Ruangan luas berdominasi warna hitam dan merah api itu tampak sangat tenang. Di kursi kerja yang berada di ruang tengah itu diduduki oleh seorang pria berkisar awal kepala tiga. Di kirinya seorang wanita bergelayut manja di bahunya, menatap penuh goda. Sedang wanita disisi kanannya tengah menuangkan anggur untuk sang pria, sembari mendelik tak suka kepada temannya. Ia tersenyum, menyentuh pundak, memberikan anggur yang telah dituangkannya.
"Silahkan tuan." Ucapnya, penuh hormat. Pria bersurai hitam pekat dengan kulit putih pucat tersebut menerimanya. Iris sehitam jelaganya melirik sebentar, tersenyum, "terimakasih manis." Balasnya membuat wanita di sisi kanannya tersipu malu lalu ikut menggelayutkan kedua tangannya di lengan kekar sang pria.
Kedua wanita tersebut mencoba memijit tubuhnya. Membuatnya mendesah pelan, terpejam, menikmati pijatan yang sedikit membuatnya tenang.
"Tuangkan satu lagi." Pintanya. Membuat salah s
Ruang bawah tanah tempat para tetua berkumpul saat rapat dadakan selalu terasa seperti kuburan. Dingin, sunyi, dan penuh bisik yang tak terdengar telinga biasa. Lilin-lilin hitam menyala tanpa api, menari oleh kekuatan sihir gelap dari era sebelum manusia mengenal cahaya.Kenio duduk di antara mereka, menyandarkan punggung pada kursi batu yang terlalu dingin. Di depannya, Raja Vampir, Kendrick Bathory masih berdiri membelakangi mereka, menatap dinding batu yang dipenuhi simbol kuno.“Kalian semua merasakannya, bukan?” Kendrick bertanya dengan tenang lalu berbalik, menatap semua anggota yang hadir dengan mata perak tajamnya. “Langit semalam seperti mengingat sesuatu yang tak ingin dikenang.”Para Tetua Gelisah.“Tanda-tandanya terlalu jelas. Ini seperti malam ketika anak terkutuk itu dilahirkan!” seru salah satu dari mereka. Diikuti yang lain dengan ekspresi penuh kebencian di wajah tuanya.“Kita sudah memastikan kematiannya!”“Betul. Kita semua sudah melihat kematiannya secara langsun
Arion berjalan tenang meninggalkan istana Fhrax yang menjulang megah tersebut. Portal besar telah terbuka di depannya. Menyisakkan Brook dan tujuh iblis leluhur yang akan menjaga istana selama Arion pergi untuk menjalankan tugasnya mencari batu mulia Red Gloire ditemani oleh Seon atau Berkshire."Jaga istana milik keluarga ku dengan baik, sampai aku kembali." titahnya dengan nada tegas dan berwibawa."Tanpa diduga tubuh kelabang raksasa itu bersinar dan perlahan berubah menjadi tubuh seorang lelaki dewasa yang sangat tampan. Memiliki rambut dan mata berwarna merah terang dengan kulit kecoklatan yang menawan.Sosok asli salah satu hewan pendamping Arion. Kini hanya Seon yang belum menunjukkan sosok manusianya, tapi Arion bahkan sudah mengetahuinya.Brook dan 7 iblis kuno itu serentak bersimpuh di depan Arion."Percayakan pada kami, Yang Mulia ..., kami akan disini menjaga Istana Fhrax dan tanah Klan Demonia sampai anda kembali. Kami bersedia dihukum berat jika kami atau salah satu dari
Langit klan yang telah mati itu kini berwarna semerah darah, begitupun seluruh langit klan imortal. Hawa panas penuh amarah dan dendam menguasai atmosfer. Para makhluk lainnya bersembunyi di dalam rumah. Saling berpelukan erat dalam ketakutan. Bertanya-tanya apa yang sedang terjadi pada langit diatas mereka. Angin bertiup sangat kencang, sesekali petir hitam menyambar apapun di bawahnya, membuat api berkobar nyaris di semua tempat. Begitupun tanah yang mereka pijak berguncang keras. Menciptakan trauma baru bagi mereka, khususnya wanita dan anak kecil.Para raja dan semua prajurit berusaha sebaik mungkin membuat barier pertahanan meski beberapa bagian dari istana mereka pun rusak hingga retak dan roboh. Api yang membumbung tinggi membuat mereka kian kalut atas situasi yang terjadi. Begitupun Kenio yang kini didampingi seluruh orang-orang kepercayaannya.Sedangkan di bawah langit Demonia remaja lelaki itu tengah menatap tajam rembulan. Kedua manik abu pekatnya berubah menjadi warna emas
