INICIAR SESIÓNSalah seorang di antara kerumunan bersuara, “Jadi… bukan dia, ya?”
Ibu-ibu itu menggeleng mantap. “Bukan. Saya jelas lihat tadi, jambretnya pakai jaket hitam. Bukan jas.” Kerumunan yang tadi penuh semangat langsung berubah. Mereka mulai bubar perlahan, beberapa bahkan bersorak kecil sambil menertawakan situasi. Lily hanya bisa berdiri terpaku, wajahnya memerah karena malu, seakan seluruh tatapan menusuk dirinya. Ibu-ibu itu lalu menoleh pada pria berjas. Wajahnya penuh rasa bersalah. “Mas… maaf ya, jadi dituduh jambret." Pria berjas itu menarik napas dalam, lalu mengangguk singkat. “Tidak apa-apa, Bu. Saya bisa mengerti. Yang penting tas Ibu kembali.” Ia lalu menatap tas itu. “Coba Ibu periksa, siapa tahu ada yang hilang.” Ibu itu pun membuka resletingnya dengan tangan sedikit gemetar. Setelah beberapa saat memeriksa, wajahnya muram. “Aduh, uang saya… ada yang hilang.” Mendengar itu, pria berjas menghela napas. Ia membuka dompet hitamnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkannya kepada si ibu. “Ini, Bu… saya nggak tahu berapa yang hilang. Tapi tolong diterima. Mungkin bisa sedikit bantu.” Mata ibu itu berkaca-kaca. Ia menerima uang itu dengan tangan bergetar. “Ya ampun… terima kasih banyak, Mas. Saya benar-benar berterima kasih.” Ia menunduk lagi dengan penuh hormat, “Terima kasih sekali lagi, Mas.” Lalu ia menoleh pada Lily, “Nak, terima kasih juga ya sudah mau bantu ngejar jambretnya.” Lily hanya tersenyum kikuk, masih menunduk malu. Setelah itu, ibu itu pergi sambil terus mengucapkan terima kasih, meninggalkan Lily dan pria berjas itu berdiri berhadapan dalam keheningan yang canggung. Setelah ibu-ibu itu pergi, suasana di sekitar kembali tenang. Hanya tersisa Lily dan pria berjas yang masih berdiri berhadapan. Lily menunduk dalam, jantungnya berdegup kencang, rasa malu membungkus dirinya. Dengan suara pelan ia berkata, “Maaf… saya salah paham. Saya kira tadi kamu yang…” Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Lily sebentar, lalu menghela napas. Tanpa banyak bicara, ia mulai berjalan menuju sebuah mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari sana. Lily mengikuti dengan pandangan gelisah. Pria itu membuka pintu mobil, namun sebelum masuk, ia berhenti sejenak. Lalu ia menatap Lily dengan tatapan dingin lalu dengan nada dingin, ia berkata, “Lain kali… jangan asal nuduh orang tanpa tahu kebenarannya. Lucu ya, orang yang mengaku ingin membantu malah nyaris menjatuhkan orang lain." Kata-kata itu singkat, tapi seperti tamparan keras bagi Lily. Ia tercekat, tidak mampu membalas, hanya bisa menunduk lebih dalam. "Kalau semua orang seceroboh kamu, mungkin dunia ini isinya hanya kesalahpahaman. Tidak semua orang seburuk yang kamu kira, dan tidak semua kebaikanmu akan terlihat sebagai kebaikan. Kamu punya niat baik, tapi sayang… tanpa logika, niat baik bisa jadi bumerang." Pria itu lalu masuk ke dalam mobilnya. Mesin dinyalakan, dan perlahan mobil hitam itu melaju meninggalkan Lily berdiri sendirian. Angin pagi menyapu wajahnya, tapi rasanya panas. Dalam hati, Lily berteriak pada dirinya sendiri, “Bego… bego, Lily! Kenapa bisa sebodoh itu sih…” Ia meremas map biru di tangannya, merasa perih bercampur penyesalan. Lily pun segera menuju ke tempat wawancara. Setelah sampai di gedung itu, ia melangkah cepat ke meja resepsionis. “Selamat pagi mbak, saya ada jadwal interview,” ucap Lily sambil sedikit menunduk sopan. Resepsionis mengecek daftar di layar komputernya, lalu