登入“Jadi namamu Mei Lin? Kau berasal dari mana?” tanya Isabella dilanda penasaran. Betapa tidak, penampilan Mei Lin sangat berbeda dari para wanita muda yang ia temui. Dia memang bermata sipit yang merupakan salah satu ciri fisik berasal dari Timur. Namun, postur tubuhnya sangat bagus, ramping dan berotot. Hal itu menandakan dia memang pandai bela diri. Lama, Isabella menatapnya. Mengejutkan, gadis itu seolah tahu kalau majikannya memang sedang mencari tahu tentang dirinya. Dia tidak merasa terusik sama sekali ketika ditatap oleh sang Duchess.Mei Lin justru membungkuk hormat. “Saya berasal dari negeri timur. Karena terjadi perang, kami berpindah-pindah tempat hingga kami tinggal di negeri ini. Hamba mengabdi pada pedagang sutra di Perbatasan Utara.”“Kemampuan bela dirimu tidak biasa. Siapa yang mengajarimu?” Isabella mengamati ekspresi wajahnya saat berbicara. Ia sedang membaca karakter gadis muda itu. Baiklah, aku akan simpan semua yang kulihat. Satu yang pasti …. Gadis ini seorang
“Alex, aku mohon. Untuk kali ini aku tidak setuju dengan keputusanmu. Aku … aku masih menghargai putri Helena. Dia istri pertamamu.” Isabella beralasan. Alex terdiam. Ia sama sekali tidak tersinggung dengan perkataan Isabella. Di kepalanya, ia hanya menginginkan Isabella sebagai istri satu-satunya. Ia menikah dengan Helena Moreau karena kepentingan politis dan balas jasa. Selebihnya, ia hanya menganggap wanita itu istri secara status di istana. Ia tidak pernah jatuh cinta padanya. “Dia sering mengusikmu. Tapi kau sama sekali tidak membencinya? Ya … dia memang istriku.” Isabella terdiam. Senyum tipis tersungging di wajahnya. “Aku tidak pernah membenci siapapun. Aku hanya membenci sikapnya yang selalu berusaha menyudutkanku. Aku tahu alasannya, dia sangat cemburu karena kehadiranku. Aku mengerti dia sangat mencintaimu, Alex. aku pun sadar diri. Aku hanya ingin hidup dengan damai di sini,di istana. Kita tidak perlu saling mengusik,”Alex tersenyum mendengar ucapan Isabella yang terde
…Sudah beberapa hari berlalu, Isabella terbaring di ranjang sang pangeran. Hari ke empat, demamnya berangsur turun. Kondisi tubuhnya jauh lebih baik. Namun, meskipun demikian, ia tidak lantas bisa kembali ke paviliun Honeysuckle karena Alex mengurungnya di dalam kamar dengan penjagaan yang ketat. Isabella bangun terlambat karena sisa pengaruh obat semalam. Matanya memicing ketika melihat sinar matahai yang masuk lewat jendela raksasa yang sudah dibuka sejak pagi. Nyanyian suara burung kecil yang merdu saling bersahutan dengan suara desing baja yang beradu. Ia tidak tahu kalau tepat di bawah balkon, Alex sedang berlatih pedang bersama prajurit. Sebuah kegiatan rutin setiap hari. Pantas saja Alex memiliki masa otot yang bagus karena dia rajin berolahraga dengan berpedang dan berkuda setiap hari tanpa kenal jenuh. Karena dilanda penasaran, Isabella menegakkan tubuhnya, membetulkan jubah tidurnya kemudian berjalan menuju balkon. Ia melihat ke bawah untuk menonton suaminya yang sedang
Di depan pintu kamar sang putra mahkota, Noah dan Matteo berdiri kaku, menunduk dalam dengan bahu yang bergetar.“Jelaskan padaku,” suara Alex merendah, nyaris berbisik, tetapi terdengar lebih menakutkan daripada teriakan. “Bagaimana bisa Duchess berada di kolam teratai sendirian, sementara kalian ditugaskan sebagai pengawalnya?”Noah memberanikan diri untuk menjawab dengan suara parau. “Mohon ampun, Yang Mulia. Duchess... beliau secara tegas meminta kami untuk tidak mengikuti beliau sampai ke dalam area privasi Paviliun tersebut. Beliau merasa sangat tertekan dengan pengawalan yang terlalu ketat, dan beliau bersikeras bahwa di dalam lingkungan paviliun, beliau aman.”“Aman?” Alex tertawa getir, sebuah tawa tanpa humor yang membuat nyali Matteo menciut. “Dia hampir mati karena kalian membiarkannya berjalan sendiri ke kolam belakang! Apa gunanya kalian menjadi pengawal jika hanya bisa menuruti perintahnya untuk tidak mengawal? Jika dia memintamu untuk melompat dari tebing, apakah kau j
