Share

Chapter 7

Penulis: Tianife
last update Terakhir Diperbarui: 2022-01-20 18:21:08

Nadya berjalan cepat ke arah Mita ketika melihat Mita bersama teman teman yang lain sedang duduk dan bersenda gurau mengelilingi meja panjang yang sudah tersedia makanan dan minuman dari cafe orang tua Mita. Emosi masih berkelabat di matanya yang semakin coklat. Mita mendongak melihat Nadya ketika sudah mendekat.

“Nad! duduk sini.” Seru Mita sambil menunjuk kursi kosong di sampingnya. Tiba tiba ia mengerutkan keningnya ketika melihat sorot kedua mata Nadya yang memancar kemarahan.

“Ada apa?” Tanya Mita penasaran ketika Nadya sudah duduk di sampingnya.

“Aku bertemu Dimas di tempat parkir.” Jawab Nadya.

“Apa!” Mita berseru tidak percaya.

“Tadi memang aku lihat Dimas keluar cafe, tidak sangka kamu malah bertemu Dimas.” Kata Riana Wulandari teman Nadya yang memilih menjadi novelis sama seperti Nadya. Riana merasa kasihan melihat temannya pasti tidak mudah bertemu dengan mantan yang pernah hinggap dihati temannya itu.

“Apa yang dikatakan Dimas?” Tanya Mita ingin tahu.

“Dimas masih menghinaku.” Jawab Nadya, kedua matanya menyorot tajam mengingat ucapan Dimas tadi di tempat parkir.

“Jahat sekali Dimas, mentang mentang punya wajah tampan.” Celetuk Riana, ia tidak menyangka Dimas sejahat itu padahal Nadya dan Dimas berteman.

“Kalau laki laki yang sombong seperti itu, merasa dirinya lebih baik.” Kata Mita.

Riana mengangguk menyetujui ucapan Mita, ia memegang tangan Nadya yang dingin karena menahan amarah. Riana dan Mita tahu Dimas orangnya agak sombong apalagi sekarang Dimas terkenal dengan sebutan komikus cerdik

Nadya mau angkat bicara lagi namun tiba tiba Dimas datang menghampiri dengan kaki terpincang pincang sehingga menghentikan Nadya. Semua mata yang hadir di acara reunian itu tercengang melihat Dimas terpincang pincang padahal tadi mereka melihat Dimas masih baik baik saja.

“Dimas kamu kenapa?” Tanya Bagas Aliando, teman Nadya yang juga memilih menjadi novelis.

“Aku terpeleset.” Jawab Dimas berbohong.

“Terpeleset apa tersandung?” Tanya Rayan Lakshan bercanda, teman Nadya yang masih menjadi penulis komik.

“Apa terinjak.” Tambah Kaira Dafhina sambil tertawa.

“Terinjak semut.” Sahut Dimas ikut tertawa, ia sengaja berkata seperti itu hanya untuk mengejek Nadya.

“Kaki memang tidak punya mata.” Kata April Falguni, seringai menghiasi bibirnya.

“Kalau punya mata seyem dong.” Timpal Damian Lemuel menyengir.

“Uuuuu spookyyyyy.” Dan Kevin Kalingga seraya menggerakkan kedua tangannya keatas untuk menakut nakuti.

Begitu juga dengan Kaira, April, Damian dan Kevin masih menjadi penulis komik.

Semua tertawa mendengar ocehan mereka sendiri terkecuali Nadya. Nadya tidak percaya Dimas berbohong, namun ia tahu kenapa Dimas berbohong karena keegoisannya sebagai laki laki tidak mau reputasinya turun. Tentu saja dihajar oleh seorang perempuan akan menurunkan reputasi Dimas sebagai seorang laki laki cerdik. Pikir Nadya kesal. Nadya tidak tahan ia kesal dengan Dimas seolah semua lelucon baginya termasuk injakannya yang keras. Nadya tiba tiba berdiri dari kursi sehingga semua temannya langsung terdiam dan memandang ke arahnya.

“Aku ke toilet dulu.” Kata Nadya seraya keluar dari kursi sebelum teman temannya menanyakan sikapnya yang tiba tiba. Nadya juga tidak melirik ke arah Mita dan Riana karena kedua temannya itu pasti sudah tahu kenapa ia seperti itu. Nadya melengos pergi secepatnya sebelum emosinya keluar lagi dan marah marah kepada Dimas di depan teman temannya tentu itu sangat memalukan.

