FAZER LOGIN[2020]
Ada kejadian lucu di suatu sore saat aku, Yossi, dan Ella sedang nongkrong di food court di salah satu mal, nungguin jam main film di bioskop. Ada cowok yang nggak kami kenal datang menghampiri meja kami.
"Halooo, cewek. Boleh kenalan, nggak?"
Serentak kami bertiga melihat ke cowok itu. Bodinya tegap, hasil rajin work-out di gym sepertinya, namun saat ngomong gaya bicaranya lembut. Dengan cepat mataku melirik Ella. Ella melirik Yossi. Sementara Yossi melihat ke arahku. Kami bertiga sibuk saling lirik.
Cowok itu berdehem, memecah kekakuan suasana dengan senyuman dan berkata, "Sori. Kenalin, aku Ollie, talent manager di Star Production House. Boleh aku tahu nama kalian?"
Tangan Ollie terjulur ke arahku, diantara jemarinya yang berkuku rapi dan mengkilap itu terselip satu kartu nama.
"Nggg..." Kulirik Yossi dan Ella dengan bingung dan sangsi. Tapi mereka memberi anggukan kepala.
Kusebut nama lengkapku ke cowok itu dengan ragu. Terlebih saat Ollie mencatat dan menyimpan nama serta nomor ponselku di HPnya. Yossi dan Ella juga ditanyai.
"Kami saat ini lagi hunting talents buat kebutuhan iklan baru. Yang terdekat akan ada shooting beauty products buat remaja seusia kalian. Kalau kalian berminat, silakan datang untuk casting ke alamat di kartu nama itu. Boleh telepon dulu buat nanya-nanya," jelasnya sambil menunjuk kartu nama yang akhirnya diterima Ella, karena reaksiku terlalu lamban [kata Yossi kemudian, saat Ollie udah nggak ada].
Alisku berkerut mendengar penjelasan Ollie. Sebetulnya siapa yang dia suruh datang casting ke kantornya, sih?
Ollie melempar senyum padaku. "Beneran dateng, ya, Tamara. Profilmu cukup unik dan potensial. Sangat melengkapi stok portfolio PH kami." Cowok itu mengedipkan sebelah matanya. "Tapi kalian bertiga boleh casting. Nanti data kalian akan kami simpan, kapan kami butuh karakter yang sesuai dengan kalian, kami akan mengontak."
Ketawaku pecah begitu Ollie sudah meninggalkan meja kami dan pergi menjauh.
"Aku curiga nama lengkap dia sebenarnya Olivia," ucap Ella. Aku dan Yossi ngakak.
"Machoan juga kamu, La," sahut Yossi sambil nyengir ke Ella.
Ucapan Yossi disambut dengusan Ella. "Jelas, lah. Ajak dia ke dojo, dalam lima menit bisa ku KO si Olivia."
Ella aktif di taekwondo dari sejak SMP, dia tipe cewe tomboy berat. Entah ada berapa medali kejuaraan yang sudah dia menangin. Ella emang sejagoan itu.
"Tapi bodi Ollie juga cukup kekar lho," timpalku. "Mungkin doyan ngegym tuh doi."
"Besar iya, tapi kalah kekar dengan teman-teman dojoku yang biasa latihan keras. Massa otot mereka lebih liat karena terlatih dengan natural. Si Olivia palingan hasil minum steroid atau susu protein tinggi. Instant booster."
Kuleletkan lidah mendengar ucapan Ella. Kaya lagi dengerin bahasa alien. Sama sekali nggak paham.
"Omong-omong tadi casting buat apa, nek?" tanyaku ke Yossi dan Ella.
"Beauty products. Make up buat remaja," jawab Yossi.
"Produk kecantikan? Produk gagal, maksudnya kali, ya?" kataku becanda. "Emang dia gak bisa ngelihat apa, kulit dan rambutku kaya apa?"
"Produk ka-we mungkin," sahut Ella sambil menyodorkan kartu nama yang dipegangnya padaku. "Nih, mungkin kamu mau ikutan?"
Yossi berdehem. "Iya, tuh, Tam. Iseng-iseng berhadiah. Hadiahnya dapet Oliv."
Kami ngakak.
Ella menatapku. "Nggak ada salahnya ikut. Ntar kita temeni ke sananya, kalau kamu nggak pede."
Kali ini aku mendengus. Bibirku mencibir. "Jadi aku cocok jadi figur yang ngiklanin produk kecantikan ka-we, dari sebelum treatment, atau contoh cewek yang nggak terawat..."
"Yeee, mulai deh..."
"Sensinya Tammy kumat."
