LOGINFatima is beautiful but voluptuous! Not ordinary voluptuousness but like a whale in size. And in her obesity, she was often bullied. One of the bullies is Kier Williams! Whenever their paths crossed, he did nothing but insult, mock, and annoy her. It seems that her obesity is what makes him live happily. He went too far! Fatima was deeply hurt. Her character was so insulted. So when Kier flew to America, Fatima also started to lose weight. Fatima promised herself if Kier returned to the Philippines. He will see a different Fatima. Beautiful with a fabulous figure! She would show him her body that he had insulted before. When they meet again, she is positive that his saliva will drip on her charming beauty and sexiness. It's revenge time! But something else happened. They are put in the situation of arranged marriage. She does not want to marry her mortal enemy. Huh, she is not crazy to do that!
View More"Berhenti natap aku kayak gitu."
Namira terlonjak di tempat. Kedua bola matanya mengerling ke kanan dan ke kiri. Mencoba menghindari tatapan pria yang kini sudah membuka mata sepenuhnya. Sudah menjadi kebiasaan setiap pagi, Namira melakukan hal itu, memandangi sang suami yang tengah tertidur. Tampan dan menawan. Itu jawaban yang selalu ia sematkan setiap Arhan bertanya. Ah, rasanya ia tak ingin membiarkan sang suami untuk pergi keluar rumah. Ia ingin menikmati ketampanannya seorang diri. "Hei!" tegur Arhan disela lamunannya. Namira kembali terlonjak kaget. Namun tak lama ia mengulas senyum manis. "Ayo, bangun. Hari ini Mas ada rapat di kantor." "Tau banget, ya, jadwal suami sendiri." Arhan mencubit hidung Namira, sesekali menggoyangkannya perlahan karena gemas. Sedangkan Namira hanya mengangkat bahu tak acuh. Ia membenarkan posisi duduknya, hendak turun dari ranjang untuk menyiapkan pakaian dan sarapan untuk sang suami. Belum kakinya menginjak lantai marmer, Arhan berhasil mencuri satu kecupan di bibir dengan secepat kilat. "Sarapan pagiku," ujarnya cepat setelah berdiri tepat di sisi ranjang. Mengantisipasi respon sang istri yang mungkin saja akan memukulnya. Namira melongo, kemudian bibirnya cemberut menatap sedih sang suami. "Eh? Kenapa, Ay?" Arhan segera menghampiri Namira dengan mata yang mengikuti gerak langkahnya. "Kenapa cuman kecupan?" Pertanyaan Namira berhasil membuat Arhan salah tingkah. Ia mengulum bibirnya malu-malu. Bagaimana bisa istrinya mengatakan hal semacam itu? Akan tetapi, seketika pandangannya berubah buas di mata Namira. Tubuh bagian atas pun condong ke depan dalam hitungan detik. "Kalau begitu, apa pagi ini kita akan bercumbu mesra hingga malam menjelang?" Namira mendorong dada Arhan dengan kedua tangan untuk menjauh. "Maaf, Tuan. Sepertinya pagi ini tidak bisa terlaksana, sebab ada bocah kecil yang sedang menyaksikan kita saat ini." Penuturan Namira persis seperti para pekerja yang diharuskan bersikap sopan dan santun dengan senyum yang harus selalu terpatri. Penolakan secara halus dengan menjelaskan situasi dan kondisinya pagi ini cukup membuat Arhan kesal. Terlebih kenyataan ia yang kini sudah memiliki anak laki-laki berusia satu tahun. Sialnya, benar saja apa yang dikatakan sang istri, bayi itu tengah mengamati mereka yang duduk di sisi ranjang. "Ay. Boleh gak, sih, dia dititipin dulu di rumah Ibu?" Kini Arhan merengek seraya menunjuk anak laki-lakinya yang tengah berdiri di sisi ranjang bayi. "Kayaknya, sih, Ibu bakal seneng, ya. Tapi ...," "Tapi apa?" Arhan tidak sabaran ingin mengetahui kelanjutan kalimat yang akan dilontarkan sang istri. "Akunya yang gak mau." Namira tersenyum seolah tak ada yang serius dari hal itu. Ia berjalan mendekat ke arah anak laki-lakinya bernama Elio. "Ayo, Nak." Namira