LOGIN
Pagi itu, mentari Jakarta masih malu-malu menembus tirai jendela sebuah kost-an putri sederhana di daerah Jakarta. Di balik selimut tipis, seorang gadis muda masih terlelap. Namanya Lily, gadis yang merantau demi membantu orang tua.
Kamarnya mungil tapi penuh karakter. Poster dinosaurus menempel di dinding, boneka kecil berjejer rapi di rak, dan sebuah meja belajar dengan laptop tua serta tumpukan buku di sampingnya. Suasana masih sepi, hanya terdengar suara kipas angin berputar lambat dan dering alarm dari ponselnya yang terus berbunyi. Namun, Lily tetap terlelap, tenggelam dalam mimpi yang hangat. Tak lama kemudian, alarm itu berhenti, berganti dengan nada dering telepon. Dengan wajah mengantuk, Lily meraba ponselnya dan mengangkat panggilan itu. “Halo, Bun…” suaranya pelan, masih berat karena baru bangun. Dari seberang, suara bundanya terdengar jelas, “Halo, kamu sudah berangkat?” “Berangkat? Berangkat kemana?” Lily menjawab dengan malas, matanya masih terpejam. Bunda mendesah pelan, “Astaga, Lily… kamu lupa hari ini hari apa?” Sekejap Lily terdiam. Otaknya bekerja cepat mencoba mengingat. Hingga seolah ada lonceng berdentang dalam kepalanya—hari ini adalah hari interview penting yang sudah ia tunggu-tunggu. Ia langsung terduduk, matanya melebar. “Hari Interview". Telepon segera ia matikan, lalu tanpa pikir panjang ia berlari menuju kamar mandi. Jantungnya berdegup kencang, menandakan kepanikan yang mulai merayapi dirinya. Setelah mandi dengan tergesa, Lily menatap cermin kecil di atas wastafel kamar kostnya. Rambutnya masih sedikit basah, wajahnya tampak tegang bercampur kantuk yang belum hilang sepenuhnya. Ia bergumam pada dirinya sendiri, “Tenang, Li… ini cuma interview, jangan sampai gagal.” Dengan gerakan tergesa, ia meraih pakaian yang sudah ia siapkan sejak malam tadi: sebuah kemeja putih sederhana dan rok hitam yang rapi. Pakaian itu tampak bersih meski bukan baru, tetap memberi kesan sopan untuk menghadiri interview. Di atas meja kecil dekat ranjang, sudah tertata map berwarna biru berisi beberapa dokumen penting. Lily memeriksanya sekali lagi—fotokopi ijazah, transkrip nilai, CV, dan pas foto. Satu per satu ia cek, lalu memasukkannya dengan hati-hati ke dalam tas. “Semoga nggak ada yang ketinggalan…” gumamnya pelan, sambil meneliti meja, takut ada berkas penting yang tercecer. Selesai berkemas, Lily melirik jam dinding—waktu sudah hampir menunjukkan pukul 8 pagi. Padahal jadwal interview-nya pukul 9 dan lokasi cukup jauh dari kosannya. Di meja, sebungkus roti tawar menunggu. Lily meraih selembar, menggigitnya sambil menyisir rambutnya di depan cermin kecil. Rambutnya masih sedikit lembap, tapi ia mencoba merapikannya sebisa mungkin. Meski wajahnya terlihat lelah, sorot matanya kini dipenuhi tekad. Ia menarik napas panjang, lalu berbisik pada dirinya sendiri, “Aku bisa. Aku pasti bisa.” Dengan langkah tergesa, Lily menggendong tasnya, mengunci pintu kamar kos, dan keluar menuju jalan yang sudah dipenuhi hiruk pikuk pagi. Lily segera menuju halte bus terdekat. Udara pagi masih terasa hangat bercampur dengan asap kendaraan yang lewat. Ia berdiri di antara beberapa orang lain yang juga menunggu, sambil menggenggam tasnya erat. Beberapa menit berlalu, tiba-tiba seseorang berlari kencang dari arah belakang dan menabraknya cukup keras. Lily hampir terjatuh, map birunya hampir terlepas dari genggaman. “Eh! Hati-hati dong…” gumam Lily refleks, menoleh ke belakang. Namun orang itu sama sekali tidak menoleh, hanya terus berlari menjauh. Lily masih kebingungan seketika terdengar teriakan lantang, “JAMBRET! JAMBRET!” Seorang ibu-ibu berlari sambil