LOGINHafiz membalikkan tubuhku, menyedot aroma khas di titik s3nsitifi wanita itu yang selalu membuatnya gila. Lidahnya memainkan ritme yang liar, memasukkannya dalam-dalam membuatku mengerang kencang hingga mencengkeram sprei.
"Oohhwwggg... Sayang... Hafiz..." desahku. Aku menarik bahu Hafiz, memintanya untuk naik.Dalam posisi yang saling berlawanan, kami saling melepaskan dahaga keintiman yang terlarang. Aku menarik b*tang Hafiz yang sudah menegang keras ke arah mulutku.Hafiz membalikkan tubuhku, menyedot aroma khas di titik s3nsitifi wanita itu yang selalu membuatnya gila. Lidahnya memainkan ritme yang liar, memasukkannya dalam-dalam membuatku mengerang kencang hingga mencengkeram sprei."Oohhwwggg... Sayang... Hafiz..." desahku. Aku menarik bahu Hafiz, memintanya untuk naik.Dalam posisi yang saling berlawanan, kami saling melepaskan dahaga keintiman yang terlarang. Aku menarik b*tang Hafiz yang sudah menegang keras ke arah mulutku."Ohhhhggg..." erang Hafiz saat merasakan kehangatan mulutku."Memang kamu yang terbaik, Zara. Hanya kamu..."Ruangan itu dipenuhi suara napas yang memburu dan erangan kepuasan. Aku melengkungkan punggungku saat aku merasa akan mencapai puncak."Coming... oohhggg... keluar, Sayang! Ahhh!"Hafiz tidak berhenti, ia justru semakin ganas menj1latiku hingga cairan bening itu keluar membasahi lidahnya. Tak lama kemudian, Hafiz pun tak tahan lagi. Ia menggen
Zuhra mencoba menjemput kembali keintiman yang telah lama hilang dengan mendekat pada Hafiz di atas ranjang mereka. Ia berusaha sekuat tenaga membangkitkan gairah suaminya sepenuhnya, memberikan sentuhan dan belaian yang ia harap mampu membuat Hafiz terpaku padanya. Namun, kenyataannya begitu pahit. Pikiran Hafiz yang terbagi membuat fokusnya buyar. Hasratnya seolah kehilangan kekuatannya, hanya tersisa separuh dari yang seharusnya. Zuhra, yang tidak mau menyerah, mencoba memaksakan keintiman itu. Ia bergerak dengan ritme yang ia tahu biasanya disukai suaminya, mencoba memancing kembali jiwa Hafiz yang melayang entah ke mana. "Hafiz... ayolah, Sayang..." rintihnya dengan suara parau. Hafiz memejamkan mata erat-erat. Di kegelapan di balik kelopak matanya, ia justru mulai membayangkan wajahku. Ia membayangkan desahan napasku yang memburu, sentuhan lidahku yang lihai, dan bagaimana aku memuaskannya di kamar mandi hotel tempo hari. Hanya dengan membayan
"Kenapa harus jauh-jauh? Di sini juga sudah bagus, kan?" tanyaku sambil mengerutkan kening, merasa heran dengan ajakan Azizah yang tiba-tiba. "Di sana lebih tenang, Zara. Di sini terlalu berisik, aku mau ambil foto yang estetik buat kamu," bohong Azizah dengan nada yang dipaksakan ceria. Ia lalu melirik ke arah Azzam. "Abang, bawa mobil ke dekat sana ya? Biar kami jalan kaki berdua saja lewat jalur pedestrian." Azzam hanya mengangguk. Tatapannya kembali tajam, ia sempat melirik sekali lagi ke arah Hafiz sebelum berbalik menuju parkiran. Ada rasa benci yang mendalam terhadap Hafiz yang ia rasakan sekarang. Pria bajingan, umpatnya dalam hati dengan rahang mengeras. Aku berjalan perlahan mengikuti Azizah. Aku merasa ada yang aneh dengan sikap kedua kakak beradik itu, namun sifat diamku membuatku tidak banyak bertanya. Aku tidak tahu, bahwa hanya terpaut beberapa puluh meter dariku, pria yang kucintai sedang memuja wanita lain dengan tawa
