Share

BAB 13

Author: my_ladyyy
last update publish date: 2026-02-28 14:06:34

Malam turun perlahan di mansion utama Serphent, membawa hawa dingin yang tidak mampu hilang oleh megahnya lampu-lampu kristal. Di ruang tamu yang luas, Rachel berdiri terpaku di depan jendela tinggi, memandangi kesibukan di halaman. Para pekerja bergerak seperti semut, menyusul bunga-bunga putih yang terlihat pucat di bawah remang lampu, menggelar karpet merah tak berujung. Semuanya terlihat sempurna di permukaan.

"Besok semua mata akan tertuju pada kakakku," ucap Rachel pelan, suaranya nyaris
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 21

    Bandara Heathrow malam itu ramai seperti biasa. Arus penumpang mengalir masuk ke arah pintu keberangkatan. Koper-koper bergerak di atas lantai marmer yang mengkilap, suara pengumuman penerbangan bercampur dengan deru mesin pendingin udara yang tidak pernah berhenti. Roberto berdiri di depan konter check-in, mengenakan kemeja yang masih rapi meski sudah seharian penuh bergerak. Dokumennya sudah di tangan, tasnya berada di troli. Semua sudah diurus Darwin seperti biasa... seperti selalu. Ia menatap ke atas konter; Bali : 11.45. pm Tidak ada perubahan di raut wajahnya. "Kau tidak membawa jaket?" suara Eliza muncul dari samping. Roberto meliriknya, "Kita pergi ke Bali, bukan Islandia." Eliza menahan sesuatu di balik bibirnya, "Aku hanya bertanya." Roberto menyerahkan dokumennya ke petugas konter, matanya tak melihat Eliza. "Aku tahu." Keheningan menyeruak di antara mereka, jenis hening yang sudah terlalu familiar dalam seminggu terakhir. Eliza menatap profil suaminya yang berdiri deng

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 20

    Sore itu, townhouse milik Elion masih menyimpan kehangatan dari malam sebelumnya. Rebecca sedang melipat pakaian kecil Jourell di ruang keluarga saat ponsel Elion bergetar di atas meja. Pria itu mengangkatnya, membaca nama di layar. Willy, asistennya. "Hei, ada apa?" suara Elion santai, namun matanya mengikuti gerak Rebecca yang belum menyadari telepon itu. "El, tadi Darwin meneleponku." suara Willy di seberang terdengar hati-hati. "Richard... minta menginap di sana malam ini. Roberto meminta Darwin mengantarnya." Elion tak langsung menjawab. Satu detik, dua detik, tiga. "Oke." jawabnya terlalu datar. Sambungan terputus, Elion menghampiri Rebecca setelah meletakkan ponsel itu di atas meja. Rebecca mendongak, menangkap sesuatu di wajah suaminya yang tidak bisa disembunyikan. "Siapa?" Elion menatapnya, beberapa detik hanya diam— Rebecca memahami diamnya. Diam yang sedang menyusun kata-kata agar tidak terdengar seperti seharusnya. "Willy." jawabnya. "Richard minta mengina

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 19

    Kamar itu masih berantakan saat Eliza menutup pintu dengan keras... tidak dibanting, tapi cukup untuk menjelaskan apa yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata-kata. Ia berdiri di tengah ruangan, menatap sekeliling. Gaun pagi yang membalut tubuhnya masih rapi, rambutnya masih tersisir rapi, namun dibalik itu semua ada sesuatu yang retak. Roberto keluar tadi dengan cara yang paling menyebalkan— tidak marah, tidak berteriak. Hanya dingin dengan kalimat singkat yang menghantam sasaran tanpa perlu membidik. 'Richard bukan proyek yang harus kau kendalikan.' Eliza duduk di pinggir ranjang, tangannya mengepal di atas paha. Wanita itu sudah seminggu mencoba... bangun lebih awal dari Roberto untuk memastikan sarapan sudah tersedia, duduk di lantai bermain mobil-mobilan bersama anak yang bahkan belum sepenuhnya menerimanya. Eliza sudah mencoba hal-hal yang tidak pernah ada dalam bayangannya saat ia membayangkan menjadi nyonya Serphent. Dan hasilnya? Ditegur di depan mertuanya karena es krim.

