Share

Bab 8

last update publish date: 2026-09-10 13:40:53

[2020]

Dalam pikiran polosku, aku selalu yakin jika aku ini sangat istimewa bagi Jano. Bukan hanya dari ucapannya yang pernah dilontarkan padaku, tapi dari sikap dan perlakuannya selama ini padaku. Aku selalu meyakini bahwa tak ada yang bisa memisahkan kedekatan kami berdua atau menjauhkan Jano dariku. Siapapun itu. Karena dia udah janji padaku. 

Namun, ternyata aku salah besar. Pikiran itu hanyalah khayalan lugu dan semu saat aku masih naif dan kuper, belum mengenal rumitnya hidup, komplikasi emosi dan perasaan manusia yang terlibat, disaat manusia semakin dewasa. Jano lupa ultahku yang ke tujuh belas hanyalah awal, dari retaknya kedekatan kami. 

Aku tak tahu pasti, apakah benar Audi yang merampas perhatian Jano dariku. Atau karena tekanan tugas akhir kuliahnya yang membuat cowok itu makin sibuk dan sulit membagi waktunya untukku? Kejadian di kamar Jano siang itu, saat kuhapus nomor telepon Audi dari phone booknya dan malam hari Jano muncul ke rumah dan ngucapin happy birthday padaku, tadinya kuanggap sinyal bagus, bahwa aku bisa merebut kembali atensi Jano dan menjadi prioritas di hidupnya. Tapi, ternyata aku salah besar! 

Hari itu orangtuaku mengadakan syukuran untuk Bari yang beberapa hari lalu sudah diambil sumpah[jabatan] dan resmi menyandang gelar dokter, sekaligus perpisahan karena dia sudah diterima kerja di salah satu RS di luar kota, jauh di satu kota di ujung Jawa Timur sana. Acara juga digabung sekalian dengan anniversary pernikahan orangtuaku yang ke dua puluh. Lumayan banyak tamu yang diundang, selain keluarga kami yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, teman-teman Bari, ada juga beberapa teman Rachel dan Alena. Serta, tentu saja tetangga sebelah tersayang kami dan beberapa tetangga dekat. 

Mama Jano, Tante Elly, sejak pagi sudah membantu di dapur. Karena acaranya dirayakan hari Jumat malam, aku baru bisa ikut membantu setelah pulang sekolah, saat sebagian besar makanan sudah hampir selesai dimasak, tinggal menunggu matang. Tugasku adalah mengatur peralatan makan di meja prasmanan panjang yang diletakkan di tengah ruangan, dibantu Tante Elly. Mama menyerahkan urusan menghias hidangan juga padaku, karena sudah setahun ini aku menunjukkan ketertarikanku di dunia kuliner. 

Kursi-kursi di atur di sepanjang pinggir ruang tengah, ruang tamu, sampai ke teras. Para lelaki/cowok kebagian tugas berat itu, angkat junjung meja dan kursi, serta menggeser perabotan besar lainnya, demi membuka ruang yang lega dan luas untuk menampung meja prasmanan yang menyita tempat, sekaligus menampung tamu dengan maksimal. 

Setelah semua tertata layout-nya, aku mulai membuat hiasan atau garnish buat hidangannya. Semuanya dari bahan makanan juga seperti wortel, cabe merah, lobak putih, tomat, daun bawang dan daun pisang. Saat masakan udah masuk ke wadahnya aku bisa menambahkan peterseli dan daun selada. Berbagai macam bunga kuukir dan kubentuk dengan telaten. Aku memang sangat menyukai kegiatan yang bisa kulakukan dalam keheningan dan kesendirian, sesuatu yang membutuhkan ketelatenan dan ketelitian. Seperti juga saat bereksperimen mencoba resep baru kalau moodku lagi bagus. 

Tiba-tiba ada satu tangan terulur dari belakangku mengambil salah satu bunga dari wortel yang sudah kurangkai dan sedang kurendam di baskom besar berisi air. 

"Bagus sekali. Belajar dari mana bikin bunga-bunga cantik ini, Tammy?" 

