Share

BAB 14

Author: Casanova
last update publish date: 2026-09-23 06:59:39

“Kekasihmu sedang melihat kemesraan kita.”

Tera berbisik di sela pelukan eratnya pada leher sang suami. Berjuang mengempas canggung, dia harus meredam detak jantungnya yang berdetak kencang. Selama ini tak pernah berinteraksi dengan Suma sedekat ini, dia harus memaksakan diri agar terlihat alami sebagai pasangan bahagia yang sempurna.

Aku harus mengabaikan semuanya demi bisa menyingkirkan wanita itu. Kenapa aku harus malu? Toh, Suma suamiku. Aku berhak melakukan apa saja. Bahkan, lebih dari ini
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • ISTRI 365 HARI   BAB 14

    “Kekasihmu sedang melihat kemesraan kita.”Tera berbisik di sela pelukan eratnya pada leher sang suami. Berjuang mengempas canggung, dia harus meredam detak jantungnya yang berdetak kencang. Selama ini tak pernah berinteraksi dengan Suma sedekat ini, dia harus memaksakan diri agar terlihat alami sebagai pasangan bahagia yang sempurna.Aku harus mengabaikan semuanya demi bisa menyingkirkan wanita itu. Kenapa aku harus malu? Toh, Suma suamiku. Aku berhak melakukan apa saja. Bahkan, lebih dari ini.Bergidik, Tera gugup. Selama ini tak pernah bersinggungan dengan pria. Satu-satunya kaum Adam yang dekat dengannya hanya sang papa. Ketika menikah, dia harus bersusah payah meredam kegugupannya saat bersentuhan dengan suaminya.Suma terkejut. Bermaksud mengurai pelukan, dia dibuat tak berkutik ketika Tera kembali bersuara. “Jangan menoleh ke belakang. Pura-puralah tidak melihat. Bagaimana kalau sampai orang tua kita curiga.” Suma tegang.“Lagian, kenapa tidak memintanya pulang ke Jakarta? Ka

  • ISTRI 365 HARI   BAB 13

    “Tera? Ini kamu, Nak?” Mama Nayala bersama yang lainnya tengah menikmati segelas jus alpukat sambil menikmati matahari tenggelam di tepi pantai saat pasangan pengantin baru tiba di hadapan mereka. “Ya Tuhan, ini menantuku?” Mama Caca tak kalah terkejut. Dia tengah menyesap es jeruk dan nyaris tersedak.Tera tersenyum simpul. Tiba di kamar, dia langsung berganti pakaian dengan gaun chiffon longgar bermotif floral dan flat shoes sederhana. Rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja, berayun setiap tertiup angin pantai. Wajah dengan riasan sederhana itu berbinar tertimpa sinar keemasan. Tak tampak kacamata yang selama ini berhias di wajah. Manik mata cokelat pun berganti kebiru-biruan. Serasi dengan helaian sutera pirang yang menghiasi kepala.“Ya, Ma. Aku baru saja sampai. Maaf, terlam ....” Kalimat Tera terputus bersamaan dengan rangkulan mesra di pundaknya. Dia terkejut ketika Suma tiba-tiba memeluk mesra. Kata-kata yang sedang mengantre keluar dari bibir, kini tertelan kembali. Ane

  • ISTRI 365 HARI   BAB 12

    “Aku kira mataku saja yang minus, ternyata matamu juga minus, toh?” Tera mendengkus. Suaminya berdiri beberapa meter di hadapan. Melihatnya sampai melotot, bahkan tak berkedip sama sekali. “Aku serius, Ra. Sudah, jangan main tebak-tebakan. Di mana kamu?” Suma membuang pandangan. Dia harus menjaga matanya. Inggit akan mengamuk andai mengetahui tatapannya liar dan melirik gadis lain. Kekasihnya sangat pencemburu. “Kamu sengaja, ‘kan?” Tera kesal. Suaminya sudah di depan mata, tetapi masih saja mengelak kalau tidak melihat kehadirannya. Entah harus sedih atau kecewa. “Apa sebenci itu kamu padaku? Sampai-sampai sudah melihatku dengan jelas, kamu masih mengelak.” Suma terkejut. Ucapan lirih Tera mengusik perasaannya. Dia tidak sedang berpura-pura. Bahkan, pria muda itu tak berniat dengan sengaja menyakiti istrinya. “Kamu yang mana? Demi Tuhan, Ra. Aku tidak melihatmu. Aku sudah di depan pintu kedatangan. Kaus putih, celana cokelat.” Suma menurunkan intonasi bicaranya. “Aku tahu.” Te