menunjuk ke arah pria yang tadi menabraknya. Saat ibu itu semakin dekat, Lily bertanya, “Bu, jambretnya yang mana?” Ibu itu menunjuk dengan napas terengah, “Itu! Yang jaket hitam itu!” Mata Lily membelalak—ternyata orang yang menabraknya barusan adalah si jambret. Dari belakang terlihat jelas, pria itu mengenakan jaket hitam lusuh, berlari kencang sambil membawa tas kecil hasil rampasan. Tanpa berpikir panjang, Lily berkata tegas, “Saya bantu kejar ya, Bu!” Ia segera berlari mengejar pria berjaket hitam itu. Nafasnya mulai berat, sepatu hitamnya menghentak keras di trotoar, map birunya ia peluk erat agar tidak terjatuh. Orang-orang di sekitar hanya menoleh tanpa berani bergerak, membuat Lily semakin yakin kalau dialah satu-satunya yang bisa melakukan sesuatu saat itu. Walau ia anak rantau, Lily tahu... kebaikan tak kenal tempat asal. “Hei!! Berhenti!!” teriak Lily sambil menyingkirkan beberapa orang di trotoar. Lily terus berlari, napasnya semakin memburu. Dari kejauhan ia bisa melihat tas milik ibu-ibu tadi—warnanya merah marun—tergenggam erat di tangan si jambret. Hatinya semakin berkobar, “Aku harus dapatin tas ibu itu!” Si jambret lalu berbelok ke sebuah gang kecil yang sempit. Tanpa ragu, Lily ikut mengejarnya. Gang itu pengap, dindingnya berlumut, dan penuh jemuran warga. Langkah kaki keduanya bergema, namun ketika Lily berhasil keluar dari ujung gang, sosok si jambret sudah tidak terlihat lagi. Lily berdiri kebingungan, matanya menyapu kanan-kiri, mencari petunjuk. “Ke mana dia…?” gumamnya panik. Sementara itu, tak jauh dari sana, seorang pria berjas hitam dengan kemeja putih sedang berdiri di dekat minimarket. Di tangannya, segelas kopi panas baru saja ia beli. Ia menyeruput pelan, menikmati waktu singkat di tengah kesibukan. Tiba-tiba, dari arah gang, sebuah tas berwarna merah marun terlempar ke jalan. Pria itu spontan berjongkok mengambil tas itu. “Hei, tasnya jatuh!” teriaknya kepada seseorang yang lari cepat menjauh. Tapi orang itu tak menoleh sedikit pun, terus menghilang di balik keramaian. Saat itulah Lily keluar dari gang kecil. Matanya langsung tertuju pada tas merah marun di tangan pria berjas. Nafasnya masih terengah, dan tanpa berpikir panjang ia berteriak, “KETEMU! Dasar, jambret?!” Pria itu menoleh dengan ekspresi bingung, “Apa? Jambret?!” “Jangan pura-pura! Saya lihat sendiri kamu pegang tas itu!” Lily mendekat dengan wajah penuh tuduhan. Pria itu mengangkat kedua tangannya sambil masih memegang tas, “Tunggu dulu! Saya cuma nemuin tas ini, barusan dilempar orang!” Namun Lily sudah telanjur yakin dengan apa yang ia lihat. Orang-orang sekitar mulai menoleh, memperhatikan keributan kecil itu. Tanpa berpikir panjang, Lily langsung merebut tas merah marun itu dari tangan pria berjas. Nafasnya masih memburu ketika ia berteriak keras, “Tolong! Ada jambret!” Orang-orang di sekitar yang tadi hanya menonton kini mendekat, membentuk kerumunan. Beberapa ada yang mengangguk-angguk, seolah membenarkan tuduhan Lily hanya karena melihat pria itu sedang memegang tas. Pria berjas itu terkejut, mencoba menahan situasi, “Tunggu! Ada kesalahpahaman di sini. Saya bukan pencurinya!” Pria itu mencoba menjelaskan dengan tenang, wajahnya tetap tenang. “Saya tadi sedang minum kopi. Tiba-tiba tas ini dilempar ke jalan. Saya cuma reflek ambil supaya tidak diinjak oleh orang. Orang yang lempar tas itu masih lari ke depan. Saya bahkan sempat teriak, tapi dia nggak noleh sama sekali.” Namun Lily menggeleng keras. “Alasan! Kamu cuma mau menghindar kan. Mana ada maling mau ngaku maling?!” Bisik-bisik mulai terdengar di kerumunan. Seorang bapak paruh baya berkata