Share

BAB 5

Author: Rhiana
last update publish date: 2026-07-11 23:52:04

Kamar yang dituju oleh Juna, bukan kamar yang berada di lantai bawah. Bukan kamar yang biasanya dia tempati. Melainkan kamar yang miliknya dahulu, yang sekarang ditempati oleh Dimas.

“Sekarang kamar ini akan jadi milik gue seutuhnya. Lagian Juna sudah memberikan semuanya pada gue. Jangan kamar ini, raganya aja dia berikan sama gue. Jadi, kagak salahnya dong kalau gue manfaatkan semuanya dengan baik!” desis Juno yang sekarang menguasai tubuh Juna.

“Oke, karena ini akan jadi kamar gue. Maka, gue harus buang barang-barang yang tidak penting dulu!”

Juna masuk ke dalam kamarnya, namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika merasakan ada yang tertinggal.

“Sial, kursi roda bobrok itu tinggal di bawah. Gue harus gimana yaaak? Aaah, bodoh banget sih gue. Kan gue bisa minta bantuan para perkerja di sini. Tinggal gue suap aja, pasti mereka mau bantu!”

Juna mengatasi kursi rodanya dengan bantuan tukang kebunnya yang memang sejak tadi mengawasinya. Tukang kebun yang sudah berkerja di rumahnya sejak dirinya masih kecil. Dan sekarang, dia sudah membawakan kursi rodanya dengan mata berkaca-kaca. Bahkan sesekali dia tampak mengusap matanya agar airmatanya tidak keluar.

“Lain kali hati-hati ya, Den. Amang cuma bantu ini, amang tidak bisa membela Aden jika tuan dan nyonya marah. Amang hanya…”

“Makasih ya, mang. Makasih sudah baik dengan Juna. Juna bilang, amang salah satu orang yang sangat baik dan sudah banyak membantu dia. Kebaikan dan ketulusan amang tidak akan dilupakan sama Juna,” ucap pemuda itu dengan tatapan penuh terimakasih dengan laki-laki paruh baya itu.

Dahi tukang kebun itu mengernyit sejenak, lalu dia menganggukkan kepalanya. Walau ucapan majikan kecilnya terasa aneh, tapi dia memakluminya. Dia merasa jika ucapan majikan kecilnya agak melantur karena efek luka yang ada di kepalanya.

“Sama-sama, Den. Ayoo, Aden masuk. Nanti ketahuan tuan dan nyonya. Kalau nanti Aden butuh bantuan, kabari amang aja ya?”

“Iya, mang. Sekali lagi makasih ya mang?”

Sepeninggalan mang Asep, tukang kebun di rumah itu. Juna masuk ke dalam kamar yang sudah tidak lama dia tempati. Terakhir dia tempati, berujung dia celaka sendiri. Seolah memang keluarga oomnya menginginkan dirinya celaka dan mungkin juga mati.

Melihat kamar yang dipenuhi dengan barang Dimas, tangan Juna mengepal erat. Dalam ingatannya, banyak barang Juna yang penuh kenangan dibuang atau dipindahkan ke gudang oleh Dimas maupun tantenya.

“Kalau lo bisa melakukan itu, kenapa gue gak bisa juga!” desis Juno tersenyum licik. “Tenang lo Juna, sepupu lo yang kurang ajar itu akan merasakan hal yang sama seperti yang lo rasakan. Dia akan kehilangan benda-benda kesayangan dia juga.”

Dengan pintu yang tertutup rapat, kaki dan tangan Juna yang sudah dilatih di rumah sakit bergerak dengan cepat. Tidak ada lagi gerakan kaku atau gerakan penuh ketakutan. Semuanya gerakan yang keluar dari tubuh Juna sangat pasti dan penuh keyakinan.

Hampir semua barang milik Dimas telah dikumpulkan oleh Juna. Tinggal dia buang satu per satu ke lantai bawah. Dia sama sekali tidak peduli jika barang yang akan dilemparkan itu akan pecah ataupun hancur.

“Saatnya pertunjukan! Gue pengen liat reaksi suami istri yang kagak tahu diri itu!”

