasa nikmat disetiap gigitan. Rautnya yang muram membuat makanan yang tersaji semakin nikmat di lidahku.

Namun berselang kala itu, countess Winston

tiba - tiba membuka suara dengan nada penyesalan.

"Tuan Harrie, izinkan saya meminta maaf sekali lagi atas tindakan lancang yang putri saya lakukan pada anda"

"Saya berjanji akan segera mengurusnya setelah makan siang. Saya benar - benar minta maaf"

Mendengar permintaan maaf itu, aku segera menelan potongan ayam panggang kedalam tenggorokanku bersiap untuk membuka suara

"Tidak apa - apa, countess Winston. Saya mengerti sekali dengan keadaan nona clairence"

"Saya juga seorang mantan guru di akademi saat saya berusia 20 tahun. Banyak sekali anak - anak yang memiliki kecenderungan memberontak atau sekedar enggan bertemu dengan gurunya seperti nona clairence"

"Jadi saya sangat terlatih dengan hal ini" tukasku dengan senyum ramah.

"Yaampun, saya tidak tau bahwa tuan Harrie adalah seseorang mantan guru akademi sekaligus seseorang yang bermurah hati"

"Putri kami seharusnya berbangga diri bisa mendapatkan pendidikan terbaik dari seorang mantan guru akademi sekaligus seorang penyabar yang bermurah hati"

Mendengar pujian berlebihan yang di lontarkan countess Winston. Aku bisa melihat raut Claire kian memburuk dari menit ke menit. Bahkan sekilas, ia menatapku dengan tatapan kebencian yang dalam dari bola matanya yang kuning seperti batu amber.

"Yaampun pujian anda terlalu berlebihan countess Winston. Saya tidak sehebat itu"

Aku tertawa kecil diikuti countess Winston yang ikut tertawa kecil bersamaku.

Membuat ruang makan yang terasa sunyi, kini mulai hidup diantara kami berdua. Terkecuali dirinya.

...

srekk

Aku menyeret koper berwarna coklat tua itu dibawah ranjang kasurku seraya bersimpuh diatas lantai.

Kubuka koper yang berisi sebagian pakaian, buku - buku dan alat tulis seperti pena dan juga tinta yang selalu kugunakan setiap aku mengajar, menulis atau sekedar mencatat sesuatu yang baru.

Kamar yang disediakan oleh countess Winston memiliki ruangan yang tidak terlalu besar seperti kamar lamaku.

Namun semua yang kubutuhkan ada disana mulai ranjang empuk untuk dua orang. Meja kerja, lemari pakaian dan lantai yang luas.

Aku suka bagaimana meja kerja diletakan tepat berhadapan dengan jendela kaca. membuat angin malam dapat berhembus kencang bahkan ketika aku sedang bekerja tengah malam.

Begitu aku selesai memisahkan setiap barang didalam koper, ku taruh setiap pakaian yang akan kubutuhkan didalam lemari pakaian. Menaruh setiap buku diatas meja kerja. Beserta pena dan juga tinta tentu saja.

Berkat banyaknya pergerakan didalam ruangan itu, nampaknya aku merasa sedikit berkeringat dan berniat untuk mengganti pakaian dengan bahan yang lebih tipis untuk beristirahat.

Dikala aku melepas kemeja putihku, suara ketukan pintu nampak terdengar dari luar pintu. Tak ada panggilan bahkan suara. Hanya ketukan pintu yang semakin lama, semakin kasar cara mengetuknya.

"siapa?" Tanyaku sambil melepas kemeja putihku ke sembarang tempat. Tapi alih - alih ketukan itu menjawab. Suara ketukannya justru semakin nyaring hingga membuatku kesal.

Klak

"SIAPA-

Kalimatku terjeda ketika melihat seorang gadis berambut hitam legam terurai berdiri didepan pintu kamarku dengan pakaian piyama putih panjang.

"Nona clairence Winston?"

Gadis itu nampak membeku ditempat sebelum terdengar suara langkah seseorang dari arah lorong yang membuatku tak sengaja menariknya masuk kedalam kamar dengan tubuh setengah telanjang sambil menutup pintu sedikit agak keras.

