Mag-log inBab 7
Badai Di Luar Badai Di Hati Hujan yang menderu di luar menciptakan kebisingan alami yang sempurna untuk menyamarkan langkah kaki Dharma. Sambil membawa cangkir kopinya yang masih mengepul, Dharma meminta izin ke gudang belakang dengan alasan ingin memeriksa kualitas rotan sintetis. Begitu ia melewati pintu kayu besar yang memisahkan area galeri dengan workshop, udara berubah menjadi lembap dan beraroma khas kayu basah serta tiner. Dharma tidak langsung menuju tumpukan bahan baku. Ia berhenti di meja kerja Pak Tekno yang berantakan. Matanya yang tajam memindai buku catatan stok yang tergeletak terbuka. Dengan gerakan cepat, ia memotret lembar catatan itu menggunakan ponselnya. Ada coretan-coretan angka yang tidak sinkron antara jumlah rotan yang masuk dengan kerangka kursi yang sudah jadi. "Terlalu kasar permainannya," gumam Dharma sinis. Ia kemudian melangkah ke pojok gudang, tempat penyimpanan bahan sisa (waste). Di sana, di balik tumpukan karpet pelindung yang sudah usang, Dharma menemukan dua gulung rotan alami kualitas super yang masih utuh, namun sengaja ditutupi dengan potongan-potongan rotan reject. Ia menarik sedikit lapisan karpet itu dan menemukan label pengiriman yang seharusnya menuju ke alamat galeri lain, bukan milik Intan. Seketika, suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Itu Pak Tekno. Pria tua itu tampak terkejut melihat Dharma berada di area penyimpanan paling belakang. "Eh, Mas Dharma... sedang apa di sini? Di sini kotor, Mas," ujar Pak Tekno dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha menutupi kegugupannya dengan tawa hambar. Dharma tidak bergeming. Ia berdiri tegak, memutar tubuhnya perlahan sambil menatap lurus ke mata Pak Tekno. Ia sengaja membiarkan keheningan menggantung selama beberapa detik, menciptakan tekanan yang mencekam di antara mereka. "Aku hanya sedang menghitung, Pak Tekno," jawab Dharma dengan nada bicara yang sangat tenang namun dingin. "Menarik ya, bagaimana rotan-rotan terbaik di sini seolah-olah punya kaki sendiri untuk bersembunyi di balik sampah." Dharma melangkah maju satu tindak, membuat Pak Tekno mundur secara refleks. "Intan mungkin terlalu baik dan percaya pada semua orang, tapi aku tidak. Jangan sampai aku menemukan bahwa 'kaki' rotan itu ternyata adalah tangan seseorang yang ia percayai." Dharma meninggalkan gudang dengan senyum tipis yang mematikan, meninggalkan Pak Tekno yang terpaku dengan wajah pucat pasi. Ia sudah mendapatkan apa yang ia cari: bukti bahwa ada pengkhianatan di bawah atap tempat Intan mencari nafkah. 💍 Abraham memacu mobilnya dengan jarak aman, menjaga agar SUV hitam milik Dharma tetap berada dalam jangkauan pandangnya tanpa terlihat mencolok. Sepanjang jalur berkelok menuju Garut, jemarinya mengetuk kemudi dengan ritme yang tidak beraturan, hingga tanpa sadar jemarinya mencengkeram kemudi sampai memutih. Pikirannya berperang antara dua sisi: satu sisi berharap wanita itu bukan Intan agar ia bisa berhenti merasa bersalah, dan sisi lain sangat ingin wanita itu adalah Intan agar ia bisa menumpahkan segala dendam. Ditambah otaknya dipenuhi suara Dharma yang memuji janda itu sebagai "permata". Permata? Abraham mendengkus sinis. Paling hanya wanita desa yang pandai mencari muka. Rasa penasaran yang bercampur dengan sisa-sisa amarah semalam telah membakar logikanya. Dengan hanya berbekal alamat samar dari kartu nama yang terjatuh dan insting yang tajam. Sepanjang perjalanan, jemarinya