Accueil / Romansa / INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak) / Chapter 1 Langkah Pincang Di Titik Nol

Partager

INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)
INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)
Auteur: Azeela Danastri

Chapter 1 Langkah Pincang Di Titik Nol

last update Date de publication: 2022-07-04 20:39:42

Ruang tengah kediaman Sukoco yang biasanya hangat, malam ini terasa sedingin liang lahat. Aroma dupa cendana yang terbakar di sudut ruangan justru menambah sesak napas Intan. Di hadapannya, dua puluh pasang mata menatapnya dengan kebencian yang telanjang—seolah-olah Intan adalah wabah yang harus segera dimusnahkan.

​"Dalam keluarga Sukoco, tidak ada istilah perceraian," suara berat sang ayah membelah keheningan, menggelegar seperti vonis mati. "Itu aib yang tidak termaafkan, Intan. Dan kamu... kamu telah menyeret nama besar kami ke dalam kubangan lumpur. Kamu tahu konsekuensi bagi kotoran yang mencoreng wajah keluarga ini, bukan?"

​Intan mencengkeram erat sandaran kursi rodanya hingga buku-buku jarinya memutih. "Tapi saya tidak bersalah!" suaranya bergetar, nyaris pecah di ujung tenggorokan. "Saya diceraikan tanpa pernah tahu di mana letak dosa saya! Apakah keadilan hanya milik mereka yang berdiri tegak, sementara saya yang duduk di sini dianggap sampah?"

​Tawa sinis meledak dari sudut ruangan. Amanda melangkah maju, sepatu hak tingginya berdentum di atas lantai marmer, seolah sedang menginjak harga diri Intan.

​"Kamu benar-benar tidak mengerti atau pura-pura bodoh?" Amanda membungkuk, wajahnya hanya beberapa senti dari telinga Intan, membisikkan racun dengan nada yang keji. "Itu karena kamu mandul, Intan! Indung telurmu hanya satu yang sehat. Kamu itu seperti tanah gersang yang tidak akan pernah menumbuhkan benih!"

​Intan tersentak seolah baru saja ditampar dengan keras. Dunia di sekelilingnya mendadak buram.

​"Laki-laki mana yang mau mempertahankan rahim busuk seperti milikmu? Hah?! Mikir!" Amanda berdiri tegak, menatap rendah pada saudaranya yang kini hancur lebur. "Mas Bram butuh keturunan, bukan merawat pajangan lumpuh yang tidak berguna!"

​Intan tertunduk lesu. Hinaan itu menembus dadanya lebih dalam daripada rasa linu di kakinya. Ia ingin berteriak bahwa ia juga merindukan tangis bayi, bahwa ia juga mendambakan pelukan seorang ibu, tapi lidahnya kelu. Di ruangan yang penuh dengan orang-orang yang memiliki pertalian darah dengannya, Intan merasa lebih asing daripada orang asing.

​"Pergi dari rumah ini!" perintah itu dijatuhkan tanpa sedikit pun belas kasih. "Bawa kecacatan dan aibmu keluar. Tidak ada lagi tempat bagi pengkhianat rahim di bawah atap Sukoco!"

​Kursi roda itu terasa sangat berat saat Intan mulai memutarnya perlahan, memunggungi keluarga yang baru saja mengeksekusi jiwanya. Di luar, langit mulai menghitam, seolah bersiap menumpahkan duka yang sama besarnya dengan apa yang dirasakan Intan. Hidup sebatang kara dengan tubuh yang tak lagi sempurna—ia kini hanya punya satu pilihan: tenggelam dalam ratapan, atau membangun benteng di atas reruntuhan.

🌼

​‘Slamat … slamat … slamat’

​Dalam hati Intan, wanita berusia 27 tahun itu bergumam seraya mengelus dada. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Setiap ayunan tangan pada kursi roda manual itu terasa seperti menarik beban berton-ton, meniti jalan dari rumah keluarga besar Sukoco menuju gerbang utama. Ia sendirian. Dunia seolah menyempit, menyisakan derit roda dan detak jantungnya yang tidak beraturan.

​Begitu sampai di samping pos jaga, ia segera merapatkan kerudung dan masker wajahnya, bersembunyi di balik remang cahaya lampu jalan.

