เข้าสู่ระบบ
Hampir tiga jam perjalanan menembus kegelapan, dan waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat saat hujan deras mulai menghantam bumi. Mobil Yudi perlahan meninggalkan pekarangan, meninggalkan Intan dalam kesunyian yang mencekam. Mungkin karena sudah mengenal lama, Yudi sempat menunjukkan kepedulian yang terasa mengusik privasi Intan. "Mbak benar tidak apa-apa sendiri? Di rumah sebesar ini, apa tidak ada yang menemani?" tanya pria itu tadi. Intan hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang digunakan untuk mengakhiri percakapan. Ia tidak perlu menjelaskan bahwa ia sudah terbiasa melakukan segalanya sendirian—termasuk menelan kepahitannya tanpa bantuan siapa pun. Dengan napas yang agak berat, Intan mengganti kursi rodanya dengan tongkat kayu bekas milik mendiang kakeknya. Bunyi tuk... tuk... kayu yang beradu dengan lantai keramik terdengar seperti detak jantung di rumah yang sepi itu. Setelah memastikan semua pintu terkunci dan lampu menyala, ia menyeduh teh jahe hangat. Uapnya yang pedas menusuk hidung, namun pikirannya masih tertinggal pada bayangan mobil Abraham yang melintas tadi. Apakah dia datang sendiri? Atau bersama Melia? Intan mencengkeram cangkirnya. Kabar terakhir yang ia dengar, mantan suaminya itu sudah resmi menikahi adik kandungnya sendiri sesaat setelah surat cerai keluar. Ia membuka ponsel, jemarinya gemetar saat melihat aplikasi pesan di ponsel untuk mengecek jadwal pembukaan tempat bimbingan belajar yang ia rintis harus tetap berjalan. Ini adalah satu-satunya pelarian selama dua tahun masa pemulihan pasca kecelakaan—kecelakaan yang terjadi tepat setelah ketuk palu hakim merenggut status pernikahannya. Bahkan sampai detik ini ia belum mengambil akta perceraiannya di pengadilan karena keadaan diri yang tidak memungkinkan. Namun sebagai manusia biasa yang terdiri dari darah dan daging pada akhirnya ia tak kuasa memendam semua kesedihan di sidang layaknya seorang tersangka, bersalah dan hina padahal dirinya lah yang menjadi korban. "Tersangka...." gumam Intan lirih. Korban keegoisan mereka, ia tak tahu salahnya di mana saat diceraikan. Tak pernah diberi kesempatan untuk membela diri saat harkat dan martabatnya diinjak. Air matanya tumpah di atas meja dapur yang mungil. Ia teringat bagaimana di ruang sidang ia disudutkan, dituduh berzina tanpa diberi kesempatan membela diri. Sekalipun membagi cinta tak pernah ia lakukan. Martabatnya diinjak oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya. "Aib," isaknya. "Kalian menyebutku aib seolah aku yang meminta dilahirkan di keluarga seperti itu." Bukannya ia menyesal tinggal dengan kakek serta neneknya. Tidak, tak sekalipun terlintas walau hampir seumur hidupnya ia tidak pernah mengenal kedua orang tuanya hingga ia berusia 20 tahun. Mereka membawanya kembali ke rumah besar itu karena kedua orang yang sudah mengasuhnya sejak ia berusia 3 tahun meninggal bersama dalam kecelakaan bus pariwisata. Hanya itu yang jadi sesalnya, andai ia ikut pasti dirinya bisa pergi bersama dengan mereka. Di tengah tangisnya, suara nasihat neneknya kembali menggema di kepala: "Seperti bongkahan intan mentah belum terjamah, kamu sekuat itu, Neng. Kamu hanya bisa terbelah oleh lapisan intan lainnya. Jangan biarkan batu kerikil menghancurkanmu." Berjuang sendiri saat ini sangat melelahkan. Intan lelah, walau nasehat sang nenek selalu teringat olehnya. Hujan semakin deras di luar sana seperti ikut merasakan kemalangan dirinya saat ini. Intan menatap sekeliling rumah. Sepi, sunyi tanpa ada teman yang menemani. Janda tanpa anak, itulah predikat yang ia sandang. Betapa memalukan hanya dua tahun menikah dan diceraikan dengan banyak dalih fitnah disematkan kepadanya. Beginilah nasib orang yang tak memiliki harta banyak. Ia pun harus pintar mengatur keuangan karena selama dua tahun menikah Intan tidak diperkenankan bekerja. Dirinya hanya mengurus suami dan rumah mereka saja. Bersolek saja ia tak lagi bisa leluasa. Padahal