membawa Elio keluar dari kamar yang kini tengah penuh dengan segala amarah dan kekesalan yang menumpuk di dada pria terkasihnya. Sebelum benar-benar menghilang dari hadapan Arhan, Namira menyembulkan kepalanya di daun pintu. "Aku tunggu di bawah, ya, Sayang. Inget hari ini kamu ada rapat, loh. Jadi jangan lama-lama di kamar mandinya." Berbeda dengan Namira yang berucap santai, Arhan justru menatap sengit wanita itu juga anak kecil di pangkuannya. --- Namira tersenyum kala aroma parfum suaminya sudah menguar menusuk hidung. Sorot matanya menangkap sosok tinggi atletis yang turun sembari mengancingkan lengan baju. Tak lupa jas yang tersampir di bahu. "Kayaknya aku gak sempet sarapan, deh, Ay." Ungkapan penyesalan yang sudah pasti mendapat respon sedih dari sang istri. Ia mencium dahi Namira dengan satu tangan bertengger di pinggang ramping wanita itu. "Maaf." "Kenapa?" Namira melirik jarum jam yang berdetak di dinding. "Masih sempat, kok, Mas." "Kliennya udah dateng katanya." Namira mengembuskan napasnya lelah. "Yaudah, deh. Ini kamu bekal aja, ya." Arhan mengangguk di bahu Namira. Saat ini posisinya tengah memeluk Namira dari belakang. "Maaf, ya, Ay. Tapi ini ...," Namira menengokkan kepalanya ke samping. Lagi, ia mengembuskan napas kala netranya menangkap kain panjang yang harus disimpul di leher. "Kalau gak ada aku, kamu bisa apa, sih, Mas?" Arhan menukik alisnya menatap Namira yang tengah fokus menyimpulkan dasi. "Emangnya kamu mau ke mana, Ay? Gak bakal aku izinin kamu pergi-pergian kalau gitu." "Kenapa?" "Takut kamu kabur." Namira mengulas senyum di sela kesibukan tangannya. Ia tak lagi menimpali ucapan Arhan yang kini tengah mengajak bicara Elio di kursi makan bayinya. "Oh iya, Ay. Kalau kamu mau ke kantor, agak siangan aja, ya." "Kenapa?" "Takutnya aku masih rapat sama klien. Kasian kamu kalau harus nunggu lama." Akhir-akhir ini Namira sering mengunjungi atau sekedar ingin makan siang bersama dengan sang suami. Entah apa alasannya. Tapi, meskipun begitu, Arhan senang karena waktu bertemu istri dan anaknya semakin banyak dengan inisiatif Namira yang repot-repot datang ke kantor. Wanita yang memiliki rambut panjang sebahu dengan menyanggulnya sembarang itu mengangguk. Tak ada lagi suara yang keluar. Tangan dan matanya masih fokus pada dasi yang hampir selesai. Arhan yang mengamati ekspresi Namira merasa bersalah karena pasti alasannya yaitu mereka tak bisa sarapan bersama di meja makan. Padahal sang istri sudah menyiapkan beberapa lauk yang akan menemani sarapan kali ini. Tidak hanya itu, Arhan juga memikirkan segala kemungkinan lain. Namira termasuk wanita yang selalu overthinking. Apakah kali ini Namira tengah memikirkan banyak hal tentang sesuatu yang baru saja ia ucapkan? Terlihat dari gerak-gerik Namira yang terkesan cuek. Saat ini ia tengah sibuk menyuapi Elio yang sudah mulai makan bubur bayi. "Ay," panggil Arhan lirih. "Apa?" "Liat aku dulu," pinta Arhan. Mengais fokus sang istri. Mata mereka beradu tatap. Tidak ada yang berbicara, Arhan sibuk mengamati ekspresi Namira yang kini pandangannya telah berpaling. "Gak ada apa-apa, Ay. Ini aku murni karena takut kamu bosen nunggu akunya lama. Jangan mikir yang aneh-aneh." Arhan mendekat, ia mengusap pucuk kepala Namira berulang. "Aku tau, banyak kekhawatiran dalam diri kamu. Tapi gak ada yang perlu kamu khawatirkan. Kita udah nikah bahkan udah punya Elio. Aku mohon percaya sama aku.""I've been three years away from you but I can't forget you. You're deeply etched here in my heart. That's why when my parents opened up again that they wanted me to marry you, I agreed. I said to myself before heading back here, I will make sure that this time, you'll fall for me no matter what. And thank