Praaaak…

Bruuukh…

Praaang…

Bunyi barang berjatuhan mencuri perhatian semua orang. Termasuk dari om Joni dan tante Marisa yang masih duduk di sofa ruang tamu.

Ketika mereka melihat asal bunyi tersebut, mata mereka langsung melotot. Tanpa perlu dicari tahu, mereka sudah mengetahui jika barang-barang yang berjatuhan itu milik anak laki-lakinya yang sekarang masih berada di sekolah.

“ARJUNAAAA!!!” teriak sepasang suami istri saat melihat pelaku yang melemparkan barang anaknya dari lantai atas.

“KURANG AJAR KAMU, JUNA! KAMU DIKASIH HATI MALAH MINTA JANTUNG. DASAR ANAK DURHAKA, SAMA SEKALI TIDAK BISA DIBAIKI! BERHENTI MELEMPAR BARANG-BARANG ANAK SAYA!” teriak tante Marisa.

Teriakan-teriakan dari lantai sama sekali tidak dipedulikan oleh Juna. Sambil tetap berada di atas kursi roda, dia melemparkan barang-barang milik Dimas hingga selesai.

Om Sanjaya yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Menaiki dengan cepat anak tangga yang menuju ke lantai atas.

“Arjunaa! Kamu sudah membuat oom emosi. Sepertinya kamu sudah tidak sabar menyusul kedua orangtua kamu!” desis laki-laki paruh baya itu.

“Arjuna mungkin sudah berada di sisi orangtuanya. Jadi, buat apa dia nyusul lagi? Atau oom yang pengen menyusul orangtua Juna buat minta maaf?” balas Juna dengan memiringkan kepalanya serta senyum yang penuh ejekan.

Om Sanjaya memicingkan matanya. Lalu mendekati Juna cepat, dengan tangan terangkat keatas. Gerakan Om Sanjaya itu sudah diprediksi oleh Juna. Barang terakhir yang berada di tangan Juna, sekaligus barang kesayangan Dimas dilemparkan cepat kearah om Sanjaya.

Tangan yang hendak memukul Juna tidak jadi dilayangkan. Om Sanjaya memilih menangkap barang tersebut. Barang yang bagi anaknya sangat berharga itu.

“Yaaah, gak jadi jatuh deh! Sayang sekali…!” ujar Juna. “Eh, tapi itu om!” seru Juna menunjuk ke barang yang di pegang om Sanjaya.

Braaaak…

“Gotcha!”

“ARJUNAAAA!!!”

“Kaburrr!!!” teriak Juna masuk ke dalam kamarnya. Tidak lupa dia mengunci kamar tersebut dari dalam. Membuat Om Sanjaya tidak bisa masuk apalagi menyentuh.

“ARJUNA, KELUAR KAMU!!!”

Juna  tersenyum penuh kemenangan. Dia melangkah menuju kasur dan merebahkan tubuhnya dengan tenang.

“Untuk hari ini cukup sampai di sini, besok tunggu kejutan dari gue lagi!” gumam Arjuna.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

“Pa, Ma… Ini kenapa? Kenapa barang-barang aku kayak gini? Siapa yang udah melakukan ini semua?”

Dimas yang baru pulang dari sekolah sangat terkejut melihat barang-barang kesayangannya telah hancur berantakan. Tidak ada satupun barang-barang yang bisa dia selamatkan. Bahkan laptop yang sering dia gunakan pun sudah terbelah dua.

“Arjuna! Arjuna keponakan papa kamu yang kurang ajar itu yang merusaknya, Dimas! Sekarang anak kurang ajar itu malah sembunyi di kamar kamu. Memang tidak tahu diri sekali!” sahut tante Marisa dengan wajah  penuh kekesalan. Dia bahkan melirik sinis sang suami yang tidak bisa melakukan apa-apa.

“Arjuna? Emang dia sudah sembuh, Ma? Dan gimana caranya dia naik keatas sana? Dia masih lumpuh kan, Ma?”

Deg…

Perkataan Dimas membuat Sanjaya dan istrinya saling tatap. Lalu mereka memeriksa rekaman kamera CCTV yang bisa diakses melalui ponsel mereka masing-masing.