Sebenarnya tidak ada yang tahu hubungan Nadya dan Dimas kecuali Mita, Riana dan Bagas. Hanya mereka yang tahu karena hampir setiap hari mereka berdiskusi soal novel yang masing masing mereka garap melalui hp atau ketika mereka janjian untuk bertemu. Itu pun mereka tahu setelah mereka menjadi novelis. Mereka tidak percaya kalau ternyata ia dan Dimas pacaran tanpa ketahuan oleh mereka ketika mereka masih menjadi penulis komik, dan pada saat tadi mereka membicarakan Dimas, mereka duduk berdekatan, Nadya duduk di antara Mita dan Riana.

Nadya berjalan terburu buru hampir saja berlari, ia harus secepatnya ke toilet dan membasuh wajahnya agar tenang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • I Stuck On You   Chapter 122

    Setelah istrinya meninggalkan ruangan, Mr. Alfred membuka suara."Miss Nadya, saya mohon izin untuk membawa anak saya dulu sebentar." "Silakan," sahut Nadya.Mr. Alfred berdiri seraya menatap Adel untuk mengajak Adel ikut bersamanya. Ia tidak mau memberitahu berita yang pasti akan membuat anaknya senang di depan calon istrinya Mr. Ethan. Ia tidak enak pada calon istrinya Mr. Ethan karena tidak tahu apa-apa, jadi ia mengajak anaknya ke ruang kantornya.Adel berdiri mengikuti ayahnya. Entah mengapa kakinya tidak terasa lemas lagi dan seolah mendapatkan kekuatan ia berjalan mengikuti ayahnya. Ia tahu kenapa tubuhnya serasa ada kekuatan karena beban kecemasan dan ketakutan telah terangkat dari dirinya apalagi sekarang Mita menyetujui huhungannya dengan Panji. Hanya satu lagi yang harus ia lakukan yaitu meminta maaf pada Ethan. Semoga kali ini Tuhan menolongnya lagi."Katakan padaku darimana kamu belajar sopan santun?" tanya Mita ingin tahu ketika di ruangan itu hanya ada ia dan Nadya, na

  • I Stuck On You   Chapter 121

    Mita terkejut, ia tidak menyangka Adel akan berkata seperti itu, kata-kata yang ia inginkan dari Adel, namun itu beberapa jam yang lalu, tidak setelah ia mengetahui ketulusan hati Adel. Adel sungguh berubah."Apa yang kamu katakan!" Seru Mita, ia bergerak sehingga berdiri tepat di depan Adel.Adel melirik ke arah Mita namun ia sudah tidak ada tenaga untuk mengulangi ucapannya, ia hanya terdiam dengan sayu membiarkan Mita membombardir dirinya dengan kata-kata kasar, ia hanya pasrah.Mita melihat Adel begitu rapuh, dan itu karena perbuatannya. Mita berdecak dalam hati."Ok, sejam yang lalu aku sungguh membencimu, aku ingin kamu merasakan apa yang Nadya rasakan, aku juga tidak mau punya Kakak ipar seperti dirimu, namun aku bukan orang jahat." Mita berhenti melihat kedua bola mata Adel membesar ketika mendengar Kakak ipar dari ucapannya. Mita lalu duduk di samping Adel seraya meraih kedua tangan Adel yang terasa dingin, ia tahu apa yang dipikirkan Adel."Itu benar, aku belum menerimamu se

  • I Stuck On You   Chapter 120

    Adel terjatuh di atas lantai rumahnya. Pandangannya tidak fokus. Baik Mita maupun Nadya terkejut. Nadya segera memegang pundak Adel. Namun Mita hanya terdiam, ia tidak percaya Adel begitu shock mendengar ucapannya. Kali ini ia menyadari sesuatu, namun sikap keras kepalanya berusaha tidak menerima perasaan yang tiba tiba muncul. Air mata turun ke pipi Adel. Apakah semua orang sudah tidak percaya padanya. Ayah ibunya, dan sekarang Mita. Apa begitu jahatnya ia selama ini. Sungguh ia hanya ingin bahagia. Ia memang salah dengan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan sehingga terkadang ia tidak memikirkan perasaan orang lain. "Mita, aku tidak pantas untuk Panji." Adel menghapus air matanya seraya berpaling ketika pelayannya datang membawa minuman dan makanan untuk Mita dan Nadya, namun ia masih duduk di lantai. Sungguh lututnya terasa lemas, ia tidak mampu berdiri. Pelayannya sekilas melirik Adel sebelum meletakkan minuman dan makanan itu di atas meja, tampak kelihat

