Share

Lima : Sebuah Keputusan Yang Berat

Alin menatap lurus keluar jendela mobil. Sejak keluar dari rumahnya tadi, Alin tak bicara sedikitpun. Bahkan Tian yang mengendarai mobil, selalu melirik dari spion yang ada di atas kepalanya.

"Kau ingin puasa bicara?" tanya Tian pada Alin. Sedikit melirik dari sudut matanya, Alin tersenyum simpul namun sinis.

"Bukan urusanmu." jawabnya.

"Memang bukan urusanku. Tapi aku membenci suasana hening seperti kuburan."

"Nyalakan saja musik di mobilmu."

"Aku bukan musisi." Jawab Tian kesal.

Suasana kembali hening. Ia kembali melirik Alin dari kaca spion yang ada di atas kepalanya dan lagi-lagi gadis itu hanya diam, sembari melihat keluar jendela.

Tian menghela nafas kasar. Baginya, menghadapi gadis seperti Alin itu tidaklah sulit. Namun memang butuh proses sampai Alin bisa berbaur dengannya.

Tian jahat? Tidak sama sekali. Ia hanya sedikit kaku dan memang sedikit bermulut tajam. Namun 'sedikit' itu, berhasil membuat asisten pribadi Tian tak pernah betah berada di samping pria tersebut.

Sebenarnya alasan Tian seperti itu hanya ingin membentengi diri. Ia terlalu sibuk hanya sekedar untuk mengurusi dirinya sendiri, salah satunya ya seperti makanan atau lebih luasnya adalah kebutuhan sehari-harinya.

Ia butuh seorang manusia yang mampu melakukan pekerjaan tersebut dengan baik. Dan seperti asisten pribadinya sebelum ini, pekerjaan Alin setelah nanti sampai di rumahnya, yaitu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh asisten-asistennya terdahulu.

Di mana ia berada, di situ harus ada asistennya. Bahkan hanya untuk menemaninya membaca buku di ruang kerjanya saja pun, asistennya tersebut harus ikut, dan tentu saja penerus selanjutnya adalah Alin.

Jika orang lain menilai, mungkin ia akan dicap sebagai manusia yang tak punya kerjaan ataupun manusia 'garing'. Namun Tian tak mempedulikan semua itu lantaran ia sendiri merasa mampu menggaji asistennya dengan cukup tinggi.

Bicara soal gaji Tian seketika teringat posisi Alin saat ini yang menjadi asisten pribadinya. Tian sedikit berdehem untuk mencairkan suasana yang nampak kaku.

"Saat kau bekerja denganku nanti, aku tak ingin mendengar kau merengek tentang gajimu. asalkan kau tahu, keberadaanmu di sini adalah semata-mata untuk melunasi hutang kedua orang tuamu."

Alin berdecak, "tak perlu kau ingatkan! aku tak bodoh dan tak juga pikun!"

"Baguslah kalau kau paham." Alin hanya bergumam menjawab ucapan Tian.

setelahnya suasana kembali sunyi dan itu cukup membuat Tian frustasi. ia benci didiamkan seperti ini. selama ia hidup, tak ada yang berani melakukan itu padanya. Hanya dirinya yang boleh melakukan itu pada asisten pribadinya.

Sepertinya, harus ada sedikit perjanjian kontrak untuk gadis tersebut. Setidaknya selama Alin menjadi asistennya nanti.

×××××

Perjalanan yang singkat namun terasa begitu lama bagi Alin itu akhirnya berakhir. Mobil yang di kendarai Tian masuk ke dalam sebuah pekarangan rumah yang begitu besar dan memiliki halaman yang luas.

Saat turun dari mobil, Alin dibuat melongo takjub. Ia rasa rumah di hadapannya ini setara dengan rumah sultan Andara. Tak ada yang tak tahu siapa itu Sultan Andara. Bahkan namanya selalu disandingkan dengan kemewahan.

Tian menatap wajah bodoh Alin. "Aku tahu kau miskin. Tapi jangan terlalu kau perjelas."

Alin mencelos mendengar 'pujian' Tian pada dirinya. Sungguh, ini rasanya ia menghajar pria di depannya ini.

Ia tak bisa membalas Tian. Alhasil Alin hanya menggerutu kesal sambil mendumal pelan.

Iya menatap Tian yang sudah lebih dulu berjalan masuk ke dalam. Dengan sedikit ragu dan canggung, Alin pun mengekor di belakang pria tersebut. Ia hanya berjarak satu meter dari Tian.

Saat pintu utama dibuka, Alin kembali dibuat melongo takjub seperti gadis bodoh.

