Beranda / Romansa / I Love You, My Boss / Bab 4 Pembantu Cantik

Share

Bab 4 Pembantu Cantik

last update Terakhir Diperbarui: 2021-11-08 10:26:03

Mobil putih kesayangan Erlangga sudah melesat di jalanan, membelah gelap malam. Kantuk dan lelah yang semula dirasakan laki-laki tersebut, hilang entah di mana. Demi Ilona yang kelaparan, dia mau berkeliling hanya sekadar mencari tempat makan di sepertiga malam.

Gadis manis bertubuh langsing itu pun dengan tenang duduk sampingnya. Dia mengamati jalanan Kota Yogyakarta di malam hari. Geliat manusia masih begitu ketara di malam yang hampir menjelang pagi.

"Kamu mau makan apa? Tidak banyak makanan yang bisa kita cari pada jam-jam seperti sekarang ini," ujar Erlangga.

"Apa saja yang terpenting nasi," sahut Ilona santai.

Erlangga mendengkus, lalu melirik gadis yang duduk di sampingnya. Dia pun merasakan hal yang sama, rasa lapar yang menyiksa perut. Laki-laki itu teringat, belum mengisi lambung dengan nasi seusai pulang dari proyek bangunan. Erlangga mencari makanan di waktu malam bukan semata-mata mengabulkan keinginan Ilona, tetapi juga kebutuhan dirinya juga. Apel jatah makan malamnya telah dilahap habis oleh si pemilik mata jernih. Oleh sebab itu, dia membutuhkan makanan lain untuk mengganjal perut.

Melihat ada angkringan yang masih buka, Erlangga segera menepikan kendaraan. Dia pun meminta Ilona turun dan mengikuti langkahnya. Laki-laki itu memesan nasi kucing dan dua gelas susu jahe. Minuman penghangat tubuh di tengah udara yang semakin dingin.

Melihat pesanan datang, mata Ilona berbinar. Dia terlihat seperti gadis yang telah lama tidak menyantap makanan. Nasi dalam bungkusan tersebut segera dilahap olehnya. Erlangga hanya menggeleng heran.

Tidak ada percakapan apa pun, mereka menikmati makanannya masing-masing. Sesekali, tangan mereka mengambil berbagai jenis sate atau gorengan yang diinginkan hingga nasi di dalam bungkusan benar-benar habis.

"Mau tambah lagi?" tawar Erlangga.

"Tidak usah, Mas. Aku sudah kenyang, terima kasih. Oh, ya, biar aku yang traktir makanannya."

Ilona mengeluarkan dompet kecil dari saku celana, tetapi gerak tangannya segera di hentikan Erlangga. Di bawah penerangan remang-remang, dia menatap wajah rupawan laki-laki itu.

"Tidak usah. Simpan saja uangmu untuk keperluan lainnya."

Sudut bibir Ilona tertarik ke atas, lalu mengucapkan terima kasih pada laki-laki tersebut. Gadis berambut sepunggung itu pun kembali meraih gelas yang masih terisi minuman hangat dan mencecap perlahan.

"Oh, ya, aku belum tahu nama kamu, Mas," ujar Ilona sembari menoleh.

"Erlangga."

"Oh."

Ilona mengangguk. Malaikat penolongnya ternyata memiliki nama yang bagus. Cocok dengan penampilan laki-laki itu. Dia dapat memperkirakan bahwa Erlangga laki-laki dewasa yang memiliki usia terpaut cukup jauh dari dirinya, tetapi belum memiliki pendamping hidup. Terlihat dari rumah yang hanya ada dirinya seorang diri dan juga kondisi dapur bersih tanpa bahan makanan.

"Habiskan minumanmu, lalu kita pulang!" perintah Erlangga.

Gadis itu manut, lantas menghabiskan sisa minuman di dalam gelas. Setelah Erlangga membayar, dirinya pun mengikuti hingga kembali ke dalam mobil. Hanya lima belas menit berkendara, mereka sudah sampai di rumah mewah yang didominasi ukiran kayu jati.

"Aku mau tidur. Jangan coba-coba berani membangunkan aku!"

"Kamu besok enggak kerja, Mas?"

"Enggak. Oh, ya, ini uang buat belanja sayuran. Biasanya di depan ada tukang sayur lewat, kamu tinggal belanja di situ."

