LOGIN[2019]
Aku tak pernah lupa dengan kejadian kecil itu.
Siang itu Jano sibuk di depan laptopnya, entah sedang mengerjakan tugas kuliahnya, sekedar browsing internet, atau apa. Yang jelas waktu aku melenggang masuk ke kamarnya, dia sedang sibuk mengetik sambil melototi layar laptopnya. Sejak kuliah, oh nggak, sejak Jano SMA malah, kami sudah nggak sesering dulu lagi ketemu, ngobrol, apalagi main bareng. Jelas aku nggak suka diabaikan seperti itu. Jano bahkan lupa memberiku selamat, apalagi kok kado, di ultah terakhirku yang ke tujuh belas tahun.
Seperti biasa, begitu masuk ke kamarnya yang ada di lantai atas, aku langsung nyelonong tanpa mengetuk pintu. Kali ini aku nimbrung ke mejanya.
"Sibuk ngapain sih?" tanyaku sambil menjejalkan tubuhku di belakangnya, meski jelas-jelas kursinya nggak muat menampung kami berdua sekaligus. Karenanya aku nempel ke punggung Jano persis lintah. Kuletakkan daguku di atas bahu kirinya dan melongok ke layar laptop yang sedang merampok seluruh perhatiannya.
Jano terlonjak kaget begitu merasakan sentuhan tubuhku di belakangnya. Kepalanya menoleh ke kiri dengan cepat, membuat wajah kami nyaris tabrakan.
"Eh?!" Jano tak menjawabku. Matanya berkedip-kedip seolah tak mengenaliku. Beberapa detik wajah kami tak bergeming, mata kami saling terpaut, sebelum kemudian Jano tersadar dan memalingkan wajahnya dan fokus ke laptopnya kembali.
Aku tersenyum geli melihat reaksinya. Tanganku masih memeluk bahunya dan menyender di punggungnya. "Kaget, ya? Sori. Habis, kamu serius amat sih."
Tiba-tiba kurasakan perubahan itu. Bagian depan tubuhku yang menempel punggung Jano merasakan tubuhnya yang tiba-tiba jadi kaku. Ada apa sih? Apa Jano nggak suka aku datang ke kamarnya?
Jano sekarang duduk tegak lurus menghadap lurus ke layar laptop, satu tangannya memegang dagu. Dari samping aku tak bisa melihat ekspresi wajahnya karena dia sedang menatap screen di depannya.
Jano berdehem sebelum menjawabku. "Yah, eh, mm.. ini sedang ngerjain tugas."
Bibirku tersenyum mendengar suara Jano. Suara yang akhir-akhir ini semakin jarang kudengar.
"Kayanya berat sekali kuliahmu. Waktumu sering kamu habiskan di depan komputer dan mengubur diri di meja belajar akhir-akhir ini," kataku sambil ikut meneliti layar di depannya. Tapi aku nggak ngerti dengan apa yang Jano kerjakan. Sepertinya tentang segala macam batu-batuan atau apa sih? Setahuku Jano kuliah di teknik pertambangan.
"Mmm." Jano hanya menggumam tidak jelas.
Sejenak tercipta keheningan di dalam kamar. Cukup aneh sebetulnya. Karena biasanya kami selalu bisa ngobrol dengan lancar tanpa kesulitan. Tangan Jano berhenti dari mengetik. Segera aku berdiri dari kursi, melangkah ke kasur, dan berbaring di sana.
Kuambil salah satu majalah yang ada di dekat bantal.
"Aku nggak ganggu, kan?" tanyaku sambil mengintip dari majalah yang kupegang.
Jano tak langsung menjawab. Kudengar helaan nafasnya. Pelan sekali. Nyaris nggak terdengar. Tapi telingaku kan sangat sensitif terhadap suara serendah apapun, jadi semuanya tidak lepas dari pengamatanku.
"Nggak, kok," Jano menjawab pelan sambil masih menatap ke laptopnya. Hanya saja sekarang kepalanya sedikit tertunduk, tangannya meremas-remas rambut di atas kepalanya.
Dia belum menoleh ke arahku sejak aku masuk, kecuali pas tadi, insiden saat hidung kami nyaris tabrakan. Sedemikian buruknya kah wajahku sampai Jano tidak mau menatapku?
"Kalau gitu, nggak apa-apa aku di sini?" tanyaku lagi.
"Oke."