BRAK

"Apa yang nona lakukan disini?" Tanyaku dengan nada suara panik.

Matanya terus tertuju pada satu tempat hingga membuatku sadar bahwa aku telah menunjukan sesuatu yang sedikit tidak senonoh untuk mereka yang masih berada diumur belia.

"Maaf" aku segera berlari kecil. Mencari pakaian tipis yang kutaruh diatas ranjang dan segera memakaikannya secepat mungkin.

"Bisa, bicara sebentar?"

...

Aku terduduk diatas lantai bersila sambil berhadapan dengannya yang duduk diatas ranjang miliku.

"Jadi, mau bicara apa?" Tanyaku sambil melipat kedua tanganku kedepan dada.

Claire nampak menggigit sudut bibirnya sambil mata ambernya sesekali berpendar kearah jendela kaca.

"Kenapa anda bilang hal yang sebenarnya dengan ibu?"

"Anda tau, seberapa banyak kosakata yang beliau ucapkan pada saya?"

"Anda seharusnya tidak memberitahukan padanya tentang hal yang sebenarnya"

"Kenapa anda-

"Tunggu dulu"

"Jadi nona kekamar saya. Diwaktu larut seperti ini. Bahkan menganggu seseorang untuk beristirahat, Hanya untuk menyalahkan tindakan benar yang saya lakukan?"

Aku mulai menyeringai sambil tertawa kecil kearahnya. Sungguh luar biasa pikirku.

"Sekarang, saya tanya kembali pada nona"

"Bukankah saya sudah menginformasikan bahwa pembelajaran akan dimulai setiap pagi pukul 9 hingga jam makan siang. Apa nona tidak ingat?"

"Apakah ucapan saya masih kurang jelas untuk nona?"

"Tapi, sepertinya tidak. Nona bahkan

terang - terangan bilang pada saya bahwa nona tidak mau menerima pembelajaran saya. Lantas, bukankah saya masih berbaik hati pada nona. Hingga tidak mengatakan hal yang sebenarnya pada countess Winston"

"Entah apa yang ia katakan jika ia mendengar putrinya. Bersikap lancang seperti itu"

"Dan sekarang, nona bahkan menyalahkan tindakan saya yang memberitahukan hal yang sebenarnya. Lucu sekali"

Aku kini terkekeh sambil beranjak dari lantai.

Sungguh, waktu kerjaku jadi terbuang

sia - sia hanya untuk mendengar ocehan anak berusia 16 tahun.

Aku kini duduk di meja kerja. Mulai membuka salah satu buku bersampul biru tua sambil mengeluarkan selembar kertas dan juga pena untuk mencatat berbagai hal penting didalamnya.

Kubiarkan gadis itu untuk berfikir mana yang benar dan mana yang salah. Aku bahkan menyiapkan kata - kata tersopan yang kumiliki agar tidak menyakiti hatinya.

Namun sepertinya kalimatku tidak bekerja, karna tak lama dari sana. alih - alih mengatakan kata maaf untuk tindakannya. Atau lebih baik lagi, bersama dengan kata maaf atas kedatangannya yang menganggu waktu istirahat seseorang.

Gadis itu tiba - tiba beranjak dari ranjang. Tanpa mengatakan apa - apa lalu menutup pintu dengan tenang.

brak

Spontan kepalaku menoleh kearah pintu. Aku berfikir seharusnya pintu itu tertutup dengan nada yang lebih keras, namun mengejutkannya, pintu itu tertutup dengan nada sebaliknya.

"Aneh"

...

Aku berjalan di lorong kediaman countess Winston sambil menenteng beberapa buku yang mungkin akan kubutuhkan. Berjaga - jaga kalo seandainya gadis itu tidak datang ke pelajaran hari ini. Maka setidaknya aku tidak akan merasa bosan duduk sendirian diatas meja hingga jam makan siang berdenting.

Kubuka pintu berbahan kayu yang sedikit berat karna engsel pintu yang mulai berkarat dan tua.

