Home / Mafia / ISTRI DADAKAN SANG MAFIA / The Velvet Monarch

Share

The Velvet Monarch

Author: DityaR
last update publish date: 2026-08-29 12:51:34

Ayah Kairo memiliki empat anak kandung, tetapi selalu menganggap Jaguar sebagai anak kelima. Sementara saudara perempuan Jaguar, Eva, sudah di anggap sebagai putri kesayangan ayah Kairo.

Waktu itu Jaguar berusia sepuluh tahun dan adiknya baru empat tahun ketika mereka menjadi bagian dari keluarga ini. Kalau bukan karena ayah Kairo yang menyelamatkan mereka pada malam ketika orang tua dan saudara laki-laki mereka dibunuh, mereka pasti sudah dikuburkan di samping keluarganya.

Rasa terima kasih Jaguar atas utang nyawanya, membuat kesetiaannya tidak tergoyahkan. Sedangkan Eva, dia praktis satu-satunya cahaya di tempat ini. Kairo tidak pernah mengerti bagaimana dosa-dosa keluarga ini tidak ikut merusaknya setelah ia tumbuh di tengah-tengah semua itu.

Zion berjalan menyusuri lorong, tampak muram seperti biasa. Kadang-kadang Kairo merasa adik laki-lakinya itu seperti mayat berjalan, murung, dan membenci segala sesuatu.

"Tebak!" Tristan tersenyum ketika mereka berjalan menghampiri Zion. "Kairo baru saja menanamkan peluru di tengkorak Edris."

"Astaga, Tristan," gumam Kairo. "Kamu mau sekalian pakai pengeras suara untuk mengumumkannya?"

"Santai. Nggak ada siapa-siapa di sini. Lagi pula, rumah ini besar sekali sampai anjing pun bisa tersesat."

Zion memasukkan kedua tangannya ke saku jaketnya. "Apa yang Edris lakukan?"

"Si bajingan itu membunuh orang secara random di klub striptis tadi malam, lalu kabur dari tempat kejadian setelah semua orang sempat memotret wajah tololnya."

Zion mengangkat sebelah alis. "Jadi kamu membunuhnya?"

"Edris sama sekali nggak peduli bagaimana tindakannya telah mencoreng nama keluarga kita. Dia cuma peduli melakukan apa yang dia mau dan membiarkan kita membereskan kotorannya. Aku sudah muak melihat sifat angkuhnya." Ia merapikan lengan jaketnya. "Aku cuma melakukan apa yang harus dilakukan untuk melindungi keluarga kita, seperti biasa."

Zion mengangkat bahu, dingin dan santai. "Nggak kaget. Cepat atau lambat, salah satu dari kita pasti akan membunuhnya." Ia mengangkat sebelah alis. "Kurasa kita nggak akan memberi tahu papa dan ini bakal jadi rahasia yang kita bawa sampai mati?"

"Benar." Kairo mendekat. "Anggap saja Edris gak pernah ada di sini malam ini. Dan kita nggak akan pernah membicarakan ini lagi. Jangan sampai ada perang saudara saat kesehatan Papa seperti sekarang."

Tatapan penuh pengertian bertemu di antara mereka bertiga. Ikatan saudara yang dipenuhi kesetiaan itu merupakan kekuatan yang tidak akan pernah bisa dipatahkan. Mereka mungkin tidak selalu sepakat, tetapi mereka selalu melindungi satu sama lain dan akan terus melakukannya. Apa pun yang terjadi.

"Kasih tahu aku kalau kamu butuh bantuan," tawar Zion sebelum melewati mereka.

"Mau ke mana?" panggil Kairo.

"Aku mau bertemu Noah di Vault."

"Berarti ini saatnya aku pergi." Tristan menyodorkan gelasnya ke tangan Kairo, membuat Zion mengernyit.

"Apa maksudmu, ini saatnya kamu pergi?" tanya Zion.

Tristan menepuk bahu Zion. "Ini saatnya aku ikut dan memastikan dua bajingan ini menjaga nama baik keluarga."

Kairo memutar matanya. "Dan itu yang kamu lakukan selama dua puluh sembilan tahun terakhir? Menjaga nama baik keluarga?"