Sebuah mobil melintas kencang—mobil yang sangat ia kenali. Deru mesinnya seolah mencabik luka lama yang belum kering.Intan berharap si Empunya tidak menyadari keberadaan dirinya.

"Syukurlah, dia tidak melihatku. Jangan sampai dia melihatku seburuk ini," bisiknya perih.

Intan tak ingin mengambil pusing mengapa pemilik mobil itu masih menyambangi komplek ini, penasaran tetapi rasanya sudah bukan menjadi urusannya lagi. Intan harus bisa melupakan semuanya, mengingat bagi mereka ia merupakan aib.

‘Kamu bisa, kamu kuat. Jangan biarkan mereka meremehkanmu. Ayo semangat!’

​“Mbak Intan, mau ke mana?” tanya Ghali, satpam kompleks Pesona Berlian. “Kenapa di situ Mbak, remang-remang? Seperti orang ketakutan saja,” tambah Ghali, menyadarkan Intan yang terlalu fokus menyemangati diri.

​Intan memaksakan senyum di balik masker. “Mau ke Garut, Pak. Saya... saya mau cari travel,” jawab Intan mengindahkan pertanyaan kedua Ghali.

​“Isya sudah lewat, Mbak. Kantor travel sudah tutup. Susah kalau dadakan begini,” ujar Ghali iba menatap sosok di depannya. Wajah Intan pucat pasi, duduk di kursi roda dengan tas jinjing dan ransel yang dipangku erat, seolah hanya benda-benda itu yang tersisa dalam hidupnya.

​“Bapak tahu ada kenalan yang bisa saya carter? Tolong, Pak... saya harus pergi malam ini juga.” Suara Intan sedikit gemetar. Ia meraba ponselnya, hendak mengecek saldo, namun seketika lemas teringat kuota internetnya habis. Di saat genting seperti ini, teknologi seolah ikut mengkhianatinya.

Rencana untuk melihat tiket secara daring pun pupus sudah. Hampir saja ia menjatuhkan ponselnya saat seketika dering ponsel tak berhenti dari nomor yang tidak ia kenali.

Tiba-tiba ponselnya bergetar hebat. Sebuah nomor tak dikenal meneleponnya berulang kali—12 kali panggilan tak terjawab. Intan menatap layar itu dengan nanar, lalu mematikannya.

Tak ada gunanya lagi bicara. Aku sudah dibuang sebagai aib, untuk apa lagi mengangkat telepon dari masa lalu?

​“Ada Mbak, saudara saya Pak Yudi. Dia bisa antar,” sahut Ghali.

​“Kenapa nggak di hotel saja dulu, Mbak? Ini sudah malam, Mbak sedang tidak fit,” usul satpam lain yang berjaga.

Intan tampak berpikir dan menimbang usul tersebut. Resiko dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi jika dirinya masih berada di Bandung ini.

Intan menggeleng cepat. “Tidak. Saya tidak akan bisa memejamkan mata jika masih menghirup udara kota ini.”

“Gimana Mbak, jadi?”

“Pak Yudi saja, Pak. Saya mau. Saya kenal, kok. ”

“Syukurlah. Tunggu sebentar ya, Mbak. Biasanya dia standby nggak jauh dari sini saya hubungi dia dulu.”

Ghali bergegas kembali ke pos jaga dan menghubungi saudaranya sementara Intan beberapa kali menengok ke arah rumah yang tadi ia tinggalkan. Rasa was-was meningkat jika mobil yang tadi melintas kembali lagi. Dua tahun ia tidak menginjakkan kaki di komplek ini dan ia diminta datang hanya untuk diusir dengan tidak terhormat. Begitulah nasib orang yang sedang berada dititik nol, kamu akan tahu siapa yang menjadi teman sejati saat itu.

Sepuluh menit menunggu terasa seperti berjam-jam. Ketakutan bahwa mobil tadi akan berputar balik membuat Intan berkali-kali menoleh ke arah rumah besar yang baru saja mengusirnya tanpa kehormatan.

​Begitu mobil Yudi datang, ketegangan di bahu Intan sedikit menguap. Yudi turun dan tertegun melihat Intan.