Kepalaku menoleh. Jano sedang mengamati hasil karyaku di tangannya. Dia kemudian menghempaskan pantatnya di kursi yang ada di dekatku. 

"Lihat dari koleksi dan kliping Mama. Di YouTube juga ada sih," jawabku sambilku kembali menekuri kerjaanku. 

"Kenapa harus direndam air?" 

"Biar bentuknya tetap segar dan cantik. Seperti ini nih," jelasku sambil mengambil salah satu serangkaian bunga. "Kalau nggak direndam dia akan lurus aja, nggak bisa melengkung bagus." 

"Oooo..." Jano manggut-manggut saat melihat perbandingan bentuk bunga yang kuperlihatkan. 

Alena melenggang masuk dan berhenti di dekat kami. 

"Mau kuambilkan minuman, Jan?" Tiba-tiba Alena menyela. "Kalian pastinya cape habis angkat junjung meja, kursi, dan lemari." 

Hmm, sejak kapan Lena perhatian ke Jano? Bukannya dia lebih suka gaul sama Karel dan Josh? 

"Wah, mau banget. Yang dingin, deh. Thanks, Len." 

Kumasukkan bunga yang baru saja selesai kubentuk ke dalam air sambil tersenyum puas. Kuambil lobak putih dan mulai mengirisnya dengan teliti ketika rambutku yang kujepit di puncak kepala terlepas dan tiba-tiba jatuh sebagian menutupi wajahku. Uh. Kusingkirkan rambutku dengan lengan dan bahuku.

"Sini kubantuin." Jano dengan sigap berdiri di belakangku. Tangannya melepas jepitan rambutku, lalu meraih, merapikan, dan menyisiri rambutku dengan jari-jarinya. 

"Rambutmu helaiannya sangat halus, Tammy. Enak sekali dimainin." 

"Iya, tapi itu bisa bikin aku ngantuk, tahu!" kataku geli. Jano nggak tahu aja kalau mataku terpejam beberapa saat menikmati jari-jemarinya memainkan rambutku. Namun momen itu rusak karena kehadiran seseorang. 

"Huh, sejak kapan kamu piawai ngurusin rambut cewek, Jan?" sindir Lena di dekat kami. Kakakku itu sudah datang lagi sambil memegang dua kaleng minuman dingin. Aku menoleh ke Lena. Kulihat satu alisnya naik tinggi. Kenapa Lena tiba-tiba peduli dengan apa yang dilakukan Jano untukku? Bukannya dia yang selama ini getol ngeledekin aku, karena selalu manja sama Jano? 

"Trims, ya." Bibirku tersenyum manis ke Jano ketika dia duduk kembali di kursinya. Kulihat tangannya sudah memegang kaleng minuman dari Lena. 

"No prob," ucapnya sebelum meneguk minumannya. Dia kemudian membungkuk ke depan, mengamati tanganku yang bekerja. 

"Apa sih asyiknya nonton dia bikin beginian? Kita ngobrol di luar aja, yuk, lagian di sini gerah." Lena mendekati Jano, tangannya bergerak memegang lengan cowok itu. 

Aku kembali fokus ke pekerjaanku, tapi diam-diam telinga dan perhatianku tercurah ke mereka berdua. Tingkah Lena menurutku cukup aneh, nggak biasa. 

"Aku mau di sini dulu, Len. Mau lihat Tammy bikin bunga-bunga cantik ini. Dia jago banget." 

Hatiku tersenyum mendengar ucapan Jano. 

"Terserah, deh." Lena menarik lepas tangannya dari lengan Jano, sambil menghentakkan kakinya kakakku kemudian membalikkan badan dan berderab pergi. 

Kuhitung dalam hati dari satu sampai sepuluh sebelum kuangkat wajahku, menatap Jano dengan bingung.

"Kenapa dia?" tanyaku dengan heran. 

Wajah Jano tak menyiratkan emosi apapun. Tapi aku menangkap eksresinya tertutup. Nggak seperti biasanya jika sedang ngobrol berdua denganku. Hmm. Ada sesuatu yang lolos dari perhatianku kah selama ini? Sejak kapan Lena begitu perhatian dan akrab dengan Jano? 

