LOGINSatu per satu kandidat maju ke depan, duduk di kursi yang sudah disiapkan. Fajar mengajukan pertanyaan-pertanyaan tajam, penuh wibawa, membuat para kandidat berkeringat dingin saat menjawabnya.
Lily duduk di kursinya, menunduk sedikit, berusaha terlihat tenang, padahal kepalanya penuh pikiran. “Duh… tindakan gue tadi pagi itu bodoh banget sih. Kok bisa-bisanya nuduh dia jambret? Terus sekarang malah ketemu lagi, dan ternyata… dia CEO nya. Astaga…” Jantungnya semakin berdebar kencang. Setiap kali Fajar menoleh sekilas ke arahnya, Lily merasa tubuhnya merinding. Ia mencoba mengatur napas, tapi semakin lama justru semakin overthinking. “Kalau dia masih marah… gimana kalau gue langsung didiskualifikasi? Ya ampun…” Sementara itu, Fajar tetap menjaga sikap profesional, tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Namun, sesekali pandangannya memang jatuh pada Lily, membuat gadis itu semakin panik dalam hati. Setelah semua kandidat dipanggil satu per satu, akhirnya tinggal Lily yang tersisa. Martha menyebut namanya, dan dengan langkah sedikit ragu Lily maju ke depan. Ia menarik kursi perlahan, lalu duduk dengan sopan. Saat matanya bertemu wajah Fajar, dalam hati ia langsung bergumam, “Nih CEO kayaknya udah muak deh sama gue…” Fajar membuka berkas di hadapannya, meneliti CV Lily dengan seksama. Wajahnya datar, tapi nada suaranya terdengar tegas ketika ia mulai bertanya. “Saudari Lily,” ucap Fajar sambil melirik sekilas, “menjadi sekretaris CEO membutuhkan kemampuan menilai situasi dengan cepat itu sangat penting. Kalau kamu salah menilai… akibatnya bisa fatal. Misalnya, menuduh seseorang melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dia lakukan.” Lily menelan ludah, wajahnya sempat memanas. Dalam hati ia bergumam, “Nyindir gue nih CEO… jelas banget.” Ia berusaha tersenyum tipis, mencoba tetap profesional walaupun dalam hati kacau balau. Fajar meletakkan berkas Lily di meja, lalu bersandar sedikit ke kursinya. Ia menautkan jemarinya di depan dada, sorot matanya masih menusuk ke arah Lily. “Kalau suatu saat kamu menghadapi situasi mendesak, apa yang akan kamu lakukan agar tidak salah mengambil keputusan?” tanya Fajar, nadanya tegas namun tetap tenang. Lily menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Kali ini ia tidak boleh gegabah. Ia menegakkan tubuh, lalu menjawab dengan formal, “Saya akan memastikan untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dalam waktu singkat, Pak. Saya juga akan mempertimbangkan resikonya sebelum bertindak. Dan yang paling penting, saya akan berusaha tetap tenang agar keputusan saya tidak gegabah.” Fajar menatapnya beberapa detik tanpa berkata apa-apa, seolah menimbang setiap kata yang baru saja diucapkan Lily. Dalam hati, Lily bergumam, “Semoga jawaban gue nggak bikin dia makin ilfeel…” Fajar menunduk sebentar, matanya kembali tertuju pada berkas Lily. Ia lalu menegakkan badan dan melontarkan pertanyaan berikutnya dengan nada yang tetap dingin. “Bagaimana kalau kamu dihadapkan pada situasi di mana penilaianmu salah, dan ternyata orang yang kamu tuduh justru tidak bersalah? Bagaimana kamu menyikapinya?” Beberapa kandidat lain yang masih menunggu ikut menoleh, penasaran dengan bagaimana Lily menjawab. Lily menarik napas pelan, menatap Fajar dengan penuh keyakinan. Suaranya terdengar tenang meski jantungnya berdegup kencang. “Menurut saya, Pak… semua manusia tidak luput dari kesalahan dan perbuatan. Tapi yang