"Bukankah sebagai guru yang teladan, Sekaligus contoh untuk para muridnya. Kedatangannya seharusnya 15 menit lebih awal dari seharusnya"

Mataku spontan terbelalak ketika melihat Claire sudah terduduk rapih diatas sofa dengan beberapa buku, kertas dan juga pena diatas meja.

Aku sempat mengucek mataku yang membawa gelak tawa pada Claire yang masih duduk manis diatas sofa.

"Ada apa tuan Harrie?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hubungan Rahasia Dengan Tunangan Duke   page 65 terdesak

    Claire yang sejak tadi menggerutu seorang diri kini kubungkam dengan salah satu tanganku. membuat tubuhnya kini memberontak kecil sambil berusaha melepas bekapan tanganku dari mulutnya. "mphh hmphhh?"kuhela nafasku sambil berbisik ditelinganya "ada suara langkah kaki dilantai dua" mendengar hal itu Claire seketika berhenti memberontakan tubuhnya dan mulai menoleh kearah anak tangga yang tidak jauh dari tempat kami berdiri. suara derap langkah juga kian terdengar jelas bersamaan Claire yang kini menarik pakaianku sambil menunjuk ruangan sempit dibawah anak tangga. awalnya aku menggeleng pelan berusaha menolak ide konyolnya. bagaimana mungkin ruangan yang hampir berukuran setengah kamar tidurku mampu menampung dua orang dalam satu tempat. mungkin itu akan cukup untuknya. tapi bagaimana denganku? aku menggeleng seraya berpendar kesekitar mencari sudut atau ruang kosong diantara keterbatasan pandangan antara cahaya lilin dan juga kegelapan. "Siapa disana?" suara salah seorang wani

  • Hubungan Rahasia Dengan Tunangan Duke   page 64 derap langkah kaki

    "saya memang tidak melihatnya secara langsung. tapi entah kenapa saya berfikir bahwa nona memang tidak bisa tidur dalam keadaan gelap gulita"Claire mengangguk anggukan kepalanya dengan pelan dan memijit jemari tangannya dengan gusar. menciptakan suasana canggung diantara senyapnya malam dengan pencahayaan yang remang. terlebih. kami berdiam - diaman cukup lama karna kebingungan dengan apa yang harus dibicarakan. Membuat suasananya jauh lebih canggung dari biasanya."a-apa nona sudah menemukannya?" tanyaku memutus untuk membuka suara.Claire nampak tersentak dalam lamunannya seraya tangannya kini menyelipkan anak rambutnya kesisi telinga "b-belum. saya belum menemukannya" tukasnya sambil menggeleng kaku. "mau saya bantu carikan?" Hening. Claire tidak menjawab pertanyaanku dan sibuk termenung menatap kegelapan diluar pintu dapur yang entah mengapa sedikit membuatku merinding untuk sesaat. merasa di abaikan, aku berniat untuk mencarinya seorang diri sebelum pakaianku ditarik kencang

  • Hubungan Rahasia Dengan Tunangan Duke   page 63 lilin yang padam

    Kutarik nafasku dan perlahan kuhembuskan dengan berat "aku.. menyukaimu tuan Harrie"hening. Kelopak matanya yang terbuka kini mulai tertutup menunjukan bola mata ambernya yang membulat sempurna. Claire sempat menatapku dengan helaan nafas yang panjang, sebelum tangannya dengan segera ia singkirkan begitu menyadari pisau yang ia acungkan begitu dekat dengan dadaku "ah, maaf tuan Harrie" lirihnya sambil terburu - buru menaruh pisau itu diatas meja.aku sendiri hanya bilang menghela nafas lega dan perlahan menurunkan kedua tanganku ke samping pinggang. Disaat bola mata claire kini bergetar begitu menyadari goresan pisau yang ia torehkan berhasil menembus lapisan kulit kepalaku yang tipis hingga darah segar mengalir dari sana. "ah, yaampun" "kenapa anda tidak bilang pada saya?" tanya Claire dengan nada khawatir. Keadaan ruang dapur yang remang membuat claire semakin cemas tak terkendali. ia terus meraba apa yang bisa ia temukan dilemari atau meja dapur. sebelum kuraih pergelangan tan

