LOGINApa jadinya jika sebuah Diary mengubah segalanya. Seorang mafia harus mengalami kejatuhan akibat kebiasaan tak biasa dirinya. Menulis kisah hidupnya di sebuah Diary. Buku itu laksana nyawanya. Namun, Buku itu hilang seiring dengan kematian istri yang selama ini diabaikannya. Alan potter, anak tak dianggapnya yang selama ini menginginkan kejatuhannya juga memburu buku itu. Ia bekerja sama dengan Melisa, gadis dari Asia yang harus kehilangan kakaknya akibat membawa buku itu. Alan jatuh cinta dengan Melisa yang terpaut usia enam tahun darinya. Namun kisah cinta mereka harus terhalang oleh Robert yang juga menginginkan Melisa sebagai pelampiasan sejak kematian istrinya, Camelia. Namun bagaimana jadinya jika ternyata Camelia masih hidup?
View MoreMalam hari di musim semi, Camelia gelisah di kamarnya. Dia remas buku-buku jemarinya yang penuh bekas luka. Badannya gemetar mengingat seluruh rasa sakit yang ia terima dari lelaki yang sayangnya adalah suaminya sendiri. Camelia, Istri tersembunyi Robert Potter, Mafia kejam dan berbahaya. Setiap kali bertemu hanya siksaan yang ia dapatkan. Seolah raganya hanya mainan. Tak pernah sekalipun lelaki itu bersikap lembut. Tak ada yang berani menolongnya. Jika ada yang bertanya dimana keluarganya? Tentu saja ada. Masih hidup. Tetapi mereka sudah tak peduli padanya. Ia serasa dijual oleh keluarganya sendiri. Semua itu karena uang yang mereka dapatkan begitu banyak setelah Robert menikahinya.
Sebenarnya ia sudah lelah jiwa dan raga. Beberapa kali mencoba bunuh diri namun gagal. Dan justru ia mendapatkan penyiksaan yang lebih kejam. Hingga ia pasrah akan nasibnya yang kurang beruntung. Suatu hari, ketika ada pelayan yang baru masuk. Ia seperti mendapat angin segar. Ia pelayan dari Asia tenggara. Bersama pelayan itu, ia merencanakan pelarian dengan sangat matang. "Anda sudah tidur, Nyonya?"jawab Bibi Sandy. "Belum, Bi."jawab Camelia "Ini, saya bawakan makan malam untuk anda."ucap Pelayan itu. Camelia menegakkan badannya. Sejak tadi ia lelah mondar-mandir di dalam kamarnya. Hingga ia memilih rebahan di ranjangnya yang empuk di sangkar emasnya milik Robert Potter. "Terima kasih, Bi" Pelayan itu mengangguk. "Bibi, ayo kita makan bersama."ajak Camelia "Tidak, Nyonya. Saya sudah makan. Silahkan anda makan untuk menambah tenaga anda dalam pelarian malam ini." Deg Camelia menjadi gugup. Yakinkah ini akan berhasil? Selama ini ia selalu gagal. Jantungnya berdetak sangat kencang. "Anda harus yakin, Nyonya."Ucap Bibi Sandy. Camelia mengangguk. "Muka Bibi pucat sekali." ucap Camelia "Ini karena penyakit Bibi. TIdak apa-apa, Nyonya. Saat ini anda pikirkan diri anda sendiri." Camelia tersenyum getir. Pelayan itu memberikan sebuah buku untuk Camelia. "Ini apa?"tanya Camelia "Buku harian Tuan Robert."ucap Bibi Sandy setengah tertawa. Camelia melongo.. Buku harian? Camelia ingin tertawa. Seorang mafia kejam punya buku harian? Sungguh konyol. "Buku ini harus sampai ke tangan Tuan Narendra. Selain menulis kisah hidupnya yang kejam. Buku ini menyimpan simbol yang hanya bisa diterjemahkan oleh Tuan Narendra. Saya meyakini, buku ini menyimpan rahasia yang lebih besar dari itu."ucap Bibi Sandy. Dia menjelaskan siapa itu Tuan Narendra. "Baiklah. Saya akan menjaganya dengan nyawa saya."ucap Camelia. Malam kian larut. Semua pelayan sudah tertidur. Hanya ada penjaga yang masih lalu-lalang, berjaga secara bergantian. Udara malam yang dingin tak menyurutkan Camelia. Ia sudah siap dengan tas ransel besarnya. Ia dan pelayan itu mengendap-endap. "Apa yang terjadi?"tanya Camelia ketika melihat penjaga tergeletak "Saya sudah membuat