Se connecterSuara denting sendok yang beradu dengan cangkir di meja sebelah terdengar seperti dentuman keras di telinga Bella. Ia merasa seolah oksigen di kafe itu baru saja disedot habis. Ethan masih menatapnya—tatapan yang sama seperti bertahun-tahun lalu, namun kini dilapisi dinding es yang begitu tebal."Terima kasih, Jane," jawab Ethan pendek tanpa mengalihkan pandangan dari Bella. "Kau bisa kembali ke kantor lebih dulu. Ada berkas kontrak vendor yang harus kau periksa sebelum jam empat."Jane tampak sedikit terkejut, namun profesionalismenya mengikis rasa itu. "Baik, Pak. Nona Viola, senang bertemu dengan Anda. Saya harap kolaborasi ini bisa berjalan dengan lancar."Setelah Jane berpamitan dan bayangannya menghilang di balik pintu kaca kafe, keheningan yang menyesakkan menyelimuti meja mereka. Bella meremas tali sling bag-nya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih."Jadi..." Ethan membuka suara, nadanya rendah dan berbahaya. "Nona Vee. Nama yang manis untuk seorang penulis yang
“Kau terlambat sepuluh menit,” Tuan Martin menghampirinya, “Kita meeting sebentar lagi, siapkan semua analisis yang aku minta.” Lanjutnya sambil beriringan berjalan menuju ke sebuah ruangan di sudut gedung percetakan.“Sekarang? Yang benar saja, Tuan Martin. Analisisnya masih satu minggu lagi untuk persiapan buku baru, kenapa—”“Mereka ingin segera menerbitkannya, kita tidak memiliki banyak waktu.” Bella menghentikan langkahnya di depan ruangan, Tuan Martin. Ia menghela napas kasar, cuti yang sudah direncanakan sepertinya akan gagal total. “Mereka… siapa?” akhirnya Bella memberanikan diri masuk ke dalam kantor Tuan Martin, mengibaskan rambutnya yang kini dipangkas pendek sebahu. “Kenapa seenaknya mengubah jadwal tanpa memberitahuku? Tidak bisa begini dong, Tuan. Aku harus fokus menyelesaikan biografi sebelumnya, setelah itu baru mereka bisa mengajukan kerja sama baru padaku.” Napasnya sedikit terengah, namun Bella mencoba untuk bersikap profesional. “Bukankah itu bagus? Pekerjaan s
“Aku nggak ngambek, ngapain?” Ethan membuang muka, menepis dugaan Sovia yang memasang wajah marah saat adik kembarnya itu mendatangi kantornya tanpa janji terlebih dahulu.“Jadi kamu datang ke sini hanya untuk itu?” dengan entengnya Ethan kembali menyapa wajah murka Sovia dengan santainya. “Masih banyak urusan yang harus aku kerjakan, jadi—”“Kamu ngusir aku? Jangan jadi pria pengecut, Ethan! Hadapi Bella, dan jelaskan semua kesalahan yang kamu perbuat padanya.” Teriak Sovia, tatapannya tajam mengunci lawan, hingga Ethan lupa caranya bernapas.Ketegangan yang terjadi membuat bahu Ethan merosot turun seiring hembusan napas panjang darinya. “Kau pikir aku begitu?” lalu ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, sedangkan pinggulnya bersandar di pinggir meja kerja.“Coba pikir pakai otak. Kau menahan hak yang seharusnya sudah menjadi miliknya,”“Tidak sepenuhnya benar. Kamu nggak tahu ceritanya seperti apa, jadi jangan sok memberiku ceramah ngawur seperti itu.” “...Apa?!” Sovia meny
"Lihat baik-baik dengan kedua matamu. Ethan tak boleh tahu tentang ini sekarang. Kalau kau mau masa depan anakmu aman—saham, sekolah terbaik, perlindungan—putuskan hubunganmu dengan Ethan. Aku beri kau 10 miliar dan apartemen baru. Dan jika kau menolak, maka rahasia ini akan menghancurkan kalian berdua."Ingatan itu terus menari-nari dalam kepala Bella. Ia mengusap wajahnya yang terasa pekat, menghembuskan napas perlahan, lalu menghubungi nomor telepon yang tertera di atas kartu berwarna hitam.[Oke, aku pergi][Aku tidak mengambil apa pun dari Anda]Kemudian Bella meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas. Ia melewatkan tawaran menggiurkan dari Zivanna, dari awal Bella tidak tertarik. Cintanya, perasaannya, kebahagiaannya… tidak bisa ditukar dengan barang atau uang.***Rumah sakit Celestial Spring. 11:00 AM.“Coba yang ini,” Bella memberikan kartu debit lainnya ketika dia sedang mengurus administrasi rumah sakit. Hari ini ibunya dijadwalkan pulang, kondisi Margaretha sudah jauh le
Langkah heels terdengar menghentak di lorong rumah sakit Celestial Spring yang sunyi. Kedua tangannya bertaut di depan dada, tanpa ada senyuman yang ramah seperti biasanya.“Bella, tunggu! Bella,” raih Ethan setengah berlari mengejar perempuan yang terang-terangan meninggalkannya.Tarikan tangan Ethan berhasil menghentikan langkah Bella yang terburu-buru. “What?!” satu kata yang meluncur dari mulut Bella mengisyaratkan sebuah penolakan tegas.“Bella,” Ethan tidak memiliki alasan apapun, mulutnya sedikit terbuka, kemudian urung kembali. “Sorry…” akhirnya hanya permintaan maaf yang bisa ia sampaikan.“Kenapa harus bohong sama, Mama?” gurat wajahnya menegang, berbeda dengan pribadi Bella yang berada di dalam kamar VIP tadi, saat mereka berhadapan dengan Margaretha. “Ya karena aku terpaksa melakukannya, Bel. Mau sekarang atau nanti, semua akan sama saja…” ujar Ethan.“Perusahaan property nggak hanya milik Dirgantara Company, Ethan. Banyak, masih banyak perusahan-perusahaan property lain
Napas Ethan memburu, “Kau pikir aku lelaki pengecut yang tidak bertanggung jawab?” “Ethan, pelankan suaramu. Di sini bukan tempat yang tepat untuk adu mulut.” Bella mencoba menghentikan kemarahan Ethan.Tapi tidak semudah itu. Larangan adalah sebuah perintah bagi seorang Ethan Dirgantara.“Kau membuatku malu,” suaranya terdengar bergumam, namun penuh penekanan.Deru napas pria yang sudah dikuasai emosi itu terasa panas di wajah cantik Bella, sehingga ia tidak lagi merasakan dinginnya pergantian musim di New Archadia.“Kau pikir aku peduli?” Ethan memajukan wajahnya, reflek membuat Bella terhenyak. “Aku manusia bebas yang bisa melakukan apa pun. Kau tidak bisa melarangku, Bella.” lanjutnya.“Tapi tidak di sini,” sahut Bella cepat.“Kenapa? Apa yang kau takutkan?” tiba-tiba ekspresi marah itu menghilang, kini berganti dengan tawa mengejek. “Kau takut ibumu mendengar pertengkaran kita?” “Mas!” Tanpa Bella sadari, ia kembali menyebut Ethan dengan panggilan itu. ‘Menyebalkan!’ (rutuk Be