“Nyonya, kau membuatku panik. Apa yang kaulakukan di sini?” Anne mengusap pundak Helena dengan lembut hingga membuatnya menoleh. Penampilannya kusut masai; rambutnya berantakan, wajahnya pucat dan matanya sembab. Persis seperti seorang gelandangan di emperan toko. Jauh dari penampilannya sebagai seorang istri pangeran. Hati Anne mencelos melihat betapa menderitanya majikannya karena dilanda cemburu buta. Ia sudah hidup lama bersamanya sehingga bisa merasakan penderitaannya. Helena duduk di taman yang sepi sendirian. Napasnya masih memburu akan tetapi sorot matanya sudah mulai terlihat lebih tenang. “Buatkan aku ayam panggang dengan saus jamur.” Anne tersenyum mendengar permintaan majikannya. Ketika ia mengatakan keinginannya, itu berarti kemarahannya sudah mulai surut. Akibat marah yang tak bisa dikendalikan, ia merasa lapar. Lebih baik seperti itu, daripada dia meminta macam-macam semisal memakan daging manusia.Anne membantunya berdiri agar bisa memapahnya. Namun sang tuan putri
“Tuhan apakah ini akhir dari hidupku?” batin Isabella ketika merasakan tubuhnya tertarik ke dasar kolam yang sangat dalam. Setelah beberapa kali ia berusaha mengejatkan kakinya agar kainnya lepas, tubuhnya justru semakin tertelan oleh air. Ke dua sudut matanya meneteskan air mata kepasrahan. “Mungkin, aku akan terbangun di kehidupan lamaku sebagai Isabella Morison.” Gumamnya dengan perasaan yang begitu sesak. Saat kesadarannya perlahan menurun, tiba-tiba sebuah bayangan berkilau di atas permukaan kolam terlihat. ‘Siapapun itu, tolonglah aku,’ bisiknya parau. Byurrr! Tanpa ragu, seseorang meloncat ke dalam kolam kemudian menyelam dengan kecepatan luar biasa, meraih tubuh Isabella yang sudah lunglai dan menariknya ke permukaan dalam satu gerakan kuat. Dia adalah Alex. Pria dingin itu memang berniat menyusul Isabella untuk menemui bendahara istana. Siapa sangka, ia mendapat firasat buruk. Entah kenapa dia ingin berjalan-jalan ke belakang paviliun tersebut dan menemukan kolam di sa
Jamuan pagi telah usai. Isabella keluar dari balairung istana Ashmond ditemani pelayan wanita muda bernama Mona. Gadis itu bertugas melayaninya selama tinggal di paviliun Honeysuckel. “Nyonya, maafkan hamba tidak tahu kalau Anda sedang sakit. Jika tahu, hamba akan membuatkan minuman herbal untuk A
“Apa yang kau katakan tadi?” tanya Alex singkat. Tatapannya tertumbuk ke arah pengawalnya. Pengawal itu menelan salivanya sebelum menjawab. Ia mengangkat mata lalu berusaha menjawab. “Duchess Isabella tampak bahagia ketika mendengar Yang Mulia tidak akan datang malam ini.”Seketika udara terasa me
“Apa? Dia meminta menu yang sama seperti menu yang aku makan?” Helena mendengus kesal setelah mendapat laporan dari Jehanne. Koki itu pergi melapor pada Helena di istana Rose saat malam ketika Isabella sudah tertidur. Ia merasa takut karena ancaman Isabella yang terlihat serius dan tidak main-main
Alex mulai mendaratkan kecupan singkat di ceruk leher Isabella. Seketika kepala gadis itu kosong. Ia harus melakukan sesuatu atau ia kehilangan kendalinya. Alex mulai melonggarkan ikatan jubah tidurnya sendiri, memperlihatkan perut rata dengan kontur otot yang jelas. Untuk sesaat, Isabella terman