Oke? Jawaban apa itu? Pasti tugas itu sudah menginvasi sebagian isi kepala Jano, sampai-sampai dia tak bisa melakukan percakapan normal. Aku sengaja ke sini karena mau melihatnya. Sudah beberapa lama kami tidak bertemu? Aku kangen Jano. Menatap wajahnya beberapa saat dan mendengar suaranya, rasanya cukup untuk memuaskan rinduku.
"Berapa lama lagi kamu lulus kuliah, sih?"
"Hmm..." Jano mengusap wajahnya. "Semoga bisa tahun ini."
"Makanya ambil jurusan jangan yang susah."
"Nggak juga. Aku aja yang bego."
Habis percakapan kami, tak lama kemudian terdengar lagi suara ketikan di atas kibor laptopnya. Aku masih tidur-tiduran di kasur Jano. Majalah sudah kulempar di atas tumpukan lainnya. Tanganku kini meraba-raba ke bawah bantal. Benar saja. Kutemukan HP Jano di sana. Kuraih benda itu, kubuka-buka isinya. Phone book. Aplikasi chatting. List incoming call. Mataku langsung membaca satu nama yang terpampang di deretan teratas. Nama cewek yang sama muncul banyak sekali di bawah-bawahnya. Hmm. Jadi karena cewek tengil ini Jano semakin cuek padaku akhir-akhir ini? Ulang tahunku yang ke tujuh belas pun dia sudah lupa!
"Siapa Audi ini?" cetusku tanpa bisa kucegah.
Jano menoleh dengan cepat. "Kamu ngapain?"
Mataku menangkap wajah yang kurindukan itu dengan sepuasnya. Ah, Jano masih secakep seperti biasanya. Makin ganteng karena tulang-tulang wajahnya semakin tajam karena bertambah usianya. Di usia dua puluh tiga, wajahnya memancarkan kematangan, tak lagi imut seperti saat masih SMA. Hanya saja rambutnya di bagian belakang sedikit kepanjangan. Bibirku tersenyum manis merespon ucapannya sambil melambaikan HP di tanganku.
"Kenapa buka-buka HP orang?" tanyanya dengan menatapku tajam. Ih, sejak kapan dia jadi galak padaku?
"Aku cuma lihat-lihat aja, kok. Tenaaang, aku nggak buka message WA-mu," kibulku sambil nyengir. Kukembalikan HP Jano di bawah bantal lagi. "Nih, kubalikin lagi."
Jano menggerutu, tak terlalu jelas terdengar apa yang dikatakannya. Pasti dia nggak suka kelakuanku yang lancang buka-buka HPnya tapi tak berani memarahiku langsung. Suara ketikan di atas kibor komputernya membuatku mulai mengantuk. Kubuka lagi majalah tanpa minat. Tak ada yang menarik. Akhirnya aku bangkit dari kasur dan berjalan mendekati Jano lagi. Cowok itu sudah tenggelam kembali dengan urusan tugasnya. Jari-jarinya sibuk menari di atas kibor. Kubungkukkan badan tepat di sampingnya.
"Jangan terlalu keras belajar, dong. Sampai kamu lupa sama adik spesialmu ini. Kamu bahkan tidak ingat ultahku yang terakhir. Tak ada ucapan, apalagi kado buatku," bisikku di telinganya. Sehabis bicara kukecup pipinya dengan lembut. "Selamat mengerjakan tugas. Dan cepat lulus."
"Tammy..."
Kutinggalkan Jano tanpa menoleh lagi. Panggilannya kucuekin. Aku hanya ingin Jano tahu, aku tidak mau diabaikan. Dulu, dia yang punya ide untuk jadi kakakku, janji di atas dua kelingking kami. Hari ini aku datang untuk mengingatkannya bahwa aku masih ada dan bernafas. Untuknya.
•••
Malam harinya Jano ke rumah. Meski dalam hati girang setengah mati, tapi aku belaga cuek. Biar dia juga merasakan gimana rasanya diabaikan.
"Hei."
"Hmm." Perhatianku tetap ke layar TV.
"Kok sepi. Yang lain pada ke mana?"
"Pergi. Mama ada di kamar. Mau ketemu dia?" Mataku melirik Jano yang sekarang duduk di sebelahku.
Jano nyengir. "Nggak, lah." Kaki-kakinya yang panjang berselonjor ke depan. Sementara ke dua tangannya terlipat di belakang kepalanya di sandaran sofa. Aku duduk di salah satu pojok dengan remote di tangan. Ke dua kakiku terlipat di bawah badanku, tertutup bantalan kursi.
"Lagi nonton apa?"
"Random aja. Tapi horor masih jadi favoritku."
