Beranda / Romansa / ISTRI 48 JAM TUAN CEO / 32. JEBAKAN DI PESTA GOC'TA

Share

32. JEBAKAN DI PESTA GOC'TA

Penulis: Purple Rain
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-03 20:41:35

“Surprise ….” suara familiar terdengar di tengah ramainya para tamu.

Zivanna mengintip dari balik badan Ares yang menutupi hampir seluruh tubuhnya yang duduk di meja undangan. “Maureen!” pekik Zivanna dengan bola mata berbinar.

“Well …. ada yang jatuh cinta rupanya,” sindir Maureen dengan senyum mengejek.

“Ah, tidak, bukan begitu. Kamu, salah paham. Kita, aku dan Ares cuma ….” Zivanna gelagapan dibuatnya, ia belum siap memberi jawaban.

'Aku tidak ciuman sama dia!' batin Zivanna jujur mengatakannya.

Ares kembali duduk di kursinya dengan tenang, tidak ada perasaan canggung sedikitpun, seolah ia membenarkan apa yang telah dituduhkan oleh Maureen.

“Hay, Ryn. Lama nggak ketemu, kapan datang?” tanya Ares santai, ia mengambil gelas wine dan menyesapnya sedikit.

Maureen menarik sebuah kursi, lalu ikut bergabung di meja yang sama. “Hallo Sovia, Tante Maureen dengar kamu akan masuk sekolah dasar tahun ini.” Ia mengabaikan pertanyaan Ares, Maureen mengalihkan perhatian pada putri cantik Zivann
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    151. SEBUAH NARASI

    Tatapan Ethan yang dalam dan pengakuannya yang tulus membuat pertahanan Bella runtuh sepenuhnya. Rasa cemburu yang tadinya membakar hati kini berubah menjadi gelora yang berbeda—sebuah keinginan yang mendesak untuk membuktikan bahwa Ethan memang miliknya.​Bella tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menarik kerah kemeja Ethan, memangkas jarak di antara mereka, dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang menuntut. Seakan ingin membersihkan jejak ciuman Alexa di bibir pria yang telah membuatnya cinta mati.Ethan tertegun sejenak, namun segera membalasnya dengan intensitas yang sama. Suara napas yang memburu mulai memenuhi kabin mobil yang kedap suara itu.​"Bel..." geram Ethan di sela ciuman mereka, tangannya berpindah dari jemari Bella menuju tengkuknya, memperdalam pagutan itu.“Hm?” Gumam Bella.“Alexa, Elena, atau siapa pun itu. Mereka hanya sebuah sisipan di perjalanan hidupku. Tapi kamu…”​Ethan melepaskan tautan bibir mereka hanya untuk menurunkan sandaran kursi penumpang, mencip

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    150. TIDAK INGIN YANG LAIN

    Hening sejenak menyelimuti meja makan itu sebelum akhirnya Tuan Mario terkekeh pelan, memecah ketegangan yang sempat memuncak. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara, sebuah gestur menyerah yang tampak ramah.​"Tenanglah, Ethan. Kau selalu saja tegang seperti sedang berada di garis start sirkuit," ujar Mario dengan nada santai. "Aku mengundang kalian ke sini karena aku mendengar kabar bahagia. Bukankah tidak sopan jika aku hanya mengirimkan karangan bunga untuk pertunangan kalian?”​Mario meraih botol wine, lalu mengisi kembali gelas Ethan dan Bella dengan gerakan yang luwes.​"Selamat atas pertunangan kalian. Bella, kau benar-benar membawa perubahan besar pada Ethan. Dia sekarang terlihat lebih... bernyawa," lanjut Mario tulus, atau setidaknya terdengar sangat tulus.​Bella perlahan melonggarkan genggamannya pada tangan Ethan. Ia mencoba tersenyum, kali ini lebih alami. "Terima kasih, Tuan Mario. Saya hanya mengikuti takdir ke arah mana menuntun hubungan ini, dan mencoba menjadi ruma