​“Mbak Intan? Ini... benar Mbak Intan?” Yudi tak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya.

Yudi, pria berusia empat puluhan itu sesungguhnya terkejut dengan keadaan Intan saat ini sudah sangat lama ia tidak melihat wanita itu dan keadaannya sekarang membuatnya sangat iba. Untung saja penerangan tidak terlalu terang hingga bisa menutupi raut wajahnya. Wanita yang dulu ia kenal sangat anggun, kini duduk di kursi roda dengan tubuh yang jauh lebih kurus.

​“Iya, Mas. Kabar saya baik. Mas dan keluarga bagaimana?” balas Intan tenang, mencoba menjaga martabatnya yang tersisa.

​“Baik, Mbak. Mau ke Garut?”

“Iya ayo, langsung berangkat saja supaya tidak terlalu larut.”

“Iya. Mungkin sekitar 2 jam perjalanan. Mbak, mau beli makan malam dulu mungkin?”

​“Nanti saja di jalan, Mas. Saya hanya ingin segera sampai.”

Intan sangat bersyukur, Yudi tidak hanya baik bahkan ia membantu Intan untuk duduk senyaman mungkin bahkan Intan juga terkejut mendapati beberapa bantal sofa dan selimut di dalam sana. Seolah memang sudah dipersiapkan untuk dirinya. Intan bukannya tidak bisa berjalan, ia sudah bisa berjalan seperti sedia kala walaupun pincang hanya saja belum bisa terlalu jauh melangkah tanpa alat bantu.

“Saya bantu, Mbak?”

Yudi dengan sigap sudah berdiri di sebelah Intan yang menggapai pintu bersiap untuk berdiri sementara pria itu memasukkan tas bawaannya.

“Saya bisa kok, Mas.”

Yudi pun memberi jeda jarak begitu mendapat penolakan ia pun tak ingin memaksa, memang beberapa orang difabel tentu ingin mendapatkan privasinya untuk mandiri demi menaikkan kepercayaan diri dan membuktikan bahwa mereka masih mampu melakukan semua kegiatan sendirian.

​“Mas, nggak perlu repot menyiapkan semua ini. Jangan-jangan ini bantal sofa ruang tamunya ya?” canda Intan getir, mencoba mencairkan suasana.

​“Bukan, Mbak. Saya sengaja siapkan. Saya ingat dulu Mbak Intan tidak tahan dingin kalau perjalanan jauh,” sahut Yudi tulus. “Mbak, santai saja. Selimut dan bantalnya bisa dipakai untuk istirahat. Saya kan sudah tahu alamat rumahnya.”

​Intan tertegun. Orang asing masih mengingat detail kecil tentangku, sementara keluarga yang memiliki pertalian darah denganku... bahkan tidak ingat aku punya hati yang bisa terluka, batinnya perih.

“Ingat saja sih, Mas. Padahal orang yang merupakan keluarganya tidak ada yang jangankan ingat peduli saja tidak.” Untuk kalimat terakhir tentu saja tidak diucapkan.

“Makasih ya Pak Ghali dan bapak-bapak yang lain. saya permisi,” ujar Intan begitu menutup pintu.

💍

Abraham mengebut dari kantor begitu mendapatkan informasi bahwa Intan berada di kediaman Sukoco. Dua tahun ia sama sekali tidak mendengarkan kabar dari mantan istrinya itu. Wanita itu seolah menghilang ditelan bumi. Sekarang kembali muncul, apakah karena mendengar jika ia akan menikah kembali atau ada maksud lain mengingat Abraham sama sekali tidak memberikan tunjangan sedikitpun? Bisa jadi ia menuntut warisan dari keluarganya karena kakeknya sudah meninggal?

Di Kediaman Sukoco

​Di sisi lain kompleks, Abraham masuk ke rumah Prama Sukoco dengan napas memburu.

​“Di mana dia?” tanya Abraham dingin pada Amanda yang membukakan pintu.

“Dia siapa?” tanya Amanda balik dengan raut wajah masam, karena sejatinya ia tahu siapa yang dimaksud mantan kakak iparnya ini.

“Intan, siapa lagi? Apa benar dia mau menuntut warisan?”