"Ada alasan khusus?"
Dari sudut mata kutangkap kepala Jano menoleh padaku. Kuangkat bahuku. "Film horor nggak butuh bintang cantik. Yang penting mereka bisa teriak keras dan terlihat ketakutan."
Jano menggumam. "Masih aja mikirin hal sampah itu?"
Kami berdua tahu maksudnya dengan kata 'sampah' itu.
"Kenapa nggak?"
"Kamu nggak jelek, Tammy." Jano menjawabku dengan nada sabar. Wajahnya kini menghadap padaku.
Aku mendengus. "Oh, ya? Bisa kamu jelaskan, kenapa sampai sekarang aku nggak pernah punya pacar? Tak satu pun cowok yang mau mendekatiku, meski untuk sekedar pinjam catatan pelajaran atau apalah! Tak ada cowok di kelasku yang mau berteman denganku." Selesai bicara kutantang mata Jano.
Jano tak menjawab, tapi tangannya terulur menjangkau dan menarikku. Kini tubuh kami berdekatan. Sisi badanku bersinggungan dengan sisi badannya.
"Aku sekarang di dekatmu. Gimana?" Tangannya merangkulku dari samping.
Bibirku mencibir dan kuputar bola mataku merespon ucapannya. "Yah, benar aja. Kamu kan 'kakak'ku, Jano." Meski kesal, kusandarkan kepalaku ke bahunya dengan nyaman. Kakiku kini berselonjor di sofa. Kami berdua nonton film sampai Papa, Rachel, dan Lena satu per satu pulang. Mereka sempat mampir di dekat sofa dan ngobrol basa-basi sebentar dengan Jano untuk kemudian menghilang ke kamar masing-masing. Hingga kuapan lebar ke luar dari bibirku, Jano bergerak dari duduknya.
"Ngantuk? Tidur sana. Jangan harap aku akan menggendongmu ke kamar, ya, kaya dulu. Kamu sekarang sudah terlalu besar."
Aku menyeringai. Sewaktu masih kecil dulu, kalau aku ketiduran saat main di rumahnya atau di kursi sini sehabis kami main bareng, Jano suka menggendongku ke kamar.
"Malam, Jano."
"Nite, Tammy. Sweet dreams."
Mimpiin kamu, dong. Bibirku tanpa terasa tersenyum manis. "Pasti."
Baru beberapa langkah Jano berjalan melewati pintu depan ketika tiba-tiba dia berhenti dan membalikkan badannya.
"Eh, Tam?"
"Ya?" Aku masih bersandar di pintu, menatapnya dengan mata setengah terkantuk.
"Lain kali kalau mau menghapus nomor telepon seseorang, jangan lupa sekalian buang chatting boxnya dan rekaman panggilannya. Block nomornya. Itu satu-satunya cara untuk menghilangkan nomor seseorang dari HP." Sehabis bicara Jano membalikkan badan dan meneruskan langkahnya menuju pintu penghubung rumah kami.
Wajahku terasa panas. Jadi Jano sudah tahu aksiku siang tadi.
"Kamu nggak lupa sesuatu, Jano?" tanyaku sambil bersedekap di langkan pintu.
Jano batal meneruskan langkahnya lagi. Pelahan dia memutar badan dan menatapku di antara bias remang lampu taman. "Lupa sesuatu?" tanyanya bingung.
Andai tatapan bisa membunuh, Jano sudah terkapar saat itu juga. Semua gara-gara Audi keparaaa...
"Baru sekali ini kamu lupa dengan tanggal dua belas Mei. Apa perlu kuingatkan kalau..."
Belum selesai ucapanku, Jano sudah berdiri di depanku. Tangannya meraih ke dua pipiku. Dalam sekejap wajahku sudah terpenjara dalam genggaman hangat dua telapak tangannya.
"Maaf, Tammy. Maafkan aku, ya," ucapnya pelan di telingaku sebelum ciuman lembutnya mengusap permukaan kulit pipiku. Kanan. Kiri. Dahi. Mataku terpejam saat meresapi kulit bibirnya yang menyentuh kulit wajahku. Kemarahanku sirna sebagian besar.
"Happy birthday, Tamara Isabella."
Senyum mengembang di bibirku. Belum sempat kubalas ucapannya, begitu mataku membuka, Jano sudah menyeberangi pagar pembatas dan menghilang ditelan bayangan malam dan rimbunnya tanaman yang ada. Meninggalkan aku sendirian. Pipiku masih menyimpan memori kejadian barusan, meski embusan angin dingin malam mulai mengusir hangatnya sentuhan yang ditinggalkan Jano.