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    149. SUPERHERO

    Bella terdiam di pelukan Ethan. Pertanyaan itu—“Secinta itu kamu sama aku, Bel?”—terasa seperti gema dari masa lalu yang akhirnya mendapatkan jawaban, namun di waktu yang jauh berbeda.🍁🍁🍁Bella melepaskan pelukan itu perlahan, menatap mata biru Ethan yang kini tidak lagi sedingin es, melainkan penuh dengan kobaran api protektif."Dulu, aku mencintaimu sampai aku kehilangan diriku sendiri, Mas. Sampai aku tidak mengenal siapa aku ini sebenarnya? Kenapa begitu terobsesi denganmu?" Ucap Bella jujur, suaranya tenang namun tajam. "Sekarang, aku mencintaimu sampai aku takut kehilangan kamu lebih dari aku takut kehilangan nyawaku sendiri. Jadi, tolong... jangan jadikan makan malam ini sebagai ajang balas dendam atau melanjutkan ambisimu yang tertunda."Ethan tertegun. Ia mengusap pipi Bella dengan ibu jarinya, merasakan sisa kehangatan kulit wanita itu. "Ini bukan sekadar dendam, Bel. Ini tentang menutup bab yang seharusnya sudah selesai bertahun-tahun lalu. Mario punya kunci yang selama

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    148. DI BALIK CINTA REMAJA

    Undangan Mario Caspian barusan seperti mesin waktu yang menarik kesadaran Bella kembali ke masa berseragam. Sebelum kemewahan penthouse dan aroma bensin sirkuit ini ada, hanya ada aroma buku tua dan keringat lapangan basket di SMA St. Louis.Flashback dimulai…Bella remaja adalah definisi kegigihan yang salah sasaran. Selama tiga tahun, dunianya berputar pada satu poros: Ethan Dirgantara.Setiap pagi, sebelum bel masuk berbunyi, Bella sudah bertarung dengan asap dapur. Ia menyiapkan bekal dengan jemari yang terkadang teriris pisau atau melepuh terkena wajan panas. Bukan untuknya, tapi untuk pemuda bermata biru yang bahkan jarang menyebut namanya dengan benar.​“Dimakan, ya! Hari ini aku buatin kamu sandwich. Isinya ekstra keju, kesukaan kamu,” ucap Bella. Ia meletakkan kotak bekal itu di meja Ethan. Wajahnya secerah matahari pagi, bibirnya tersenyum manis bagaikan ranumnya cherry. Namun, pemuda itu bergeming. Ethan hanya melirik kotak itu sekilas, seolah itu hanyalah gangguan kecil d

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    147. NOSTALGIA DI LINTASAN SIRKUIT

    ​Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden penthouse, namun Ethan sudah tidak ada di tempat tidur. Bella terbangun oleh aroma kopi yang kuat dan suara samar dentingan kunci dari arah ruang kerja.​Saat Bella melangkah keluar dengan piyama satinnya, ia menemukan Ethan sedang duduk di lantai, dikelilingi oleh tumpukan perlengkapan balap yang sudah lama tersimpan di dalam koper kedap udara. Ethan sedang memegang helm karbon hitam miliknya, mengusap permukaannya yang lecet dengan ekspresi yang sulit diartikan.​"Terlalu pagi untuk berperang dengan kenangan, Mas?" tanya Bella lembut sambil bersandar di bingkai pintu.​Ethan mendongak, “Kau sudah bangun?” senyumnya tipis namun tegas. "Ini bukan soal berperang, Bella. Hanya berkenalan kembali. Aku akan ke sirkuit pagi ini. Hanya latihan pribadi, tanpa tim, tanpa publikasi. Aku ingin tahu apakah tanganku masih gemetar saat memegang kemudi di kecepatan tinggi."Bella berjalan mendekat, “Aku yakin, Mas bisa melawan perasaan sia

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    146. TAPAK TILAS MOONLIGHT BLOOM

    ​Ethan akhirnya menyerah pada tarikan tangan Bella. Dengan sisa-sisa napas yang masih sedikit berat, ia melangkah keluar dari jacuzzi, membiarkan tetesan air jatuh membasahi lantai marmer yang dingin. Ia segera meraih handuk kimono tebal berwarna putih dan menyampirkannya ke bahu Bella sebelum membungkus dirinya sendiri.​"Kamu benar-benar tidak kenal lelah, ya?" gumam Ethan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Matanya tak lepas dari Bella, yang meski terlihat lelah, memiliki binar mata yang lebih cerah dari biasanya.​"Kehilangan semangat adalah kemewahan yang tidak bisa aku beli, Mas," jawab Bella jenaka sambil mengikat tali kimononya. "Dan ingat, Mas punya utang satu kemenangan padaku di pasar malam nanti."***​Satu jam kemudian, mobil mewah Ethan membelah jalanan Moonville menuju sisi kota yang lebih merakyat. Kontras itu terasa nyata; dari kesunyian penthouse yang eksklusif menuju hiruk-pikuk suara mesin wahana permainan dan aroma harum gulali serta jagung bakar.​

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status