LOGINRaiden mengangkat wajahnya perlahan. Matanya yang masih terlihat sayu menatap Hazel dengan rasa penasaran. Tubuh kecilnya tampak lemas, bahkan pipinya sedikit pucat. Namun, ia tetap berusaha duduk tegak di kursinya.
“Halo,” ucap Raiden pelan. Hazel tersenyum lembut. Entah mengapa, melihat anak kecil itu membuat rasa gugupnya sedikit menghilang. “Halo, Raiden. Senang bertemu denganmu.” Raiden hanya mengangguk kecil. Tatapannya masih tertuju pada Hazel, seolah sedang mencoba mengingat sesuatu dari wajah wanita di hadapannya. Setelah beberapa saat, ia justru bertanya dengan suara polos, “Tante Selena teman Papi?” “Benar.” Hazel mengangguk. “Kami sudah saling mengenal sejak kecil.” Raiden kembali mengangguk. Kemudian, ia menyandarkan tubuhnya pada kursi karena terlihat semakin lemas. Hazel yang memperhatikannya langsung merasa khawatir. “Raiden sakit?” tanyanya spontan. Lucian menoleh kepadanya. “Sejak tadi siang demamnya cukup tinggi. Kondisinya sempat membaik, tetapi menjelang sore kembali memburuk.” Hazel mengangguk pelan. Pantas saja Lucian membatalkan makan malam mereka di restoran. “Maaf soal restoran tadi,” ujar Lucian kemudian. Tatapannya tertuju pada Hazel. “Aku seharusnya memberitahumu lebih awal. Aku membatalkan reservasi karena kondisi Raiden tidak memungkinkan untuk aku tinggalkan.” “Tidak apa-apa,” jawab Hazel cepat. “Aku justru lebih khawatir melihat Raiden seperti ini.” Lucian tampak sedikit terkejut mendengar jawaban tersebut. Ia tidak menyangka Selena akan begitu memperhatikan putranya. “Terima kasih,” ucap Lucian singkat. Hazel tersenyum kecil. “Dia masih kecil. Wajar kalau aku khawatir.” Raiden yang sejak tadi diam tiba-tiba mengulurkan tangan kecilnya ke arah Hazel. Hazel sempat tertegun sebelum akhirnya menyambut tangan itu dengan lembut. “Tante Selena baik,” gumam Raiden. Senyum Hazel melebar. “Terima kasih, Raiden.” Lucian memperhatikan interaksi keduanya dalam diam. Hatinya terasa hangat melihat interaksi putranya dengan Selena. Raiden menggenggam jari Hazel dengan lemah. Tangannya terasa panas, membuat senyum Hazel perlahan menghilang. Ia menatap wajah kecil di hadapannya yang terlihat semakin pucat. “Lucian, sebaiknya Raiden beristirahat,” ujar Hazel pelan. Lucian mengangguk. “Benar. Seharusnya aku tidak mengajaknya makan di sini.” Lucian berdiri, lalu mengangkat tubuh kecil Raiden dari kursinya. Raiden langsung menyandarkan kepalanya di bahu ayahnya. “Aku akan membawanya ke kamar,” kata Lucian. “Kau bisa makan terlebih dahulu.” Hazel menggeleng. “Aku bisa menunggu.” Lucian menatapnya sejenak. “Tidak perlu. Kau pasti lapar.” “Aku tidak masalah menunggu,” jawab Hazel kembali. Lucian terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk. “Baiklah. Kalau begitu, tunggu aku di sini.” Pria itu kemudian membawa Raiden keluar dari ruang makan. Hazel memperhatikan langkahnya hingga sosok Lucian menghilang di balik pintu. Hazel duduk kembali, kemudian menatap hidangan yang tersaji di atas meja. Namun, pikirannya justru tertuju pada Raiden. Anak itu begitu pucat, demamnya juga cukup tinggi. “Semoga cepat sembuh,” gumam Hazel. Hazel tampak iba dengan Raiden yang tidak mendapatkan kasih sayang seorang Ibu. Terlebih ia yakin Lucian pasti sibuk dengan pekerjaannya, dan menyerahkan Raiden sepenuhnya pada seorang pengasuh. ‘Andai saja aku tidak menyamar menjadi Selena, mungkin aku bisa mendaftarkan diri untuk menjadi pengasuh Raiden.’ Hazel mengingat wajah kecilnya yang lucu itu tampak pucat. Suara notifikasi pesan dari ponselnya terdengar, dengan cepat Hazel memeriksanya. Ternyata Selena yang mengirimnya pesan. Tanpa menunggu lama ia membuka dan membaca pesan tersebut. Selena Hazel, bagaimana makan malamnya? Lucian tidak curiga, bukan? ‘Dasar bodoh,’ umpat Hazel tanpa sadar. Bisa-bisanya Selena mengirimnya pesan seperti itu di saat dirinya masih bersama Lucian. Sahabatnya itu tidak berpikir kalau semisal ia membuka pesan darinya saat berada di dekat Lucian. Hal itu akan membuat penyamarannya gagal. Baru saja Hazel bersiap mengetikkan balasan, derap langkah kaki terdengar. Membuat Hazel dengan cepat menyimpan ponselnya kembali. Hazel melirik ketiga pelayan yang sejak tadi berdiri di sudut ruang makan. ‘Sial, pasti mereka melihat kepanikanku!’ Lucian berjalan mendekat, lalu menarik kursi di ujung meja yang berbeda dari tempat Hazel duduk. Kursi itu tampak lebih besar dan berada di posisi utama, seolah memang disediakan khusus untuk kepala keluarga. Hazel memperhatikan gerakannya dalam diam. Entah mengapa, jantungnya kembali berdegup lebih cepat saat Lucian duduk tepat di hadapannya. “Selena, are you okay?” ulang Lucian. Hazel tersenyum kaku. “Aku baik-baik saja.” Tatapan Lucian turun sekilas pada ponsel yang baru saja disimpan Hazel. Alisnya sedikit terangkat. “Kau sedang berbicara dengan siapa?” Hazel membeku. “Hanya beberapa pesan tentang pekerjaan.” “Oh, ya?” Lucian melirik pelayan di ujung, menyuruh mereka untuk menyiapkan makan malam untuk dirinya dan juga Hazel. “Bagaimana pekerjaanmu sekarang?” ‘Ya Tuhan, Hazel. Lagi, dan lagi kau melakukan hal bodoh!’ maki Hazel frustrasi pada dirinya sendiri.Victoria mengajak Hazel duduk di salah satu sofa yang berada tidak jauh dari ranjang Raiden. Setelah memastikan cucunya kembali beristirahat dengan nyaman, Victoria kemudian duduk di sisi Hazel. Senyum hangat masih menghiasi wajah wanita itu, membuat Hazel yang sejak tadi sedikit tegang perlahan mulai merasa lebih santai."Tante masih tidak menyangka kau sudah sebesar ini," ujar Victoria sambil memperhatikan Hazel. "Rasanya baru kemarin kau masih menangis saat bermain petak umpet dengan Lucian, dan kau gagal menemukan tempat persembunyian Lucian." Hazel tersenyum kecil. "Waktu memang berjalan cepat, Tante.""Benar sekali." Victoria tertawa pelan. "Dulu kau dan Lucian hampir tidak pernah bisa diam. Setiap kali kalian bermain bersama, rumah selalu menjadi berantakan."Hazel ikut tertawa kecil meskipun sebenarnya ia tidak memiliki ingatan mengenai masa-masa tersebut. Ia hanya memberikan respon seadanya, dan tentunya penuh hati-hati. Pasalnya Selena tidak menceritakan masa lalunya dengan
Taksi yang ditumpangi Hazel berhenti di depan Rumah Sakit Pradipta Medika. Setelah membayar ongkos perjalanan, Hazel segera turun dan berjalan memasuki lobi rumah sakit. Ia masih mengingat jelas ruang rawat Raiden di lantai 3, karena kemarin baru saja ia menjenguknya bersama Lucian dan bertemu calon mertua Selena. Langkah kakinya bergerak menuju lift yang berada tidak jauh dari meja resepsionis.Sesampainya di lantai tempat Raiden dirawat, Hazel berjalan menyusuri lorong panjang, dan belok ke kanan sampai akhirnya ia sampai pada ruang rawat Raiden yang terletak paling ujung. Ia mengetuk pintu ruang rawat dengan pelan. "Silakan masuk."Terdengar sahutan dari dalam sana. Hazel tanpa ragu membuka pintu perlahan dan mendapati seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun berdiri di dekat tempat tidur. Wanita itu mengenakan pakaian sederhana dan tampak sedang merapikan beberapa barang milik Raiden.Begitu melihat Hazel, wanita itu langsung tersenyum dan menghampirinya. "Nona Selena?"Ha