Ilona mengangguk, lalu mengambil uang merah yang diulurkan Erlangga. Tanpa banyak bicara, dia pun membiarkan laki-laki tersebut berlalu dari hadapannya. Gadis pemilik manik mata cokelat itu tahu, Erlangga sudah sangat lelah.

Setelah pemilik rumah tidak terlihat lagi, Ilona kembali ke kamar. Merebahkan tubuh di ranjang yang tidak sebesar milik Erlangga. Namun, itu tidak masalah karena yang terpenting dirinya memiliki tempat untuk berteduh.

Ilona kembali meraih ponsel, mencoba menghubungi kekasih hati untuk kesekian kali. Namun, usahanya tidak membuahkan hasil, panggilan teleponnya teralihkan. Gadis itu mencoba menelusuri seluruh sosial media milik Arsenio, tetapi tidak ada jejak apa pun.

"Ih, ke mana, sih, Arsen? Aku udah sampai Yogja, kenapa nomornya tidak pernah aktif?" geram Ilona.

Gadis itu pun meletakkan ponsel kembali, lalu berbaring sembari menatap langit-langit kamar. Jauh dari rumah membuatnya begitu rindu pada Amara, wanita yang telah melahirkan Ilona. Terbayang dalam benak Ilona wajah sedih sang ibu. Di rumah miliknya, mungkin hanya Amara yang merasa kehilangan.

"Ibu, maafkan aku. Kalau saja kalian mengerti perasaanku, tidak mungkin aku pergi dari rumah," gumam Ilona.

Mata jernihnya mulai berkabut, disusul cairan bening yang meleleh melalui sudut mata. Menjadi anak semata mayang, tidak membuatnya dimanja oleh Janu maupun Amara. Ilona dididik disiplin sejak dini. Orang tua gadis pemilik manik mata cokelat itu begitu menjaga anak gadisnya. Bahkan, untuk masalah jodoh pun Janu yang memilihkan. Hal itu membuat Ilona memberontak. Pasalnya, secara diam-diam dia telah menjalin asmara dengan teman satu kampus.

Azan Subuh berkumandang, terdengar begitu merdu dan menyejukkan hati. Ilona segera menghapus air mata, lalu memilih melaksanakan ibadah dua rakaat. Semenjak kecil, Amara telah mengajari dirinya untuk taat kepada agama. Meskipun gadis itu sering melalaikan nasihat dari sang ibu.

Ilona menengadah, memohon ampun karena telah membangkang pada orang tua. Selama menjadi anak Janu dan Amara, dia selalu manut. Hanya saja perihal pendamping hidup, gadis itu ingin memilih seseorang yang begitu dicintai.

Setelah menyelesaikan doa, Ilona bersiap untuk memulai hari pertamanya bekerja di rumah Erlangga. Dia keluar dari kamar, lalu mencari peralatan untuk membersihkan rumah. Kediaman Erlangga tidaklah terlalu kotor, sebab hanya ditinggali seorang diri. Meskipun tanpa asisten rumah tangga, tampaknya laki-laki itu cara merawat rumahnya.

Setelah semua bersih, Ilona beralih ke beranda rumah. Dia sedikit berolahraga sembari menanti penjual sayur seperti petunjuk Erlangga. Cukup lama menunggu, hingga laki-laki bertopi yang mendorong gerobak itu lewat. Ilona berlari, menghentikan penjual sayur-mayur tersebut.

"Mbak, istrinya Mas Erlangga, ya?" tanya penjual sayur bernama Paiman itu penasaran.

"Ih, bapaknya suka bercanda, deh. Mana mungkin aku istrinya," jawab Ilona tanpa mengalihkan pandangan dari sayuran yang terlihat segar.

"Lalu, saudaranya?"

"Bukan. Aku pembantunya, Pak."

"Enggak pantes kamu jadi pembantunya, Mbak."

"Lalu, pantasnya jadi apa, Pak? Emang aku pembantunya, kok. Baru hari ini mulai bekerja," sahut Ilona.

"Pantasnya jadi istrinya. Mbak ini cantik, loh. Cocok sama Mas Erlangga."

"Ih, Bapak makin ngawur, deh!"