mereka pingsan setidaknya selama tiga jam lamanya. Jangan khawatir, CCTV juga sudah rusak. Mari, Nyonya."ucap Pelayan itu. Jantung Camelia berdetak dengan cepat. Mereka berjalan keluar mansion. Ternyata sudah ada mobil yang menunggu mereka. Bibi Sandy, rupanya penuh perhitungan juga. Camelia berpikir pasti pelayan itu bukan orang sembarangan. "Kita akan pergi melewati jalur laut, Nyonya. Tuan Robert pasti tak akan mengira kita memakai alat transportasi ini." ucap Pelayan itu. Camelia mengangguk. Mereka menaiki kapal yang akan segera berangkat. Camelia bersandar pada sisi dek. Ia merasa lega namun masih was-was jika pelarian kali ini juga sia-sia. Tapi, Bibi Sandy meyakinkannya bahwa ini akan berhasil. Entah apa yang akan dilakukan lelaki bernama Robert Potter itu jika tahu wanita yang dikurungnya di istana miliknya bisa melarikan diri. "Istirahatlah, Nyonya!" seru Bibi Sandy. Camelia mengangguk. ia memasuki kabin kapal. menuju ruangan yang diperuntukkan untuknya. Menghela nafas lelah. Entah berapa lamanya Camelia tertidur. Pintu kamarnya diketuk dengan keras. Bibi Sandy masuk dengan membawa bungkusan. Nafasnya memburu. "Akan ada patroli, Nyonya. Saya yakin akan ada penggeledahan. Apalagi ini kapal barang. Anda ganti dengan baju usang ini. Dan pakailah make up Tan. kulit putih anda tak mendukung jika anda menyamar menjadi seorang gelandangan yang menumpang gratis dikapal ini." ucap Bibi Sandy. "Apa kalau ketahuan menumpang kita tak akan celaka?" tanya Camelia. "Saya hanya bercanda. Kita akan menyamar menjadi koki di kapal ini. Bersiaplah!" seru Wanita paruh baya itu. Mereka pun berganti baju dan memakai makeup Tan. Kulit mereka berubah menjadi kelam dan dekil. Bibi Sandy menambahkan minyak pada wajah Camelia dan dirinya sendiri. "Mari, Nyonya. Maaf, selama penggeledahan saya akan menyebut Anda Meli ya." Ucap Bibi Sandy. "iya." Mereka menuju dapur. Disana sudah ada beberapa orang yang sibuk mengolah makanan. "Bibi Sansan Kemarilah. Bantu kami membuat Pai." Ucap Salah seorang diantara koki itu memanggil Bibi Sandy. "Tentu, akan ada Meli yang akan membantu kalian." ucap Bibi Sandy. "Wah, kami senang ada tenaga tambahan. Kamu bisa mengiris bawang bombai?" tanya Koki lainnya. "Serahkan padaku." Ucap Camelia. Semuanya bekerja sambil bersenda gurau. Tak menghiraukan penggeledahan di atas mereka. Brak "Cari disekitar sini! Temukan wanita itu!" Seru Seseorang yang baru masuk. Tampang mereka terlihat bengis. Camelia merinding melihat satu lelaki yang sejak tadi memandangnya. Untung saja Bibi Sandy menambahkan tompel berukuran besar di pipinya. Dia yakin, anak buah Robert Potter tak akan mengenalinya. "Tak ada tanda wanita itu disini, Tuan." Seru Anak buahnya. "Kita keluar!" seru Lelaki itu menatap tajam semua orang di ruangan itu. Camelia dan Bibi Sandy bernafas lega. Mereka menunggu sampai dua jam lamanya untuk membantu koki. Jika kamar mereka digeledah. Mereka tak akan bisa menemukan apa yang mereka cari. Buku diary dan barang berharga termasuk identitas mereka tak ada di kamar mereka. Kedua wanita itu menyembunyikannya diantara barang-barang rongsokan yang menjijikkan. Setelah beberapa waktu di dalam. Bibi Sandy mendekati Camelia. "Sepertinya sudah aman, Nyonya. Kita keluar." Bisik Bibi Sandy. Camelia mengangguk. Ia bisa menghirup udara setelah merasakan engap di Dapur. "Kelihatannya keberuntungan berada di pihak kita.. Lelaki kejam itu tak akan bisa menemukan kita." Ucap Bibi Sandy. "Terima kasih, Bi. Tanpa pertolonganmu aku tak akan bisa pergi dari tempat terkutuk itu." ucap Camelia. "Itu sudah menjadi tugas saya sebagai manusia." Ucap