"Entahlah," jawab Jano pendek sambil mengangkat bahu.

"Sejak kapan dia peduli padamu?" tanyaku kembali. Tanpa sadar bibirku mengucapkan apa yang ada di kepalaku. Mencoba mengorek informasi. 

"Aku nggak tahu, Tammy. Boleh aku nyobain?" Telunjuk Jano menuding ke bahan-bahan dan pisau di atas meja. 

Saat itu kupikir Jano beneran tertarik dengan apa yang kukerjakan, bukan menghindari pertanyaanku. 

"Serius kamu mau bikin ginian? Ini kerjaan cewek, lho, butuh sabar pun," godaku sambil mengangsurkan pisau padanya. 

"Ini termasuk artwork. Sama seperti kerjaan seni lainnya. As for your information, karya seni tidak mengenal dan tidak membedakan gender, Tammy. Lagian laki-laki sekarang sudah tak malu-malu lagi menginvasi area karir yang dulunya dihandle perempuan." Jaho mengangkat bahunya. "Kalian para cewek mestinya waspada jangan sampai semua lahan kerjaan kalian diserobot habis oleh para lelaki." 

"You're really smartass, you know that, don't you?" ucapku sambil mencipratkan air dari baskom ke Jano, yang langsung mendapatkan protes. "So, kamu sedang mempertimbangkan untuk jadi salah satu dari mereka? Mau jadi designers? Hair dressers? MUA? Or... Chef?!" ledekku sambil mengangkat alisku sebelah. 

Kepala Jano menggeleng. "Sayang aku nggak berbakat di semua bidang yang kamu sebutkan barusan." Ditatapnya aku dengan sedih. 

"Nanny, might be? Kamu jago menemaniku dari sejak aku masih balita, Jano. Semua orang tahu itu." 

Jano tertawa mendengar usulku. "Omong-omong tentang chef, kudengar kamu udah jago masak?" 

"Ah, nggak juga. Kalau lagi mood aja aku nyobain resep yang menarik, dan sepertinya masakanku layak dikonsumsi," kataku sambil nyengir. 

"Kok aku nggak pernah kamu tawari buat cicip? Lupa sama kakakmu ini, eh?" 

Kuputar mataku. "Plis, deh, aku baru beberapa kali nyoba. Belum pantas untuk dipamerin." 

"Kapan mau masak lagi?" 

"Hmm. Tergantung moodku." Kuleletkan lidah. 

"Oke. Kalau moodmu lagi bagus, bilang ya. Nanti kubantuin belanja kek, atau nyuci peralatan kotornya kek. Asal dengan satu syarat: aku jadi tukang cicipnya. Setuju?" 

"Deal." 

Malamnya jam setengah tujuh keluarga dari Mama dan Papa mulai berdatangan. Keluarga Mama semuanya tinggal di Jakarta dan sekitarnya, sedangkan keluarga dari Papa menyebar ke penjuru Indonesia. Bahkan ada keponakan Papa yang sedang kuliah di luar negeri. 

Dua kakak lelaki dan satu adik perempuan Mama datang bersama anak-anak mereka. Para sepupuku. Keluarga Papa hanya diwakili satu kakak perempuannya, Tante Merry, yang datang berdua dengan suaminya, Om Tanu. Anak tunggal mereka, Dennis, sedang tugas belajar di Amerika, katanya sedang mengambil gelar masternya. 

Dua kakak lelaki Mama, yang tertua adalah Om Felix, istrinya Tante Olga, mereka punya dua anak cewek Paula dan Nathalie. Adik Om Felix, Om Harry bersama istrinya Tante Lydia, mereka juga punya dua anak: Nathan [cowok] dan Abbi [cewek]. Adik perempuan Mama, Tante Amelie dan Om Ben punya anak kembar, Mario [cowok] dan Marion [cewek]. Mario ini sewaktu kecil badung sekali, suka gangguin aku. Karenanya aku nggak terlalu suka dekat-dekat dengannya. Anehnya, Marion, kembarannya sangat berbanding terbalik, dia cewek yang kalem dan manis. Kami berdua cocok sebetulnya, sayang kami jarang ketemu di luar acara-acara keluarga seperti sekarang. Masing-masing kami sibuk dengan dunia kami masing-masing. Kadang-kadang saja kami saling komen di akun sosmed kami, atau chatting di WA jika ada yang perlu diinfokan atau nanya sesuatu. 