​“Siapa? Intan?” Amanda mendengkus, melipat tangan di dada. “Papi sudah mengusirnya. Dia datang hanya untuk jadi pengemis warisan, Bram. Memuakkan.”

​“Dia benar-benar menuntut warisan?” Mata Abraham menyipit.

​“Iya! Dia merasa punya hak setelah mencoreng muka keluarga ini dengan perceraian kalian, aib bagi kami dia menceraikan kamu dan Papi baru tahu sekitar seminggu yang lalu,” bohong Amanda lancar.

​“Kamu rupanya.” Suara berat Prama Sukoco terdengar dari ruang tengah. “Berani sekali kamu menginjakkan kaki di sini, Abraham?”

Abraham menunduk sesaat dan kemudian melangkah masuk berkata, “Maaf Pi.”

​“Jangan panggil aku Papi! Kamu pikir aku tidak tahu kelakuan bejatmu? Menikahi Melia diam-diam di belakang Intan, lalu sekarang Melia meninggalkanmu setelah kamu bangkrut? Itu namanya karma!” teriak Prama.

​“Melia selingkuh, Om! Dia yang mengkhianati saya!” bela Abraham dengan urat leher yang menegang.

​“Dan kamu mengkhianati Intan lebih dulu!” Prama mendekat, menunjuk wajah Abraham. “Kamu tahu tidak. Itulah teguran buatmu, menikah diam-diam dengan adik istrimu tanpa restu orang tua dan kini kamu ditinggalkan. Bahkan saat kamu menceraikan Intan, tidak ada satu suku kata pun kamu ucapkan pada saya. Ngomong kek, ‘Saya kembalikan putrinya’ lupa kamu ya?”

​Abraham terdiam. Kepalanya pening. Keangkuhannya sebagai CEO hotel ternama seolah runtuh di depan mantan mertuanya. Mulut Abraham terasa terkunci saat ini, otaknya tumpul tak lagi bisa berpikir atau mungkin sudah sangat lelah karena seharian ini ia habiskan untuk meeting demi membangun hotel baru. Sekaligus melupakan pengkhianatan Melia. Intan pun tak pernah hilang dari ingatannya walau wanita yang merupakan mantan istri pertamanya itu juga berkhianat. Kakak-beradik sama saja!

“Mereka selingkuh, Om,” jawab Abraham memberanikan diri sekaligus merubah panggilan.

“Ya itu karmamu, karena kamu kurang ajar! Ya kalau mau menikah lagi carilah wanita lain, jangan yang berasal dari atap yang sama. Masa iya seorang Abraham Shelter kekurangan wanita?!”

Pria berusia 30 tahun itu hanya menggeleng. Sekonyong-konyong ia menyesal tanpa berpikir panjang tadi langsung datang ke sini. Seharusnya ia bisa menghubungi Amanda dulu. Ia tahu wanita muda itu tidak akan pernah menolak telepon darinya.

“Pergilah. Dia tidak ada di sini. Saya sudah mengusirnya.”

“Dia ke mana, Om?”

​“Bukan urusanmu! Pulanglah, cari wanita lain untuk kamu hancurkan hidupnya. Jangan putriku lagi.”

​Abraham merasa harga dirinya diinjak-injak. Ia berbalik, namun di ambang pintu ia berhenti dan menoleh dengan tatapan yang tajam dan berbahaya.

​“Saya akan pergi sekarang karena Om yang meminta. Tapi ingat satu hal....” Suara Abraham merendah, dingin dan mengancam. “Suatu saat nanti, kalianlah yang akan berlutut mencari saya. Dan saat itu terjadi, jangan harap saya akan peduli.”

​“Kamu mengancam saya di rumah saya sendiri?!” tantang Prama.

​“Itu bukan ancaman, Om. Itu janji seorang Abraham Shelter.”