"Tepat sekali."

"Kalau begitu ..." teriak Kairo ke arah Tristan yang mulai menjauh. "Aku akan bilang ke Eva kalau kamu lagi pergi bercinta dengan salah satu pelacur kita di Vault."

Tristan pun tiba-tiba berhenti dan berbalik menghadap Kairo dengan tatapan tajam yang seolah ingin membelah tengkoraknya menjadi dua. "Kalau kamu bukan anak kesayangan papa, aku sudah menendang pantatmu, sialan."

"Oh, ngomong-ngomong." Zion berbalik menghadap Kairo. "Papa ingin berbicara denganmu."

Rahang Kairo bergetar, dan Tristan langsung tersenyum.

"Aku sudah pernah bilang belum, betapa senangnya aku kamu lahir empat belas menit lebih dulu dari aku?" goda Tristan.

"Kamu memang idiot!"

"Memang. Tapi setidaknya aku idiot yang malam ini bakal diisap, sementara kamu harus mendengarkan ceramah Papa tentang betapa terhormatnya menjadi anak sulung."

Kairo pun menyipitkan mata. "Aku akan bilang ke Eva!"

Senyum usil saudara kembar Kairo langsung menghilang. Bibirnya kini mengatup menjadi garis tipis, lalu ia berbalik dan pergi begitu saja.

Melihat saudara-saudaranya pergi mengingatkan Kairo betapa seringnya ia iri kepada mereka. Mereka tidak memiliki tanggung jawab sebagai anak sulung keluarga Adinargo. Sebuah kewajiban yang sudah melekat dalam dirinya sejak ia berusia dua tahun. Itu adalah warisannya sekaligus kutukannya.

Dulu, ketika saudara-saudaranya bermain di luar saat hujan, Kairo yang baru berusia sepuluh tahun harus menghadiri rapat demi rapat. Ia terus berada di sisi ayahnya untuk mempelajari adat mereka, aturan mereka, dan hukum mereka.

Saudara-saudaranya mengira perhatian ekstra yang diberikan ayah mereka kepadanya adalah bentuk pilih kasih. Sementara Kairo justru menganggap mereka beruntung karena memiliki kebebasan yang tidak akan pernah ia dapatkan. Tekanan untuk dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan keluarga Adinargo selalu menjadi beban yang harus ia pikul sendirian. Tanggung jawab itu akan selalu menjadi miliknya, dan hanya miliknya.

Namun, di hari-hari tersulit, kasih sayang dan empati ibunya menjadi satu-satunya hal positif di tengah masa-masa kelam yang membuat Kairo mempertanyakan tempatnya dalam keluarga ini.

Rasa tidak nyaman mulai menetap di bahunya. Kairo sudah tahu alasan ayahnya ingin berbicara dengannya. Sejak mengetahui ayahnya sakit, mereka terus berselisih mengenai satu hal, yaitu kenyataan bahwa cepat atau lambat Kairo harus mengambil alih bisnis keluarga.

Kairo membenahi dasi hitamnya saat berjalan menyusuri lorong. Ia menegakkan bahunya sambil menyiapkan pembelaan tentang mengapa tuntutan terakhir ayahnya begitu konyol dan tidak perlu.

Pintu ruang kerja ayahnya sudah terbuka. Kairo berhenti sejenak dan menarik napas dalam-dalam. Ayahnya sudah menunggunya dan jelas telah menyiapkan seluruh ceramah sialannya untuk dimulai begitu Kairo masuk.

"Kairo." Ayahnya mengangkat pandangan dari koran dan melepas kacamatanya.

Kairo duduk di hadapannya. "Papa kan bisa mengikuti berita secara online."

"Papa lebih suka memegang koran." Ia melipat kertas itu dan meletakkannya di samping. "Entah kenapa, itu membuat semuanya terasa lebih nyata."

"Papa nggak perlu koran untuk tahu dunia ini sudah kacau," komentar Kairo sambil bersandar di kursinya.

"Benar. Tapi papa suka ... tahu seberapa kacau sebenarnya dunia ini."