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 18

    Seminggu berlalu sejak pernikahan itu. Keadaan Mansion Victoria tidak berubah, dindingnya tetap sama, udaranya tetap sama, bahkan aroma kayunya yang bercampur dengan lilin putih di koridor pun tetap sama. Yang berubah hanya satu; ada wanita tambahan yang sedang berjalan di dalamnya, mencoba terlihat seperti ia memang selalu ada di sana. Eliza belajar bahwa mansion ini tidak ramah pada orang baru. Staf menyapanya dengan hormat, namun tak hangat. Darwin selalu ada, tapi tidak pernah benar-benar berbicara dengannya, kecuali jika ada hal yang penting. Dan Roberto... pria itu bahkan tidak perlu bersikap dingin karena ketidakhadirannya sudah cukup berbicara. Yang tersisa hanya Richard. Pagi itu, Eliza duduk di meja makan bersama Richard. Ini bukan pertama kalinya mereka sarapan berdua... sejak beberapa hari lalu, ia mulai terbiasa duduk di sisi bocah itu, mengikuti kebiasaan paginya. Richard makan dengan tenang. Kakinya berayun-ayun di bawah kursi, sesekali bergumam sendiri tentang sesu

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 17

    Mansion Victoria terasa berbeda malam hari. Bukan karena sepi, bangunan sebesar ini tidak pernah benar-benar sepi, melainkan karena keheningannya seperti disengaja. Seperti rumah yang menahan napas. Roberto menutup pintu kamar tanpa suara. Kemeja yang ia kenakan sudah terganti dengan pakaian rumah yang sedikit longgar, dengan rambut basah dari shower. Langkah kakinya menuju ke depan jendela, membiarkan pandangannya jatuh ke halaman mansion yang gelap. Patung Yunani di sudut taman itu berdiri seperti biasa, dingin dan tak bergerak, menjadi satu-satunya saksi bisu malam ini. Tak lama, pintu kamar terbuka. Eliza berjalan dengan kedua tangannya membawa nampan kecil berisi satu cangkir teh yang mengepul dan sepiring biskuit tipis. Ia sudah berganti pakaian tidur, wajahnya bersih tanpa riasan dengan rambut terurai. Untuk pertama kali sejak pernikahan, wanita itu hanyalah wanita biasa, tanpa topeng yang mengharuskannya mengangkat dagu serta tersenyum palsu. "Aku membuatkan teh," ucapnya p

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 16

    Rebecca masuk ke dalam mobil setelah Elion membukakan pintu untuknya. Ia diam beberapa detik karena isi kepalanya menampilkan potongan-potongan kejadian pernikahan tadi. Altar. Tatapan Roberto yang sepersekian detik mencarinya… sebelum akhirnya berpaling, nama pengantin yang salah, membuat Rebecca menelan ludah untuk memaksa pikirannya berhenti di sana.'Ini bukan urusanmu lagi.' katanya pada diri sendiri, 'Tidak lagi.'Namun tubuhnya tidak selalu mendengarkan isi pikiran. Tangannya bergetar begitu meraih seatbelt, berharap pria di sampingnya tidak menyadari itu. Tapi... Elion menyadarinya. Pria itu tidak berkata apa-apa, hanya memastikan istrinya duduk dengan nyaman sebelum menutup pintu hati-hati. Seperti seseorang yang tahu bahwa ada hal-hal yang sebaiknya disimpan sendiri tanpa diucapkan.Setelah duduk di kursi kemudi, mobil mereka melaju menyusuri kota London yang sibuk seperti biasa. Rebecca menyandarkan kepalanya di jendela, mengabsen jalanan, lampu-lampu, dan gedung-gedung tin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status