Dahi mereka mengkerut karena untuk mengakses rekaman CCTV sangat susah. Berulang kali muncul kata eror di ponsel keduanya.

“Aneh! Kenapa kayak gini?” lirih Sanjaya melihat kamera yang terpasang di penjuru rumah itu. Dia ingin memastikan semuanya baik-baik saja. Dan memang terlihat baik-baik, tanpa ada keanehan sedikit pun.

“TI-TIDAK MU-MUNGKIN!!!” seru Marisa melemparkan ponselnya dengan wajah ketakutan.

“MAMA…?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 25

    Arga kembali ke kamarnya dengan hati penuh rasa heran dan bingung. Di satu sisi dia merasa pemuda yang bernama Arjuna itu sangat mirip dengan kakak angkatnya. Akan tetapi di sisi lain, dia tetap percaya kalau pemuda itu hanya sekedar pemuda yang beruntung. Hanya karena memiliki nama yang sama dengan nama kakak angkatnya, cuma beda satu huruf diakhir namanya.“Tetapi kenapa dia tahu kalau aku jadi ketua muda? Apa mungkin dia cari tahu semuanya sebelum masuk ke keluarga Dergantara?” gumam Arga.“Tidak mungkin, gue yakin dia hanya bocah sombong yang kebetulan tahu tentang bang Juno. Iya, itu kemungkinan yang masuk akal! Dan bisa juga dia salah satu bawahan bang Juno yang memang mau menjatuhkan gue!”“Oke, Arga! Lo harus tenang. Lo bisa menyingkirkan tuh bocah dengan halus. Seperti lo singkirkan Arjuno!”Laki-laki muda terus berbicara sendiri tanpa henti. Merencanakan sesuatu kemudian menggantinya, begitu terus sampai waktu memasuki dini hari.“Sial, karena terlalu semangat gue sampai lup

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 24

    Bik Siti dan para pekerja lainnya tidak ada yang keluar dari kamar mereka. Sesuai dengan titah dari Yoza dan Arman, jika mendengar suara berisik dan kehebohan, jangan ada yang keluar dari kamar. Karena lehebohan itu terjadi karena sebagai bentuk pembalasan yang Arjuna lakukan untuk melindungi mereka semua.Awalnya, keluar kecil Joni tidur dengan nyenyak dan merasa penuh kemenangan karena Arjuna memilih untuk tidak pulang. Namun kenyenyakan tidur mereka tidak berlangsung lama. Rasa gatal dan sakit mulai terasa. Membuat mereka semua harus membuka matanya.Dimas adalah orang yang pertama yang merasakan hal itu. Ketika dia terbangung, dia melihat tubuhnya penuh dengan bentol yang berwarna merah. Rasanya jangan ditanya, pasti gatal bercampur sakit. Tidak tahan dengan apa yang dia rasakan, Dimas pun berteriak kencang. Dia memanggil orangtuanya, berharap orangtuanya bisa membantunya. Tanpa dia tahu kalau orangtua serta adeknya merasakan hal yang sama.Bahkan adeknya yang belum sepenuhnya sem

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 23

    Meja makan yang jarang terisi penuh, sekarang penuh dengan berbagai macam makanan. Sudah lama tidak terjadi, dan terakhir terjadi saat keluarga Dergantara mengangakat Arga sebagai seorang anak. Dan sekarang terjadi lagi, saat pengakatan Arjuna menjadi anak angkat keluarga Dergantara.“Ma, ada apa ini? Tumben mama masak banyak!” seru Arga terkejut melihat meja makan. Saat dia keluar dan bersantai di teras, meja makan itu masih kosong. Tetapi saat dia masuk sambil mengikuti pemuda yang mengaku sebagai Arjuna itu, meja makan sudah penuh.“Ini syukuran untuk nyambut adek kamu, Ga. Sekarang Arjuna akan menjadi adek kamu.”“Arjuna…”“Iya, Arjuna. Itu dia yang ada di dekat kamu!” tunjuk mama Mayang kearah Arjuna yang berdiri tidak jauh dari Arga. “Arjuna, mama boleh minta satu permintaan tidak? Mungkin terkesan berat dan akan menyinggung kamu. Tapi, boleh gak kalau mama panggil kamu dengan nama Arjuno?”“Mama!!!” seru papa Sanusi serta Arga secara bersamaan.Bibir Arjuna alias Arjuno tersen