Ilona menghentikan obrolan, lalu menyerahkan beberapa sayur serta lauk yang telah dipilih. Pak Paiman pun menghitung belanjaan si pemilik manik mata cokelat tersebut. Usai membayar, Ilona pun mengucapkan terima kasih dan bergegas masuk ke rumah.

Gadis berambut sepunggung itu meletakkan barang belanjaan, lalu menyimpan beberapa di lemari pendingin. Sisanya, dia akan oleh menjadi menu sarapan. Entah kapan Erlangga akan bangun dari tidur, tetapi yang terpenting makanan telah tersaji di meja.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • I Love You, My Boss   Bab 18 Rasa Khawatir

    Kenapa belum tidur, Mas?” tanya Ilona ketika melihat Erlangga duduk di beranda belakang. Laki-laki itu menoleh, lalu menyunggingkan senyuman melihat Ilona yang berdiri di ambang pintu dengan mata menyipit. “Aku belum mengantuk, Lon. Kalau kamu masih ngantuk, tidur lagi sana!” perintah Erlangga. Bukannya menuruti ucapan sang bos, Ilona malah mendekat dan duduk di samping Erlangga. Awalnya, dia terbangun sebab haus dan mengambil air minum di dapur. Akan tetapi, ketika hendak kembali ke kamar, Ilona melihat pintu belakang yang terbuka. Oleh sebab itu, dia mendekat dan mendapati Erlangga tengah termenung di sana. “Mas Erlangga lagi ada masalah, ya?” tanya Ilona lagi. “Enggak.” “Lalu, kenapa belum tidur jam segini?” “Ada hal yang sedang aku pikirkan saja.” Satu pukulan mendarat di lengan Erlangga. Sontak saja laki-laki pemilik bisnis kontruksi itu mengaduh kesakitan. Dia menoleh dan memperlihatkan tatapan tajam pada Ilona. “Sakit tahu, Lon! Kamu itu wanita atau laki-laki, sih? Ka

  • I Love You, My Boss   Bab 17 Pernyataan Cinta Mario

    “Apa perasaanmu lebih baik?” tanya Mario di sela-sela menikmati makan malam. “Ya, seperti yang kamu lihat saat ini. Aku baik-baik saja,” balas Bianca. Keduanya pun saling berbalas senyuman, lalu kembali menyuap makanan ke mulut masing-masing. Sepulang bekerja, Mario sengaja menanti Bianca di tempat biasanya. Laki-laki itu tidak ingin hubungan dekatnya dengan sang baawahan diketahui karyawan lainnya. Bukan tanpa sebab, jika kedekatan mereka tercium, maka akan menimbulkan gosip dikalangan karyawan. Hal itu tidak baik untuk karir keduanya. Terlebih, Mario merupakan anak dari pemilik perusahaan yang akan meneruskan bisnis sang papa. Hubungan tersembunyi keduanya sudah berlangsung sekitar tiga tahun. Tepatnya, setelah Mario mulai bekerja di perusahaan sang papa usai mengurus cabang di luar kota. Dia yang tertarik pada Bianca, langsung mencoba mendekatinya. Sayangnya, pengakuan Bianca bahwa dirinya telah memiliki tunangan membuat Mario kecewa. Laki-laki itu pun memutuskan untuk berteman

  • I Love You, My Boss   Bab 16 Kejutan Kecil

    “Yakin cuma belanja ini saja, Mbak?” tanya Pak Paiman, tukang sayur keliling langganan Ilona. “Iya, Pak. Mas Erlangga sedang tidak ada di rumah. Jadi, aku hanya masak sedikit saja,” jawab Ilona. “Lagi ada tugas luar kota?" Ilona mendekat, lalu berkata dengan sedikit berbisik, “Mas Erlangga sedang ke Jakarta menemui kekasihnya, Pak.” Pak Paiman manggut-manggut. Tangan legamnya dengan terampil memasukkan belajaan Ilona ke kantong plastik sembari menghitung. Setelah itu, laki-laki paruh baya tersebut menyerahkan plastik berisikan sayur bayam beserta tahu dan tempe kepada Ilona. Gadis itu pun menerima dan mengeluarkan sejumlah uang sesuai harga belanjaan. “Mbak Ilona enggak cemburu gitu Mas Erlangga ke Jakarta?” lanjut Pak Paiman. “Cemburu? Kenapa aku harus cemburu? Pak Paiman ini ada-ada aja.” Ilona terkekeh, lucu mendengar pertanyaan laki-laki paruh baya tersebut. “Lah iya, dilihat-lihat itu Mas Erlangga ganteng, banyak gadis-gadis di sini yang naksir, loh. Bisa saja Mbak Ilona ju