mencengkeram kemudi hingga memutih. Pikirannya berperang antara dua sisi: satu sisi berharap wanita itu bukan Intan agar ia bisa berhenti merasa bersalah, dan sisi lain sangat ingin wanita itu adalah Intan agar ia bisa menumpahkan segala dendamnya. Kecamatan Karangpawitan menyambutnya dengan udara yang lebih sejuk dan hamparan sawah hijau. Namun, saat mobil Dharma mulai memasuki wilayah Karangpawitan dan berbelok ke sebuah area yang asri dengan deretan bangunan kayu yang rapi, jantung Abraham berdegup kencang. Tempat yang sesuai dengan yang diberitahukan oleh beberapa warga lokal dengan menyebutkan ciri-ciri "Gudang furniture antik," Abraham akhirnya sampai di sebuah jalanan asri yang tidak terlalu lebar. Ia memarkirkan mobilnya di balik barisan pohon bambu yang rimbun, sekitar seratus meter dari sebuah bangunan yang tampak artistik. Ia memarkirkan mobilnya sekitar lima puluh meter dari sebuah bangunan kayu yang nampak artistik dengan papan nama kecil bertuliskan "Neng Geulis Ceramic & Furniture". Abraham turun dari mobil, memakai kacamata hitam dan topi baseball menutupi sebagian wajahnya, mencoba menyatu dengan suasana sekeliling. Ia melangkah perlahan menuju sisi samping bangunan yang merupakan area terbuka—sebuah workshop atau studio. Dari kejauhan, ia melihat Dharma turun dari mobil dengan senyum lebar, membawa bungkusan makanan dari ibunya. Langkah Abraham membeku di balik sebuah pohon rindang. Di sana, di bawah naungan atap bambu yang estetik, seorang wanita sedang duduk membelakangi arahnya. Wanita itu mengenakan apron berwarna terakota yang sudah terkena bercak tanah liat. Di depannya, sebuah alat pemutar gerabah sedang berputar lambat. Abraham menahan napas saat wanita itu sedikit memiringkan kepalanya untuk menyeka keringat di pelipis dengan punggung tangannya yang bersih. Deg. Jantung Abraham seolah berhenti berdetak. Meski dari samping dan sedikit tertutup helaian rambut yang lolos dari ikatannya, Abraham mengenali garis rahang itu. Garis rahang yang dulu sering ia kecup saat pagi hari. Wanita itu adalah Intan. Namun, bukan itu yang membuat Abraham terpaku lemas. Saat Intan mencoba meraih sebuah botol air di meja sebelah, ia harus sedikit menggeser posisinya. Saat itulah Abraham melihatnya—sebuah tongkat kayu bersandar di kursi Intan, dan cara Intan menggerakkan kakinya yang nampak kaku dan tidak leluasa. Intan tidak lagi duduk di kursi roda, tapi ia pincang. Ia terluka. "Intan..." bisikan itu nyaris tak terdengar, tertelan suara gesekan tanah liat. Abraham melihat perubahan drastis pada mantan istrinya. Tak ada lagi wajah pucat dan rapuh yang selalu ketakutan di bawah bayang-bayang ibunya. Intan yang sekarang terlihat... hidup. Matanya fokus pada tanah liat di tangannya, jemarinya yang lentur membentuk sebuah vas dengan penuh perasaan. Ia nampak seperti seorang ratu di kerajaan kecilnya sendiri. Abraham hendak mendekat tapi kembali terdiam membeku saat melihat sosok wanita dengan rambut yang di kuncir sederhana, mengenakan apron kain yang terkena bercak putih kaolin. Wanita itu melangkah perlahan, sedikit pincang, bertumpu pada sebuah tongkat kayu yang nampak kokoh. Menyambut kedatangan Dharma. Tangan Abraham yang tersembunyi di balik pohon mengepal kuat hingga kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Rasa cemburu yang liar membakar dadanya. Apalagi percakapan diantara keduanya terlihat sangat serius dan —dekat. Ditambah kelakuan Dharma yang