membedakan adalah bagaimana seseorang mau bertanggung jawab dan memperbaikinya. Jika saya salah menilai, saya akan mengakui kesalahan itu, belajar darinya, dan memastikan tidak mengulanginya lagi.” Ruangan sejenak menjadi hening. Fajar mengetukkan jarinya pelan di meja, menatap Lily dengan ekspresi yang sulit ditebak. Dalam hati, Lily bergumam, “Entah jawaban gue ini bisa bikin dia luluh atau malah makin benci…” Fajar kembali menatap berkas, lalu ia meletakkannya perlahan di meja. Nada suaranya berubah sedikit lebih formal, tidak lagi seperti tadi yang penuh sindiran. “Baiklah, Lily. Menurutmu, apa yang paling penting dimiliki seorang sekretaris untuk bisa mengikuti ritme kerja seorang CEO di perusahaan sebesar PT. Elfano ini?” Sementara itu, Lily dalam hati bergumam, “Pertanyaan nyindirnya udah selesai nih.... Baguslah. Tapi jangan sampai gue kebawa lega duluan, harus tetap serius.” Lalu, Lily menatapnya dengan fokus, berusaha menahan senyum kecil karena nada pertanyaannya kini lebih normal. Ia lalu menjawab dengan tenang, “Menurut saya, yang paling penting adalah kemampuan manajemen waktu, ketelitian dalam setiap detail, serta komunikasi yang efektif. Karena seorang sekretaris bukan hanya mendampingi, tetapi juga memastikan semua jadwal, pekerjaan, dan urusan CEO berjalan lancar tanpa ada hambatan.” Fajar menatap Lily cukup lama, lalu tanpa basa-basi ia langsung melontarkan serangkaian pertanyaan dengan cepat. “Bagaimana strategi yang akan kamu lakukan jika CEO tiba-tiba mendapat jadwal mendadak dari mitra luar negeri, sementara agenda harian sudah penuh?” “Jika ada dua dokumen penting yang harus diprioritaskan, bagaimana kamu menentukan mana yang harus lebih dulu saya baca?” “Bagaimana kamu menangani situasi ketika ada dua divisi perusahaan berselisih, sementara keduanya menuntut waktu saya bersamaan?” Lily tercekat sejenak. “Ya ampun… pertanyaannya susah banget. Ini jauh lebih sulit daripada yang ditanyain ke kandidat lain tadi. Apa jangan-jangan dia sengaja bikin ribet karena kejadian tadi?” pikirnya dalam hati. Tangannya sedikit dingin, tapi ia mencoba mengatur napas. Dengan suara tenang, ia mulai menjawab satu per satu pertanyaan Fajar. “Kalau jadwal mendadak muncul, saya akan memprioritaskan sesuai urgensi dan dampak bagi perusahaan, Pak. Lalu saya akan menyusun ulang agenda dengan memberikan alternatif solusi, sehingga tidak ada pihak yang dirugikan.” Untuk pertanyaan berikutnya, Lily berkata, “Jika ada dua dokumen penting, saya akan menilai berdasarkan urgensi dan deadline. Namun, jika keduanya sama-sama prioritas, maka saya akan konsultasi langsung pada Bapak untuk memastikan dokumen yang lebih relevan dengan kebutuhan saat itu.” Dan untuk yang terakhir, meski agak gemetar, ia menjawab dengan mantap, “Jika dua divisi berselisih, saya akan menjadi penghubung yang netral. Saya akan menyampaikan kepada Bapak secara objektif, agar Bapak bisa mengambil keputusan terbaik berdasarkan informasi lengkap, bukan dari sudut pandang sepihak.” Fajar diam sejenak, menatap Lily dengan ekspresi sulit ditebak. Sementara Lily dalam hati kembali berkata, “Ya ampun… ini baru pertama kalinya gue diinterview di perusahaan besar kayak gini. Rasanya berat banget, tapi gue harus kelihatan tenang.” Setelah rentetan pertanyaan sulit, Fajar akhirnya bersandar di kursinya. Namun sebelum menutup sesi wawancara, ia melemparkan satu pertanyaan terakhir, kali ini bernada menyindir. “Kalau suatu saat