dulu saat ia bekerja di pabrik, dirinya bebas mempercantik diri. Memang jika di rumah ia akan berdandan ala kadarnya karena kedua saudarinya tak suka jika melihatnya berdandan. Namun malang tak dapat ditolak. Walau ia menikah dengan salah satu kandidat terbaik pilihan keluarga dulu, dirinya juga dikhianati oleh anggota keluarganya. Intan merasa menjadi samsak hidup dan hanya menjadi pelampiasan mereka. Sejak berusia 3 tahun ia tinggal bersama dengan kakek dan neneknya. Hampir tidak mengenali kedua orang tuanya jika tidak melalui sambungan telepon karena alasan mereka yang bekerja di luar kota. Pada akhirnya ia pun tak habis pikir kenapa orang tuanya meninggalkan dirinya untuk diasuh oleh kakek dan nenek jika ternyata mereka kaya raya. Bahkan pendidikan pun mereka hanya membiayai sampai SMA, untung saja ia bisa mendapatkan beasiswa melanjutkan pendidikan guru. Untung saja tempat bimbingan belajar yang ia dirikan sudah memiliki izin operasi dari pemerintah desa dan daerah. Memanfaatkan bangunan yang dulunya dijadikan sebagai gudang oleh kakeknya pada akhirnya ia bisa mewujudkan cita-citanya. Paling tidak sisa tabungannya cukup untuk hal yang baik daripada untuk menghabiskan waktu mengurus fitnahan mereka yang merasa lebih berkuasa. Tiba-tiba, suara ketukan di pintu depan mengejutkannya. "Mbak Intan... Mbak?" Seruan dari depan rumah disertai ketukan di pintu menyadarkannya dari lamunan. Intan segera menghapus air matanya, mencuci muka dengan terburu-buru di wastafel. "Ya, sebentar!" Intan tahu siapa yang datang malam begini. "Ada apa Risa?" tanyanya seraya membuka pintu, "sudah malam sekali loh." Ia mendapati Risa berdiri di sana dengan tas plastik besar. "Aku nggak bisa tidur kalau belum kasih ini, Mbak," ujar Risa seraya menerobos masuk. "Kan bisa lewat pesan," jawab Intan seraya membuka pintu lebih lebar. Intan baru menyadari jika Risa membawa sebuah tas plastik berisi banyak makanan ringan dan sembako. Risa yang menyadari arah tatapan Intan lalu berinisiatif meletakkan barang bawaannya sebelum ditolak wanita yang lebih tua darinya itu. "Jangan ditolak ya, Mbak," ujarnya begitu melihat Intan hendak berbicara. "Dari siapa ini? Kamu jangan membiasakan diri menerima pemberian orang untukku, Sa." "Ini dari Pak Rizky, Mbak," sahut Risa cepat. "Tadi dia ke sini cari Mbak, tapi Mbak masih di Bandung." Intan mengernyit. "Pak Rizky? Bukannya dia baru ke sini besok untuk ambil mebel?" "Iya, tapi sepertinya dia tidak sabar. Dia tanya banyak soal Mbak." "Kok, kamu tahu aku sudah pulang?" "Tadi pas beli mie rebus di warung depan sana ketemu sama orang yang antar Mbak pulang. Dia singgah beli rokok." "Kebiasaan kamu ini menguping," ujar Intan seraya menggeleng tak habis pikir menatap gadis berusia 23 tahun dihadapannya. Risa, gadis manis berlesung pipi itu adalah gadis yang membantunya membersihkan rumah dan tempat bimbingan belajar nantinya. "Enak ya Mbak, sekarang. Mbak nggak perlu pergi jauh-jauh untuk bekerja. Apalagi antusias warga sini juga bagus." "Iya." Intan mengangguk puas. "Oh ya, Mas Dharma juga tadi cari Mbak." "Ada perlu apa?" Intan heran, kenapa anak Lurah mereka mencari dirinya. "Katanya mau jadi donatur buat bimbel kita." Intan tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar gersang. "Donatur? Untuk apa? Kita bukan yayasan sosial, Risa. Sampaikan pada Mas Dharma, aku tidak butuh belas kasihan." "Tapi Mbak, Mas Dharma bilang ini untuk bantu anak-anak kurang mampu. Dia serius," Risa membujuk dengan wajah memelas. "Oh soal itu." Memang Intan tidak menentukan tarif anak-anak yang ingin belajar di tempatnya. Para tenaga pengajar juga merupakan volunteer, sebagai pengisi waktu luang mereka walaupun tetap mendapatkan gaji dari iuran wajib dan usaha Intan berjualan furniture antik. Kegiatan menyenangkan yang tidak banyak orang tahu. Ia pun bekerjasama dengan beberapa tukang kayu yang membuat perabotan jadul dari kayu baru. "Jadi bagaimana Mbak? Sebaiknya terima saja," bujuk