Bibi Sandy tersenyum. Camelia memandang lautan. Berharap ia segera sampai di tempat tujuan dengan selamat. *** Pagi menyapa, Camelia memandang hamparan laut lepas. Bibi Sandy mendekatinya. "Kita sudah berlayar selama dua hari, Nyonya. Satu hari lagi kita akan sampai di Dermaga di Indonesia." Camelia mengangguk. "Aku deg-degan. Lelaki gila itu pasti telah mengirim anak buahnya ke berbagai penjuru. Dia benar-benar gila. Tak bisakah ia melepaskanku saja." ucap Camelia. "Dia memang gila. Tak ada yang berhasil keluar dari genggaman tangannya sejauh ini. Semoga anda bisa lepas darinya selamanya." ucap Bibi Sandy. Camelia mengangguk. "Aku ingin bahagia sebentar saja." Ucap wanita cantik itu sendu. "Semoga anda bahagia selamanya." ucap Bibi Sandy. "Aamiin." "Anda baik sekali." Ucap Camelia memeluk Bibi Sandy. ------------- Di Mansion Milik Robert Potter,lelaki itu memukul anak buahnya tanpa ampun. Ia bahkan menembak para pelayan dengan bengis. Ia tak terima Camelia bisa kabur dari pengawasan mereka. "Aku ngga mau tahu. Cari wanita itu sampai ketemu!", seru Robert dengan muka merah padam. "Am..ampun, Tuan. Ka..kami akan mencari Nyonya dengan nyawa kami." ucap Anak buahnya. Robert menarik baju anak buahnya yang berbicara. "Kalau begitu cari! Aku beri waktu hingga dua hari. Jika gagal, nyawa kalian dan keluarga kalian taruhannya!" seru Robert nyalang. Lelaki itu pun naik ke lantai dua dimana kamar Camelia berada. Ia membuka kamar yang tampak sepi. "Aku tak akan memaafkanmu, Camelia. Berani sekali kamu kabur dariku. Sepertinya hukuman dariku tak membuatmu jera." gumamnya menyeringai mengerikan. Robert mengamuk. Ia menghancurkan barang-barang yang ada di kamar. Peam, tangan kanannya hanya bisa mengelus dada melihat kengerian yang diciptakan atasannya. Ia bahkan tak berani mendekat. Namun juga tak bisa menjauh. Setiap saat di dipanggil, Ia harus segera datang. Agar lelaki itu tak semakin marah. "Peam!" Seru Robert " Saya, Tuan." Jawab Peam. "Bakar barang-barang di kamar ini!" seru Robert meninggalkan kekacauan di kamar Camelia. Peam pun mengangguk. Ia segera memanggil anak buah lainnya agar membantunya. Robert sendiri masuk ke kamarnya. Ia mengusap rambutnya ke belakang. Menahan diri agar tak mengamuk di kamarnya sendiri. Ia membuka laci yang terkunci. Berharap menemukan apa yang ia cari. Dalam laci itu ada sebuah pistol dengan sepuhan emas di bagian tengahnya. Dia mencari-cari barang yang tak ia temukan. "Dimana buku itu?" tanyanya panik. "Sialan! Dimana bukuku!" serunya panik "Peam!" serunya "Saya, Tuan." Ucap Peam. "Siapa yang berani masuk ke kamarku?" tanyanya murka. "Hanya bibi Sandy, Tuan. Karena memang dia yang bertugas membersihkan kamar anda.." bug bug Peam tak sempat meneruskan ucapannya karena Robert memukulinya. Nafas Robert turun naik menahan marah. Ia tak mungkin menghabisi anak buah kepercayaannya saat ini. "Periksa CCTV!" Seru Robert. Peam bangkit meski sedikit pincang. Ia segera pergi ke ruang kerja Robert dan membuka laptop di meja kerjanya. Robert mengikuti dengan langkah gontai. Jika buku itu jatuh ke tangan Narendra, habislah dia. Ia menduga, bibi Sandy yang membawa buku itu. Dengan alasan apa, Robert tak tahu."Tuan Gilbert, Tuan Robert menyuruh anda terbang ke London. Mari, kami akan menemani anda dan teman-teman anda selama perjalanan kesana." Ucap Persey. Gilbert sudah berbangga hati. Persey adalah tangan kanan terdekat Robert. Jadi, dia meyakini kalau dia akan mendapatkan penghargaan besar kali ini. Ia menginginkan sebuah pulau di wilayah asia tenggara yang akan ia jadikan pulau pribadi. Dan Gilbert sudah ngga sabar