menatap Lily dengan senyum profesional. “Baik, silakan ke lantai 6, cari Bu Martha. Beliau yang akan mewawancarai Anda.” “Terima kasih, Mbak,” kata Lily. Ia pun berjalan menuju lift. Begitu pintu lift terbuka, Lily masuk. Di dalam sudah ada seorang pria tua dengan seragam cleaning service, tengah memegang alat pel lantai. Rambutnya sedikit memutih, wajahnya ramah dengan senyum hangat yang membuat Lily merasa tenang. “Kamu baru ya?” tanya pria tua itu dengan nada ramah. Lily tersenyum kikuk, mencoba sopan. “Iya, Pak. Saya baru mau melamar kerja, ini mau interview.” “Oh begitu… semoga lancar ya, Nak,” ujar pria tua itu sambil tersenyum tulus. “Terima kasih banyak, Pak,” jawab Lily dengan sopan. Tak lama, lift berbunyi dan pintunya terbuka di lantai 6. Lily segera melangkah keluar. Ia menoleh sebentar pada pria tua itu dan berkata dengan nada hormat, “Saya duluan ya, Pak.” Pria tua itu mengangguk ramah, “Silakan, semoga berhasil.” Lily pun menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak cepat, lalu melangkah menuju ruangan tempat Bu Martha berada. Lily berjalan menyusuri lorong lantai 6 dengan langkah gugup. Hatinya berdegup kencang, tangan menggenggam erat map berisi dokumen. Di depan sebuah ruangan dengan papan nama Meeting Room, ia melihat beberapa kandidat lain duduk rapi di kursi panjang, sebagian sibuk membuka-buka berkas, sebagian lain menunduk sambil berdoa dalam hati. Di sisi ruangan itu berdiri seorang wanita berpenampilan tegas, mengenakan blazer biru tua dengan rambut disanggul rapi. Aura wibawanya begitu kuat sehingga Lily spontan melangkah menghampiri. “Permisi, apa Ibu adalah Bu Martha?” tanya Lily dengan sopan. Wanita itu menoleh, tatapannya tajam namun profesional. “Iya, saya Martha,” jawabnya singkat namun jelas. Lily pun segera memperkenalkan diri sambil menundukkan sedikit kepalanya. “Perkenalkan, Bu. Saya Lily, kandidat sekretaris CEO.” Bu Martha menyilangkan tangan di depan dada, menatap Lily dari ujung kepala hingga kaki. Nada suaranya terdengar tegas, bahkan menusuk. “Lily, seharusnya seorang kandidat yang melamar posisi sekretaris CEO paham betul arti disiplin. Kamu datang terlambat. Ingat, waktu adalah hal paling berharga di perusahaan ini. Bagaimana kamu bisa mendampingi seorang pemimpin besar kalau untuk mengatur waktumu sendiri saja masih lalai?” Kata-kata itu membuat Lily tercekat. Ia hanya bisa menunduk, merasa wajahnya panas karena malu. Namun ia tahu, ini adalah teguran yang harus ia terima. “Belum kerja saja sudah menunjukkan kalau kamu nggak bisa tepat waktu,” ucap Martha tajam. “Apa yang membuat kami harus percaya kamu sanggup menangani ritme kerja seorang CEO?” Ujar Martha. Lily menelan ludah, mencoba tetap tenang. “Saya minta maaf, Bu. Di jalan tadi saya bantu seorang ibu yang dijambret… saya kejar jambretnya, makanya—” “Stop,” potong Martha sambil mengangkat tangan. “Maaf, saya nggak butuh cerita drama pagi. Yang saya nilai di sini adalah kesiapan.” Suasana hening sejenak. Kandidat lain yang tadi menatap Lily akhirnya mengalihkan pandangan, meski beberapa masih berbisik kecil. Lily menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya. Ia sadar satu kesalahan kecil saja bisa membuatnya gagal bahkan sebelum sempat menunjukkan kemampuan. Dengan langkah pelan, ia menuju kursi kosong dan duduk di antara kandidat lain, berusaha menegakkan punggungnya meski perasaannya hancur. Dalam hati, ia berbisik, “Kamu bisa, Lily… jangan jatuh hanya karena awal yang buruk.” Lalu Martha berkata, “Hari ini agak sedikit berbeda. Karena yang akan menginterview kalian secara langsung adalah Pak Fajar, CEO dari perusahaan ini.” Beberapa kandidat langsung tampak terkejut, bahkan ada yang saling berbisik kecil karena tidak menyangka akan berhadapan langsung dengan pemimpin tertinggi. Lily pun sedikit terkejut mendengarnya, tapi wajahnya tetap tenang. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menyiapkan diri. "Jadi… langsung dengan CEO? Aku harus benar-benar siap." Martha melanjutkan, “Nanti akan saya panggil satu per satu. Jadi, tunggu giliran kalian dengan tenang.” Setelah itu, Martha masuk ke dalam ruangan sambil membawa berkas-berkas kandidat. Di ruang tunggu, suasana langsung berubah. Beberapa kandidat tampak gugup, ada yang sibuk merapikan pakaian, ada juga yang terlihat membaca ulang catatan kecil. Lily duduk tenang, meski di dalam hatinya jantung berdegup kencang. Tak lama, Martha kembali keluar dari ruangan dengan wajah tenang. Ia menatap para kandidat lalu berkata, “Maaf, Pak Fajar meminta kalian semua untuk menunggu di dalam. Silakan ikut saya.” Para kandidat saling pandang sebentar sebelum akhirnya bangkit dan mengikuti Martha masuk. Begitu pintu ruangan dibuka, suasana langsung berubah hening. Ruangan itu luas, mewah, dengan dinding kaca besar yang menampilkan pemandangan kota. Di sana, seorang pria berjas hitam berdiri membelakangi mereka, menatap ke arah jendela tinggi dengan kedua tangan di belakang punggung. Aura wibawa yang kuat langsung terasa dari sosok itu. Martha melangkah maju dan berkata dengan penuh hormat, “Ini adalah Pak Fajar, CEO dari perusahaan ini. Pak Fajar, ini ke-enam, calon kandidat yang akan bekerja di sini.” Perlahan, pria itu berbalik. Betapa terkejutnya Lily saat melihat wajahnya. Matanya membesar, tubuhnya sedikit kaku. CEO yang dimaksud ternyata adalah pria tadi… orang yang sempat ia tuduh sebagai jambret. Dalam hati ia bergumam “Apa… jadi dia CEO-nya?” Tubuhnya kaku seketika, sulit menutupi keterkejutannya. Sementara itu, Fajar juga tampak sedikit terkejut begitu menyadari kehadiran Lily di antara para kandidat. Namun, ekspresinya cepat kembali datar. Ia tetap bersikap profesional, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di luar tadi. Di sisi lain, Lily langsung overthinking. "Ya ampun… kenapa harus dia? Bagaimana kalau dia masih marah? Apa gue masih punya kesempatan?" Gumamnya dalam hati. Tangannya refleks menggenggam rok yang ia pakai, mencoba menahan kegugupan.Jam makan siang pun tiba. Fajar menutup file di mejanya, lalu berdiri sambil merapikan jasnya. Dengan langkah mantap ia berjalan menuju pintu, sebelum keluar ia menoleh pada Lily yang sedang serius mengetik di laptopnya.“Kalau ada yang mencari saya, beritahu saja bahwa saya sedang keluar untuk makan siang,” ucap Fajar datar.Lily mengangkat wajahnya sebentar, lalu mengangguk. “Baik, Pak.”Fajar memperhatikan sejenak. “Kamu tidak makan siang?” tanyanya dengan nada datar.Jari Lily berhenti sejenak di atas keyboard. “Nanti saya makan, Pak. Saya mau selesaikan ini dulu.”Fajar terdiam sepersekian detik, lalu dengan suara dingin ia berkata, “Jangan terlalu sibuk bekerja. Istirahatlah. Kalau kamu jatuh sakit, justru akan merepotkan saya.”Lily tertegun mendengarnya. Walaupun nadanya dingin, tapi jelas-jelas ada perhatian di balik perkataan itu. Ia hanya bisa mengangguk, menahan senyum agar tidak terlihat terlalu girang.“Baik, Pak,” balasnya singkat.Fajar tidak menambahkan apa-apa lagi.