Dari semua sepupuku, Mario dan Marion yang seumuran denganku. Selebihnya mereka ada di atasku, ada yang seumuran dengan tiga kakakku. Dennis yang sedang kuliah di luar, paling tua, dia udah kerja beberapa tahun sebelum dikirim kantornya untuk ambil master. 

••• 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • I Need To Be Next To You   Bab 23

    "Oh dear, you have such a unique and exotic face. Your skin just... so amazing. You know, we’d give our lives to have skin like yours!” Aku tersipu mendengar komentar yang ditujukan padaku itu. Meski kalimat itu keluar dari bibir laki-laki bukan penyuka perempuan seperti Guy, yang saat ini berdiri di belakangku dan sibuk ngomong padaku. Orang bule terkadang suka hiperbola memang. Dia nggak tahu saja kalau kulit cokelat banyak sekali dijumpai di Indonesia. Dan warna kulit ini mewakili kelas orang-orang susah. Ha. Ha. Ha. Di Indonesia semakin makmur hidup seseorang makin terlihat dari kulitnya yang putih. Kondisi yang berbanding terbalik dengan orang Barat. “Tulang pipimu cukup tinggi. Wajahmu oval manis.” Ah. Aku speechless. Pujian dari ahli make up bule Perancis ini jelas nyaris membuatku pingsan. Kudengar dia sudah mendandani ribuan model dunia, mataku melirik sekilas foto Scarlet Johansson, Jessica Alba, Salma Hayek, Monica Belucci, dan lain sebagainya yang menempel di dinding stu

  • I Need To Be Next To You   Bab 22

    [2008]Aku masih ingat ketika itu aku belum genap enam tahun. Hari itu semua orang pergi, tinggallah aku sendiri di rumah, bersama Mbok Nah, yang biasa kupanggil Bibi. Aku hampir mati kesepian. Pengin rasanya nangis, tapi siapa juga yang peduli? Toh nggak ada yang tahu kesengsaraanku? “Tammy! Kamu di atas?"Tiba-tiba ada kerikil kecil di lempar ke rumah pohonku, menimbulkan suara ‘tik’ dan menggelinding di lantai kayu. Aku berlari ke pintu dan melongok ke bawah. Jano. “Lagi ngapain?” Aku menggeleng lesu. Kulambaikan komik di tanganku. “Mau ikut?” Sepasang mataku langsung berbinar. Tanpa disuruh dua kali aku langsung berlari turun. “Pada pergi ke mana yang lain?” tanyanya menunjuk rumahku yang sepi.Begitu kakiku menginjak ke tanah, aku langsung menyerbu Jano dan menggandeng tangannya. “Mama dan Papa pergi, katanya ada acara di kantor Papa. Bari pergi sama temannya. Rachel dan Alena entah ke mana.” “Kasihan. Kamu cuma sama Bibik, ya?” Kepalaku mengangguk-angguk. “Kenapa ngga

  • I Need To Be Next To You   Bab 21

    [NOW]Aku nggak terbiasa dandan berat di luar acara syuting, pemotretan, atau sedang ada jadwal promosi dengan Dazzling. Meski untuk datang ke acara formal sekalipun, I will keep my appearance seminim mungkin dalam mengaplikasikan make-up. Ke acara anniversary pernikahan orangtua Jano pun aku dandan ala kadarnya, hanya memakai pelembab dan loose powder yang kusapukan ke wajahku dengan kuas besar agar bedak yang nempel di kulit wajahku tak terlalu tebal. Bibir kuberi lipstik warna pink nude tipis dengan lipgloss banyak-banyak. Sedikit blush-on. Kuhindari pensil alis dan maskara, dua benda itu termasuk riasan berat buatku. Cukup kuolesi bulumataku yang udah kujepit dengan lotion ringan yang kugosokkan di ujung-ujung jariku. Semua trik itu kuperoleh dari MUA yang pernah mendandaniku. Hasilnya? Aku terlihat cantik, segar, alami, tanpa terlihat bermake-up tebal dan norak. Untuk rambutku, aku tadi sekalian keramas saat mandi, dalam kondisi masih setengah basah kuolesi lotion khusus untuk