  • ISTRI 365 HARI   BAB 11

    “Ternyata Tera tak selugu yang kubayangkan. Sepertinya, aku salah memilih lawan. Kukira dia lemah dan takberdaya, ternyata ....” Suma mendesah pelan. Berdiri di depan pintu kedatangan bandara, dia menunggu kedatangan istrinya. Setelah tawar-menawar cukup alot, ada beberapa poin kesepakatan yang membuat pasangan muda itu berdamai dengan keadaan. “Kenapa lama sekali?” Suma melirik jam di pergelangan tangannya. Sejak pagi dia harus terusir dari resor. Belum mandi, bahkan masih mengenakan setelan tidur. Kaus katun dipadankan dengan celana denim selutut berwarna cokelat tua. Beruntung masih sempat menyambar ponsel dan dompet. Setidaknya, masih bisa jajan walau sepanjang hari di luaran.Menatap layar raksasa yang menampilkan jadwal keberangkatan dan kedatangan dari berbagai rute penerbangan, Suma sedikit lega setelah memastikan pesawat dari Jakarta yang ditumpangi Tera mendarat lima menit lalu.“Sudah mendarat.”Suma terus menatap ke arah pintu kaca. Dia belum bisa tenang sebelum melihat

  • ISTRI 365 HARI   BAB 10

    “Kamu di mana?” Mama Caca mengomel di telepon. Hampir satu jam menunggu di lobi, Suma tak kunjung menghampiri. Bersama suami dan kedua besannya terbang ke Bali pagi-pagi sekali, bahkan ada yang belum sempat sarapan dan mandi. “Aku … aku ….” Suma menggaruk-garuk kepala. Dia bingung memberi alasan pada mamanya yang terus mengoceh tanpa jeda. “Ini sudah satu jam. Sebentar lagi papa dan mertuamu kering dijemur matahari.” Mama Caca kembali menyembur. “Maaf, Ma. Aku dan Tera sedang tidak ada di resor. Kita baru kembali nanti sore atau malam.” Suma beralasan. Bersusah payah menyelinap keluar dari resor, Suma harus segera mencari cara menyelamatkan diri. Dia tak mau sampai kedoknya terkuak. Bulan madu yang harusnya dilewati bersama Tera, tetapi pria tampan itu malah mengajak Inggit. Andai Mama Caca mengetahui, tentu akan murka. “HAH!” Suara terkejut itu ditunjukkan dengan notasi tinggi dan suara kencang. Mama Caca takbisa berkata-kata. Dia merasa dikerjai sang putra. “Bagaimana?” tanyany

  • ISTRI 365 HARI   BAB 9

    Papa Mahaka menguap berulang kali. Duduk di ruang tunggu bandara Soekarno Hatta, sesekali dia menggerutu. Istri yang sejak tadi sabar meladeni setiap protesnya hanya diam sembari menjaga agar keluhan sang suami tak terdengar oleh besan mereka. “Kenapa tidak memberitahu dari kemarin-kemarin, sih?” Mahaka mendengkus kesal. Dia bahkan tidak sempat mandi, hanya membasuh wajah dan gosok gigi. “Sudah. Kak Haka saja yang tidak menanggapi. Semalam saat aku menyiapkan koper, Kak Haka masih sempat melihat, ‘kan?” Papa Mahaka membisu. “Ayo senyum. Jangan mengeluh. Tidak enak dengan besan. Ini rencana mereka agar kita ikut liburan bersama. Katanya menyambut pernikahan Suma dan Tera. Di sana kita akan merayakan ulang tahun Suma.” Haka terbeliak. “Aku tidak sudi. Sejak awal aku tidak pernah respek dengan anak itu. Apa bagusnya? Kalau bukan karena orang tuanya, aku akan berpikir ribuan kali merestui.” Papa Mahaka masih mengungkit hal yang sama berulang-ulang. “Kak.” Mama Nayala mengingatkan.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status