kamu salah menilai seseorang, bahkan sampai menuduhnya melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan… bagaimana kamu akan memperbaiki keadaan?” Lily terdiam sejenak. “Nyindir lagi nih… jelas-jelas ini tentang kejadian tadi,” ucapnya dalam hati. Jantungnya berdegup kencang, tapi wajahnya tetap tenang. Dengan suara mantap, ia menjawab, “Kalau saya melakukan kesalahan menilai seseorang, saya akan berani mengakui kesalahan itu, meminta maaf dengan tulus, lalu berusaha memperbaikinya dengan menunjukkan sikap yang lebih bijak ke depannya. Saya percaya setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua.” Ruangan seketika hening. Fajar menatap Lily tajam, mencoba membaca ekspresi di wajahnya. Namun Lily tidak goyah, tetap menjawab dengan percaya diri. “Hmph, percaya diri sekali dia,” batin Fajar, sambil sedikit mengangkat alisnya.Jam makan siang pun tiba. Fajar menutup file di mejanya, lalu berdiri sambil merapikan jasnya. Dengan langkah mantap ia berjalan menuju pintu, sebelum keluar ia menoleh pada Lily yang sedang serius mengetik di laptopnya.“Kalau ada yang mencari saya, beritahu saja bahwa saya sedang keluar untuk makan siang,” ucap Fajar datar.Lily mengangkat wajahnya sebentar, lalu mengangguk. “Baik, Pak.”Fajar memperhatikan sejenak. “Kamu tidak makan siang?” tanyanya dengan nada datar.Jari Lily berhenti sejenak di atas keyboard. “Nanti saya makan, Pak. Saya mau selesaikan ini dulu.”Fajar terdiam sepersekian detik, lalu dengan suara dingin ia berkata, “Jangan terlalu sibuk bekerja. Istirahatlah. Kalau kamu jatuh sakit, justru akan merepotkan saya.”Lily tertegun mendengarnya. Walaupun nadanya dingin, tapi jelas-jelas ada perhatian di balik perkataan itu. Ia hanya bisa mengangguk, menahan senyum agar tidak terlihat terlalu girang.“Baik, Pak,” balasnya singkat.Fajar tidak menambahkan apa-apa lagi.
Keesokan paginya, suasana main hall kantor terasa berbeda dari biasanya. Semua karyawan sudah berkumpul, sebagian berbisik-bisik penasaran kenapa mereka dipanggil.Langkah Fajar terdengar tegas saat ia berjalan ke depan, mengenakan setelan jas rapi yang membuatnya tampak berwibawa. Di sampingnya, Lily berjalan dengan gugup tapi tetap menjaga senyum. Penampilannya kini benar-benar berbeda dari seorang cleaning service biasa—anggun dengan blazer sederhana yang dipadukan celana panjang hitam yang membuatnya tampak elegan sekaligus profesional.Fajar berdiri di tengah ruangan, menatap semua karyawan dengan ekspresi dingin khasnya. Suaranya mantap dan jelas.“Mulai hari ini, saya resmi melantik Lily sebagai sekretaris pribadi saya. Segala urusan yang berkaitan dengan saya akan langsung melalui dirinya.”Ruangan seketika hening. Banyak yang terkejut, bahkan ada yang saling pandang, tidak percaya.Gita yang biasanya bersama Lily di ruang cleaning service, menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Perdebatan di ruang makan semakin memanas. Fajar berdiri di hadapan Elyan, wajahnya memerah, nada suaranya tinggi.“Pah, aku tidak akan mengakhiri hubungan aku dengan Lily! Kami serius!” bentak Fajar, suaranya terdengar tegas.Elyan menatapnya dingin, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Fajar, kamu harus mengerti! Papah sudah menjodohkanmu dengan orang yang lebih tepat! Jangan egois, hentikan hubunganmu dengan perempuan ini sekarang juga!”Fajar menggeleng keras. “Pah, tolong hargai keputusan aku dan juga perasaannya. Ini bukan soal ego, tapi cinta!”Pertengkaran itu semakin memanas. Suara mereka saling bertubrukan, hingga tiba-tiba Lily berdiri, langkahnya mantap, wajahnya serius, mata berkaca-kaca. Suaranya terdengar lantang di seluruh ruang makan.“Fajar telah meniduri saya, pak!”Seisi ruangan langsung hening. Wajah Fajar memucat, matanya melebar, tubuhnya kaku. Novi terduduk tegak, terkejut dan hampir tak percaya.“Jangan sembarangan, kamu!” seru Novi, nadanya penuh cemas.Lily
