ログインTEMEN-TEMEN TOLONG TINGGALKAN KOMENTAR DAN DUKUNGAN BERLIAN YA SUPAYA NONA SEMANGAT UPDATE. TERIMA KASIH ...
Kheland rasanya tidak terima sama sekali. Sindiran Ethan dan tatapan penuh kekecewaan dari ibunya seperti menusuk tepat di titik terlemah egonya. Dibakar rasa malu dan kesal yang berkecamuk, Kheland mengalihkan pandangannya tajam ke arah Cleara.“Itu pasti akal-akalanmu saja, kan?! Kau sengaja bertingkah dan membuat alasan tak masuk akal seperti ini supaya aku dimarahi Ibu!” tuduh Kheland dengan nada penuh prasangka, menunjuk wajah istrinya.Cleara terkesiap mendengar tuduhan itu. Matanya membelalak tak percaya, sementara bungkusan scones di tangannya diremas makin erat. Rasa bahagia yang baru saja ia rasakan beberapa menit lalu di restoran seketika runtuh tanpa sisa, tergantikan oleh rasa sesak dan kesal yang membakar dada.“Kheland! Cukup!” bentak Nyonya Bella, suaranya menggelegar menembus keheningan ruang tamu. Wanita paruh baya itu melangkah maju dan berdiri pasang badan tepat di depan Cleara, menutupi menantunya dari pandangan murka Kheland. “Berhenti menuduh dan memojokkan istr
Kheland beranjak bergegas berdiri. Ia melangkah lebar menuju kamar mandi dan membuka pintunya kasar, namun ruangan itu kosong melompong. Gelap dan dingin. Tidak ada tanda-tanda Cleara di sana. “Dia pasti sedang di dapur, Bu,” potong Kheland cepat, berusaha menutupi rasa paniknya sendiri dan menenangkan ibunya. “Tidak usah berlebihan mencemaskannya.”“Kalau begitu susul istrimu sekarang!” sembur Nyonya Bella tak mau tahu. “Istrimu itu sedang hamil muda, Kheland! Bagaimana bisa kau membiarkannya berkeliaran ke dapur sendirian di tengah malam begini?! Kau ini suaminya, seharusnya kau yang mendampingi dan menemaninya!”“Dia tidak membangunkanku, Bu!” sahut Kheland membela diri, nadanya meninggi karena frustrasi dan jengkel terus-terusan disalahkan hanya karena istrinya.“Seharusnya kau peka menjadi seorang suami!” balas Nyonya Bella tajam, menatap murka pada putra tunggalnya. “Bukan malah tidur nyenyak di sofa seperti orang asing di kamar ini! Cepat turun dan pastikan Cleara baik-baik sa
Cleara mengendap-endap masuk kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil tas kecil. Di atas ranjang, tampak Kheland masih terlelap begitu pulas. Melihat wajah suaminya yang tertidur tanpa beban membuatnya kesal sekali.Ia membuang mukanya dengan napas terengah pelan, lalu bergegas keluar dari kamar. Karena terburu-buru dan enggan menimbulkan suara, Cleara menarik pintu kamar tanpa dorongan kuat. Ia tak menyadari bahwa kait pintu itu belum terkunci sempurna, meninggalkan pintu kamar mereka terbuka dan menganga lebar dalam kegelapan lorong.Di pelataran mansion, Ethan sudah menunggu di dalam mobil dengan mesin yang menyala halus. Cleara bergegas membuka pintu penumpang dan duduk di sampingnya.“Sudah siap?” tanya Ethan melirik singkat.“Sudah. Ayo kita berangkat,” sahut Cleara pelan seraya mengembuskan napas lega.Mobil pun dilajukan oleh Ethan, meluncur perlahan membelah kegelapan malam meninggalkan kediaman Davies yang megah.Suasana di dalam kabin mobil mendadak hening dan terasa cangg
Di tempat lain, di sebuah rumah bergaya modern, Aleandra tengah berkumpul bersama kedua sahabatnya, Chloe dan Zoe.“Baru pulang dari kencan?” tanya Chloe begitu melihat Aleandra melangkah masuk dan melemparkan tas bermereknya ke atas sofa.“Hmm...” gumam Aleandra singkat seraya menyandarkan punggungnya.“Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu, Alea? Apa Kheland bertindak menjengkelkan saat kencan tadi?” timpal Zoe yang menyadari raut keruh di wajah sahabatnya.“Entahlah. Suasana hatiku sedang sedikit tidak baik,” sahut Aleandra malas.“Hidupmu terlalu sempurna, Alea, jadi nikmati saja.” Chloe tertawa pelan, lalu menyenggol lengan Aleandra dengan godaan jahil. “Sejujurnya aku iri sekali padamu, Alea. Sejak sekolah dulu, Kheland kan selalu mengejar-ngejar dirimu, tapi kau selalu menolaknya mentah-mentah. Lalu setelah tahu kalau dia ternyata putra tunggal keluarga Davies, kau langsung menerimanya tanpa ragu!”“Memangnya wanita mana yang akan menolak?” potong Zoe seraya mengoleskan cat kuku.
Tak berapa lama, Cleara kembali dari arah toilet. Wajahnya tampak sedikit lebih segar meski binar kelelahan masih menghiasi matanya.“Suster Anne, maafkan aku karena sudah membuatmu menunggu,” ucap Cleara seraya mengambil tempat di samping sang suster.“Tidak apa-apa, Sayang. Kemarilah, dan duduk,” sahut Suster Anne lembut.Cleara kemudian larut dalam perbincangan hangat bersama Suster Anne. Ia menceritakan beberapa hal ringan dengan senyuman kecil yang beberapa kali terukir di bibirnya—sebuah binar kebahagiaan sederhana yang tak pernah ia tunjukkan saat berada di kediaman Davies.Di sisi lain, Kheland hanya membisu. Pria itu diam-diam mengamati setiap gerak-gerik Cleara dengan tatapan dalam yang sangat sulit diartikan. Rupanya, Cleara sangat dekat dengan suster Anne.Bayangan cerita Suster Anne tentang penderitaan Cleara di masa lalu—bagaimana wanita itu dijadikan pelayan tanpa gaji di rumahnya sendiri, diisolasi dari dunia luar oleh ayah kandungnya, dan tertekan hingga menjadikan ge
Setelah prosesi pengucapan ikrar biarawati di depan altar usai, Suster Anne melangkah pelan menghampiri barisan belakang.Mendengar langkah kaki mendekat, Cleara refleks menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya ia saat menyadari sosok Kheland berdiri tak jauh di belakangnya. Pria itu menatapnya kaku—tahu betul bahwa baru saja memergokinya menangis.Namun, Cleara tak lagi peduli. Ia tak berniat menjelaskan apa pun atau memohon simpati dari pria itu. Dengan gerakan cepat, Cleara menyeka sisa air mata di pipinya, lalu kembali memalingkan wajah ke depan. Ukiran senyum hangat nan lembut seketika terbit di bibirnya begitu melihat Suster Anne berjalan mendekat ke arahnya.“Cleara, anakku... kau datang kemari, Sayang?” sapa Suster Anne dengan raut wajah teduh dan penuh kasih.“Suster Anne...” sahut Cleara pelan, menyambut uluran tangan sang suster dan mengusapnya penuh hormat, lalu suster Anne memeluknya sejenak, kemudian melepasnya.Suster Anne menatap lekat wajah Cleara, menyadari binar kese