Ia bersandar di kursinya, dan ketenangan langsung menyelimutinya. Petrus Adinargo adalah tipe pria kuat yang pendiam. Ia tidak pernah mengancam, tetapi langsung bertindak. Ia telah menjadi pemimpin Velvet Monarch selama tiga puluh lima tahun.

Pada hari ia menikahi ibu Kairo, pernikahan itu bukan sekadar penyatuan dua orang. Itu merupakan penggabungan dua keluarga. Dari pihak ayahnya, keluarga Adinargo. Dari pihak ibunya, keluarga Sondakh.

Pernikahan mereka bermula sebagai transaksi bisnis biasa, tetapi entah bagaimana berubah menjadi cinta. Ibunya telah menjadi pilar kekuatan bagi ayahnya, dan Kairo tahu jauh di dalam hati, ayahnya diam-diam bersyukur jika dirinya pergi meninggalkan dunia ini lebih dulu daripada istrinya.

Kairo menyilangkan kaki dan menyandarkan siku pada sandaran kursi. "Aku nggak perlu menebak alasan papa ingin bertemu denganku."

Mata hijau itu mengamati Kairo, sementara Petrus menyatukan kedua tangannya di depan mulut.

"Kamu harus menganggap masalah ini serius!"

"Aku menganggapnya serius. Tapi seserius apa pun aku menganggapnya, itu tetap nggak akan mengubah perasaanku tentang hal ini."

Tatapan Petrus pun berubah tegas. "Bagaimana dan apa yang kamu rasakan tentang hal ini, Nak ... Itu sama sekali gak relevan. Ini harus dilakukan, mau kamu suka atau enggak."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ISTRI DADAKAN SANG MAFIA   Warmindo

    Di tempat lain ....Hanya lega yang Kaia rasakan saat menatap makam ibunya. Kaia seharusnya merindukannya, menangisinya, berduka untuknya. Namun, ia tidak merasakan semua itu. Kepergian ibunya justru memberinya jeda setelah bertahun-tahun memikul tanggung jawab yang tidak seharusnya ditanggung seorang anak.Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, Kaia tidak perlu lagi merawatnya. Sekarang ibunya menjadi urusan iblis. Bahkan sejak mengembuskan napas terakhir beberapa minggu lalu, wanita itu sudah menjadi urusan iblis.Alih-alih mengunjungi makam untuk merasa lebih dekat dengannya, Kaia datang untuk mengingatkan dirinya bahwa ibunya benar-benar sudah pergi. Ia ingin memastikan kematian itu bukan sekadar mimpi atau ilusi yang ia ciptakan karena putus asa ingin terbebas darinya.Kaia memejamkan mata, berusaha mengusir suara itu dari kepalanya. Ibunya mungkin sudah mati, tetapi hantu wanita itu masih menghantuinya. Dan mungkin akan selalu begitu.Matahari mulai terbit. Kaia merapatkan jake

  • ISTRI DADAKAN SANG MAFIA   Dead Line

    Rasa ingin melawan membakar tenggorokan Kairo, tetapi ia menahan lidahnya. Saat ini, pria di hadapannya bukan ayahnya. Ia adalah Raja Velvet Monarch yang menuntut rasa hormat setiap saat.Dan ketika tatapan Petrus menekannya dari seberang meja, ia tidak sedang memandang putranya. Ia sedang memandang apa yang Kairo wakili. Masa depan Velvet Monarch.Suasana tenang itu menghilang begitu ayahnya menegakkan tubuh di kursi dan meletakkan kedua siku di atas meja."Ini harus dilakukan, Kairo. Kamu nggak punya pilihan.""Tentu saja aku punya pilihan.""Dulu Papa dan Mama nggak punya pilihan, dan kamu juga nggak.""Situasinya berbeda dengan papa. Pernikahan papa melahirkan aliansi yang lebih kuat.""Dan pernikahanmu akan melahirkan posisi yang lebih berkuasa sebagai pemimpin.""Itu omong kosong," cibir Kairo. "Hari ketika aku duduk di meja itu, aku akan menjadi pemimpin. Dan aku nggak membutuhkan istri untuk itu!""Sayangnya, kamu membutuhkannya." Ayahnya memiringkan kepala. "Coba bilang ke Pa