sangat berani memegang pergelangan kaki Intan dengan penuh perhatian itu. Jadi ini alasan Dharma melarangku mendekatinya? pikir Abraham dengan geram. Dia menyembunyikan 'harta karun' ini untuk dirinya sendiri? Tanpa sadar, Abraham melangkah maju, ingin keluar dari persembunyiannya dan mengonfrontasi mereka berdua. Dan sekarang, saat Dharma mendekat dan menyerahkan bungkusan, Intan mendongak dan tertawa. Tawa itu... Abraham merasa seperti ditampar. Selama dua tahun menikah, ia hampir tidak pernah mendengar Intan tertawa selepas itu. Abraham mencengkeram batang pohon bambu di sampingnya hingga buku-buku jarinya memutih. Hatinya mendidih melihat Dharma dengan ringannya mengusap puncak kepala Intan, sebuah gerakan akrab yang menunjukkan betapa dekatnya mereka selama ini di belakang punggungnya. Jadi ini tempat persembunyianmu? batin Abraham gelap. Membangun kerajaan kecil dengan bantuan sepupuku sendiri? Kemarahan Abraham nyaris meledak saat melihat Risa keluar membawa nampan berisi keramik biru metalik—pesanan yang tadi dibahas. Dari kejauhan, keramik itu berkilauan terkena sinar matahari, persis seperti deskripsi di katalog yang ia lihat sekilas. Intan mengambil salah satu piring, mengelusnya dengan tatapan penuh kebanggaan. Ia tampak begitu berdaya, begitu berbeda dari "babu" yang dulu hanya tahu cara melayani Abraham. "Kamu terlihat sangat bahagia setelah menghancurkan namaku, Intan," desis Abraham dengan mata menyipit tajam. Rasa bersalah yang sempat muncul karena melihat kaki Intan yang pincang segera tertutup oleh kabut cemburu dan dendam. Abraham merasa dikhianati dua kali; oleh mantan istrinya dan oleh sepupu yang paling ia percayai. Tanpa sadar, Abraham melangkah keluar dari bayang-bayang pohon, namun suara klakson truk tronton pembawa rotan yang tiba-tiba masuk ke pekarangan workshop membuatnya tersentak dan kembali bersembunyi. Ia melihat Intan menyapa supir truk dengan ramah, memberikan instruksi dengan telunjuknya ke arah gudang belakang. Kepemimpinan wanita itu nampak alami. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat Intan tertawa kecil menanggapi ucapan Dharma dan para pria yang mengerumuninya. Tawa itu terdengar begitu damai, tanpa beban aib atau fitnah selingkuh yang selama ini Abraham sematkan padanya. Abraham mundur selangkah. Kepalanya berputar. Jika Intan sesenang ini, apakah benar dia berkhianat dulu? Atau justru dia melarikan diri ke sini untuk membangun kehidupan yang lebih jujur daripada kehidupan "babu" di rumahnya? Abraham kembali ke mobilnya dengan perasaan yang jauh lebih kacau dengan napas memburu daripada saat ia berangkat. Ia tidak jadi melabrak. Ia menyadari satu hal: Intan yang sekarang bukan lagi miliknya untuk dihancurkan, tapi milik seseorang yang menghargai luka-lukanya. Dan Abraham Shelter, tidak akan membiarkan itu terjadi begitu saja. Ia tidak akan muncul sekarang. Ia ingin menghancurkan momen ini di saat yang paling tepat. Ia ingin melihat sejauh mana "permata" Dharma ini bisa bertahan saat ia menarik kembali semua kenyataan pahit masa lalu ke hadapannya. "Permainan yang bagus, Dharma. Tapi dia masih milikku untuk aku adili," gumam Abraham seraya memutar balik mobilnya dengan kasar, meninggalkan debu yang beterbangan di jalanan desa yang tenang itu. 