​Abraham melangkah pergi, masuk ke mobilnya dan memukul kemudi dengan keras. Ia tidak tahu mengapa hatinya begitu gelisah saat mendengar Intan kembali, padahal ia sangat membenci wanita itu. Dendam dan kerinduan yang salah arah mulai bercampur menjadi satu di dadanya.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   SEKUAT CINTA YANG MENGAKAR

    Hakim mengetuk palunya sekali, menatap Rizky dengan pandangan mengayomi. "Meskipun sempat bungkam karena ketakutan dan tekanan batin dari orang tua, Pengadilan mengapresiasi keberanian Saudara Rizky yang akhirnya maju sebagai saksi kunci di menit-menit terakhir. Kesaksiannya mengenai pergerakan mencurigakan mobil-mobil asing di sekitar rumah Intan telah memperkuat pembuktian adanya unsur perencanaan dalam teror ini."​Intan yang duduk di kursi depan menoleh ke belakang, lalu memberikan sebuah senyuman tulus dan anggukan pelan ke arah Rizky. Senyuman itu seolah menghapus seluruh beban rasa bersalah yang selama ini menghimpit dada pemuda itu. Ibu Rizky pun langsung memeluk anaknya erat-erat, menangis lega karena meskipun mereka sempat dilingkupi ketakutan, niat tulus anak lakil-lakinya untuk menolong tetangga mereka akhirnya diakui oleh hukum dan dimaafkan dengan lapang dada oleh Intan.Badai hukum yang dahsyat itu akhirnya berlalu, meninggalkan hamparan langit yang bersih di atas klan

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   MEJA HIJAU PEMBALASAN

    Pagi yang berhawa pekat menyelimuti kawasan Segitiga Emas Jakarta. Di dalam auditorium utama Mahardika Tower, kemilau lampu kristal memantulkan ambisi yang meluap-luap. Ratusan lensa kamera dari puluhan awak media bisnis nasional telah bersiap, membidik podium megah tempat logo raksasa Mahardika Group terpampang dengan angkuh. Hari itu adalah hari kemenangan bagi Aryo Mahardika dan putranya, Bagus Mahardika. Mereka menggelar konferensi pers dadakan yang diklaim sebagai 'langkah penyelamatan ekonomi nasional'—sebuah eufemisme dari akuisisi senyap dan pemaksaan atas sisa-sisa aset strategis milik Sukoco Group yang sedang berdarah-darah di lantai bursa.Bagus Mahardika berdiri di depan mikrofon dengan setelan jas bespoke seharga ratusan juta rupiah. Senyumnya simetris, memancarkan aura kontrol yang mutlak. "Langkah strategis yang diambil oleh Mahardika Group hari ini adalah bentuk komitmen nyata kami untuk menjaga stabilitas sektor logistik dan energi nasional, pasca kemelut hukum yang m

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   INSTING SINGA KORPORAT

    ​"Benar, Pak. Secara formal, aset pribadi Prama dan Wandira terkunci total," Baskoro membuka tabletnya, menampilkan grafik kepemilikan saham yang mendadak berubah struktur dalam hitungan jam. "Namun, dua jam yang lalu, muncul dokumen pengalihan mutlak atas sisa saham sekunder yang dipegang oleh Amelia Sukoco dan beberapa anak perusahaan logistik mereka di lini pelayaran domestik. Nilainya mencapai ratusan miliar rupiah."​Dr. Wira mengernyitkan dahi, mendekat untuk melihat layar tablet tersebut. "Siapa yang berani menyentuh barang panas milik tersangka kriminal di saat penyidikan sedang berjalan?"​"Konsorsium Bisnis Mahardika, Dok," jawab Baskoro tegas. "Itu adalah perusahaan induk milik keluarga Bagus. Mereka menyerahkan dokumen transaksi backdate—tertanggal mundur enam bulan lalu—ke otoritas bursa. Secara hukum, transaksi itu dinyatakan sah karena ditandatangani sebelum Prama Sukoco resmi ditetapkan sebagai tersangka. Dengan kata lain, Bagus telah mencaplok sisa kekayaan Sukoco Gro

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   RIAK DI AIR KERUH

    50 RIAK DI AIR KERUHUntuk memperjelas situasi, Bagus menyodorkan sebuah tabel analisis struktur aset yang telah dipersiapkan oleh tim analis keuangannya secara rahasia sejak subuh tadiEntitas Anak PerusahaanPorsi Saham Amelia/WandiraStatus Hukum Saat IniRencana Pengalihan Konsortium BagusPT Sukoco Logistik N