Kedua mata Hazel langsung terbuka lebar membaca pesan singkat dari Lucian. Ia dengan cepat mengetikkan balasan untuk pria itu.Selena~Belum, Lucian. Ada apa?Setelah pesan terkirim, kedua ceklis abu-abu berubah biru. Lucian masih berada di room chat. Tidak lama, pria di seberang sana terlihat mengetik.LucianSelena, aku ingin meminta tolong padamu.Besok, Raiden pulang dari rumah sakit.Aku ingin kau menemaninya sejak pagi hingga malam.Hazel menatap layar ponselnya yang menampilkan tiga pesan yang dikirimkan oleh Lucian. Ia terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya membalas.Selena~Tentu saja aku bisa, Lucian.Hazel masih berada di room chat bersama Lucian. Sampai dua detik setelahnya, balasan kembali masuk.LucianKau tidak keberatan, Selena?Selena~Tidak sama sekali. Aku akan datang besok pagi, jangan khawatir, Lucian. Raiden akan aman bersamaku.Hazel melirik jam yang menempel pada dinding kamarnya. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 11.45 malam waktu Pandora. Ia haru
"Selena, sebelumnya aku minta ma—" "Duduk," potong Selena cepat. Dengan jantung berdegup kencang, Hazel berjalan menuju sofa di kamar Selena. Sedangkan gadis itu duduk di atas ranjang, sehingga posisi kami saling berhadapan dengan jarak satu meter. "Kau pergi kemana, Hazel?" Tatapan tajam Selena membuat Hazel kikuk. "Aku menjemput Ibu yang sedang bersama Rodric." "Kau tahu, Selena. Seberapa kejamnya Rodric, dan hari ini dia meminta uang pada Ibu. Tapi Ibu tidak memberinya, karena Ibu sudah memberikan semuanya pada Rodric beberapa hari yang lalu," lanjut Hazel menjelaskan pada Selena. "Ibu dicegat oleh beberapa preman, dan aku yang mendengar cerita Ibu lewat telepon langsung pergi ke sana." Hazel tampak kesusahan menceritakan itu pada Selena. Perasaan takut yang mendominasinya, membuat dirinya menjelaskan pada Selena dengan bertele-tele. "Aku benar-benar panik saat itu, sampai aku tidak mengingat Lucian," lanjutnya
"Tidak bisa."Jawaban Lucian yang terdengar singkat membuat Hazel terdiam. Senyum tipis yang sebelumnya muncul di wajahnya perlahan menghilang. Dadanya terasa sesak, sementara pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan. Apakah Lucian marah kepadanya karena telah meninggalkannya selama berjam-jam? Atau mungkin pria itu mulai merasa ada sesuatu yang aneh dengan sikapnya?Hazel menggenggam ponselnya lebih erat. Ia hendak bertanya, tetapi Lucian lebih dahulu melanjutkan ucapannya."Aku tidak bisa bertemu denganmu besok. Aku harus pergi ke Luton untuk perjalanan bisnis. Ada beberapa urusan perusahaan yang harus kuselesaikan di sana."Hazel tertegun. Ia tidak menyangka penolakan itu sama sekali tidak berkaitan dengan dirinya. Rasa lega perlahan muncul, meskipun masih ada sedikit rasa bersalah yang tersisa di dalam hatinya."Oh ...." Hanya itu yang mampu Hazel ucapkan."Aku mungkin akan berada di Luton untuk sementara wakt
"Kalau begitu, kita harus segera pulang, Ibu."Hazel berdiri dan membantu Ayunda bangkit dari tempat duduknya. Keduanya segera meninggalkan minimarket dan berjalan ke pinggir jalan untuk mencari taksi. Hazel terus melihat ke arah jalan dengan gelisah. Pikirannya masih tertuju pada Lucian yang kemungkinan besar sudah menunggunya selama berjam-jam.Beberapa menit kemudian, sebuah taksi berhenti di hadapan mereka. Hazel segera membukakan pintu untuk Ayunda, lalu ikut masuk setelah memastikan ibunya duduk dengan nyaman."Antarkan kami ke alamat ini," ucap Hazel sambil menunjukkan alamat tempat tinggal mereka kepada sopir.Mobil mulai melaju. Hazel bersandar pada kursinya sambil menarik napas panjang. Ia kemudian kembali melihat ponselnya. Ada begitu banyak panggilan tidak terjawab dari Lucian. Bahkan beberapa pesan pria itu terus masuk.Hazel menggigit bibirnya. Ia tidak sanggup membayangkan bagaimana reaksi Selena jika mengetahui dirinya men







