Share

BAB 6

Author: Rhiana
last update publish date: 2026-07-20 18:57:49

Marisa sempat melihat dari ponselnya jika Arjuna sudah bisa berjalan menaiki tangga. Dia yang terkejut dan ketakutan melemparkan ponselnya begitu saja.

“Ma, kenapa?”

“Di-dia, di-dia bi-bi-bisa jalan!” sahut Marisa dengan tergagap.

“Siapa yang bisa jalan, ma?”

“Ar-Arjuna, pa. Arjuna sudah bisa jalan!”

Dahi Joni dan anaknya Dimas mengernyit. Hampir secara bersamaan, mereka mengambil ponsel milik Marisa. Namun sayangnya, layar ponsel tersebut sudah berubah menjadi gelap. Bahkan saat mereka mencoba menghidupkannya, tetap saja tidak bisa. Ponsel milik Marisa mati total.

“Ma, kenapa mama lempar sih? Kan ponselnya jadinya rusak.”

“Rusak? Tapi mama lemparnya pelan kok, Dim. Mana mungkin rusak?”

“Ini buktinya!” tunjuk Dimas pada ponsel Marisa yang tidak bisa menyala lagi.

Melihat hal itu Marisa menggelengkan kepalanya seraya menatap sang anak dengan wajah penuh rasa bersalah. “Maafkan mama, Dim. Mama gak sengaja.”

“Sudah, sudah! Lupakan saja masalah ponsel itu. Sekarang biarkan saja Arjuna menempati kamar itu. Dan untuk barang-barang kamu, nanti papa belikan yang baru. Bahkan papa akan belikan laptop dengan spek tertinggi dan harga termahal,” ujar Joni menepuk pundak anaknya. “Kita harus mengalah dan mundur sebentar, demi bisa maju dan menguasai semua harta peninggalan orangtuanya Arjuna!”

Dimas dan Marisa menganggukkan kepalanya. Dia setuju dengan ucapan sang kepala rumah tangga. Tidak apa-apa Arjuna merasa menang. Yang penting sebentar lagi mereka akan menguasai semua harta kekayaan peninggalan orangtua Arjuna.

“Oh ya, ma. Nanti tambah dosis untuk Arjuna. Kita harus pastikan dia benar-benar tidak bisa jalan sampai kapan pun. Kita harus rusak syaraf dan otot kakinya. Jika perlu kita harus buat dia lumpuh, benar-benar lumpuh. Untuk bangun dan makan saja, dia tidak bisa!” tambah Joni.

“Iya, mas. Tenang aja, aku akan tambahkan dosisnya 2x lipat!” jawab Marisa, menatap ke atas dimana Arjuna tengah berada.

Sementara itu, di kamar yang dulu pernah dia tempapti dari kecil hingga duduk di bangku kelas 2 SMP. Arjuna yang sekarang sudah menjadi Arjuno menatap sinis. Dia yang menyukai dunia gelap, sama sekali tidak menyukai kamar seperti ini. Cat berwarna biru, sama sekali bukan cat kamar kesukaannya. Dia lebih suka warna gelap.

“Seperti kamar bocah! Aish, jadi keingat kamar gue dulu!” gumam Arjuno. “Gue harus ganti cat kamar ini dan ganti seluruh barang-barang ini. Eh, tapi gue gak ada duit. Jadi, gimana ya?”

Arjuno kembali mengintari kamar yang akan menjadi miliknya. “Bocah itu! Pasti bocah itu ada duit! Kagak mungkin kagak ada!”

Arjuno kembali bergerak memeriksa setiap sisi, sudut ruangan itu. Berharap ada uang yang terselip diantara barang-barang yang tidak berguna itu. Dan benar saja, ketika Arjuno mengangkat kasur, dia menemukan uang merah yang di susun rapi oleh Dimas. Bak menemukan harta karun yang sangat berharga, dia pun tidak bisa mengontrol emosinya. Dia berteriak kesenangan sambil mengucapkan rasa syukur yang teramat senang.

“Arjuna…!!! Keluar lo! Ngapain lo teriak?” seru Dimas yang merasa curiga dengan saudara sepupunya.