Keesokan paginya, suasana main hall kantor terasa berbeda dari biasanya. Semua karyawan sudah berkumpul, sebagian berbisik-bisik penasaran kenapa mereka dipanggil.Langkah Fajar terdengar tegas saat ia berjalan ke depan, mengenakan setelan jas rapi yang membuatnya tampak berwibawa. Di sampingnya, Lily berjalan dengan gugup tapi tetap menjaga senyum. Penampilannya kini benar-benar berbeda dari seorang cleaning service biasa—anggun dengan blazer sederhana yang dipadukan celana panjang hitam yang membuatnya tampak elegan sekaligus profesional.Fajar berdiri di tengah ruangan, menatap semua karyawan dengan ekspresi dingin khasnya. Suaranya mantap dan jelas.“Mulai hari ini, saya resmi melantik Lily sebagai sekretaris pribadi saya. Segala urusan yang berkaitan dengan saya akan langsung melalui dirinya.”Ruangan seketika hening. Banyak yang terkejut, bahkan ada yang saling pandang, tidak percaya.Gita yang biasanya bersama Lily di ruang cleaning service, menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Perdebatan di ruang makan semakin memanas. Fajar berdiri di hadapan Elyan, wajahnya memerah, nada suaranya tinggi.“Pah, aku tidak akan mengakhiri hubungan aku dengan Lily! Kami serius!” bentak Fajar, suaranya terdengar tegas.Elyan menatapnya dingin, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Fajar, kamu harus mengerti! Papah sudah menjodohkanmu dengan orang yang lebih tepat! Jangan egois, hentikan hubunganmu dengan perempuan ini sekarang juga!”Fajar menggeleng keras. “Pah, tolong hargai keputusan aku dan juga perasaannya. Ini bukan soal ego, tapi cinta!”Pertengkaran itu semakin memanas. Suara mereka saling bertubrukan, hingga tiba-tiba Lily berdiri, langkahnya mantap, wajahnya serius, mata berkaca-kaca. Suaranya terdengar lantang di seluruh ruang makan.“Fajar telah meniduri saya, pak!”Seisi ruangan langsung hening. Wajah Fajar memucat, matanya melebar, tubuhnya kaku. Novi terduduk tegak, terkejut dan hampir tak percaya.“Jangan sembarangan, kamu!” seru Novi, nadanya penuh cemas.Lily
Elyan mendekat dan duduk di samping Novi. Ia menatap Lily dengan serius. "Tadi kau bilang lulusan kesekretariatan dan sastra Inggris, bukan?" tanyanya.Lily mengangguk mantap. "Iya, pak."Elyan menarik napas dalam-dalam. "Kalau begitu, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan untuk meyakinkan diri saya sendiri bahwa kamu benar-benar lulusan kesekretariatan."Fajar menatap Elyan, wajahnya menunjukkan kepanikan kecil. "Pah..."Elyan menengadah, menahan ucapan Fajar. "Diam. Papah tidak berbicara denganmu sekarang. Papah berbicara dengan wanita ini."Lily menelan ludah, tapi dalam hatinya berkata, "Ayo, Li, tunjukkan kalau kau bisa. Untuk apa kuliah kalau tidak bisa jawab pertanyaan."Elyan mulai melontarkan pertanyaan satu per satu.Pertanyaan pertama, "Apa langkah utama dalam membuat notulen rapat yang resmi?"Lily menjawab cepat, "Mencatat semua poin pembahasan, keputusan yang diambil, serta penanggung jawab setiap tindak lanjut, kemudian menyusun dalam format yang jelas dan ringkas."
Sesampainya di halaman rumah Fajar, Lily menatap sekeliling dengan mata terbelalak. Rumah itu… lebih tepatnya kastil, megah dan luas, dengan taman yang tertata rapi, lampu taman yang menyala lembut, dan jalan setapak berbatu yang mengarah ke pintu utama. Angin malam yang sejuk membuat dedaunan berbisik pelan, menambah kesan misterius dan sedikit menegangkan. Dalam hati Lily bergumam, “Gila… ini rumah apa Kastil?”Fajar menoleh sebentar, matanya tajam menatap Lily dari sisi mobil. “Jangan sampai salah bicara atau melakukan hal yang mencurigakan,” ujarnya dengan nada serius, seolah ingin menekankan bahwa setiap gerak-gerik Lily malam ini diawasi.Lily menelan ludah, dadanya sedikit berdebar. “Baik, pak,” jawabnya dengan suara lirih.Fajar mengangguk dan matanya menatap lurus ke depan. “Buat orang tua saya yakin bahwa kita benar-benar berpacaran.” Kata-kata itu seperti palu yang menghantam Lily, membuatnya terdiam sejenak. Dalam hati, ia mengelus dadanya, “Bawel banget nih kulkas…” Namun
Setelah selesai dengan perawatan wajah, rambut, dan tangan, Lily duduk sebentar di sofa salon sambil menenangkan diri. Saat itu, handphonenya bergetar. Ia membuka pesan masuk dari Fajar:"Lily, pastikan kamu membeli gaun yang cantik untuk malam ini. Saya ingin kau terlihat anggun tapi tetap sopan."Lily membaca pesan itu, hatinya berdebar sedikit, tetapi ia segera mengangguk dalam hati. “Baiklah, gue akan menurutinya,” gumamnya pelan.Tidak lama kemudian, stylist menatap Lily sambil berkata, “Sekarang kita lanjut ke bagian pemilihan gaun, mbak. Kami memiliki koleksi terbaru yang bisa cocok untuk acara spesial malam ini.”Salon itu ternyata juga berfungsi sebagai butik mewah, deretan gaun terpajang dengan indah di setiap hanger, lampu sorot menyoroti setiap detail kain dan bordiran. Lily mulai berjalan, tangannya menyentuh lembut kain-kain mahal yang menggantung di depannya. Stylist dengan sabar memberikan beberapa pilihan.Ia menatap satu persatu, mencari gaun yang membuatnya merasa a