  • I Need To Be Next To You   Bab 20

    [NOW]Aku akhirnya membuat dua buah Lemon Meringue Cheesecake untuk hadiah ultah pernikahan Tante Elly dan Om Franky. Tante bilang sih cuma pesta kecil, untuk kalangan keluarga dan teman dekat saja. Tapi berdasarkan pengalaman, kecil menurut perempuan itu bisa bermakna jumlah tamunya puluhan. Mungkin sekitar tiga atau empat puluh orang. Karenanya aku bikin dua loyang besar, untuk berjaga-jaga, jika tebakanku benar, karena satu loyang saja pasti tidak cukup. Dulu, begitu aku terima pembayaran kontrak dari Dazzling, benda pertama yang kubeli adalah oven besar dengan empat tungku di atasnya. Aku nggak main-main saat kubilang aku ingin memperdalam skill memasakku dan punya peralatan masak yang mumpuni untuk memuaskan passionku di dunia culinary. Benda ke dua adalah kulkas side by side besar yang dilengkapi dengan dispenser ice cube di pintunya. Jika mengandalkan kulkas lama Mama, tentu saja aku nggak bisa menyimpan cheesecake yang sudah kubuat kemarin. Jadi, hari ini aku tinggal finishi

  • I Need To Be Next To You   Bab 19

    [NOW]Tante Elly dan Om Franky akan mengadakan pesta kecil di rumah untuk merayakan anniversary pernikahan mereka yang ke tiga puluh lima. Tiga puluh lima tahun menjalin hubungan dengan seseorang dalam pernikahan yang harmonis dan masih utuh, menurutku satu hal yang manis dan romantis. Karenanya aku ingin memberi mereka hadiah. Tapi apa? "Ma, Tante Elly sukanya apa, ya?" Mama yang tengah sibuk menyiangi sayuran bareng Mbok Nah di dapur menoleh sebentar. "Banyak. Bisa kamu lihat di rumahnya, apa saja barang-barang yang ada di sana." Bibirku manyun. Mama, sih, asal jawab."Kalau aku ke sana sekarang, bisa ketahuan kalau lagi cari ide buat kasih kado buatnya. Acaranya tinggal dua hari lagi." Kudekati Mama dan memeluknya dari belakang. Rayuku, "Kasih bocoran dong, Mama sayang."Mama tertawa kecil. "Tanya Jano kalau nggak mau ketahuan." "Ah, Jano paling juga nyaranin hal yang sama. Pasti aku disuruh nanya ke Mamanya langsung. Cowok gitu loh. Mana mau mikir ribet." "Kenapa kamu nggak

  • I Need To Be Next To You   Bab 18

    [2020]Aku sama sekali nggak bohong waktu kubilang ke Yossi dan Ella tentang Jano yang kapok mengajak ceweknya ke rumah. Aku tahunya dari kakakku, Bari, yang bilang padaku waktu itu. Masih kuingat saat itu, iklan TV pertamaku bersama Dazzling sudah tayang. Hasilnya bagus banget. Very exclusive. Looks expensive. Seperti iklan kosmetik produksi luar. Semua pihak hepi, klien, agensi, PH, dan... tentunya aku. Aku, Tamara Isabella, pendatang baru yang belum lama terjun di dunia model iklan, tiba-tiba muncul jadi bintang utama di salah satu produk kecantikan dari Perancis. Meski TV commercial ini hanya ditayangkan untuk region Asia Tenggara, tapi ini satu kesempatan yang sangat langka terjadi. Siapa Tamara Isabella? Di dunia entertainment tak ada yang tahu atau kenal aku. Para selebriti top kita tak ada yang pernah bertemu denganku. Tapi semesta punya 'konspirasi' yang cukup absurd, aneh, dalam mempertemukanku dengan Ollie dan Adriano. Dua lelaki itu yang punya peran penting dalam mengub

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status