God! I finally succeeded! You can't escape my charm!""Charm my foot!" I pretended to be annoyed. "Did you hear me say I love you?"He was stunned. He seemed to think. Of course, my heart is to the rescue. "I hate you!" I said and hugged my husband tightly."You hate me?""Yes.""Why is that?" Kier asked in a confused tone of voice."Because I've been waiting for a long time for you to tell me that you love me. Then now, you confessed your love for me while you were naked!""Love me, Fatima. I never stopped loving you. Tell me you love me too.""I think you used a potion on me." I caressed his face. The happiness I feel is unparalleled. "I love you, Mutant. I love you, Kier. I
Kier stood up and handed me a brown envelope. "You're my wife... legally." With trembling hands, I opened it. I gasped when I read what was written in the document. Our marriage certificate! "This isn't true. You said our marriage was fake?" My blood boiled. Did he trick me? Just to please our parents? I held my chest. "They knew about our plan. They tricked us." "Does this mean we're really married?" "Yes." "L-let's get a divorce." I approached him and held his hand. "I know I'm just a burden to you. I know you don't want to be tied to me, either. So please, give me back my freedom." "I can't..." "W-what?" Frowning, I looked up to see his face. "Didn't I say, I won't leave you even if you ask me to? I even said that here at the Santillan Mansion. A promise is a promise. The promise should not be broken, wifey." I blinked. I think I got dizzy from what he said. I just woke up. Who wouldn't be surprised when you wake up with the man you've been thinking about for days? "Do
It's been a week since I left Kier's house. From the subdivision, I took a taxi and asked the driver to take me to Tagaytay. I checked in at the newly opened hotel and restaurant in Tagaytay. While I was there I was thinking of leaving the Philippines to visit my brother in America. "Thank you," I said smiling at the woman who delivered my order to the table I occupied. I stirred my coffee and smelled its aroma. I tasted a slice of strawberry cake. Delicious! But I smiled bitterly. Earlier, I called my mother on the phone. I explained everything to her. I said don't look for me. I'm not ready to go home yet. I wasn't sure of anything anymore. I just want to get away. After drinking coffee I decided to leave Starbucks. I still feel the sadness inside me. All I want to hear from Kier is that he loves me. It's sad. But I will try to be happy. But it's impossible because Kier destroyed my ability to be happy. He is my happiness. I didn't have any trouble getting a taxi. When t
There wasn’t a moment of hesitation. His mouth was on mine, and I stopped breathing. He shuddered and there was a sound from the back of his throat, half growl, half moan. Little shivers of pleasure and panic shot through me as he deepened the kiss, parting my lips. I stopped thinking.The rush of sensations crawling across my body was maddening. Scary. Thrilling. His hands were moving down, under my shirt, his fingers skimming over my skin, sending a rush of blood to every part of my body."You can still say no..." he whispered, dropping small kisses along my face.I wanted to say no. I'm afraid to give in to what he's doing. But I couldn't disobey what my heart was whispering. I loved him. And I wanted to feel his love at least tonight.I might be a fool to think that way.Stupid as it is, I wanted to take the risk. I caressed his cheek and kissed him sweetly.His lips slid down my neck. And my hands went down. I ran my fingers down his chest, His stomach was hard, dipped, and rippl
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.