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   FAJAR SEBELUM BADAI

    49 Fajar Sebelum Badai"Sebelum Mama menikah dengan ayahmu, Mama dipaksa meninggalkan Aris oleh keluarga besar Shelter karena ayah Aris hanya orang miskin. Mama sakit hati, Bram! Mama ingin Aris juga mendapatkan hak yang sama sebagai anak Mama! Tapi Mama bersumpah... Mama tidak pernah menyuruh Aris untuk membunuhmu! Mama hanya menyuruhnya mengambil alih saham dari tanganmu!""Tapi Anda membiarkan dia meneror istri saya!" bentak Abraham, emosinya akhirnya pecah hingga dadanya naik turun dengan napas memburu. "Anda membiarkan Aris dan klan Sukoco menyiksa Intan, menghancurkan kandungannya yang dulu, dan membuat hidupnya seperti di neraka! Hanya demi membela anak haram masa lalu Anda?!"Intan hanya bisa menangis di atas ranjang, menyembunyikan wajahnya di dada Ajeng yang terus mendekapnya erat.Dr. Wira melangkah maju, berdiri di samping Abraham dan menatap Novita dengan tatapan jijik seorang hakim. "Nyonya Novita, kasih sayang seorang ibu tidak bisa

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   RUNTUHNYA DINASTI KESERAKAHAN

    48 Runtuhnya dinasti keserakahanMalam harinya di kota Garut, suasana di dalam kamar inap Intan berubah menjadi ruang strategi yang dingin. Abraham, yang sudah mendapatkan perawatan darurat untuk tulang rusuknya, kini duduk di kursi sebelah ranjang Intan. Meskipun tubuhnya masih dibalut perban, sorot mata tajam sang CEO telah kembali sepenuhnya.Di ujung ruangan, dr. Wira berdiri mendampingi dua pengacara senior kepercayaannya yang baru saja tiba dari Jakarta. Sementara Baskoro, kepala keamanan Abraham, berdiri tegap di dekat pintu setelah menyerahkan sebuah koper hitam berisi dokumen manifes kapal tanker Sumatra dan rekaman pengakuan Aris."Semua bukti sudah lengkap, Dok, Pak Abraham," ujar salah satu pengacara, seraya merapikan berkas-berkas di atas meja. "Kesaksian Tendi tentang aliran dana dari Prama Sukoco kepada Aris, ditambah bukti manipulasi manifes penyelundupan di Sumatra, sudah lebih dari cukup untuk menjerat Prama Sukoco, Wandira, dan

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   Chapter 7 Larangan Ibu

    Dharma pulang saat hari sudah sangat sore. Bahkan matahari sudah hampir tenggelam. Begitu memarkirkan kendaraannya ia segera menuju pendopo tempat biasa kedua orang tua duduk menikmati suasana sore. Banyak hal yang harus ia kerjakan di tempat Intan salah satunya adalah mencari tempat perbaikan CC

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   Chapter 6 Pagi yang Kelabu

    Intan tak bisa tidur sejak semalam. Kakinya yang cacat terasa nyeri pada otot dan linu. Ditambah lagi pikiran yang sedang ruwet karena banyaknya pesanan kerajinan rotan sementara persediaan bahan mentahnya susah didapatkan. Intan belum tahu pasti, kenapa supplier langganannya menghentikan pengiri

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   Chapter 5 Posesif Sekali

    Rintik hujan semakin lebat bahkan disertai angin kencang yang menghantam kaca jendela kamar Intan. Tinggal di wilayah Kabupaten Garut yang dikategorikan sebagai daerah beriklim tropis basah, dengan iklim 9 bulan basah dan 3 bulan kering mau tak mau membuat Intan harus membiasakan diri dengan seri

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   Chapter 4 Tidak Pada Tempatnya

    Usapan di puncak kepala berubah menjadi belaian disusul dengan ciuman di kening, lalu di pipi sebelum kemudian menuju rahang singgah sebentar di sudut bibir. Sumpah, rasanya sungguh nikmat nafkah batin di pagi hari dari orang terkasih. Belaian dan kecupan Intan yang selalu dirindukan oleh Ab

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status