Inicio / Romansa / ISTRI 48 JAM TUAN CEO / 142. BUKAN SANDIWARA

Compartir

142. BUKAN SANDIWARA

Autor: Purple Rain
last update Última actualización: 2025-12-26 13:18:07

Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden Chateau De Valois perlahan membangunkan Bella. Ia merasakan beban hangat di pinggangnya—lengan kokoh Ethan yang masih memeluknya erat, seolah takut ia akan menghilang begitu fajar menyapa.

​Bella terdiam sejenak, menatap langit-langit kamar yang tinggi. Rasa nyeri di tubuhnya menjadi pengingat nyata bahwa malam tadi bukanlah mimpi. Ia bukan lagi sekadar "asisten" atau "partner kontrak". Batas yang selama ini ia jaga dengan ketat telah runtuh sepenuhnya.

​"Sudah bangun?" Suara bariton Ethan yang serak khas bangun tidur menggetarkan punggung Bella.

​Ethan mengecup bahu Bella yang terbuka, lalu membalikkan tubuh gadis itu agar menghadapnya. Mata Ethan yang biasanya tajam dan mengintimidasi, kini tampak lembut dan penuh proteksi.

​"Mas..." panggil Bella lirih. Ada keraguan yang tiba-tiba menyelinap di hatinya. "Tentang yang Mas katakan semalam... soal kontrak itu..."

​Ethan menjauhkan anak rambut yang menutupi wajah Bella, menatapnya dalam-da
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    156. REMBULAN YANG BERSAKSI

    WARNING!Area 🔞🔞🔞EXPLISIT 21++Bijaklah dalam memilih bacaan.🍁🍁🍁Sprei sutra hitam bergoyang pelan ditiup angin malam. Ia menanggalkan gaun tipis Bella, memperlihatkan lingerie hitam renda dibaliknya yang membuat mata Ethan gelap penuh nafsu. "Kau cantik sekali, Bella…" gumam Ethan, mulutnya menjelajah leher Bella, lalu turun ke lembah payvdara perempuan itu. Bella mengerang saat lidah Ethan menyentuh pvtingnya yang mengeras, menghisap lembut lalu lebih kuat, gigitannya ringan membuat punggungnya melengkung. "Mas... ahh," desah Bella, tangannya meremas bahu Ethan, kuku-kukunya meninggalkan bekas yang memerah. Ethan tak berhenti. Tangannya merayap ke bawah, jari-jarinya menyusup ke celana dalamnya yang sudah basah. Ia menggosok klitorisnya dengan gerakan melingkar lambat, memasukkan satu jari, lalu dua, membiarkan Bella menggeliat di bawahnya. "Kamu sudah siap untukku, Sayang…" katanya serak, suaranya penuh kemenangan.Bella membalas dengan membuka ikat pinggang Ethan, menar

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    155. I'M YOURS

    Sore itu sinar matahari senja membalut langit Moonville dalam warna jingga lembut, saat Ethan mengemudikan mobil sport hitamnya menuju Moonlight Bloom. Bella duduk di sampingnya, jari-jarinya saling bertautan dengan tangan Ethan di tuas transmisi. "Jadi, selain menepati janji. Apakah Mas ingin merayuku, agar aku bersedia melanjutkan perjalanan bisnis kita ke Archenland?" tanya Bella, suaranya penuh rasa ingin tahu bercampur nostalgia.Ethan mengangguk, matanya tetap fokus ke jalan berkelok. "Ya, tebakanmu sangat tepat. Aku punya kejutan untukmu. Kamu pasti suka.”Mereka tiba di Moonlight Bloom saat matahari hampir tenggelam. Gerbang besi terbuka otomatis, menyambut mereka ke taman luas yang dipenuhi bunga-bunga liar. Mawar merah, lily putih harum, dan lavender ungu yang bergoyang ditiup angin. “Really?” Bella tampak takjub dibuatnya. “Mas menyulapnya dalam waktu singkat,” pemandangan di hadapannya begitu memukau, “Kau melakukan semua ini diam-diam di belakangku,” lanjutnya.“Surpris