  • I Stuck On You   Chapter 119

    Mita menghentikan mobilnya ketika mobil Panji masuk ke sebuah gerbang tinggi, tampak terlihat rumah Adel yang besar dan mewah. Ada beberapa pohon di depannya. Mita dan Nadya menunggu Panji keluar. Entah sampai jam berapa Panji di rumah Adel. Mita dan Nadya tidak mengobrol sepatah kata pun, bahkan tatapan Mita tidak berkedip melihat ke arah gerbang rumah Adel. Namun Nadya berusaha mengajak Mita untuk mengobrol, dari pada hanya berdiam diri sambil mengawasi pagar rumah Adel. Mita akhirnya mau mengobrol, ia terlihat santai. Mereka menertawakan perut mereka yang bersamaan berbunyi keroncongan. Saat keluar tadi mereka belum sarapan bahkan mengunyah sebuah makanan saja tidak. Hampir satu jam mereka mengobrol, tiba tiba pagar Adel terbuka, mobil Panji keluar dengan mulus dan menuju arah yang tadi dilaluinya sehingga melewati mobil yang dinaiki Mita dan Nadya. Kedua mata Mita langsung sigap, ia segera menghidupkan mobil dan dengan cepat menuju pagar yang masih terbuka itu. Mita berniat untuk

  • I Stuck On You   Chapter 118

    Mita berpacu dengan kecepatan tinggi, ia melewati gerbang tinggi lalu belok dengan mulus ke arah jalan tanpa menghentikan kecepatannya. Nadya berpaling ke belakang. Gerbang tinggi rumah Ethan menutup secara otomatis. Dalam hati ia tahu ia mengingkari janjinya untuk kembali sebelum pelayan rumah Ethan datang ke kamarnya. Nadya berpaling ke arah Mita. Mita belum mengatakan sepatah katapun, ia tidak sabar ingin tahu apa yang terjadi."Apakah Ethan tahu?" tanya Nadya mengabaikan ucapan Mita tadi."Tidak," jawab Mita singkat, pandangannya tetap lurus ke depan. Dari kejauhan Mita melihat mobil yang dikendarai Kakaknya, ia segera mengurangi kecepatannya."Tapi Ethan tahu kemana Kakakku pergi."Nadya tampak terkejut, ia penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Namun sebelum ia bertanya, Mita lebih dulu bertanya padanya."Apa yang kamu lakukan di luar pagi pagi, Nad?" Nadya tidak langsung menjawab, ia tahu Mita pasti menanyakan soal itu, namun ia akan terus terang. Nadya berpaling ke arah jalan

  • I Stuck On You   Chapter 117

    Nadya terbangun jam 5 pagi, tenggorokkannya terasa kering. Ia terbatuk seraya membuka bedcover dan melangkah ke arah sofa. Ia duduk di atas sofa lalu menuangkan air mineral ke dalam gelas berkaki, bekas tadi malam ia minum bersama Ethan. Air mineral itu sangat segar melewati tenggorokkannya. Nadya meneguk air itu hingga habis, kedua matanya melirik ke arah kaca lebar yang menuju balkon. Kaca itu tidak ditutup gorden karena terbuat dari kaca riben hingga suasana malam tampak terlihat jelas dari dalam. Ethan yang memberitahu bahwa semua kaca di sini tidak memakai gorden ketika Nadya akan menutup jendela. Jam segini di Brisbane masih gelap, sama seperti di Indonesia. Waktu di Brisbane sama seperti waktu di Indonesia. Nadya tahu karena melihat jam ketika di pesawat, dan jam di samping tempat tidurnya. Nadya menaruh gelas itu kembali di atas meja, ia melihat gelas Ethan di sana. Di atas meja itu masih ada gelas Ethan dan gelasnya, juga teko bening berisi air yang sengaja ditaruh untuk keb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status