💍 Di teras, Intan mendadak merapatkan sweater. Perasaannya tidak enak. Ia menoleh ke arah deretan pohon bambu di kejauhan, seolah merasa ada sepasang mata yang mengawasinya dengan penuh kebencian. "Ada apa?" tanya Dharma menyadari kegelisahan itu. "Entahlah Mas... rasanya seperti ada badai yang lebih besar dari sekadar hujan ini yang sedang menuju kemari," jawab Intan lirih. Dharma menatap ke arah yang sama, matanya menyipit. Ia tahu ban mobil yang tadi terparkir di sana bukanlah milik penduduk lokal. "Jangan khawatir. Selama aku di sini, tidak akan ada yang bisa menyentuhmu lagi." Namun di dalam hati, Dharma tahu... perang saudara dengan Abraham baru saja dimulai.Hakim mengetuk palunya sekali, menatap Rizky dengan pandangan mengayomi. "Meskipun sempat bungkam karena ketakutan dan tekanan batin dari orang tua, Pengadilan mengapresiasi keberanian Saudara Rizky yang akhirnya maju sebagai saksi kunci di menit-menit terakhir. Kesaksiannya mengenai pergerakan mencurigakan mobil-mobil asing di sekitar rumah Intan telah memperkuat pembuktian adanya unsur perencanaan dalam teror ini."Intan yang duduk di kursi depan menoleh ke belakang, lalu memberikan sebuah senyuman tulus dan anggukan pelan ke arah Rizky. Senyuman itu seolah menghapus seluruh beban rasa bersalah yang selama ini menghimpit dada pemuda itu. Ibu Rizky pun langsung memeluk anaknya erat-erat, menangis lega karena meskipun mereka sempat dilingkupi ketakutan, niat tulus anak lakil-lakinya untuk menolong tetangga mereka akhirnya diakui oleh hukum dan dimaafkan dengan lapang dada oleh Intan.Badai hukum yang dahsyat itu akhirnya berlalu, meninggalkan hamparan langit yang bersih di atas klan
Pagi yang berhawa pekat menyelimuti kawasan Segitiga Emas Jakarta. Di dalam auditorium utama Mahardika Tower, kemilau lampu kristal memantulkan ambisi yang meluap-luap. Ratusan lensa kamera dari puluhan awak media bisnis nasional telah bersiap, membidik podium megah tempat logo raksasa Mahardika Group terpampang dengan angkuh. Hari itu adalah hari kemenangan bagi Aryo Mahardika dan putranya, Bagus Mahardika. Mereka menggelar konferensi pers dadakan yang diklaim sebagai 'langkah penyelamatan ekonomi nasional'—sebuah eufemisme dari akuisisi senyap dan pemaksaan atas sisa-sisa aset strategis milik Sukoco Group yang sedang berdarah-darah di lantai bursa.Bagus Mahardika berdiri di depan mikrofon dengan setelan jas bespoke seharga ratusan juta rupiah. Senyumnya simetris, memancarkan aura kontrol yang mutlak. "Langkah strategis yang diambil oleh Mahardika Group hari ini adalah bentuk komitmen nyata kami untuk menjaga stabilitas sektor logistik dan energi nasional, pasca kemelut hukum yang m
"Benar, Pak. Secara formal, aset pribadi Prama dan Wandira terkunci total," Baskoro membuka tabletnya, menampilkan grafik kepemilikan saham yang mendadak berubah struktur dalam hitungan jam. "Namun, dua jam yang lalu, muncul dokumen pengalihan mutlak atas sisa saham sekunder yang dipegang oleh Amelia Sukoco dan beberapa anak perusahaan logistik mereka di lini pelayaran domestik. Nilainya mencapai ratusan miliar rupiah."Dr. Wira mengernyitkan dahi, mendekat untuk melihat layar tablet tersebut. "Siapa yang berani menyentuh barang panas milik tersangka kriminal di saat penyidikan sedang berjalan?""Konsorsium Bisnis Mahardika, Dok," jawab Baskoro tegas. "Itu adalah perusahaan induk milik keluarga Bagus. Mereka menyerahkan dokumen transaksi backdate—tertanggal mundur enam bulan lalu—ke otoritas bursa. Secara hukum, transaksi itu dinyatakan sah karena ditandatangani sebelum Prama Sukoco resmi ditetapkan sebagai tersangka. Dengan kata lain, Bagus telah mencaplok sisa kekayaan Sukoco Gro