"Aku tahu kalian sahabatku yang paling setia. The best. Tapi, barusan itu tadi adalah intermezzo yang cukup menghibur. Kalian nggak denger apa yang diomongin Ollie? Katanya profilku belum ada di daftar para model kantornya, dan akan melengkapi. Itu artinya apa? Mereka udah punya banyak foto model yang cakep-cakep."
Yossi dan Ella saling bertukar pandang tanpa bicara. Kulanjutkan lagi bicaraku.
"Lagian kita sekarang, kan, udah kelas tiga, bentar lagi ujian. Aku nggak mau gagal ujian karena bualan Ollie yang nggak bisa dipercaya."
Yossi pura-pura sibuk dengan minumannya, sementara Ella membereskan sisa-sisa makanan di meja kami.
"Hey, by the way, dia juga nawarin kalian buat casting! Kenapa mesti aku yang kalian suruh?"
Lagian, siapa yang mau jadi bintang iklan?
"Percaya deh, Tam, Olivia cuma basa-basi ke Yossi dan aku. Tawaran itu sebetulnya cuma buatmu. Ya, kan, Yos?" Ella mencolek lengan Yossi.
"Yup. Dari awal Ollie itu melihatmu, Tam. Yakin." Yossi mendukung ucapan Ella. "Kecualiii.. mereka butuh peran seseorang untuk ngambilin handuk, nuangin sabun atau shampoo, jadi tiang lampu atau pot tanaman."
Hihihi... kami kompak cekikikan lagi mendengar candaan Yossi.
Tak lama kemudian kami menuju ke bioskop karena jam pertunjukan sudah mau mulai. Dan kejadian itu segera terlupakan olehku. Sampai beberapa hari kemudian, seseorang dari kantor Star Production House menghubungi ponselku untuk mengingatkan jadwal casting yang tinggal sehari. Mereka berharap aku bisa datang hari itu.
HAH?! MEREKA SERIUSAN???
^^^^^
"Oh dear, you have such a unique and exotic face. Your skin just... so amazing. You know, we’d give our lives to have skin like yours!” Aku tersipu mendengar komentar yang ditujukan padaku itu. Meski kalimat itu keluar dari bibir laki-laki bukan penyuka perempuan seperti Guy, yang saat ini berdiri di belakangku dan sibuk ngomong padaku. Orang bule terkadang suka hiperbola memang. Dia nggak tahu saja kalau kulit cokelat banyak sekali dijumpai di Indonesia. Dan warna kulit ini mewakili kelas orang-orang susah. Ha. Ha. Ha. Di Indonesia semakin makmur hidup seseorang makin terlihat dari kulitnya yang putih. Kondisi yang berbanding terbalik dengan orang Barat. “Tulang pipimu cukup tinggi. Wajahmu oval manis.” Ah. Aku speechless. Pujian dari ahli make up bule Perancis ini jelas nyaris membuatku pingsan. Kudengar dia sudah mendandani ribuan model dunia, mataku melirik sekilas foto Scarlet Johansson, Jessica Alba, Salma Hayek, Monica Belucci, dan lain sebagainya yang menempel di dinding stu
[2008]Aku masih ingat ketika itu aku belum genap enam tahun. Hari itu semua orang pergi, tinggallah aku sendiri di rumah, bersama Mbok Nah, yang biasa kupanggil Bibi. Aku hampir mati kesepian. Pengin rasanya nangis, tapi siapa juga yang peduli? Toh nggak ada yang tahu kesengsaraanku? “Tammy! Kamu di atas?"Tiba-tiba ada kerikil kecil di lempar ke rumah pohonku, menimbulkan suara ‘tik’ dan menggelinding di lantai kayu. Aku berlari ke pintu dan melongok ke bawah. Jano. “Lagi ngapain?” Aku menggeleng lesu. Kulambaikan komik di tanganku. “Mau ikut?” Sepasang mataku langsung berbinar. Tanpa disuruh dua kali aku langsung berlari turun. “Pada pergi ke mana yang lain?” tanyanya menunjuk rumahku yang sepi.Begitu kakiku menginjak ke tanah, aku langsung menyerbu Jano dan menggandeng tangannya. “Mama dan Papa pergi, katanya ada acara di kantor Papa. Bari pergi sama temannya. Rachel dan Alena entah ke mana.” “Kasihan. Kamu cuma sama Bibik, ya?” Kepalaku mengangguk-angguk. “Kenapa ngga