Arjuno membuka pintu lalu melongokkan kepalanya keluar. Dia menatap Dimas dengan tatapan penuh terimakasih.

“Thank’s ya, Dim! Uang lo gue pake dulu!”

Mata Dimas melotot sempurna. Dia bergerak hendak masuk ke kamar, namun kalah cepat dengan Arjuno yang sudah menutup pintu itu.

“Arjunaaaa…!!! Sialan lo! Kembalikan duit gue!”

“Ogah! Ini duit juga berasal dari  bokap lo. Dan bokap lo dapat duit ini dari perusahaan bokap gue. Jadi, otomatis duit ini juga milik gue. Gue berhak 100% atas duit ini, Dim!” sahut Arjuno dengan berteriak juga.

Jika dihitung-hitung, duit yang didapat oleh Arjuno cukup banyak. Totalnya 20 juta, lebih dari cukup untuk mengecat dan membeli sedikit barang untuk mengisi kamar ini.

“Bocah ini bodoh atau bego ya? Masa duit sebanyak ini disimpan di bawah kasur. Kagak takut dimakan kutu atau rayap apa? Atau jangan-jangan duit ini kagak halal. Ini hasil judol atau ngepet? Kalau hasil judol, gue maklumi. Lah kalau ngepet atau persugihan, gue harus gimana? Gue takut jadi tumbal! Kagak lucu dong, gue mati dua kali!”

Arjuno melemparkan uang sebanyak 20 juta itu keatas kasur. Dia bergerak gelisah, takut apa yang dia pikirkan itu terjadi pada dirinya. Dia benar-benar mati dua kali. Kematian pertamanya saja masih misteri. Kalau harus mati untuk kedua kalinya, dia tidak yakin akan bisa hidup lagi.

“Ayoo dong, bocah lemah dan lumpuh! Mana ingatan lo! Berbagi lah lebih banyak tentang sepupu lo ini sama gue. Apakah dia ikut persugihan atau kagak?”

Claaap…

Bak sebuah saklar yang baru dinyalakan, ingatan Arjuna tentang Dimas dan keluarganya hadir kembali di kepala Arjuna. Arjuno yang melihat itu, hanya bisa melihat dan memperhatikan secara seksama.

Senyum di bibir Arjuno melebar. “Thank’s bocah! Tenang, gue akan balas semuanya. Lo tenang-tenang di alam sana ya? Dan semoga lo ketemu sama nyokap dan bokap lo!” ucap Arjuno setelah mendapatkan ingatan Arjuna.

Tidak seperti di film atau novel-novel yang pernah diceritakan mantannya mengenai kehidupan kedua atau transmigrasi jiwa. Dirinya sama sekali tidak merasakan kesakitan. Ingatan itu muncul begitu saja, layaknya sebuah film yang dia tonton.

“Oke! Saatnya istirahat. Besok kita baru renovasi kamar ini!”

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Suasana duka dan sedih masih terasa di sebuah mewah nan megah. Sepasang suami istri yang harus kembali dari luar negeri karena mendengar anak satu-satunya meninggal, tidak bisa untuk tidak bersedih. Mereka merasa hancur karena kehilangan sang anak laki-lakinya. Padahal selama ini, mereka berkerja keras demi anaknya. Untuk anaknya agar dapat kehidupan yang nyaman dan pendidikan yang tinggi.

Tetapi yang terjadi, malah di luar dari semua rencana dan perkiraan merekaa. Anak mereka yang Arjuno Dergantara, seorang dokter muda yang sebentar lagi akan mengambil spesialis bedah. Malah di temukan meninggal di kamar mandi, dalam keadaan duduk diatas kloset. Sebuah kematian yang sangat aneh dan misterius.

“Pa, ma! Sudah, jangan bersedih lagi. Bang Juno tidak bisa tenang kalau lihat papa dan mama sedih,” ujar Arga.

Arga adalah anak angkat dari orangtua Arjuno. Yang secara otomatis, dia adalah adek angkat Arjuno. Selama ini dia menjadi bayang-bayang Arjuno. Dia hidup seolah hanya untuk menjadi teman Arjuno saja.

