로그인Marisa sempat melihat dari ponselnya jika Arjuna sudah bisa berjalan menaiki tangga. Dia yang terkejut dan ketakutan melemparkan ponselnya begitu saja.
“Ma, kenapa?”
“Di-dia, di-dia bi-bi-bisa jalan!” sahut Marisa dengan tergagap.
“Siapa yang bisa jalan, ma?”
“Ar-Arjuna, pa. Arjuna sudah bisa jalan!”
Dahi Joni dan anaknya Dimas mengernyit. Hampir secara bersamaan, mereka mengambil ponsel milik Marisa. Namun sayangnya, layar ponsel tersebut sudah berubah menjadi gelap. Bahkan saat mereka mencoba menghidupkannya, tetap saja tidak bisa. Ponsel milik Marisa mati total.
“Ma, kenapa mama lempar sih? Kan ponselnya jadinya rusak.”
“Rusak? Tapi mama lemparnya pelan kok, Dim. Mana mungkin rusak?”
“Ini buktinya!” tunjuk Dimas pada ponsel Marisa yang tidak bisa menyala lagi.
Melihat hal itu Marisa menggelengkan kepalanya seraya menatap sang anak dengan wajah penuh rasa bersalah. “Maafkan mama, Dim. Mama gak sengaja.”
“Sudah, sudah! Lupakan saja masalah ponsel itu. Sekarang biarkan saja Arjuna menempati kamar itu. Dan untuk barang-barang kamu, nanti papa belikan yang baru. Bahkan papa akan belikan laptop dengan spek tertinggi dan harga termahal,” ujar Joni menepuk pundak anaknya. “Kita harus mengalah dan mundur sebentar, demi bisa maju dan menguasai semua harta peninggalan orangtuanya Arjuna!”
Dimas dan Marisa menganggukkan kepalanya. Dia setuju dengan ucapan sang kepala rumah tangga. Tidak apa-apa Arjuna merasa menang. Yang penting sebentar lagi mereka akan menguasai semua harta kekayaan peninggalan orangtua Arjuna.
“Oh ya, ma. Nanti tambah dosis untuk Arjuna. Kita harus pastikan dia benar-benar tidak bisa jalan sampai kapan pun. Kita harus rusak syaraf dan otot kakinya. Jika perlu kita harus buat dia lumpuh, benar-benar lumpuh. Untuk bangun dan makan saja, dia tidak bisa!” tambah Joni.
“Iya, mas. Tenang aja, aku akan tambahkan dosisnya 2x lipat!” jawab Marisa, menatap ke atas dimana Arjuna tengah berada.
Sementara itu, di kamar yang dulu pernah dia tempapti dari kecil hingga duduk di bangku kelas 2 SMP. Arjuna yang sekarang sudah menjadi Arjuno menatap sinis. Dia yang menyukai dunia gelap, sama sekali tidak menyukai kamar seperti ini. Cat berwarna biru, sama sekali bukan cat kamar kesukaannya. Dia lebih suka warna gelap.
“Seperti kamar bocah! Aish, jadi keingat kamar gue dulu!” gumam Arjuno. “Gue harus ganti cat kamar ini dan ganti seluruh barang-barang ini. Eh, tapi gue gak ada duit. Jadi, gimana ya?”
Arjuno kembali mengintari kamar yang akan menjadi miliknya. “Bocah itu! Pasti bocah itu ada duit! Kagak mungkin kagak ada!”
Arjuno kembali bergerak memeriksa setiap sisi, sudut ruangan itu. Berharap ada uang yang terselip diantara barang-barang yang tidak berguna itu. Dan benar saja, ketika Arjuno mengangkat kasur, dia menemukan uang merah yang di susun rapi oleh Dimas. Bak menemukan harta karun yang sangat berharga, dia pun tidak bisa mengontrol emosinya. Dia berteriak kesenangan sambil mengucapkan rasa syukur yang teramat senang.
“Arjuna…!!! Keluar lo! Ngapain lo teriak?” seru Dimas yang merasa curiga dengan saudara sepupunya.