lantang, “Udah, bawa aja dia ke kantor polisi, biar jelas!” Dua orang pria muda langsung maju, siap menggiring si pria berjas. Ia berusaha menahan, “Kalian salah paham! Dengarkan dulu!” Sebelum situasi makin panas, sosok ibu-ibu yang tadi berteriak jambret akhirnya datang dengan wajah terengah. “Tas saya! Itu tas saya!” katanya lega. Lily segera menyerahkan tas itu sambil berkata, “Ini, Bu. Bu, orang ini jambretnya. Ayo kita bawa ke kantor polisi!” Namun ibu itu menggeleng cepat, “Lho, bukan! Bukan dia jambretnya.” Kerumunan terdiam. Lily menoleh dengan bingung. “Maksudnya… bukan dia? Tapi… tasnya tadi ada di dia, Bu.” Ibu itu menjelaskan dengan suara masih terbata, “Saya lihat jelas sekali, yang menjambret saya itu pakai jaket hitam, bukan jas hitam." Sekejap Lily terdiam. Ingatannya berkelebat—benar, tadi ia sendiri yang melihat si jambret memakai jaket hitam lusuh, bukan jas hitam rapi seperti pria ini. Wajah Lily langsung memerah. Dadanya terasa sesak, rasa malu menelannya bulat-bulat. Orang-orang yang tadi menuduh pun mulai saling pandang dengan canggung, sementara pria berjas itu berdiri diam, menatap Lily dengan ekspresi campuran antara kesal dan tak percaya. Lily menundukkan kepala, ingin sekali menghilang dari situ.Jam makan siang pun tiba. Fajar menutup file di mejanya, lalu berdiri sambil merapikan jasnya. Dengan langkah mantap ia berjalan menuju pintu, sebelum keluar ia menoleh pada Lily yang sedang serius mengetik di laptopnya.“Kalau ada yang mencari saya, beritahu saja bahwa saya sedang keluar untuk makan siang,” ucap Fajar datar.Lily mengangkat wajahnya sebentar, lalu mengangguk. “Baik, Pak.”Fajar memperhatikan sejenak. “Kamu tidak makan siang?” tanyanya dengan nada datar.Jari Lily berhenti sejenak di atas keyboard. “Nanti saya makan, Pak. Saya mau selesaikan ini dulu.”Fajar terdiam sepersekian detik, lalu dengan suara dingin ia berkata, “Jangan terlalu sibuk bekerja. Istirahatlah. Kalau kamu jatuh sakit, justru akan merepotkan saya.”Lily tertegun mendengarnya. Walaupun nadanya dingin, tapi jelas-jelas ada perhatian di balik perkataan itu. Ia hanya bisa mengangguk, menahan senyum agar tidak terlihat terlalu girang.“Baik, Pak,” balasnya singkat.Fajar tidak menambahkan apa-apa lagi.
Keesokan paginya, suasana main hall kantor terasa berbeda dari biasanya. Semua karyawan sudah berkumpul, sebagian berbisik-bisik penasaran kenapa mereka dipanggil.Langkah Fajar terdengar tegas saat ia berjalan ke depan, mengenakan setelan jas rapi yang membuatnya tampak berwibawa. Di sampingnya, Lily berjalan dengan gugup tapi tetap menjaga senyum. Penampilannya kini benar-benar berbeda dari seorang cleaning service biasa—anggun dengan blazer sederhana yang dipadukan celana panjang hitam yang membuatnya tampak elegan sekaligus profesional.Fajar berdiri di tengah ruangan, menatap semua karyawan dengan ekspresi dingin khasnya. Suaranya mantap dan jelas.“Mulai hari ini, saya resmi melantik Lily sebagai sekretaris pribadi saya. Segala urusan yang berkaitan dengan saya akan langsung melalui dirinya.”Ruangan seketika hening. Banyak yang terkejut, bahkan ada yang saling pandang, tidak percaya.Gita yang biasanya bersama Lily di ruang cleaning service, menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Perdebatan di ruang makan semakin memanas. Fajar berdiri di hadapan Elyan, wajahnya memerah, nada suaranya tinggi.