“Mama, masih tidak nyangka jika abang kamu pergi secepat itu, Ga! Padahal kami sudah setuju dengan syaratnya agar dia mau melanjutkan spesialis. Tetapi kenapa kayak gini?”

“Memang apa syaratnya yang diajukan abang, ma?”

“Dia ingin menjadi ketua sebuah organisasi. Organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan.”

Arga mencebik dalam hati mendengar jawaban sang mama. Organisasi bidang kemanusiaan, sungguh abangnya pintar sekali berbohong.

‘Bang, sorry! Posisi lo kini sudah milik gue sepenuhnya!’

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 25

    Arga kembali ke kamarnya dengan hati penuh rasa heran dan bingung. Di satu sisi dia merasa pemuda yang bernama Arjuna itu sangat mirip dengan kakak angkatnya. Akan tetapi di sisi lain, dia tetap percaya kalau pemuda itu hanya sekedar pemuda yang beruntung. Hanya karena memiliki nama yang sama dengan nama kakak angkatnya, cuma beda satu huruf diakhir namanya.“Tetapi kenapa dia tahu kalau aku jadi ketua muda? Apa mungkin dia cari tahu semuanya sebelum masuk ke keluarga Dergantara?” gumam Arga.“Tidak mungkin, gue yakin dia hanya bocah sombong yang kebetulan tahu tentang bang Juno. Iya, itu kemungkinan yang masuk akal! Dan bisa juga dia salah satu bawahan bang Juno yang memang mau menjatuhkan gue!”“Oke, Arga! Lo harus tenang. Lo bisa menyingkirkan tuh bocah dengan halus. Seperti lo singkirkan Arjuno!”Laki-laki muda terus berbicara sendiri tanpa henti. Merencanakan sesuatu kemudian menggantinya, begitu terus sampai waktu memasuki dini hari.“Sial, karena terlalu semangat gue sampai lup

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 24

    Bik Siti dan para pekerja lainnya tidak ada yang keluar dari kamar mereka. Sesuai dengan titah dari Yoza dan Arman, jika mendengar suara berisik dan kehebohan, jangan ada yang keluar dari kamar. Karena lehebohan itu terjadi karena sebagai bentuk pembalasan yang Arjuna lakukan untuk melindungi mereka semua.Awalnya, keluar kecil Joni tidur dengan nyenyak dan merasa penuh kemenangan karena Arjuna memilih untuk tidak pulang. Namun kenyenyakan tidur mereka tidak berlangsung lama. Rasa gatal dan sakit mulai terasa. Membuat mereka semua harus membuka matanya.Dimas adalah orang yang pertama yang merasakan hal itu. Ketika dia terbangung, dia melihat tubuhnya penuh dengan bentol yang berwarna merah. Rasanya jangan ditanya, pasti gatal bercampur sakit. Tidak tahan dengan apa yang dia rasakan, Dimas pun berteriak kencang. Dia memanggil orangtuanya, berharap orangtuanya bisa membantunya. Tanpa dia tahu kalau orangtua serta adeknya merasakan hal yang sama.Bahkan adeknya yang belum sepenuhnya sem

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 23

    Meja makan yang jarang terisi penuh, sekarang penuh dengan berbagai macam makanan. Sudah lama tidak terjadi, dan terakhir terjadi saat keluarga Dergantara mengangakat Arga sebagai seorang anak. Dan sekarang terjadi lagi, saat pengakatan Arjuna menjadi anak angkat keluarga Dergantara.“Ma, ada apa ini? Tumben mama masak banyak!” seru Arga terkejut melihat meja makan. Saat dia keluar dan bersantai di teras, meja makan itu masih kosong. Tetapi saat dia masuk sambil mengikuti pemuda yang mengaku sebagai Arjuna itu, meja makan sudah penuh.“Ini syukuran untuk nyambut adek kamu, Ga. Sekarang Arjuna akan menjadi adek kamu.”“Arjuna…”“Iya, Arjuna. Itu dia yang ada di dekat kamu!” tunjuk mama Mayang kearah Arjuna yang berdiri tidak jauh dari Arga. “Arjuna, mama boleh minta satu permintaan tidak? Mungkin terkesan berat dan akan menyinggung kamu. Tapi, boleh gak kalau mama panggil kamu dengan nama Arjuno?”“Mama!!!” seru papa Sanusi serta Arga secara bersamaan.Bibir Arjuna alias Arjuno tersen