  • Hubungan Rahasia Dengan Tunangan Duke   page 62 diantara gelap dan senyap

    ku berbaring kesana, kemari mencari posisi yang pas untuk memejamkan mata hanya untuk mendapati suara Rei yang terus bergema dikepalaku tanpa henti "nona mungkin terlihat bodoh dimata anda. tapi sesungguhnya, itu hanya sebagian kebohongan yang ia buat untuk menutupi sifat aslinya yang nyata""Karna pada dasarnya, tuan hanya tau bayangannya saja. bukan tubuh aslinya"aku terbangun dalam tidurku dengan mata segar tanpa rasa kantuk mengintai tubuhku. sungguh, disuasana gelap tanpa penerangan. aku hanya bisa menataplangit - langit kamar yang gelap gulita. Beradaptasi dengan pekatnya kegelapan sejauh mata ini memandang. Kuusap wajahku dengan nafas berat seraya jemariku mulai meraba - raba korek api yang tersimpan diatas meja. memercik api kehidupan yang meski terlihat kecil namun cahayanya sudah cukup menerangi gelapnya pandangan yang berbayang hitam. Aku memutuskan bangkit dari ranjangku seraya berjalan pelan keluar kamar dengan lilin kecil menemani perjalananku. suasana senyap dan s

  • Hubungan Rahasia Dengan Tunangan Duke   page 61 sebuah kebohongan

    Srak Srak Pandanganku kini tertuju pada suara goresan sekop yang beradu dengan tumpukan salju yang menggunung tebal menutupi jalan masuk menuju gerbang utama. Para pelayan saling bahu membahu, menggunakan pakaian yang jauh lebih tebal dan berlapis untuk membersihkan halaman kediaman yang cukup memakan waktu dan tenaga. sedangkan pandanganku sempat teralih pada kereta kuda asing yang terparkir diluar dengan posisi gerbang terbuka lebar. Meninggalkan kuda berwarna coklat muda itu berdiam diri disana cukup lama hingga bibirku bermonolog, merasa iba melihatnya berdiri tegap disaat angin musim dingin menerpa. Kakiku kini melangkah menjauh meninggalkan ambang jendela hanya untuk berbaring di atas ranjang sambil menatap langit - langit kamar yang terasa begitu membosankan. Kuhembuskan nafasku ke langit - langit sambil menutup kedua mataku. Ingatan demi ingatan terlintas. pertanyaan yang claire ajukan dan perubahan sikapnya yang sulit aku mengerti. aku bahkan bisa melihat dengan jel

  • Hubungan Rahasia Dengan Tunangan Duke   page 60 jepit rambut

    Pelayan itu pamit undur diri dan kembali menutup pintu ruang kelas dengan rapat. Claire mulai meraih sekeping kue kering kedalam mulutnya. sambil menyesap teh chamomilenya sedikit demi sedikit seperti yang biasa ia lakukan. "Jadi, apa jawabannya?" "jawaban?" tanyaku dengan mata yang masih sepenuhnya terpaut pada kertas jawaban dihadapanku. Claire kini menaruh cangkir berbahan keramik itu keatas meja. meninggalkan suara yang nyaring bersamaan dengan nadanya yang lebih terdengar riang "iyaa jawaban. apa jawaban tuan Harrie?"Dahiku seketika mengernyit. pandanganku kini mengintip diantara kertas jawaban milik Claire yang kini menutupi seluruh wajahku. Jemari yang dipijat pelan dengan ketukan kaki yang ia lakukan saat merasa gugup. aku tau bahwa ia begitu penasaran dengan jawabannya. Kuperbaiki postur tubuhku dan berusaha bersikap setenang mungkin. "Jawaban? eum.. belum" Claire seketika menoleh dengan mata terbelalak seakan tidak percaya "belum? tuan Harrie belum memutuskan jawaban

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status