Accueil / Romansa / I Hate My CEO / Bab 10 Intrik, Luka, dan Rahasia

Partager

Bab 10 Intrik, Luka, dan Rahasia

Auteur: Fajar
last update Date de publication: 2025-09-07 06:31:15

Sore harinya, di sebuah restoran mewah dengan nuansa klasik, Olivia duduk anggun sambil memainkan sendok kecil di tangannya. Di hadapannya, Rafael bersandar santai dengan segelas kopi hitam.

Rafael membuka percakapan dengan nada tenang, “Gimana sayang? Udah luluh si Fajar?”

Olivia mendengus kesal, menegakkan punggungnya. “Kenapa sih kamu harus bikin aku luluhin manusia itu? Aku sebel banget, dia tuh kayak gak punya hati. Tatapannya dingin banget, ngomong juga seadanya.”

Rafael terkekeh kecil sa
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • I Hate My CEO    Bab 29 Rencana Tersembunyi

    Jam makan siang pun tiba. Fajar menutup file di mejanya, lalu berdiri sambil merapikan jasnya. Dengan langkah mantap ia berjalan menuju pintu, sebelum keluar ia menoleh pada Lily yang sedang serius mengetik di laptopnya. “Kalau ada yang mencari saya, beritahu saja bahwa saya sedang keluar untuk makan siang,” ucap Fajar datar. Lily mengangkat wajahnya sebentar, lalu mengangguk. “Baik, Pak.” Fajar memperhatikan sejenak. “Kamu tidak makan siang?” tanyanya dengan nada datar. Jari Lily berhenti sejenak di atas keyboard. “Nanti saya makan, Pak. Saya mau selesaikan ini dulu.” Fajar terdiam sepersekian detik, lalu dengan suara dingin ia berkata, “Jangan terlalu sibuk bekerja. Istirahatlah. Kalau kamu jatuh sakit, justru akan merepotkan saya.” Lily tertegun mendengarnya. Walaupun nadanya dingin, tapi jelas-jelas ada perhatian di balik perkataan itu. Ia hanya bisa mengangguk, menahan senyum agar tidak terlihat terlalu girang. “Baik, Pak,” balasnya singkat. Fajar tidak menambahkan

  • I Hate My CEO    Bab 28 Awal dari Masalah Besar

    Keesokan paginya, suasana main hall kantor terasa berbeda dari biasanya. Semua karyawan sudah berkumpul, sebagian berbisik-bisik penasaran kenapa mereka dipanggil.Langkah Fajar terdengar tegas saat ia berjalan ke depan, mengenakan setelan jas rapi yang membuatnya tampak berwibawa. Di sampingnya, Lily berjalan dengan gugup tapi tetap menjaga senyum. Penampilannya kini benar-benar berbeda dari seorang cleaning service biasa—anggun dengan blazer sederhana yang dipadukan celana panjang hitam yang membuatnya tampak elegan sekaligus profesional.Fajar berdiri di tengah ruangan, menatap semua karyawan dengan ekspresi dingin khasnya. Suaranya mantap dan jelas.“Mulai hari ini, saya resmi melantik Lily sebagai sekretaris pribadi saya. Segala urusan yang berkaitan dengan saya akan langsung melalui dirinya.”Ruangan seketika hening. Banyak yang terkejut, bahkan ada yang saling pandang, tidak percaya.Gita yang biasanya bersama Lily di ruang cleaning service, menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

  • I Hate My CEO    Bab 27 Antara Kebohongan dan Cinta

    Perdebatan di ruang makan semakin memanas. Fajar berdiri di hadapan Elyan, wajahnya memerah, nada suaranya tinggi.“Pah, aku tidak akan mengakhiri hubungan aku dengan Lily! Kami serius!” bentak Fajar, suaranya terdengar tegas.Elyan menatapnya dingin, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Fajar, kamu harus mengerti! Papah sudah menjodohkanmu dengan orang yang lebih tepat! Jangan egois, hentikan hubunganmu dengan perempuan ini sekarang juga!”Fajar menggeleng keras. “Pah, tolong hargai keputusan aku dan juga perasaannya. Ini bukan soal ego, tapi cinta!”Pertengkaran itu semakin memanas. Suara mereka saling bertubrukan, hingga tiba-tiba Lily berdiri, langkahnya mantap, wajahnya serius, mata berkaca-kaca. Suaranya terdengar lantang di seluruh ruang makan.“Fajar telah meniduri saya, pak!”Seisi ruangan langsung hening. Wajah Fajar memucat, matanya melebar, tubuhnya kaku. Novi terduduk tegak, terkejut dan hampir tak percaya.“Jangan sembarangan, kamu!” seru Novi, nadanya penuh cemas.Lily