[NOW]Aku nggak terbiasa dandan berat di luar acara syuting, pemotretan, atau sedang ada jadwal promosi dengan Dazzling. Meski untuk datang ke acara formal sekalipun, I will keep my appearance seminim mungkin dalam mengaplikasikan make-up. Ke acara anniversary pernikahan orangtua Jano pun aku dandan ala kadarnya, hanya memakai pelembab dan loose powder yang kusapukan ke wajahku dengan kuas besar agar bedak yang nempel di kulit wajahku tak terlalu tebal. Bibir kuberi lipstik warna pink nude tipis dengan lipgloss banyak-banyak. Sedikit blush-on. Kuhindari pensil alis dan maskara, dua benda itu termasuk riasan berat buatku. Cukup kuolesi bulumataku yang udah kujepit dengan lotion ringan yang kugosokkan di ujung-ujung jariku. Semua trik itu kuperoleh dari MUA yang pernah mendandaniku. Hasilnya? Aku terlihat cantik, segar, alami, tanpa terlihat bermake-up tebal dan norak. Untuk rambutku, aku tadi sekalian keramas saat mandi, dalam kondisi masih setengah basah kuolesi lotion khusus untuk
[NOW]Aku akhirnya membuat dua buah Lemon Meringue Cheesecake untuk hadiah ultah pernikahan Tante Elly dan Om Franky. Tante bilang sih cuma pesta kecil, untuk kalangan keluarga dan teman dekat saja. Tapi berdasarkan pengalaman, kecil menurut perempuan itu bisa bermakna jumlah tamunya puluhan. Mungkin sekitar tiga atau empat puluh orang. Karenanya aku bikin dua loyang besar, untuk berjaga-jaga, jika tebakanku benar, karena satu loyang saja pasti tidak cukup. Dulu, begitu aku terima pembayaran kontrak dari Dazzling, benda pertama yang kubeli adalah oven besar dengan empat tungku di atasnya. Aku nggak main-main saat kubilang aku ingin memperdalam skill memasakku dan punya peralatan masak yang mumpuni untuk memuaskan passionku di dunia culinary. Benda ke dua adalah kulkas side by side besar yang dilengkapi dengan dispenser ice cube di pintunya. Jika mengandalkan kulkas lama Mama, tentu saja aku nggak bisa menyimpan cheesecake yang sudah kubuat kemarin. Jadi, hari ini aku tinggal finishi
[NOW]Tante Elly dan Om Franky akan mengadakan pesta kecil di rumah untuk merayakan anniversary pernikahan mereka yang ke tiga puluh lima. Tiga puluh lima tahun menjalin hubungan dengan seseorang dalam pernikahan yang harmonis dan masih utuh, menurutku satu hal yang manis dan romantis. Karenanya aku ingin memberi mereka hadiah. Tapi apa? "Ma, Tante Elly sukanya apa, ya?" Mama yang tengah sibuk menyiangi sayuran bareng Mbok Nah di dapur menoleh sebentar. "Banyak. Bisa kamu lihat di rumahnya, apa saja barang-barang yang ada di sana." Bibirku manyun. Mama, sih, asal jawab."Kalau aku ke sana sekarang, bisa ketahuan kalau lagi cari ide buat kasih kado buatnya. Acaranya tinggal dua hari lagi." Kudekati Mama dan memeluknya dari belakang. Rayuku, "Kasih bocoran dong, Mama sayang."Mama tertawa kecil. "Tanya Jano kalau nggak mau ketahuan." "Ah, Jano paling juga nyaranin hal yang sama. Pasti aku disuruh nanya ke Mamanya langsung. Cowok gitu loh. Mana mau mikir ribet." "Kenapa kamu nggak
[2020]Aku sama sekali nggak bohong waktu kubilang ke Yossi dan Ella tentang Jano yang kapok mengajak ceweknya ke rumah. Aku tahunya dari kakakku, Bari, yang bilang padaku waktu itu. Masih kuingat saat itu, iklan TV pertamaku bersama Dazzling sudah tayang. Hasilnya bagus banget. Very exclusive. Looks expensive. Seperti iklan kosmetik produksi luar. Semua pihak hepi, klien, agensi, PH, dan... tentunya aku. Aku, Tamara Isabella, pendatang baru yang belum lama terjun di dunia model iklan, tiba-tiba muncul jadi bintang utama di salah satu produk kecantikan dari Perancis. Meski TV commercial ini hanya ditayangkan untuk region Asia Tenggara, tapi ini satu kesempatan yang sangat langka terjadi. Siapa Tamara Isabella? Di dunia entertainment tak ada yang tahu atau kenal aku. Para selebriti top kita tak ada yang pernah bertemu denganku. Tapi semesta punya 'konspirasi' yang cukup absurd, aneh, dalam mempertemukanku dengan Ollie dan Adriano. Dua lelaki itu yang punya peran penting dalam mengub