Arjuno membuka pintu lalu melongokkan kepalanya keluar. Dia menatap Dimas dengan tatapan penuh terimakasih.
“Thank’s ya, Dim! Uang lo gue pake dulu!”
Mata Dimas melotot sempurna. Dia bergerak hendak masuk ke kamar, namun kalah cepat dengan Arjuno yang sudah menutup pintu itu.
“Arjunaaaa…!!! Sialan lo! Kembalikan duit gue!”
“Ogah! Ini duit juga berasal dari bokap lo. Dan bokap lo dapat duit ini dari perusahaan bokap gue. Jadi, otomatis duit ini juga milik gue. Gue berhak 100% atas duit ini, Dim!” sahut Arjuno dengan berteriak juga.
Jika dihitung-hitung, duit yang didapat oleh Arjuno cukup banyak. Totalnya 20 juta, lebih dari cukup untuk mengecat dan membeli sedikit barang untuk mengisi kamar ini.
“Bocah ini bodoh atau bego ya? Masa duit sebanyak ini disimpan di bawah kasur. Kagak takut dimakan kutu atau rayap apa? Atau jangan-jangan duit ini kagak halal. Ini hasil judol atau ngepet? Kalau hasil judol, gue maklumi. Lah kalau ngepet atau persugihan, gue harus gimana? Gue takut jadi tumbal! Kagak lucu dong, gue mati dua kali!”
Arjuno melemparkan uang sebanyak 20 juta itu keatas kasur. Dia bergerak gelisah, takut apa yang dia pikirkan itu terjadi pada dirinya. Dia benar-benar mati dua kali. Kematian pertamanya saja masih misteri. Kalau harus mati untuk kedua kalinya, dia tidak yakin akan bisa hidup lagi.
“Ayoo dong, bocah lemah dan lumpuh! Mana ingatan lo! Berbagi lah lebih banyak tentang sepupu lo ini sama gue. Apakah dia ikut persugihan atau kagak?”
Claaap…
Bak sebuah saklar yang baru dinyalakan, ingatan Arjuna tentang Dimas dan keluarganya hadir kembali di kepala Arjuna. Arjuno yang melihat itu, hanya bisa melihat dan memperhatikan secara seksama.
Senyum di bibir Arjuno melebar. “Thank’s bocah! Tenang, gue akan balas semuanya. Lo tenang-tenang di alam sana ya? Dan semoga lo ketemu sama nyokap dan bokap lo!” ucap Arjuno setelah mendapatkan ingatan Arjuna.
Tidak seperti di film atau novel-novel yang pernah diceritakan mantannya mengenai kehidupan kedua atau transmigrasi jiwa. Dirinya sama sekali tidak merasakan kesakitan. Ingatan itu muncul begitu saja, layaknya sebuah film yang dia tonton.
“Oke! Saatnya istirahat. Besok kita baru renovasi kamar ini!”
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Suasana duka dan sedih masih terasa di sebuah mewah nan megah. Sepasang suami istri yang harus kembali dari luar negeri karena mendengar anak satu-satunya meninggal, tidak bisa untuk tidak bersedih. Mereka merasa hancur karena kehilangan sang anak laki-lakinya. Padahal selama ini, mereka berkerja keras demi anaknya. Untuk anaknya agar dapat kehidupan yang nyaman dan pendidikan yang tinggi.
Tetapi yang terjadi, malah di luar dari semua rencana dan perkiraan merekaa. Anak mereka yang Arjuno Dergantara, seorang dokter muda yang sebentar lagi akan mengambil spesialis bedah. Malah di temukan meninggal di kamar mandi, dalam keadaan duduk diatas kloset. Sebuah kematian yang sangat aneh dan misterius.
“Pa, ma! Sudah, jangan bersedih lagi. Bang Juno tidak bisa tenang kalau lihat papa dan mama sedih,” ujar Arga.
Arga adalah anak angkat dari orangtua Arjuno. Yang secara otomatis, dia adalah adek angkat Arjuno. Selama ini dia menjadi bayang-bayang Arjuno. Dia hidup seolah hanya untuk menjadi teman Arjuno saja.