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    154. ENGGAN UNTUK PERGI

    ​Bella mengenakan setelan blazer hitam yang sangat rapi, rambutnya diikat rendah, memancarkan aura profesionalisme yang mengejutkan. Ia tidak datang sebagai kekasih yang manja, melainkan sebagai seseorang yang memiliki hak untuk berada di sana.​"Maaf membuat kalian menunggu," ucap Ethan datar saat ia menarik kursi utama. Ia tidak langsung duduk, melainkan memberi isyarat agar sekretarisnya menyiapkan kursi tambahan tepat di sampingnya untuk Bella.​"Ethan, ini adalah pertemuan tertutup konsorsium," protes Tuan Markus, matanya melotot ke arah Bella. "Siapa wanita ini dan apa haknya berada di sini?"​"Namanya Violla Isabella," jawab Ethan, suaranya berat dan penuh wibawa. "Dan dia hadir di sini sebagai salah satu pemegang saham di perusahaan kita. Mengingat sebagian besar dari kalian meragukan integritasku karena rumor yang beredar, aku membawa seseorang untuk membantu mengidentifikasi siapa sebenarnya yang membocorkan data Goc'ta Company ke publik."​Ruangan mendadak sunyi. Wajah Alex

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    153. NEGOSIASI DI ANTARA DUA HATI

    ​Alexa tidak segera membalas. Ia menatap tangan Ethan yang melingkar di pinggang Bella seolah tangan itu adalah belati yang baru saja menusuk jantungnya. Tanpa kata lagi, ia menyambar tas desainer-nya dan melangkah keluar. Suara ketukan stiletto-nya di lantai marmer terdengar seperti dentang lonceng peringatan yang menggema di seluruh koridor Dirgantara Empire. ​Setelah pintu tertutup rapat, keheningan menyelimuti ruangan. Ethan menghembuskan napas panjang, ketegangan di bahunya sedikit mengendur, namun matanya masih memancarkan sisa-sisa amarah. ​"Kau tidak perlu melakukan itu, Mas," suara Bella memecah kesunyian. Ia meletakkan gelas kopi di atas meja kerja Ethan yang berantakan dengan dokumen. "Menjadikanku tameng di depan Alexa hanya akan membuatnya semakin menggila." ​Ethan memutar tubuh Bella agar menghadap padanya sepenuhnya. "Aku tidak menjadikanmu tameng, Bella. Aku menjadikanmu pusat. Aku ingin dia—dan semua orang di gedung ini—paham bahwa posisimu tidak bisa dinegosiasika

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    152. DIA PRIORITAS UTAMAKU

    ​Keheningan yang damai itu tiba-tiba pecah oleh getaran keras dari ponsel Ethan yang tergeletak di konsol tengah. Cahaya layar yang terang benderang membelah remang kabin, menampilkan sebuah nama yang seketika membuat suasana hangat di dalam mobil itu mendingin.​Alexa Grace.​Bella melirik layar itu dengan tatapan datar, namun rahangnya mengeras. Keintiman yang baru saja mereka bagi seolah terusik oleh realitas yang menolak untuk pergi.​Ethan menghela napas berat, tangannya masih melingkar di pinggang Bella. Ia tidak meraih ponsel itu, membiarkannya terus bergetar hingga panggilan tersebut mati dengan sendirinya. Namun, hanya dalam hitungan detik, ponsel itu kembali menyala. Getarannya kali ini terasa lebih menuntut, seolah mencerminkan ego pemiliknya yang tidak terbiasa diabaikan.​"Angkatlah," bisik Bella dingin, meski jemarinya masih bermain di tengkuk Ethan. "Sepertinya ada urusan yang sangat mendesak hingga dia lupa waktu."​"Abaikan saja, Sayang," jawab Ethan serak, ia mencoba

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    151. SEBUAH NARASI

    Tatapan Ethan yang dalam dan pengakuannya yang tulus membuat pertahanan Bella runtuh sepenuhnya. Rasa cemburu yang tadinya membakar hati kini berubah menjadi gelora yang berbeda—sebuah keinginan yang mendesak untuk membuktikan bahwa Ethan memang miliknya.​Bella tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menarik kerah kemeja Ethan, memangkas jarak di antara mereka, dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang menuntut. Seakan ingin membersihkan jejak ciuman Alexa di bibir pria yang telah membuatnya cinta mati.Ethan tertegun sejenak, namun segera membalasnya dengan intensitas yang sama. Suara napas yang memburu mulai memenuhi kabin mobil yang kedap suara itu.​"Bel..." geram Ethan di sela ciuman mereka, tangannya berpindah dari jemari Bella menuju tengkuknya, memperdalam pagutan itu.“Hm?” Gumam Bella.“Alexa, Elena, atau siapa pun itu. Mereka hanya sebuah sisipan di perjalanan hidupku. Tapi kamu…”​Ethan melepaskan tautan bibir mereka hanya untuk menurunkan sandaran kursi penumpang, mencip

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status