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 22

    Kamar yang sekarang sudah kembali ditempati oleh Arjuno, telah tidak berbentuk lagi. Semuanya menjadi berantakan. Dan itu ulah satu orang, yaitu Dimas.Disaat Arjuno keluar, Yoza dan juga Arman keluar. Pemuda itu memaksa masuk ke dalam kamar itu. Bik Siti, mang Ujang serta para pekerja lain sudah mencaoba untuk menghentikannya. Namun usaha mereka gagal. Dimas mengeluarkan ancaman, yang langsung membuat mereka semua terdiam dan hanya bisa melihat perbuatan Dimas.“Ini akibatnya sudah berani mengganggu gue! Kalau kalian masih tetap ingin aman, DIAM! Jangan banyak bacot. Paham!!!”“Pa-paham, tuan.”“Bagus! Pergi dari sini, kerjakan apa yang menjadi tugas kalian! Ingat jalan sekali-kali kalian mengadu. Ancaman gue kagak main-main!” seru Dimas sambil menunjuk kearah para perkerja di rumahnya.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Bik Siti dan pekerja lainnya berbalik badan meninggalkan Dimas yang sedang menatap puas kamar Arjuno. Jika beberapa waktu lalu, Arjuno menghancurkan barang-barangny

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 21

    Arjuno tidak bisa menolak permintaan tante Mayang, yang sekarang tidak mau lagi di panggil tante. Dia sekarang mau dipanggil dengan sebutan mama. Seperti Arjuno dahulu menuju memanggilnya.Mama Mayang mengajaknya berjalan menuju taman yang berada tidak jauh dari restoran. Mama mayang tidak peduli dengan panas matahari yang menyengat kulitnya. Dia percaya, jika di taman itu akan terasa sejuk. Dan di sana juga dia bisa menilai pemuda yang bernama Arjuna.Ketika masuk arean taman, mama Mayang melakukan sesuatu yang tidak terduga. Sehingga tubuhnya tampak oleng, dan hendak jatuh ke tanah. Namun, Arjuno menahan tubuh mama Mayang. Hingga tidak sampai jatuh menyentuh tanah.“Mama bisa hati-hati gak sih? Kalau mama terluka, siapa yang disalahkan? Pasti aku, ma? Mama tahu kan, gimana papa protektifnya sama mama. Sedangkan sama aku aja, papa gak peduli. Dia hanya berikan aku uang, uang dan uang. Sedangkan sama mama, papa selalu perhatian!” seru Arjuno tanpa sadar.“Arjuno…” lirih mama Mayang.

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 20

    Yoza menepati janjinya kepada papanya Arjuno. Sekarang dia dan Arjuno yang berada di dalam raga Arjuno, tengah melesat menuju kantor papanya. Jantung pemuda itu berdetak cepat. Sudah sangat lama dia tidak melihat papanya secara langsung. Selama ini, dia berkomunikasi dengan papa serta mamanya melalui panggilan video. Namun, dia baru bisa melihat dan bertemu sang papa setelah dirinya meninggal atau setelah dirinya berada di tubuh orang lain.“Za, nyokap dan bokap gue sehat kan? Mereka baik-baik saja kan? Si bajingan tak tahu diri itu kagak nyakiti mereka kan? Waktu lo ke rumah gue, bajingan itu ada gak? Lo sempat masuk ke kamar gue gak? Lo sempat nanyain masalah pesan yang di kirim sama bajingan itu gak? Lo…”“Jun! Dari kemaren gue pulang, hingga sekarang. Lo udah ratusan kali nanya hal yang sama, dan gue udah jawab ratusan kali pula. Kagak usah lo tanya lagi lah! Sumpah, gue udah muak!” potong Yoza melirik kesal kearah sahabatnya.“Gue hanya mastikan doang, Za!”“Kalau hanya mastikan,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status