Risa. "Risa bisa bantu urus pembukuannya kalau Mbak lelah. Mbak jangan memikul semuanya sendirian terus." Intan menatap Risa dalam-dalam. "Kita lihat nanti ya. Tanggung jawab menerima uang orang itu besar, Sa. Aku tidak mau berhutang budi pada pria yang punya masa lalu denganku. Apalagi mereka berdua... Rizky dan Dharma. Kenapa mereka muncul bersamaan di desa ini?" "Mungkin takdir, Mbak," goda Risa kecil. "Kita pikirkan besok lagi saja ya. Kamu tidur di sini?" "Iya dong. Ibu yang suruh, biar Mbak jangan terus meratapi nasib," jawab gadis manis itu seraya berjalan ke pintu depan dan menguncinya. Intan tersenyum simpul. "Motormu sudah kamu masukkan?" "Tadi Pak Rizky bahkan yang antar aku ke sini." "Pak Rizky, malam-malam begini?" "Iya, tadi Pak Rizky juga ketemu Bapak. Makanya tadi Risa disuruh beli mie rebus." Risa pun menambahkan, "Dia bilang dia juga ketemu Bapak di alun-alun waktu ada tanggapan wayang kemarin." "Wayang?" Intan tertegun. "Wayang Ajen di alun-alun Karangpawitan itu?" "Iya! Mas Dharma juga ada di sana. Sepertinya mereka berdua sedang 'reuni' kecil-kecilan sambil menunggu Mbak pulang dari terapi." Intan terdiam, memandang rintik hujan yang kian menderu di balik jendela. Kehadiran Rizky yang tenang dan Dharma yang penuh wibawa dari masa kecilnya kini terasa seperti gelombang yang siap menghantam benteng pertahanan yang ia bangun dengan susah payah. "Reuni ya..." bisik Intan pada dirinya sendiri. "Semoga mereka datang bukan sebagai batu kerikil yang ingin menghancurkan intan yang sudah retak ini." Hakim mengetuk palunya sekali, menatap Rizky dengan pandangan mengayomi. "Meskipun sempat bungkam karena ketakutan dan tekanan batin dari orang tua, Pengadilan mengapresiasi keberanian Saudara Rizky yang akhirnya maju sebagai saksi kunci di menit-menit terakhir. Kesaksiannya mengenai pergerakan mencurigakan mobil-mobil asing di sekitar rumah Intan telah memperkuat pembuktian adanya unsur perencanaan dalam teror ini."Intan yang duduk di kursi depan menoleh ke belakang, lalu memberikan sebuah senyuman tulus dan anggukan pelan ke arah Rizky. Senyuman itu seolah menghapus seluruh beban rasa bersalah yang selama ini menghimpit dada pemuda itu. Ibu Rizky pun langsung memeluk anaknya erat-erat, menangis lega karena meskipun mereka sempat dilingkupi ketakutan, niat tulus anak lakil-lakinya untuk menolong tetangga mereka akhirnya diakui oleh hukum dan dimaafkan dengan lapang dada oleh Intan.Badai hukum yang dahsyat itu akhirnya berlalu, meninggalkan hamparan langit yang bersih di atas klan
Pagi yang berhawa pekat menyelimuti kawasan Segitiga Emas Jakarta. Di dalam auditorium utama Mahardika Tower, kemilau lampu kristal memantulkan ambisi yang meluap-luap. Ratusan lensa kamera dari puluhan awak media bisnis nasional telah bersiap, membidik podium megah tempat logo raksasa Mahardika Group terpampang dengan angkuh. Hari itu adalah hari kemenangan bagi Aryo Mahardika dan putranya, Bagus Mahardika. Mereka menggelar konferensi pers dadakan yang diklaim sebagai 'langkah penyelamatan ekonomi nasional'—sebuah eufemisme dari akuisisi senyap dan pemaksaan atas sisa-sisa aset strategis milik Sukoco Group yang sedang berdarah-darah di lantai bursa.Bagus Mahardika berdiri di depan mikrofon dengan setelan jas bespoke seharga ratusan juta rupiah. Senyumnya simetris, memancarkan aura kontrol yang mutlak. "Langkah strategis yang diambil oleh Mahardika Group hari ini adalah bentuk komitmen nyata kami untuk menjaga stabilitas sektor logistik dan energi nasional, pasca kemelut hukum yang m