“Pah, aku tidak akan mengakhiri hubungan aku dengan Lily! Kami serius!” bentak Fajar, suaranya terdengar tegas.Elyan menatapnya dingin, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Fajar, kamu harus mengerti! Papah sudah menjodohkanmu dengan orang yang lebih tepat! Jangan egois, hentikan hubunganmu dengan perempuan ini sekarang juga!”Fajar menggeleng keras. “Pah, tolong hargai keputusan aku dan juga perasaannya. Ini bukan soal ego, tapi cinta!”Pertengkaran itu semakin memanas. Suara mereka saling bertubrukan, hingga tiba-tiba Lily berdiri, langkahnya mantap, wajahnya serius, mata berkaca-kaca. Suaranya terdengar lantang di seluruh ruang makan.“Fajar telah meniduri saya, pak!”Seisi ruangan langsung hening. Wajah Fajar memucat, matanya melebar, tubuhnya kaku. Novi terduduk tegak, terkejut dan hampir tak percaya.“Jangan sembarangan, kamu!” seru Novi, nadanya penuh cemas.Lily
Elyan mendekat dan duduk di samping Novi. Ia menatap Lily dengan serius. "Tadi kau bilang lulusan kesekretariatan dan sastra Inggris, bukan?" tanyanya.Lily mengangguk mantap. "Iya, pak."Elyan menarik napas dalam-dalam. "Kalau begitu, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan untuk meyakinkan diri saya sendiri bahwa kamu benar-benar lulusan kesekretariatan."Fajar menatap Elyan, wajahnya menunjukkan kepanikan kecil. "Pah..."Elyan menengadah, menahan ucapan Fajar. "Diam. Papah tidak berbicara denganmu sekarang. Papah berbicara dengan wanita ini."Lily menelan ludah, tapi dalam hatinya berkata, "Ayo, Li, tunjukkan kalau kau bisa. Untuk apa kuliah kalau tidak bisa jawab pertanyaan."Elyan mulai melontarkan pertanyaan satu per satu.Pertanyaan pertama, "Apa langkah utama dalam membuat notulen rapat yang resmi?"Lily menjawab cepat, "Mencatat semua poin pembahasan, keputusan yang diambil, serta penanggung jawab setiap tindak lanjut, kemudian menyusun dalam format yang jelas dan ringkas."
Sesampainya di halaman rumah Fajar, Lily menatap sekeliling dengan mata terbelalak. Rumah itu… lebih tepatnya kastil, megah dan luas, dengan taman yang tertata rapi, lampu taman yang menyala lembut, dan jalan setapak berbatu yang mengarah ke pintu utama. Angin malam yang sejuk membuat dedaunan berbisik pelan, menambah kesan misterius dan sedikit menegangkan. Dalam hati Lily bergumam, “Gila… ini rumah apa Kastil?”Fajar menoleh sebentar, matanya tajam menatap Lily dari sisi mobil. “Jangan sampai salah bicara atau melakukan hal yang mencurigakan,” ujarnya dengan nada serius, seolah ingin menekankan bahwa setiap gerak-gerik Lily malam ini diawasi.Lily menelan ludah, dadanya sedikit berdebar. “Baik, pak,” jawabnya dengan suara lirih.Fajar mengangguk dan matanya menatap lurus ke depan. “Buat orang tua saya yakin bahwa kita benar-benar berpacaran.” Kata-kata itu seperti palu yang menghantam Lily, membuatnya terdiam sejenak. Dalam hati, ia mengelus dadanya, “Bawel banget nih kulkas…” Namun
Setelah selesai dengan perawatan wajah, rambut, dan tangan, Lily duduk sebentar di sofa salon sambil menenangkan diri. Saat itu, handphonenya bergetar. Ia membuka pesan masuk dari Fajar:"Lily, pastikan kamu membeli gaun yang cantik untuk malam ini. Saya ingin kau terlihat anggun tapi tetap sopan."Lily membaca pesan itu, hatinya berdebar sedikit, tetapi ia segera mengangguk dalam hati. “Baiklah, gue akan menurutinya,” gumamnya pelan.Tidak lama kemudian, stylist menatap Lily sambil berkata, “Sekarang kita lanjut ke bagian pemilihan gaun, mbak. Kami memiliki koleksi terbaru yang bisa cocok untuk acara spesial malam ini.”Salon itu ternyata juga berfungsi sebagai butik mewah, deretan gaun terpajang dengan indah di setiap hanger, lampu sorot menyoroti setiap detail kain dan bordiran. Lily mulai berjalan, tangannya menyentuh lembut kain-kain mahal yang menggantung di depannya. Stylist dengan sabar memberikan beberapa pilihan.Ia menatap satu persatu, mencari gaun yang membuatnya merasa a