“Mama, masih tidak nyangka jika abang kamu pergi secepat itu, Ga! Padahal kami sudah setuju dengan syaratnya agar dia mau melanjutkan spesialis. Tetapi kenapa kayak gini?”
“Memang apa syaratnya yang diajukan abang, ma?”
“Dia ingin menjadi ketua sebuah organisasi. Organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan.”
Arga mencebik dalam hati mendengar jawaban sang mama. Organisasi bidang kemanusiaan, sungguh abangnya pintar sekali berbohong.
‘Bang, sorry! Posisi lo kini sudah milik gue sepenuhnya!’
Dimas hanya bisa mengepalkan tangannya, menahan emosi ketika para tukang merenovasi kamar yang selama ini dia tempati. Kamar yang memiliki luas lebih besar dari kamar orangtuanya, dan juga kamar yang memiliki fasilitas lebih lengkap dari yang lainnya. Bahkan view kamar tersebut langsung mengarah ke kebun bunga milik tetangga. Jika dia tidak menempati kamar itu lagi, maka dia tidak akan bisa melihat anak gadis tetangga yang selalu menyiram bunga di sore hari.“Bang, lo mau diam aja kamar kesayangan lo diambil sama si Lumpuh?” celetuk Cantika yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Usia Cantika hanya berbeda satu tahun dari usia Dimas. Sehingga tumbuh besar serta bersekolah yang sama.“Ck, lo gak tahu aja kejadian kemaren, dek. Makanya kalau pulang ya langsung pulang. Kagak usah keluyuran!”“Lah emang apa yang terjadi kemaren?”Dimas menghela napas panjang, “intinya papa dan mama minta gue biarkan dia perbuat apa saja. Biarkan dia merasa di atas sebentar, lalu kita kembali jatuhkan
Marisa sempat melihat dari ponselnya jika Arjuna sudah bisa berjalan menaiki tangga. Dia yang terkejut dan ketakutan melemparkan ponselnya begitu saja.“Ma, kenapa?”“Di-dia, di-dia bi-bi-bisa jalan!” sahut Marisa dengan tergagap.“Siapa yang bisa jalan, ma?”“Ar-Arjuna, pa. Arjuna sudah bisa jalan!”Dahi Joni dan anaknya Dimas mengernyit. Hampir secara bersamaan, mereka mengambil ponsel milik Marisa. Namun sayangnya, layar ponsel tersebut sudah berubah menjadi gelap. Bahkan saat mereka mencoba menghidupkannya, tetap saja tidak bisa. Ponsel milik Marisa mati total.“Ma, kenapa mama lempar sih? Kan ponselnya jadinya rusak.”“Rusak? Tapi mama lemparnya pelan kok, Dim. Mana mungkin rusak?”“Ini buktinya!” tunjuk Dimas pada ponsel Marisa yang tidak bisa menyala lagi.Melihat hal itu Marisa menggelengkan kepalanya seraya menatap sang anak dengan wajah penuh rasa bersalah. “Maafkan mama, Dim. Mama gak sengaja.”“Sudah, sudah! Lupakan saja masalah ponsel itu. Sekarang biarkan saja Arjuna men
Kamar yang dituju oleh Juna, bukan kamar yang berada di lantai bawah. Bukan kamar yang biasanya dia tempati. Melainkan kamar yang miliknya dahulu, yang sekarang ditempati oleh Dimas.“Sekarang kamar ini akan jadi milik gue seutuhnya. Lagian Juna sudah memberikan semuanya pada gue. Jangan kamar ini, raganya aja dia berikan sama gue. Jadi, kagak salahnya dong kalau gue manfaatkan semuanya dengan baik!” desis Juno yang sekarang menguasai tubuh Juna.“Oke, karena ini akan jadi kamar gue. Maka, gue harus buang barang-barang yang tidak penting dulu!”Juna masuk ke dalam kamarnya, namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika merasakan ada yang tertinggal.“Sial, kursi roda bobrok itu tinggal di bawah. Gue harus gimana yaaak? Aaah, bodoh banget sih gue. Kan gue bisa minta bantuan para perkerja di sini. Tinggal gue suap aja, pasti mereka mau bantu!”Juna mengatasi kursi rodanya dengan bantuan tukang kebunnya yang memang sejak tadi mengawasinya. Tukang kebun yang sudah berkerja di rumahnya sejak