"Benar, Pak. Secara formal, aset pribadi Prama dan Wandira terkunci total," Baskoro membuka tabletnya, menampilkan grafik kepemilikan saham yang mendadak berubah struktur dalam hitungan jam. "Namun, dua jam yang lalu, muncul dokumen pengalihan mutlak atas sisa saham sekunder yang dipegang oleh Amelia Sukoco dan beberapa anak perusahaan logistik mereka di lini pelayaran domestik. Nilainya mencapai ratusan miliar rupiah."Dr. Wira mengernyitkan dahi, mendekat untuk melihat layar tablet tersebut. "Siapa yang berani menyentuh barang panas milik tersangka kriminal di saat penyidikan sedang berjalan?""Konsorsium Bisnis Mahardika, Dok," jawab Baskoro tegas. "Itu adalah perusahaan induk milik keluarga Bagus. Mereka menyerahkan dokumen transaksi backdate—tertanggal mundur enam bulan lalu—ke otoritas bursa. Secara hukum, transaksi itu dinyatakan sah karena ditandatangani sebelum Prama Sukoco resmi ditetapkan sebagai tersangka. Dengan kata lain, Bagus telah mencaplok sisa kekayaan Sukoco Gro
50 RIAK DI AIR KERUHUntuk memperjelas situasi, Bagus menyodorkan sebuah tabel analisis struktur aset yang telah dipersiapkan oleh tim analis keuangannya secara rahasia sejak subuh tadiEntitas Anak PerusahaanPorsi Saham Amelia/WandiraStatus Hukum Saat IniRencana Pengalihan Konsortium BagusPT Sukoco Logistik N
49 Fajar Sebelum Badai"Sebelum Mama menikah dengan ayahmu, Mama dipaksa meninggalkan Aris oleh keluarga besar Shelter karena ayah Aris hanya orang miskin. Mama sakit hati, Bram! Mama ingin Aris juga mendapatkan hak yang sama sebagai anak Mama! Tapi Mama bersumpah... Mama tidak pernah menyuruh Aris untuk membunuhmu! Mama hanya menyuruhnya mengambil alih saham dari tanganmu!""Tapi Anda membiarkan dia meneror istri saya!" bentak Abraham, emosinya akhirnya pecah hingga dadanya naik turun dengan napas memburu. "Anda membiarkan Aris dan klan Sukoco menyiksa Intan, menghancurkan kandungannya yang dulu, dan membuat hidupnya seperti di neraka! Hanya demi membela anak haram masa lalu Anda?!"Intan hanya bisa menangis di atas ranjang, menyembunyikan wajahnya di dada Ajeng yang terus mendekapnya erat.Dr. Wira melangkah maju, berdiri di samping Abraham dan menatap Novita dengan tatapan jijik seorang hakim. "Nyonya Novita, kasih sayang seorang ibu tidak bisa
48 Runtuhnya dinasti keserakahanMalam harinya di kota Garut, suasana di dalam kamar inap Intan berubah menjadi ruang strategi yang dingin. Abraham, yang sudah mendapatkan perawatan darurat untuk tulang rusuknya, kini duduk di kursi sebelah ranjang Intan. Meskipun tubuhnya masih dibalut perban, sorot mata tajam sang CEO telah kembali sepenuhnya.Di ujung ruangan, dr. Wira berdiri mendampingi dua pengacara senior kepercayaannya yang baru saja tiba dari Jakarta. Sementara Baskoro, kepala keamanan Abraham, berdiri tegap di dekat pintu setelah menyerahkan sebuah koper hitam berisi dokumen manifes kapal tanker Sumatra dan rekaman pengakuan Aris."Semua bukti sudah lengkap, Dok, Pak Abraham," ujar salah satu pengacara, seraya merapikan berkas-berkas di atas meja. "Kesaksian Tendi tentang aliran dana dari Prama Sukoco kepada Aris, ditambah bukti manipulasi manifes penyelundupan di Sumatra, sudah lebih dari cukup untuk menjerat Prama Sukoco, Wandira, dan
"Dalam keluarga Sukoco tidak ada istilah perceraian, itu aib besar bagi kami dan apa yang sudah kamu perbuat jelas-jelas sudah mencoreng nama baik keluarga ini. Kamu tahu konsekuensinya bukan?""Tapi saya nggak bersalah. Saya diceraikan tanpa tahu kesalahan saya di mana?" balas Intan mencoba membel
Dharma pulang saat hari sudah sangat sore. Bahkan matahari sudah hampir tenggelam. Begitu memarkirkan kendaraannya ia segera menuju pendopo tempat biasa kedua orang tua duduk menikmati suasana sore. Banyak hal yang harus ia kerjakan di tempat Intan salah satunya adalah mencari tempat perbaikan CC
Usapan di puncak kepala berubah menjadi belaian disusul dengan ciuman di kening, lalu di pipi sebelum kemudian menuju rahang singgah sebentar di sudut bibir. Sumpah, rasanya sungguh nikmat nafkah batin di pagi hari dari orang terkasih. Belaian dan kecupan Intan yang selalu dirindukan oleh Ab
"Untuk apa kamu ke sana lagi?" tegur Novita begitu melihat anak kesayangannya muncul dari balik pintu garasi."Ke sana ke mana?" tanya Abraham balik tak acuh, tanpa menghentikan langkah menuju kamarnya. Setelah bercerai untuk yang kedua kalinya, kedua orang tuanya memang m