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 22

    Kamar yang sekarang sudah kembali ditempati oleh Arjuno, telah tidak berbentuk lagi. Semuanya menjadi berantakan. Dan itu ulah satu orang, yaitu Dimas.Disaat Arjuno keluar, Yoza dan juga Arman keluar. Pemuda itu memaksa masuk ke dalam kamar itu. Bik Siti, mang Ujang serta para pekerja lain sudah mencaoba untuk menghentikannya. Namun usaha mereka gagal. Dimas mengeluarkan ancaman, yang langsung membuat mereka semua terdiam dan hanya bisa melihat perbuatan Dimas.“Ini akibatnya sudah berani mengganggu gue! Kalau kalian masih tetap ingin aman, DIAM! Jangan banyak bacot. Paham!!!”“Pa-paham, tuan.”“Bagus! Pergi dari sini, kerjakan apa yang menjadi tugas kalian! Ingat jalan sekali-kali kalian mengadu. Ancaman gue kagak main-main!” seru Dimas sambil menunjuk kearah para perkerja di rumahnya.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Bik Siti dan pekerja lainnya berbalik badan meninggalkan Dimas yang sedang menatap puas kamar Arjuno. Jika beberapa waktu lalu, Arjuno menghancurkan barang-barangny

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 21

    Arjuno tidak bisa menolak permintaan tante Mayang, yang sekarang tidak mau lagi di panggil tante. Dia sekarang mau dipanggil dengan sebutan mama. Seperti Arjuno dahulu menuju memanggilnya.Mama Mayang mengajaknya berjalan menuju taman yang berada tidak jauh dari restoran. Mama mayang tidak peduli dengan panas matahari yang menyengat kulitnya. Dia percaya, jika di taman itu akan terasa sejuk. Dan di sana juga dia bisa menilai pemuda yang bernama Arjuna.Ketika masuk arean taman, mama Mayang melakukan sesuatu yang tidak terduga. Sehingga tubuhnya tampak oleng, dan hendak jatuh ke tanah. Namun, Arjuno menahan tubuh mama Mayang. Hingga tidak sampai jatuh menyentuh tanah.“Mama bisa hati-hati gak sih? Kalau mama terluka, siapa yang disalahkan? Pasti aku, ma? Mama tahu kan, gimana papa protektifnya sama mama. Sedangkan sama aku aja, papa gak peduli. Dia hanya berikan aku uang, uang dan uang. Sedangkan sama mama, papa selalu perhatian!” seru Arjuno tanpa sadar.“Arjuno…” lirih mama Mayang.

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 20

    Yoza menepati janjinya kepada papanya Arjuno. Sekarang dia dan Arjuno yang berada di dalam raga Arjuno, tengah melesat menuju kantor papanya. Jantung pemuda itu berdetak cepat. Sudah sangat lama dia tidak melihat papanya secara langsung. Selama ini, dia berkomunikasi dengan papa serta mamanya melalui panggilan video. Namun, dia baru bisa melihat dan bertemu sang papa setelah dirinya meninggal atau setelah dirinya berada di tubuh orang lain.“Za, nyokap dan bokap gue sehat kan? Mereka baik-baik saja kan? Si bajingan tak tahu diri itu kagak nyakiti mereka kan? Waktu lo ke rumah gue, bajingan itu ada gak? Lo sempat masuk ke kamar gue gak? Lo sempat nanyain masalah pesan yang di kirim sama bajingan itu gak? Lo…”“Jun! Dari kemaren gue pulang, hingga sekarang. Lo udah ratusan kali nanya hal yang sama, dan gue udah jawab ratusan kali pula. Kagak usah lo tanya lagi lah! Sumpah, gue udah muak!” potong Yoza melirik kesal kearah sahabatnya.“Gue hanya mastikan doang, Za!”“Kalau hanya mastikan,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status