Selama koma, Arjuno mendapatkan semua ingatan Arjuna. Dia dapat melihat jelas bagaimana Arjuna di perlakukan sangat jahat oleh satu keluarga yang memanfaatkan harta orangtua Arjuna.“Cih, hidup lo menyedihkan amat sih, Juna!” gumam Arjuno pelan. “Eh, tapi… Nasih hidup gue gimana? Masa sih gue mati lagi beol. Kan kagak banget! Atau jangan-jangan ada hal lain yang menyebabkan gue mati yaaa? Alaaah… Bodo amat lah! Yang jelas gue bisa hidup di tubuh Arjuna aja sudah bersyukur. Untuk kematian gue, biar gue selidiki setelah gue udah keluar dari rumah sakit dan setelah tubuh ini bisa jalan!” sambungnya.Arjuno yang berada di dalam tubuh Arjuna kembali melihat kearah pintu ruang ICU. Keluarga oomnya benar-benar sudah meninggalkannya. Dia yakin jika mereka tidak mempermasalah jika Arjuna masuk ke ruangan ini. Selama masih hidup, Arjuna pasti masih bisa dimanfaatkan.“Gue harus cepat sembuh!” tekad Arjuno yang sekarang akan benar-benar menjadi Arjuna. Dia akan menggunakan semua kemampuan asliny
“ARJUNAAAAA!!!” teriak seorang laki-laki yang baru masuk ke dalam rumahnya. Dia sangat terkejut melihat keponakannya berguling dari lantai dua dan berakhir tepat di bawah anak tangga yang pertama.“MAMA! DIMAS! CANTIKA! KALIAN DIMANA? AYOO, BANTU PAPA ANGKAT ARJUNA!!!”Laki-laki itu kembali berteriak memanggil anggota keluarganya. Dia tidak bisa membiarkan keponakannya terluka atau kehilangan nyawa. Keponakannya harus tetap hidup agar kehidupan dirinya dan keluarganya selalu terjamin.“Papa! Papa ngapain sih? Biar aja dia mati!”“Ma! Jangan ngomong kayak gitu! Mama lupa apa kata pengacara bang Mahen. Kita masih membutuhkan Arjuna, ma!” sentak Joni menatap tajam sang istri.“Astaga! Mama lupa, pa. Maafkan, mama! Ayoo, kita bawa Juna ke rumah sakit. Dia harus tetap hidup!” seru tante Marisa.Dengan dibantu anak dan istrinya, om Joni mengangkat tubuh Arjuna masuk ke dalam mobil. Dengan kecepatan cukup tinggi, laki-laki berusia 40 tahunan itu melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Dalam h
Kaki yang tadi terasa sangat kaki karena di tarik paksa oleh tantenya. Seketika langsung hilang, mengetahui jika dirinya di pindahkan kembali ke kamar miliknya di lantai dua.Sejujurnya, Arjuna sangat merindukan kamarnya itu. Di sana banyak tersimpan kenangan bersama keluarga dan teman-teman sekolahnya dahulu. Namun, sejak dirinya kecelakaan, kamar itu tidak pernah dia datangi lagi.“Maaa! Mama…!!! Ngapain si Lumpuh masuk kamar aku?” teriak Dimas protes ketika tukang kebunnya membawa Arjuna masuk ke dalam kamarnya.“Ssssst, gak apa-apa sayang. Biarkan Arjuna menikmati kamarnya sebentar!” sahut tante Marisa menatap anaknya, sambil meletakkan jari telunjuknya di atas bibir.“Tapi, ma…”Kepala tante Marisa menggelengkan kepalanya pelan. Meminta anaknya untuk diam dan tidak banyak protes. Kemudian dia mendekati Arjuna yang tampak senang berada di kamarnya, walau ada beberapa yang di rubah. Namun, rasanya masih seperti dulu. Nyaman dan tenang berada di kamarnya.“Juna, senang sayang? Mau k