Arion tersentak, manik abu pekat dan rambut sehitam arangnya telah kembali. Ia refleks melihat bulan semerah darah di atas sana, tiba-tiba ia menjerit kencang, cahaya merah bulan itu menyorot ke tubuhnya. Arion merasakan panas ditubuhnya berkali-kali meningkat. Jantungnya seolah akan meledak, dan tubuhnya seakan ditusuk ribuan belati tajam.Arion melihat ke sekeliling, Seon menghilang entah kemana. Naga itu menghilang bersamaan dengan Devian. Arion berlari ke arah lain, mencari tempat berlindung dari cahaya bulan merah tersebut. Namun sia-sia, semuanya telah rata. Dinding gerbang yang tersisa pun tak mampu menyembunyikan tubuhnya dari sinar rembulan.Arion lemas, kepalanya amat sakit dan pusing. Ia mengernyit dalam, melihat berbagai bayangan di sekelilingnya layaknya gambar tiga dimensi. Berbagai suara mengerikan menusuk indera pengdengarannya.Suara gesekan dan tebasan pedang dimana-mana, jeritan pilu, tangisan, kesedihan, ketakutan. Ia juga bisa melihat semua ekspresi itu dengan sa
Cengkeraman tangan Arion di surai Seon semakin kencang saja saat semua perasaan aneh yang menyerang hatinya. Perasaan takut, sedih, pasrah, dendam, benci. Semua perasaan itu seolah ingin menenggelamkan jiwanya ke palung neraka."Ayah ..., Ibu ...."Nafas Arion tercekat, setelah perjalanan yang cukup lama akhirnya ia bisa melihat suatu gerbang besar dan tinggi di depan sana. Gerbang itu amat kokoh meski hampir semua bagiannya telah retak dan hancur.Tanpa sadar air mata mengalir di kedua pipinya. Gerbang itu memancarkan aura gelap yang nyata. Membuat siapapun yang ada di dekatnya akan terperosok ke dalam jurang kebencian jika tidak memiliki tekad yang kuat.Seon yang merasakan perasaan sedih sekaligus takut dari tuannya hanya ikut menatap sedih ke depan sana. Namun dia tidak tahu harus melakukan apa. Ia mengerti apa yang dirasakan Arion. Dengan tekad kuat, tubuh besar dan panjangnya meliuk jauh lebih cepat dari sebelumnya. Tinggal beberapa meter lagi mereka akan sampai di depan gerbang
Dingin, memprihatinkan dan horor, tiga kata yang paling tepat untuk menggambarkan situasi Klan Demonia saat ini.Tak ada satupun tanaman yang hidup dikarenakan kondisi tanah yang amat kering dan gersang, hanya pohon-pohon yang telah mati puluhan tahun lalu, begitupun udaranya yang begitu panas mencekam. Hampir seluruh wilayah Demonia telah ditutupi oleh asap dan kabut hitam.Langit dan awannya berwarna ungu gelap, sedangkan tanah beserta gunung-gunungnya berwarna hitam dan merah, berasal dari lahar yang amat panas. Sudah dipastikan tak ada satupun makhluk yang dapat hidup di wilayah ini. Ditambah lagi atmosfer nya yang terlalu suram dan dingin.Arion, entah sosok itu memang dirinya atau bukan, yang jelas dia memiliki aura dominasi yang sangat kuat. Bahkan jauh diatas Devian. Ia menatap tajam sekelilingnya, begitu banyak sepasang mata merah yang menatapnya, menyala dalam kegelapan. Semua mata itu serentak terpejam, menghormatinya. Beberapa dari mereka nampak sangat ketakutan."Tak akan