  • ISTRI DADAKAN SANG MAFIA   The Velvet Monarch

    Ayah Kairo memiliki empat anak kandung, tetapi selalu menganggap Jaguar sebagai anak kelima. Sementara saudara perempuan Jaguar, Eva, sudah di anggap sebagai putri kesayangan ayah Kairo.Waktu itu Jaguar berusia sepuluh tahun dan adiknya baru empat tahun ketika mereka menjadi bagian dari keluarga ini. Kalau bukan karena ayah Kairo yang menyelamatkan mereka pada malam ketika orang tua dan saudara laki-laki mereka dibunuh, mereka pasti sudah dikuburkan di samping keluarganya.Rasa terima kasih Jaguar atas utang nyawanya, membuat kesetiaannya tidak tergoyahkan. Sedangkan Eva, dia praktis satu-satunya cahaya di tempat ini. Kairo tidak pernah mengerti bagaimana dosa-dosa keluarga ini tidak ikut merusaknya setelah ia tumbuh di tengah-tengah semua itu.Zion berjalan menyusuri lorong, tampak muram seperti biasa. Kadang-kadang Kairo merasa adik laki-lakinya itu seperti mayat berjalan, murung, dan membenci segala sesuatu."Tebak!" Tristan tersenyum ketika mereka berjalan menghampiri Zion. "Kair

  • ISTRI DADAKAN SANG MAFIA   Kematian Edris

    "Astaga. Sial!" Edris memaki ketika Kairo menambah tekanan pada kepalanya. "Kairo, kamu nggak bisa melakukan ini.""Kamu nggak berhak menyuruhku melakukan apa pun, sialan!""Aku sepupumu, Anjing!""Lagian bukan sepupu sedarah.""Aku tetap bagian dari keluargamu.""Karena Paman Daeng memutuskan mengadopsimu setelah anak satu-satunya berubah jadi banci. Dia nggak pernah tahu kalau ternyata kamu bakal jadi orang paling bodoh yang pernah ada."Jaguar mencengkeram lengan Edris dan menekan tangannya ke meja. Ia memberikan tekanan kuat sampai bajingan itu tidak punya pilihan selain membuka telapak tangan dan merentangkan jari-jarinya."Kairo, sialan. Ini nggak lucu." Edris meronta-ronta melawan cengkeraman Jaguar dan Kairo, tetapi percuma. Melawan salah satu dari mereka saja ia tidak punya tenaga, apalagi melawan keduanya.Namun, karena Kairo suka menjadi orang yang memotong tulang, ia membutuhkan Jaguar untuk menahan sepupunya tetap di tempat. Kairo pun mengulurkan tangan dan meletakkan tel

  • ISTRI DADAKAN SANG MAFIA   Edris Si Pembawa Sial

    "Lalu, apa kewajibanku sebagai istrimu nanti?" tanya Kaia sembari menatap Pria kekar itu."Sebagai istriku, satu-satunya kewajibanmu adalah menjalankan peranmu saat kita berada di depan orang lain.""Berarti kewajibanku itu gak berlaku untuk di dalam kamar?""Kalau kamu bertanya apakah kamu harus berhubungan seks denganku, Nona Indrawari, jawabannya enggak. Aku jamin keperawananmu akan tetap terjaga sampai nanti kontrak kita habis dan kamu bebas meninggalkan rumahku.""Keperawananku? Bagaimana kamu bisa tahu?""Kamu pikir aku akan memberikan tawaran seperti ini tanpa mengetahui semua hal tentang dirimu?" Pria itu menyilangkan kedua lengannya. "Ini masalah serius. Aku menawarkan kekayaan yang sangat besar untukmu, bukan karena aku ingin menidurimu atau membuatmu mengisap batang-ku."Kata-kata itu langsung membuat pipi Kaia memanas. Rasa panas yang menjalar hingga ke lehernya."Yang perlu kamu lakukan hanyalah bersikap seperti istri yang penuh kasih sayang dan tergila-gila padaku sampai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status