Diary Mafia yang hilang

Diary Mafia yang hilang

last update최신 업데이트 : 2026-01-19
에:  noeha_noe방금 업데이트되었습니다.
언어: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
평가가 충분하지 않습니다.
6챕터
9조회수
읽기
서재에 추가

공유:  

보고서
개요
목록
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

Apa ja dinya jika sebuah Diary mengubah segalanya. Seorang mafia harus mengalami kejatuhan akibat kebiasaan tak biasa dirinya. Menulis kisah hidupnya di sebuah Diary. Buku itu laksana nyawanya. Namun, Buku itu hilang seiring dengan kematian istri yang selama ini diabaikannya. Alan potter, anak tak dianggapnya yang selama ini menginginkan kejatuhannya juga memburu buku itu. Ia bekerja sama dengan Melisa, gadis dari Asia yang harus kehilangan kakaknya akibat membawa buku itu. Alan jatuh cinta dengan Melisa yang terpaut usia enam tahun darinya. Namun kisah cinta mereka harus terhalang oleh Robert yang juga menginginkan Melisa sebagai pelampiasan sejak kematian istrinya, Camelia.

더 보기

1화

Bab 1 Melarikan diri

Malam hari di musim semi, Camelia gelisah di kamarnya. Dia remas buku-buku jemarinya yang penuh bekas luka. Badannya gemetar mengingat seluruh rasa sakit yang ia terima dari lelaki yang sayangnya adalah suaminya sendiri. Camelia, Istri tersembunyi Robert Potter, Mafia kejam dan berbahaya. Setiap kali bertemu hanya siksaan yang ia dapatkan. Seolah raganya hanya mainan. Tak pernah sekalipun lelaki itu bersikap lembut. Tak ada yang berani menolongnya. Jika ada yang bertanya dimana keluarganya? Tentu saja ada. Masih hidup. Tetapi mereka sudah tak peduli padanya. Ia serasa dijual oleh keluarganya sendiri. Semua itu karena uang yang mereka dapatkan begitu banyak setelah Robert menikahinya.

Sebenarnya ia sudah lelah jiwa dan raga. Beberapa kali mencoba bunuh diri namun gagal. Dan justru ia mendapatkan penyiksaan yang lebih kejam. Hingga ia pasrah akan nasibnya yang kurang beruntung.

Suatu hari, ketika ada pelayan yang baru masuk. Ia seperti mendapat angin segar. Ia pelayan dari Asia tenggara. Bersama pelayan itu, ia merencanakan pelarian dengan sangat matang.

"Anda sudah tidur, Nyonya?"jawab Bibi Sandy.

"Belum, Bi."jawab Camelia

"Ini, saya bawakan makan malam untuk anda."ucap Pelayan itu.

Camelia menegakkan badannya. Sejak tadi ia lelah mondar-mandir di dalam kamarnya. Hingga ia memilih rebahan di ranjangnya yang empuk di sangkar emasnya milik Robert Potter.

"Terima kasih, Bi"

Pelayan itu mengangguk.

"Bibi, ayo kita makan bersama."ajak Camelia

"Tidak, Nyonya. Saya sudah makan. Silahkan anda makan untuk menambah tenaga anda dalam pelarian malam ini."

Deg

Camelia menjadi gugup. Yakinkah ini akan berhasil? Selama ini ia selalu gagal. Jantungnya berdetak sangat kencang.

"Anda harus yakin, Nyonya."Ucap Bibi Sandy.

Camelia mengangguk.

"Muka Bibi pucat sekali." ucap Camelia

"Ini karena penyakit Bibi. TIdak apa-apa, Nyonya. Saat ini anda pikirkan diri anda sendiri."

Camelia tersenyum getir.

Pelayan itu memberikan sebuah buku untuk Camelia.

"Ini apa?"tanya Camelia

"Buku harian Tuan Robert."ucap Bibi Sandy setengah tertawa.

Camelia melongo.. Buku harian? Camelia ingin tertawa. Seorang mafia kejam punya buku harian? Sungguh konyol.

"Buku ini harus sampai ke tangan Tuan Narendra. Selain menulis kisah hidupnya yang kejam. Buku ini menyimpan simbol yang hanya bisa diterjemahkan oleh Tuan Narendra. Saya meyakini, buku ini menyimpan rahasia yang lebih besar dari itu."ucap Bibi Sandy. Dia menjelaskan siapa itu Tuan Narendra.

"Baiklah. Saya akan menjaganya dengan nyawa saya."ucap Camelia.

