MasukCleara berusaha keras memberontak, meronta dan mendorong dada suaminya. Namun, Kheland justru semakin mengunci pergerakannya. “Kheland!” Kheland menatapnya lekat-lekat dalam jarak yang begitu dekat. Tangannya terulur, perlahan melepaskan kacamata yang membingkai wajah wanita itu, lalu kembali mengamatinya tanpa penghalang.“Rupanya... kau terlihat sangat cantik di baliknya,” gumam Kheland dengan mata sayu penuh selidik.Kheland kembali mendekatkan wajahnya, hendak mendaratkan ciuman. Namun, dengan sisa tenaga yang ada, Cleara langsung menahan dada suaminya menggunakan telapak tangannya.“Jangan lakukan ini, Kheland!” cegat Cleara dengan napas memburu.Kheland berengut kesal, menatap tajam ke dalam mata istrinya. “Kenapa? Kau tidak mau melakukannya denganku? Bahkan dulu kau berani mengejar-ngejarku, menggodaku, dan kita melakukannya... lantas kenapa sekarang kita tidak bisa mengulanginya, hah?!”“Karena kau sedang mabuk berat!” seru Cleara dengan suara bergetar menahan marah dan taku
Cleara memperhatikan sekeliling sudut rumah baru itu. Bangunannya begitu megah, mewah, dan tertata rapi, namun terasa begitu hampa dan dingin. Tidak ada kehangatan yang menyelimuti dinding-dindingnya.Di dalam lubuk hatinya, Cleara justru merindukan keramaian di mansion utama keluarga Davies. Meskipun ia sering merasa tertekan di sana, ia setidaknya bisa merasakan kehangatan dan kepedulian yang tulus dari Nyonya Bella, Tuan Louis, maupun Kakek Davies—sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia dapatkan dari suami sahnya sendiri.Di tempat baru ini, ia benar-benar sendirian bersama bayang-bayang Kheland yang egois dan kejam.Namun, ia sadar ia tidak punya pilihan lain. Daripada setiap kali terjadi masalah, Nyonya Bella terus menyalahkan Kheland, dan pria itu berbalik melampiaskan seluruh amarah serta kekesalannya kepada Cleara, kepindahan ini adalah satu-satunya jalan keluar yang paling masuk akal. Setidaknya, jauh dari mansion utama berarti mengurangi frekuensi bentrokan perdebatannya denga
Ethan menatap Kheland dengan tatapan penuh miris. “Kau masih saja sama, tidak pernah berubah,” ucapnya. “Tanpa bantuanmu pun, aku bisa mendapatkan posisi itu. Bukan karena belas kasihanmu, tapi karena kemampuanku sendiri! Jadi, tidak perlu susah payah memberikan tawaran murahan seperti itu untukku. Lebih baik pikirkan dirimu sendiri dan juga masa depanmu, supaya Kakek dan Ayah bisa percaya kepada sikapmu yang masih kekanak-kanakan itu! Karena sikapmu itu membuatmu terlihat menyedihkan!”Usai melontarkan kalimat menohok tersebut, Ethan berbalik dan berlalu pergi meninggalkan rumah itu.“Kau...!” Kheland mengangkat kakinya hendak menendang udara karena geram, namun Ethan sudah telanjur berjalan jauh keluar. “Berani sekali kau menasehatiku padahal hidupmu sendiri kacau!” serunyanya. ”Angkuh sekali anak yatim piatu itu! Awas saja kau nanti. Aku akan memberimu pelajaran!” gerutu Kheland dengan dada naik-turun kesal menahan sisa amarah. Dan tepat bersamaan, Cleara keluar dari kamarnya set
.“Kenapa tiba-tiba sekali, Sayang? Apa Kheland yang menyuruhmu? Apa dia mengancammu?”Kheland yang mendengar ucapan Ibunya terkejut. “Ibu, bisakah Ibu tidak memiliki pikiran buruk kepadaku? Bisa-bisanya Ibu berkata seperti itu!”“Tidak, Ibu, ini memang karena kemauanku. Aku ingin hidup mandiri bersama Kheland.” “Tidak! Ibu tidak setuju!” tolak Nyonya Bella cepat setelah terkesiap mendengar permintaan menantunya.“Bella, biarkan saja. Biar mereka hidup mandiri. Setidaknya, Kheland bisa belajar memiliki tanggung jawab,” potong Kakek Davies dengan suara tenang namun berwibawa.“Tidak, Ayah! Kheland terlalu ceroboh! Cleara bisa celaka kalau kita biarkan mereka tinggal berdua saja tanpa pengawasan!” tegas Nyonya Bella tak mau mengalah.“Ibu! Bisa-bisanya Ibu berpikiran seburuk itu tentang diriku!” potong Kheland membentakkan sendoknya ke piring. Napasnya memburu, merasa harga dirinya dihantam habis-habisan di meja makan. “Apa Ibu pikir aku seburuk dan tidak seberguna itu di mata Ibu?!!”
Kheland rasanya tidak terima sama sekali. Sindiran Ethan dan tatapan penuh kekecewaan dari ibunya seperti menusuk tepat di titik terlemah egonya. Dibakar rasa malu dan kesal yang berkecamuk, Kheland mengalihkan pandangannya tajam ke arah Cleara.“Itu pasti akal-akalanmu saja, kan?! Kau sengaja bertingkah dan membuat alasan tak masuk akal seperti ini supaya aku dimarahi Ibu!” tuduh Kheland dengan nada penuh prasangka, menunjuk wajah istrinya.Cleara terkesiap mendengar tuduhan itu. Matanya membelalak tak percaya, sementara bungkusan scones di tangannya diremas makin erat. Rasa bahagia yang baru saja ia rasakan beberapa menit lalu di restoran seketika runtuh tanpa sisa, tergantikan oleh rasa sesak dan kesal yang membakar dada.“Kheland! Cukup!” bentak Nyonya Bella, suaranya menggelegar menembus keheningan ruang tamu. Wanita paruh baya itu melangkah maju dan berdiri pasang badan tepat di depan Cleara, menutupi menantunya dari pandangan murka Kheland. “Berhenti menuduh dan memojokkan istr
Kheland beranjak bergegas berdiri. Ia melangkah lebar menuju kamar mandi dan membuka pintunya kasar, namun ruangan itu kosong melompong. Gelap dan dingin. Tidak ada tanda-tanda Cleara di sana. “Dia pasti sedang di dapur, Bu,” potong Kheland cepat, berusaha menutupi rasa paniknya sendiri dan menenangkan ibunya. “Tidak usah berlebihan mencemaskannya.”“Kalau begitu susul istrimu sekarang!” sembur Nyonya Bella tak mau tahu. “Istrimu itu sedang hamil muda, Kheland! Bagaimana bisa kau membiarkannya berkeliaran ke dapur sendirian di tengah malam begini?! Kau ini suaminya, seharusnya kau yang mendampingi dan menemaninya!”“Dia tidak membangunkanku, Bu!” sahut Kheland membela diri, nadanya meninggi karena frustrasi dan jengkel terus-terusan disalahkan hanya karena istrinya.“Seharusnya kau peka menjadi seorang suami!” balas Nyonya Bella tajam, menatap murka pada putra tunggalnya. “Bukan malah tidur nyenyak di sofa seperti orang asing di kamar ini! Cepat turun dan pastikan Cleara baik-baik sa