menantikan hal itu. Sementara Persey diberikan kesempatan sekali lagi, menangani seorang seperti Gilbert. "Persey, apa Tuan sangat puas dengan kinerjaku kali ini. Saya sudah merencanakan hal ini sangat lama. Jadi, kalau berhasil itu bukanlah hal yang mengherankan."Ucap Gilbert sumringah. Persey mencibir dalam hati. Berhasil katanya. Padahal apa yang ia lakukan membuat Tuannya rugi sangat besar. Namun, Persey menahan diri untuk tak menunjukkan ketidak sukaannya. Ia tak ingin mengulang kesalahan yang sama lagi. Membuat buruannya kabur. Sebuah pesawat komersil menunggu me
Alan dan anak buahnya berada di dalam kamar hotel. Memantau pergerakan anak buahnya di Penang. Dan benar saja . Banyak gadis-gadis remaja hingga dewasa disekap disana. Kamera tersembunyi terus bergerak. Keduanya menahan nafas. Tak mudah membebaskan mereka. Anak buah Tuan Narendra terpaksa bekerjasama dengan Polisi setempat. Tidak seperti sebelumnya yang bisa bergerak sendiri. Meski resikonya besar. Tuan Narendra tak punya pilihan lain. Waktunya sangat mendesak. Tuan Narendra dan Alan harus bisa memastikan para tawanan itu bisa kembali ke keluarganya dengan selamat. "Alan! Ngga ingin ambil bagian?" Tanya Tuan Narendra yang berdiri di ambang pintu. Alan menaikkan salah satu sudut bibirnya. "Mana mungkin saya melewatkan kesempatan langka ini." Ucap Alan bangkit. Ia sudah siap dengan stelan seragam pelayan di balik mantelnya. "Hati-hati! Nanti gadis cantikmu ada yang ngambil jika kamu gagal." Goda Tuan Narendra. Meski terdengar berisik di telinganya. Alan memilih diam saja. Alan tur
Melisa sedang berjalan menuju jalan besar seperti biasanya. Kali ini ia mengenakan masker dan topi. Dua hari yang lalu, ada dua orang yang mencari keluarga kakaknya. Untungnya, keluarganya baru setahun pindah. Dan orang tuanya hanya berinteraksi dengan tetangga sekitar rumahnya saja. Nama Mala yang tinggal di Jakarta rupanya ada beberapa. Herannya tetangga desa ada yang bernama sama dengan kakaknya juga meninggal karena kecelakaan. Sungguh suatu kebetulan sekali. Dan dua orang itu tak tahu nama lengkap Kakaknya. Di data rumah sakit, hanya tertera nama Mala saja. Bukan Nirmala Rastati. Melisa yang berjalan santai tertegun melihat dua orang yang kemarin mencarinya berdiri di pinggir jalan besar. Gadis itu menghela nafas dan berjalan tenang menunggu angkot yang lewat. Melisa duduk di tempat duduk panjang dari semen. "Kamu yakin gadis itu yang dimaksud?" tanya Salah satu dari mereka. "Salah satu keluarga yang meninggal bernama Mala. Aku sudah menyelidiki kemungkinan lain. Tapi, ga
Lelaki dengan gurat senyum mirip Robert Potter itu membuat Alan membeku. Bedanya, Tuan Narendra berkulit sedikit lebih gelap dan tak kemerah-merahan khas bule. Tinggi mereka hampir sama. Hanya surai putih yang terlihat dari rambutnya yang hitam dibandingkan dengan Robert yang semu kecoklatan. Alan sempat mengira lelaki di depannya adalah Robert yang menyamar menjadi orang lain. "Mendekatlah, Keponakanku!" Seru Tuan Narendra. Alan menelan ludah susah payah. "Keponakan?" tanya Alan dalam hati. Selama berhadapan dengan Tuan Narendra, baru kali ini lelaki itu menyebut ia keponakan. Alan duduk dengan ragu di depan lelaki itu. Senyumnya ramah. Kebalikan dengan Robert yang terkesan bengis. "Bagaimana kabarmu? Aku dengar kamu kabur dari mereka." Ucap Tuan Narendra. "Hanya sementara. Saya yakin cepat atau lambat mereka akan menemukan keberadaan saya." jawab Alan. Tuan Narendra mengangguk. "Dia memang tak bisa santai sedikit saja." Ucap Narendra. Alan menoleh padanya. Cukup l
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.