50 RIAK DI AIR KERUHUntuk memperjelas situasi, Bagus menyodorkan sebuah tabel analisis struktur aset yang telah dipersiapkan oleh tim analis keuangannya secara rahasia sejak subuh tadiEntitas Anak PerusahaanPorsi Saham Amelia/WandiraStatus Hukum Saat IniRencana Pengalihan Konsortium BagusPT Sukoco Logistik N
49 Fajar Sebelum Badai"Sebelum Mama menikah dengan ayahmu, Mama dipaksa meninggalkan Aris oleh keluarga besar Shelter karena ayah Aris hanya orang miskin. Mama sakit hati, Bram! Mama ingin Aris juga mendapatkan hak yang sama sebagai anak Mama! Tapi Mama bersumpah... Mama tidak pernah menyuruh Aris untuk membunuhmu! Mama hanya menyuruhnya mengambil alih saham dari tanganmu!""Tapi Anda membiarkan dia meneror istri saya!" bentak Abraham, emosinya akhirnya pecah hingga dadanya naik turun dengan napas memburu. "Anda membiarkan Aris dan klan Sukoco menyiksa Intan, menghancurkan kandungannya yang dulu, dan membuat hidupnya seperti di neraka! Hanya demi membela anak haram masa lalu Anda?!"Intan hanya bisa menangis di atas ranjang, menyembunyikan wajahnya di dada Ajeng yang terus mendekapnya erat.Dr. Wira melangkah maju, berdiri di samping Abraham dan menatap Novita dengan tatapan jijik seorang hakim. "Nyonya Novita, kasih sayang seorang ibu tidak bisa
48 Runtuhnya dinasti keserakahanMalam harinya di kota Garut, suasana di dalam kamar inap Intan berubah menjadi ruang strategi yang dingin. Abraham, yang sudah mendapatkan perawatan darurat untuk tulang rusuknya, kini duduk di kursi sebelah ranjang Intan. Meskipun tubuhnya masih dibalut perban, sorot mata tajam sang CEO telah kembali sepenuhnya.Di ujung ruangan, dr. Wira berdiri mendampingi dua pengacara senior kepercayaannya yang baru saja tiba dari Jakarta. Sementara Baskoro, kepala keamanan Abraham, berdiri tegap di dekat pintu setelah menyerahkan sebuah koper hitam berisi dokumen manifes kapal tanker Sumatra dan rekaman pengakuan Aris."Semua bukti sudah lengkap, Dok, Pak Abraham," ujar salah satu pengacara, seraya merapikan berkas-berkas di atas meja. "Kesaksian Tendi tentang aliran dana dari Prama Sukoco kepada Aris, ditambah bukti manipulasi manifes penyelundupan di Sumatra, sudah lebih dari cukup untuk menjerat Prama Sukoco, Wandira, dan
Usapan di puncak kepala berubah menjadi belaian disusul dengan ciuman di kening, lalu di pipi sebelum kemudian menuju rahang singgah sebentar di sudut bibir. Sumpah, rasanya sungguh nikmat nafkah batin di pagi hari dari orang terkasih. Belaian dan kecupan Intan yang selalu dirindukan oleh Ab
"Untuk apa kamu ke sana lagi?" tegur Novita begitu melihat anak kesayangannya muncul dari balik pintu garasi."Ke sana ke mana?" tanya Abraham balik tak acuh, tanpa menghentikan langkah menuju kamarnya. Setelah bercerai untuk yang kedua kalinya, kedua orang tuanya memang m
Hampir tiga jam perjalanan dan waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam lebih saat ia hujan deras mulai turun dan mobil Yudi meninggalkan pekarangan rumah. Mungkin karena sudah mengenal lama pria itu sedikit peduli kepada Intan dengan banyak pertanyaan yang rasanya tak patut orang asing menanya
"Dalam keluarga Sukoco tidak ada istilah perceraian, itu aib besar bagi kami dan apa yang sudah kamu perbuat jelas-jelas sudah mencoreng nama baik keluarga ini. Kamu tahu konsekuensinya bukan?""Tapi saya nggak bersalah. Saya diceraikan tanpa tahu kesalahan saya di mana?" balas Intan mencoba membel