Masih ada sebagian kecil kekesalan yang masih mengendap di dadaku. Aku nggak suka dengan makhluk bernama Audi itu!
Kamu mungkin bisa sembunyi di belakang alibimu yang bernama Audi, ejekku dalam hati. Tapi apa yang terjadi tadi siang di kamarmu, Jano? Karena masalah perubahan hormon, kah, tiba-tiba kamu kikuk padaku? Haaa!
Kuamati bayanganku di cermin kamar. Tubuhku kini sudah mulai berubah, tak lagi rata dan setipis papan tulis di kelas. Tubuhku nyaris seperti yang kuinginkan, tak lagi lurus kurus kayak cowok SMP! Pinggulku sudah berlekuk, mengembang di bawah lingkar pinggangku yang ramping. Dadaku juga kini menonjol ke depan. Tinggi badanku pun sudah melampaui Rachel dan Lena. Benar kata Papa, aku mewarisi gen dari Neneknya. Meski terbilang telat mekar, tapi di usiaku yang tujuh belas tahun, bodiku mulai membentuk, menyerupai perempuan.
Hmm, ITU akibatnya kalau kamu terlalu fokus, sibuk dengan Audi-mu, dan udah nggak peduli lagi padaku, Jano. Kamu nggak tahu kalau aku sekarang sudah mendekati perempuan sejati, pikirku dengan tersenyum puas.
Jano pasti kaget sekali siang tadi, saat aku menyusup ke belakang kursinya dan menempelkan tubuhku ke punggungnya. Ha. Ha. Ha.
^^^^^
"Oh dear, you have such a unique and exotic face. Your skin just... so amazing. You know, we’d give our lives to have skin like yours!” Aku tersipu mendengar komentar yang ditujukan padaku itu. Meski kalimat itu keluar dari bibir laki-laki bukan penyuka perempuan seperti Guy, yang saat ini berdiri di belakangku dan sibuk ngomong padaku. Orang bule terkadang suka hiperbola memang. Dia nggak tahu saja kalau kulit cokelat banyak sekali dijumpai di Indonesia. Dan warna kulit ini mewakili kelas orang-orang susah. Ha. Ha. Ha. Di Indonesia semakin makmur hidup seseorang makin terlihat dari kulitnya yang putih. Kondisi yang berbanding terbalik dengan orang Barat. “Tulang pipimu cukup tinggi. Wajahmu oval manis.” Ah. Aku speechless. Pujian dari ahli make up bule Perancis ini jelas nyaris membuatku pingsan. Kudengar dia sudah mendandani ribuan model dunia, mataku melirik sekilas foto Scarlet Johansson, Jessica Alba, Salma Hayek, Monica Belucci, dan lain sebagainya yang menempel di dinding stu
[2008]Aku masih ingat ketika itu aku belum genap enam tahun. Hari itu semua orang pergi, tinggallah aku sendiri di rumah, bersama Mbok Nah, yang biasa kupanggil Bibi. Aku hampir mati kesepian. Pengin rasanya nangis, tapi siapa juga yang peduli? Toh nggak ada yang tahu kesengsaraanku? “Tammy! Kamu di atas?"Tiba-tiba ada kerikil kecil di lempar ke rumah pohonku, menimbulkan suara ‘tik’ dan menggelinding di lantai kayu. Aku berlari ke pintu dan melongok ke bawah. Jano. “Lagi ngapain?” Aku menggeleng lesu. Kulambaikan komik di tanganku. “Mau ikut?” Sepasang mataku langsung berbinar. Tanpa disuruh dua kali aku langsung berlari turun. “Pada pergi ke mana yang lain?” tanyanya menunjuk rumahku yang sepi.Begitu kakiku menginjak ke tanah, aku langsung menyerbu Jano dan menggandeng tangannya. “Mama dan Papa pergi, katanya ada acara di kantor Papa. Bari pergi sama temannya. Rachel dan Alena entah ke mana.” “Kasihan. Kamu cuma sama Bibik, ya?” Kepalaku mengangguk-angguk. “Kenapa ngga