  • I Love You, My Boss   Bab 15 Penolakan Bianca

    [Aku sudah sampai. Kamu baik-baik saja di rumah, 'kan?]Ilona membaca sekilas pesan dari Erlangga yang masuk ke ponsel miliknya. Setelah itu, dia meletakkan benda pipih itu tanpa berniat membalas. Ilona bersyukur majikan tampannya telah sampai di Jakarta. Selama berada di sana, gadis itu berjanji tidak akan mengganggu Erlangga.Ilona keluar dari aplikasi hijau, lalu beralih ke aplikasi berlogo F. Dia kembali memeriksa pesan masuk, barangkali Arsenio mengirim pesan. Akan tetapi, angannya tidak sesuai kenyataan. Akun milik Arsenio tidak aktif.Untuk menenangkan hati, Ilona beralih ke dapur dan menyeduh secangkir cokelat hangat. Gadis itu tersenyum bahagia ketika menghidu aroma cokelat yang begitu lezat. Dia pun membawa secangkir cokelat itu beserta setoples camilan ke ruang televisi.Setelah meletakkan minuman serta makanan ke meja, Ilona mencari remote televisi. Akan tetapi, dia tidak menemukan benda tersebut. Ilona membuka laci meja satu per satu, barangk

  • I Love You, My Boss   Bab 14 Bertemu Bianca

    Cukup lama Ilona menunggu, tetapi pesannya tidak kunjung mendapat balasan. Gadis itu berdecak kesal, Arsenio sungguh telah menguji kesabaran."Ish, kenapa enggak aktif lagi? Apa dia melupakanku? Apa dia sudah memiliki wanita lain? Enggak ... enggak ... enggak." Ilona menggeleng cepat, menepis pikiran buruk.Untuk mendinginkan hati, Ilona pun berniat mencari minuman dingin. Dia mengayunkan kaki melewati ruang keluarga untuk menuju dapur. Ilona meraih gelas, lalu menuang minuman dingin yang diambil dari dalam kulkas. Perlahan, dia meneguk hingga habis. Setelah puas, tangannya mengusap mulut yang basah."Aku pasti akan menemukanmu, Arsen!" gumam Ilona.Gadis berambut sebahu itu memilih kembali ke kamar. Tidak ada Erlangga di rumah membuatnya sedikit santai. Dia tidak harus menyiapkan makanan. Ilona sendiri bisa makan sesuka hati, apa yang diinginkan.Ketika melewati ruang keluarga, tiba-tiba Ilona terbayang wajah Erlangga. Biasanya, laki-laki itu dudu

  • I Love You, My Boss   Bab 13 Rindu yang Salah

    "Baik-baik di rumah. Kalau butuh belanja sayur, cukup di tukang sayur depan rumah. Jangan keluyuran enggak jelas. Tunggu aku pulang, baru kita cari Arsenio!" pesan Erlangga.Ilona menyunggingkan senyuman. Sudah puluhan kali dia mendengar pesan yang sama dari bibir Erlangga. Gadis itu hanya bisa mengatakan 'iya' sebagai jawaban.Sebuah koper telah digenggam Erlangga. Laki-laki itu berhenti di ruang televisi, lantas berbalik menatap Ilona yang berada di belakangnya. Sementara itu, Ilona mengernyitkan kening. Dia heran dengan polah laki-laki berkemeja kotak tersebut. Padahal, Erlangga ingin ke Jakarta untuk menemui kekasih hatinya. Namun, mengapa dia malah mengkhawatirkan dirinya yang berada di rumah?"Ada apa lagi, Mas?" tanya Ilona."Ingat pesanku!" tegas Erlangga."Iya. Iya. Iya. Aku tahu My Boss paling ganteng. Jangan khawatirkan aku. Tenang saja."Mendapat jawaban yang begitu manis, Erlangga merasakan sesuatu yang berbeda. Dadanya me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status