"Tidak ada yang direpotkan. Orang tuaku menyukaimu, Azizah juga. Kalau kamu mau, nanti aku yang bicara dengan Azizah agar dia memintamu pindah," Azzam tidak menyerah begitu saja. Di dalam benaknya, jika aku tinggal di rumahnya, ia bisa melindungiku sepenuhnya dari gangguan Hafiz."Tidak, Azzam. Terima kasih sebelumnya. Aku lebih nyaman di hotel untuk saat ini," tolakku dengan lembut namun tetap tegas.Tiba-tiba Azizah datang dengan botol minum di tangannya. Ia melihat wajah serius kami berdua yang terjebak dalam suasana kaku. "Apa yang sedang kalian bicarakan? Serius sekali mukanya!"Aku hanya tersenyum kecil, mencoba menyembunyikan rasa kikukku. "Tidak ada apa-apa, Azizah. Hanya bicara soal kemacetan tadi."Azzam tidak menyahut. Ia hanya diam, mendongakkan kepalanya menatap langit-langit monumen Gateway of India yang menjulang megah. Di balik ketenangannya, Azzam sedang menyusun rencana. Baginya, penolakanku barusan hanyalah awal. Ia tahu, s
"Bang Azzam! Abang libur hari ini, kan?" tanya Azizah penuh harap. Azzam muncul dari balik pintu dengan wajah datarnya yang khas. "Iya. Kenapa?" jawabnya dingin, namun sorot matanya yang menatap Azizah menunjukkan kasih sayang yang mendalam dari seorang kakak. Azizah menghampiri abangnya dan merayu dengan manja. "Ikut kami jalan-jalan ya, Bang? Abang jadi driver buat Zizah dan Zara ya? Boleh ya, Bang?" Azzam terdiam sejenak. Ia melirik ke arahku yang berdiri beberapa langkah di belakang adiknya. Tatapan kami bertemu di udara. Aku merasakan ada sesuatu yang berbeda dari cara Azzam menatapku—tatapan yang sangat dalam, intens, seolah ia sedang berusaha merengkuh seluruh luka yang kusembunyikan. "Baiklah," Azzam akhirnya mengangguk pelan. "Yess! Ayo cepat!" seru Azizah riang. Kami bertiga berjalan menuju mobil. Saat Azzam membukakan pintu untukku, ia sempat menahan pintu itu sedikit lebih lama sambil menatap mataku sekali lagi. Aku merasa gugup; ada aura protektif yang s
Namun, di belahan kota Mumbai yang lain, di kediaman orang tua Zuhra, suasana batin sangatlah berbeda. Zuhra berdiri di dapur yang sunyi, mencoba menenangkan pikirannya yang terus-menerus tertuju pada Hafiz. Rasa haus yang tiba-tiba menyerang membuatnya meraih sebuah gelas kristal dari rak. Namun, entah mengapa, tangannya mendadak lemas tak bertenaga. PRANG! Gelas itu jatuh menghantam lantai marmer, pecah menjadi serpihan tajam yang berserakan. Zuhra tersentak, dadanya berdegup kencang seolah ada peringatan yang dikirimkan alam semesta melalui suara pecahan itu. Ia segera berjongkok untuk memungut pecahan kaca, namun pikirannya yang melamun membuatnya tidak waspada. "Aww!" desis Zuhra tertahan. Ujung pecahan kaca yang paling tajam menggores telapak tangannya. Darah segar berwarna merah pekat segera merembes keluar, mengalir di antara sela-sela jarinya. Zuhra terdiam, terpaku menatap luka itu. Perih di tangannya tak sebanding dengan rasa sesak di dadanya. Seketika, wajah Hafiz m