  • I Hate My CEO    Bab 26 Harga Sebuah Cinta

    Elyan mendekat dan duduk di samping Novi. Ia menatap Lily dengan serius. "Tadi kau bilang lulusan kesekretariatan dan sastra Inggris, bukan?" tanyanya. Lily mengangguk mantap. "Iya, pak." Elyan menarik napas dalam-dalam. "Kalau begitu, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan untuk meyakinkan diri saya sendiri bahwa kamu benar-benar lulusan kesekretariatan." Fajar menatap Elyan, wajahnya menunjukkan kepanikan kecil. "Pah..." Elyan menengadah, menahan ucapan Fajar. "Diam. Papah tidak berbicara denganmu sekarang. Papah berbicara dengan wanita ini." Lily menelan ludah, tapi dalam hatinya berkata, "Ayo, Li, tunjukkan kalau kamu bisa. Untuk apa kuliah kalau tidak bisa jawab pertanyaan." Elyan mulai melontarkan pertanyaan satu per satu. Pertanyaan pertama, "Apa langkah utama dalam membuat notulen rapat yang resmi?" Lily menjawab cepat, "Mencatat semua poin pembahasan, keputusan yang diambil, serta penanggung jawab setiap tindak lanjut, kemudian menyusun dalam format yang jel

  • I Hate My CEO    Bab 25 Ujian Pertama Sang Pacar Palsu

    Sesampainya di halaman rumah Fajar, Lily menatap sekeliling dengan mata terbelalak. Rumah itu… lebih tepatnya kastil, megah dan luas, dengan taman yang tertata rapi, lampu taman yang menyala lembut, dan jalan setapak berbatu yang mengarah ke pintu utama. Angin malam yang sejuk membuat dedaunan berbisik pelan, menambah kesan misterius dan sedikit menegangkan. Dalam hati Lily bergumam, “Gila… ini rumah apa Kastil?”Fajar menoleh sebentar, matanya tajam menatap Lily dari sisi mobil. “Jangan sampai salah bicara atau melakukan hal yang mencurigakan,” ujarnya dengan nada serius, seolah ingin menekankan bahwa setiap gerak-gerik Lily malam ini diawasi.Lily menelan ludah, dadanya sedikit berdebar. “Baik, pak,” jawabnya dengan suara lirih.Fajar mengangguk dan matanya menatap lurus ke depan. “Buat orang tua saya yakin bahwa kita benar-benar berpacaran.” Kata-kata itu seperti palu yang menghantam Lily, membuatnya terdiam sejenak. Dalam hati, ia mengelus dadanya, “Bawel banget nih kulkas…” Namun

  • I Hate My CEO    Bab 24 Malam yang Akan Mengubah Segalanya

    Setelah selesai dengan perawatan wajah, rambut, dan tangan, Lily duduk sebentar di sofa salon sambil menenangkan diri. Saat itu, handphonenya bergetar. Ia membuka pesan masuk dari Fajar:"Lily, pastikan kamu membeli gaun yang cantik untuk malam ini. Saya ingin kau terlihat anggun tapi tetap sopan."Lily membaca pesan itu, hatinya berdebar sedikit, tetapi ia segera mengangguk dalam hati. “Baiklah, gue akan menurutinya,” gumamnya pelan.Tidak lama kemudian, stylist menatap Lily sambil berkata, “Sekarang kita lanjut ke bagian pemilihan gaun, mbak. Kami memiliki koleksi terbaru yang bisa cocok untuk acara spesial malam ini.”Salon itu ternyata juga berfungsi sebagai butik mewah, deretan gaun terpajang dengan indah di setiap hanger, lampu sorot menyoroti setiap detail kain dan bordiran. Lily mulai berjalan, tangannya menyentuh lembut kain-kain mahal yang menggantung di depannya. Stylist dengan sabar memberikan beberapa pilihan.Ia menatap satu persatu, mencari gaun yang membuatnya merasa a

  • I Hate My CEO    Bab 11 Ketika Rindu Bertemu Cemburu

    Malam itu di kamar kosannya yang sederhana, Lily rebahan di kasur tipis dengan setelan kebiasaannya: tanktop putih dan celana pendek hitam. Ponselnya ia angkat, tersambung dengan wajah bundanya di layar.“Bun… Raffi mana? Kok gak kelihatan?” tanya Lily dengan nada manja.Bundanya yang duduk di ruan

  • I Hate My CEO    Bab 9 Ketika Dilema Bertemu Ancaman Baru

    Siang menjelang sore, Fajar duduk di depan laptopnya, layar penuh dokumen dan laporan yang harus ia selesaikan. Namun pikirannya melayang.Kejadian pagi tadi masih membekas di kepalanya—bagaimana ia terlalu cepat menghakimi Lily yang terlambat, tanpa mau mendengar penjelasannya. Rasa bersalah itu m

  • I Hate My CEO    Bab 8 Tindakan yang Menyisakan Rasa Bersalah

    Di perjalanan menuju halte, Lily berjalan terburu-buru sambil menenteng tas kecilnya. Sesampainya di pinggir jalan, ia melihat bus yang biasanya ia naiki sudah berhenti di halte seberang. Lampu lalu lintas sedang merah, dan arus kendaraan tidak terlalu ramai. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlar

  • I Hate My CEO    Bab 7 Pertolongan yang Tak Dianggap

    Di pantry, Lily mulai menyiapkan pesanan kopi satu per satu. Air panas mengepul, aroma kopi memenuhi ruangan. Tangannya sibuk menuang bubuk kopi ke cangkir, sementara catatan pesanan tergeletak di meja kecil.Keringat mulai membasahi pelipisnya. Punggungnya pegal setelah seharian membersihkan ruang

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status