Interior dalam rumah ini bukan interior kaleng-kaleng. Ia tahu harga barang-barang ini sangat mahal.

Alin teringat sesuatu. Ia menghentikan langkahnya dan menatap Tian penuh curiga.

Sadar Alin tak mengikutinya, Tian pun menghentikan langkahnya.

Ia berkacak pinggang melihat Alin yang menyilangkan tangannya ke dada.

"Apa yang kau lakukan?" Tanyanya.

Alin masih menatap Tian dengan tatapan penuh curiga, "Kau! Apa kau bekerja sebagai penjual perawan?"

Tian langsung tersedak mendengar tuduhan Alin padanya. "Kau gila?" Bentak Tian.

"Kau yang gila. Apa pekerjaanmu? Tak mungkin kau bisa punya rumah sebesar ini dengan interior mahal seperti itu. Pasti ada yang kau sembunyikan, benarkan?"

"Atau jangan-jangan kau!"

"Jangan-jangan apa? Kau mau menuduhku apa sekarang?"

Alin menatap tajam ke arah Tian, "Kau mafia penjual organ manusia?"

Kali ini Tian tak tahan lagi. Ia berjalan mendekati Alin dan langsung memukul kepala gadis tersebut walaupun pukulan itu termasuk pelan.

"Kau mabuk? Atau urat di otakmu putus satu?" Tanya Tian dengan nada kesal.

"Ya siapa tahu saja. Kalau memang itu pekerjaanmu, nyawaku--"

Tak!

"Awww. Kenapa kau selalu memukulku!!!?" Bentaknya.

"Untung kepalamu yang ku pukul. Biasanya kasus tuduhan seperti ini, aku langsung menembak mati si penuduh."

Alin langsung diam. Ia menutup mulutnya rapat-rapat.

"Mau menuduhku lagi?"

Dengan cepat Alin menggeleng. Sebisa mungkin ia mencoba untuk tersenyum dengan bibir yang masih tertutup rapat.

Tian mendengus kesal. Ia lalu melanjutkan perjalannya menuju lantai dua. Alin masih mengekor di belakang

"Ini kamarmu. Dan ini kamarku." Tian menunjuk kamar yang ada di sebelah kirinya sebagai kamar pribadi Tian.

Alin mengangguk. Ia lalu berjalan perlahan masuk ke kamar yang ada di sebelah kanan Tian. Namun baru tiga langkah ia berjalan, Tian langsung menarik kerah belakang baju Alin membuat Alin mundur kembali.

"Kau silahkan susun barang-barang mu di dalam. Aku memberimu waktu seperempat jam. Setelah itu temui aku di sana." Tian menunjuk lantai satu tepatnya di ruang santai.

Alin mengikuti arah tunjuk Tian. Di ruang santai tersebut ada televisi yang cukup besar.

"Kau paham?"

Alin mengangguk. Setelahnya Tian langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri. Sedangkan Alin yang sedari tadi mencoba menahan nafas, langsung melepaskan nafas panjang.

"Dasar pria gila! Pria sombong. Angkuh. Sok ganteng. Kau pikir kau siapa berani memerintah ku? Asal kau tahu ya, aku ini anak gadis yang--"

Ceklek!

Alin terdiam seketika saat pintu kamar yang tadi ia jampi jampi dengan kata umpatan, terbuka dan memunculkan sosok Tian.

"Kenapa kau masih di sini?"

"Oh! Itu. Aku--aku sedang--sedang melirik furniture di sini. Iya. Mewah-mewah ya. Kau hebat mencari uang." Puji Alin yang sebenarnya tak ikhlas ia ucapkan. "Ya sudah. Aku masuk dulu ke dalam. Hehehe. Aku masuk. Ya. Aku--" Alin langsung berjalan kencang dan membuka pintu kamar yang akan ia tempati, masuk ke dalam dan menutupnya kembali.

Tian menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Alin.

"Sudah kukatakan jangan diperjelas kalau kau miskin." Ucap Tian dengan nada sedikit keras membuat Alin yang ada di dalam bisa mendengarnya dengan jelas. Tentu saja gadis itu tak terima dikatai lagi dengan sebutan miskin. Namun apa boleh buat. Di sini ia memang tak punya apa-apa.

"Dasar pria bemulut ular. Berbisa sekali mulutmu." Ucap Alin mendumal.

Sejauh ini, ia tak melihat Tian itu arogan. Itu jika dilihat dari segi kelakuan ya. Tapi tidak dengan mulut pria tersebut. Sungguh arogan sekali. Seperti apa hidupnya nanti di sini. Ia sungguh penasaran.

*****

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status