Elyan mendekat dan duduk di samping Novi. Ia menatap Lily dengan serius. "Tadi kau bilang lulusan kesekretariatan dan sastra Inggris, bukan?" tanyanya.Lily mengangguk mantap. "Iya, pak."Elyan menarik napas dalam-dalam. "Kalau begitu, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan untuk meyakinkan diri saya sendiri bahwa kamu benar-benar lulusan kesekretariatan."Fajar menatap Elyan, wajahnya menunjukkan kepanikan kecil. "Pah..."Elyan menengadah, menahan ucapan Fajar. "Diam. Papah tidak berbicara denganmu sekarang. Papah berbicara dengan wanita ini."Lily menelan ludah, tapi dalam hatinya berkata, "Ayo, Li, tunjukkan kalau kau bisa. Untuk apa kuliah kalau tidak bisa jawab pertanyaan."Elyan mulai melontarkan pertanyaan satu per satu.Pertanyaan pertama, "Apa langkah utama dalam membuat notulen rapat yang resmi?"Lily menjawab cepat, "Mencatat semua poin pembahasan, keputusan yang diambil, serta penanggung jawab setiap tindak lanjut, kemudian menyusun dalam format yang jelas dan ringkas."
Sesampainya di halaman rumah Fajar, Lily menatap sekeliling dengan mata terbelalak. Rumah itu… lebih tepatnya kastil, megah dan luas, dengan taman yang tertata rapi, lampu taman yang menyala lembut, dan jalan setapak berbatu yang mengarah ke pintu utama. Angin malam yang sejuk membuat dedaunan berbisik pelan, menambah kesan misterius dan sedikit menegangkan. Dalam hati Lily bergumam, “Gila… ini rumah apa Kastil?”Fajar menoleh sebentar, matanya tajam menatap Lily dari sisi mobil. “Jangan sampai salah bicara atau melakukan hal yang mencurigakan,” ujarnya dengan nada serius, seolah ingin menekankan bahwa setiap gerak-gerik Lily malam ini diawasi.Lily menelan ludah, dadanya sedikit berdebar. “Baik, pak,” jawabnya dengan suara lirih.Fajar mengangguk dan matanya menatap lurus ke depan. “Buat orang tua saya yakin bahwa kita benar-benar berpacaran.” Kata-kata itu seperti palu yang menghantam Lily, membuatnya terdiam sejenak. Dalam hati, ia mengelus dadanya, “Bawel banget nih kulkas…” Namun
Setelah selesai dengan perawatan wajah, rambut, dan tangan, Lily duduk sebentar di sofa salon sambil menenangkan diri. Saat itu, handphonenya bergetar. Ia membuka pesan masuk dari Fajar:"Lily, pastikan kamu membeli gaun yang cantik untuk malam ini. Saya ingin kau terlihat anggun tapi tetap sopan."Lily membaca pesan itu, hatinya berdebar sedikit, tetapi ia segera mengangguk dalam hati. “Baiklah, gue akan menurutinya,” gumamnya pelan.Tidak lama kemudian, stylist menatap Lily sambil berkata, “Sekarang kita lanjut ke bagian pemilihan gaun, mbak. Kami memiliki koleksi terbaru yang bisa cocok untuk acara spesial malam ini.”Salon itu ternyata juga berfungsi sebagai butik mewah, deretan gaun terpajang dengan indah di setiap hanger, lampu sorot menyoroti setiap detail kain dan bordiran. Lily mulai berjalan, tangannya menyentuh lembut kain-kain mahal yang menggantung di depannya. Stylist dengan sabar memberikan beberapa pilihan.Ia menatap satu persatu, mencari gaun yang membuatnya merasa a