Malam kian larut. Semua pelayan sudah tertidur. Hanya ada penjaga yang masih lalu-lalang, berjaga secara bergantian. Udara malam yang dingin tak menyurutkan Camelia. Ia sudah siap dengan tas ransel besarnya. Ia dan pelayan itu mengendap-endap.

"Apa yang terjadi?"tanya Camelia ketika melihat penjaga tergeletak

"Saya sudah membuat mereka pingsan setidaknya selama tiga jam lamanya. Jangan khawatir, CCTV juga sudah rusak. Mari, Nyonya."ucap Pelayan itu.

Jantung Camelia berdetak dengan cepat. Mereka berjalan keluar mansion. Ternyata sudah ada mobil yang menunggu mereka. Bibi Sandy, rupanya penuh perhitungan juga. Camelia berpikir pasti pelayan itu bukan orang sembarangan.

"Kita akan pergi melewati jalur laut, Nyonya. Tuan Robert pasti tak akan mengira kita memakai alat transportasi ini." ucap Pelayan itu.

Camelia mengangguk.

Mereka menaiki kapal yang akan segera berangkat. Camelia bersandar pada sisi dek. Ia merasa lega namun masih was-was jika pelarian kali ini juga sia-sia. Tapi, Bibi Sandy meyakinkannya bahwa ini akan berhasil. Entah apa yang akan dilakukan lelaki bernama Robert Potter itu jika tahu wanita yang dikurungnya di istana miliknya bisa melarikan diri.

"Istirahatlah, Nyonya!" seru Bibi Sandy.

Camelia mengangguk. ia memasuki kabin kapal. menuju ruangan yang diperuntukkan untuknya. Menghela nafas lelah.

Entah berapa lamanya Camelia tertidur. Pintu kamarnya diketuk dengan keras. Bibi Sandy masuk dengan membawa bungkusan. Nafasnya memburu.

"Akan ada patroli, Nyonya. Saya yakin akan ada penggeledahan. Apalagi ini kapal barang. Anda ganti dengan baji usang ini. Dan pakailah make up Tan. kulit putih anda tak mendukung jika anda menyamar menjadi seorang gelandangan yang menumpang gratis dikapal ini." ucap Bibi Sandy.

"Apa kalau ketahuan menumpang kita tak akan celaka?" tanya Camelia.

"Saya hanya bercanda. Kita akan menyamar menjadi koki di kapal ini. Bersiaplah!" seru Wanita paruh baya itu.

Mereka pun berganti baju dan memakai makeup Tan. Kulit mereka berubah menjadi kelam dan dekil. Bibi Sandy menambahkan minyak pada wajah Camelia dan dirinya sendiri.

"Mari, Nyonya. Maaf, selama penggeledahan saya akan menyebut Anda Meli ya." Ucap Bibi Sandy.

"iya."

Mereka menuju dapur. Disana sudah ada beberapa orang yang sibuk mengolah makanan.

"Bibi Sansan Kemarilah. Bantu kami membuat Pai." Ucap Salah seorang diantara koki itu memanggil Bibi Sandy.

"Tentu, akan ada Meli yang akan membantu kalian." ucap Bibi Sandy.

"Wah, kami senang ada tenaga tambahan. Kamu bisa mengiris bawang bombai?" tanya Koki lainnya.

"Serahkan padaku." Ucap Camelia.

Semuanya bekerja sambil bersenda gurau. Tak menghiraukan penggeledahan di atas mereka.

Brak

"Cari disekitar sini! Temukan wanita itu!" Seru Seseorang yang baru masuk. Tampang mereka terlihat bengis. Camelia merinding melihat satu lelaki yang sejak tadi memandangnya. Untung saja Bibi Sandy menambahkan tompel berukuran besar di pipinya. Dia yakin, anak buah Robert Potter tak akan mengenalinya.

"Tak ada tanda wanita itu disini, Tuan." Seru Anak buahnya.

"Kita keluar!" seru Lelaki itu menatap tajam semua orang di ruangan itu.

Camelia dan Bibi Sandy bernafas lega. Mereka menunggu sampai dua jam lamanya untuk membantu koki. Jika kamar mereka digeledah. Mereka tak akan bisa menemukan apa yang mereka cari. Buku diary dan barang berharga termasuk identitas mereka tak ada di kamar mereka. Kedua wanita itu menyembunyikannya diantara barang-barang rongsokan yang menjijikkan.

"Sepertinya sudah aman, Nyonya. Kita keluar." Bisik Bibi Sandy.

Camelia mengangguk. Ia bisa menghirup udara setelah merasakan engap di Dapur.