[NOW]Aku nggak terbiasa dandan berat di luar acara syuting, pemotretan, atau sedang ada jadwal promosi dengan Dazzling. Meski untuk datang ke acara formal sekalipun, I will keep my appearance seminim mungkin dalam mengaplikasikan make-up. Ke acara anniversary pernikahan orangtua Jano pun aku dandan ala kadarnya, hanya memakai pelembab dan loose powder yang kusapukan ke wajahku dengan kuas besar agar bedak yang nempel di kulit wajahku tak terlalu tebal. Bibir kuberi lipstik warna pink nude tipis dengan lipgloss banyak-banyak. Sedikit blush-on. Kuhindari pensil alis dan maskara, dua benda itu termasuk riasan berat buatku. Cukup kuolesi bulumataku yang udah kujepit dengan lotion ringan yang kugosokkan di ujung-ujung jariku. Semua trik itu kuperoleh dari MUA yang pernah mendandaniku. Hasilnya? Aku terlihat cantik, segar, alami, tanpa terlihat bermake-up tebal dan norak. Untuk rambutku, aku tadi sekalian keramas saat mandi, dalam kondisi masih setengah basah kuolesi lotion khusus untuk
[NOW]Aku akhirnya membuat dua buah Lemon Meringue Cheesecake untuk hadiah ultah pernikahan Tante Elly dan Om Franky. Tante bilang sih cuma pesta kecil, untuk kalangan keluarga dan teman dekat saja. Tapi berdasarkan pengalaman, kecil menurut perempuan itu bisa bermakna jumlah tamunya puluhan. Mungkin sekitar tiga atau empat puluh orang. Karenanya aku bikin dua loyang besar, untuk berjaga-jaga, jika tebakanku benar, karena satu loyang saja pasti tidak cukup. Dulu, begitu aku terima pembayaran kontrak dari Dazzling, benda pertama yang kubeli adalah oven besar dengan empat tungku di atasnya. Aku nggak main-main saat kubilang aku ingin memperdalam skill memasakku dan punya peralatan masak yang mumpuni untuk memuaskan passionku di dunia culinary. Benda ke dua adalah kulkas side by side besar yang dilengkapi dengan dispenser ice cube di pintunya. Jika mengandalkan kulkas lama Mama, tentu saja aku nggak bisa menyimpan cheesecake yang sudah kubuat kemarin. Jadi, hari ini aku tinggal finishi
[NOW]Tante Elly dan Om Franky akan mengadakan pesta kecil di rumah untuk merayakan anniversary pernikahan mereka yang ke tiga puluh lima. Tiga puluh lima tahun menjalin hubungan dengan seseorang dalam pernikahan yang harmonis dan masih utuh, menurutku satu hal yang manis dan romantis. Karenanya aku ingin memberi mereka hadiah. Tapi apa? "Ma, Tante Elly sukanya apa, ya?" Mama yang tengah sibuk menyiangi sayuran bareng Mbok Nah di dapur menoleh sebentar. "Banyak. Bisa kamu lihat di rumahnya, apa saja barang-barang yang ada di sana." Bibirku manyun. Mama, sih, asal jawab."Kalau aku ke sana sekarang, bisa ketahuan kalau lagi cari ide buat kasih kado buatnya. Acaranya tinggal dua hari lagi." Kudekati Mama dan memeluknya dari belakang. Rayuku, "Kasih bocoran dong, Mama sayang."Mama tertawa kecil. "Tanya Jano kalau nggak mau ketahuan." "Ah, Jano paling juga nyaranin hal yang sama. Pasti aku disuruh nanya ke Mamanya langsung. Cowok gitu loh. Mana mau mikir ribet." "Kenapa kamu nggak
[2020]Aku sama sekali nggak bohong waktu kubilang ke Yossi dan Ella tentang Jano yang kapok mengajak ceweknya ke rumah. Aku tahunya dari kakakku, Bari, yang bilang padaku waktu itu. Masih kuingat saat itu, iklan TV pertamaku bersama Dazzling sudah tayang. Hasilnya bagus banget. Very exclusive. Looks expensive. Seperti iklan kosmetik produksi luar. Semua pihak hepi, klien, agensi, PH, dan... tentunya aku. Aku, Tamara Isabella, pendatang baru yang belum lama terjun di dunia model iklan, tiba-tiba muncul jadi bintang utama di salah satu produk kecantikan dari Perancis. Meski TV commercial ini hanya ditayangkan untuk region Asia Tenggara, tapi ini satu kesempatan yang sangat langka terjadi. Siapa Tamara Isabella? Di dunia entertainment tak ada yang tahu atau kenal aku. Para selebriti top kita tak ada yang pernah bertemu denganku. Tapi semesta punya 'konspirasi' yang cukup absurd, aneh, dalam mempertemukanku dengan Ollie dan Adriano. Dua lelaki itu yang punya peran penting dalam mengub