"Kelihatannya keberuntungan berada di pihak kita.. Lelaki kejam itu tak akan bisa menemukan kita." Ucap Bibi Sandy.

"Terima kasih, Bi. Tanpa pertolonganmu aku tak akan bisa pergi dari tempat terkutuk itu." ucap Camelia.

"Itu sudah menjadi tugas saya sebagai manusia." Ucap Bibi Sandy tersenyum.

Camelia memandang lautan. Berharap ia segera sampai di tempat tujuan dengan selamat.

***

Pagi menyapa, Camelia memandang hamparan laut lepas. Bibi Sandy mendekatinya.

"Kita sudah berlayar selama dua hari, Nyonya. Satu hari lagi kita akan sampai di Dermana di Indonesia."

Camelia mengangguk.

"Aku deg-degan. Lelaki gila itu pasti telah mengirim anak buahnya ke berbagai penjuru. Dia benar-benar gila. Tak bisakah ia melepaskanku saja." ucap Camelia.

"Dia memang gila. Tak ada yang berhasil keluar dari genggaman tangannya sejauh ini. Semoga anda bisa lepas darinya selamanya." ucap Bibi Sandy.

Camelia mengangguk.

"Aku ingin bahagia sebentar saja." Ucap wanita cantik itu sendu.

"Semoga anda bahagia selamanya." ucap Bibi Sandy.

"Aamiin."

"Anda baik sekali." Ucap Camelia memeluk Bibi Sandy.

-------------

Di Mansion Milik Robert Potter,lelaki itu memukul anak buahnya tanpa ampun. Ia bahkan menembak para pelayan dengan bengis. Ia tak terima Camelia bisa kabur dari pengawasan mereka.

"Aku ngga mau tahu. Cari wanita itu sampai ketemu!", seru Robert dengan muka merah padam.

"Am..ampun, Tuan. Ka..kami akan mencari Nyonya dengan nyawa kami." ucap Anak buahnya.

Robert menarik baju anak buahnya yang berbicara.

"Kalau begitu cari! Aku beri waktu hingga dua hari. Jika gagal, nyawa kalian dan keluarga kalian taruhannya!" seru Robert nyalang.

Lelaki itu pun naik ke lantai dua dimana kamar Camelia berada. Ia membuka kamar yang tampak sepi.

"Aku tak akan memaafkanmu, Camelia. Berani sekali kamu kabur dariku. Sepertinya hukuman dariku tak membuatmu jera." gumamnya menyeringai mengerikan.

Robert mengamuk. Ia menghancurkan barang-barang yang ada di kamar. Peam, tangan kanannya hanya bisa mengelus dada melihat kengerian yang diciptakan atasannya. Ia bahkan tak berani mendekat. Namun juga tak bisa menjauh. Setiap saat di dipanggil, Ia harus segera datang. Agar lelaki itu tak semakin marah.

"Peam!" Seru Robert

" Saya, Tuan." Jawab Peam.

"Bakar barang-barang di kamar ini!" seru Robert meninggalkan kekacauan di kamar Camelia.

Peam pun mengangguk. Ia segera memanggil anak buah lainnya agar membantunya.

Robert sendiri masuk ke kamarnya. Ia mengusap rambutnya ke belakang. Menahan diri agar tak mengamuk di kamarnya sendiri. Ia membuka laci yang terkunci. Berharap menemukan apa yang ia cari. Dalam laci itu ada sebuah pistol dengan sepuhan emas di bagian tengahnya. Dia mencari-cari barang yang tak ia temukan.

"Dimana buku itu?" tanyanya panik.

"Sialan! Dimana bukuku!" serunya panik

"Peam!" serunya

"Saya, Tuan." Ucap Peam.

"Siapa yang berani masuk ke kamarku?" tanyanya murka.

"Hanya bibi Sandy, Tuan. Karena memang dia yang bertugas membersihkan kamar anda.."

bug

bug

Peam tak sempat meneruskan ucapannya karena Robert memukulinya. Nafas Robert turun naik menahan marah. Ia tak mungkin menghabisi anak buah kepercayaannya saat ini.

"Periksa CCTV!" Seru Robert.

Peam bangkit meski sedikit pincang. Ia segera pergi ke ruang kerja Robert dan membuka laptop di meja kerjanya. Robert mengikuti dengan langkah gontai. Jika buku itu jatuh ke tangan Narendra, habislah dia.

Ia menduga, bibi Sandy yang membawa buku itu. Dengan alasan apa, Robert tak tahu.

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

댓글 없음
6 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status