Masuk“You seem loving my fingers,” goda Arka menyeringai tipis, jarinya terus menggasak lebih cepat liang itu. Ia sangat menikmati bagaimana wanitanya tunduk di bawah kungkungannya.“Onghhh….” Naura sudah akan menyerah. Namun di detik-detik menjelang pelepasan, Arka mencabut keluar jari-jarinya. Itu membuat Naura mengumpat di dalam hati.“W-why?” kalimat itu terlontar begitu saja. Itu membuat Naura sedikit terkejut dan langsung mengutuk dirinya sendiri.Arka yang melihat raut kesal dan kebingungan wanita itu membuatnya menyeringai puas. Ia kembali menyeret bibirnya di atas kulit halus Naura. Tangannya bergerak menganggkat pinggul Naura hingga bibirnya dan pusar wanita itu bersentuhan.Naura berdesir, meremang merasakan gesekan intens antara kulit mereka. Ia meremas rambut Arka ketika pria itu mencumbu pusat tubuhnya di bawah sana dengan lidahnya naik turun.“Ahhhh…” Naura terengah-engah ketika Arka menggigit kecil klitorisnya lalu menyesap rakus semua cairannya. Ia mencengkeram sprei denga
Selama perjalanan kembali, tak ada percakapan yang terjalin di antara mereka. Suasana di dalam mobil terasa begitu kaku. Naura terus menggigit bibir bawahnya sambil menatap lurus ke luar jendela, membiarkan pikirannya berputar tanpa arah. Ia bingung dengan respons tubuhnya sendiri, dan lebih bingung lagi melihat perubahan sikap Arka yang mendadak menjaga jarak setelah apa yang terjadiPadahal di balik kemudi, pria itu justru sedang bertarung dengan kewarasannya sendiri. Ia terus mengumpat dalam hati, memaki kejantanannya yang sedari tadi sudah menegang keras, berdenyut-denyut butuh pelepasan yang sesungguhnya. Bukan karena tak menginginkan Naura, melainkan karena ia menolak menjadikan mobil sport yang sempit sebagai tempat untuk malam yang telah lama ia nantikan. Naura berhak mendapatkan sesuatu yang lebih layak dan nyaman.Begitu mobil memasuki halaman resort mewah tempat mereka menginap, Arka langsung turun tanpa menunggu. Langkahnya lebar dan cepat, sementara tangannya bergerak memb
Tak memberi kesempatan bagi Naura untuk mengumpulkan kesadarannya, ciuman Arka langsung turun, menyusuri rahangnya sebelum beralih ke leher jenjang yang mulus. Pria itu menyesap kulit leher Naura dalam-dalam, meninggalkan jejak-jejak kepemilikan yang samar tapi jelas."Ahhh... Arka..." Naura mendesah lirih. Kepalanya terdongak pasrah ketika sensasi hangat dan menggelitik menjalar ke seluruh tubuhnya. Kedua tangannya mencengkeram rambut Arka di tengkuknya, seolah ingin menarik pria itu lebih dekat tenggelam di lehernya.Sementara itu, tangan besar Arka yang semula bertumpu di pinggang rampingnya perlahan bergerak turun, membelai paha jenjang yang tersingkap. Jemarinya merayap sedikit demi sedikit, melewati batas kain tipis hingga menyentuh bagian paling peka dari tubuh Naura dari balik pakaian dalamnya."Akh, Arka... stop..." Naura mengerang pelan. Tubuhnya melengkung tipis saat sensasi itu menghantamnya tanpa ampun.Namun Arka sudah terlalu tenggelam dalam hasratnya. Ciumannya merambat
Naura menarik kursi putih itu dengan sentakan kecil, berusaha keras mengabaikan gemuruh di dadanya yang belum juga mereda. Lilin-lilin mungil di dalam wadah kaca bergoyang lembut diterpa angin malam, memantulkan cahaya keemasan di atas meja yang telah ditata begitu elegan.Tak lama kemudian, beberapa pelayan berseragam putih datang membawa nampan perak, menyajikan hidangan malam itu satu per satu. Aroma gurih yang kaya rempah langsung menguar, menggoda indra penciuman.Di atas piring piring besar tersaji aneka hidangan laut berbumbu khas Bali yang dipanggang sempurna dengan lumuran saus mentega bawang putih yang meleleh mengilap, meninggalkan jejak karamelisasi kecokelatan di permukaannya. Di sampingnya, terhidang Live Canadian Lobster dengan cangkang merah merona yang telah dibelah, memperlihatkan daging putih padat yang disiram truffle butter beraroma pekat dan ditaburi cincangan peterseli segar.Sebagai pelengkap, semangkuk Seafood Paella dengan nasi kuning beraroma kunyit dan kaldu
Sayangnya, yang membuat jantungnya seolah diremas adalah apa yang terhampar di atas tempat tidur dan apa yang terlihat di dalam walk in closet yang pintunya terbuka setengah.Matanya membelalak sempurna saat menatap deretan gaun malam rancangan desainer ternama yang tergantung rapi berdasarkan gradasi warna. Namun, bukan itu yang membuat napasnya tercekat. Perhatiannya justru terpaku pada ranjang king size di tengah ruangan.Tempat tidur itu telah ditaburi kelopak mawar merah yang kontras dengan sprei putih bersih. Sebuah isyarat yang terlalu jelas tentang apa yang direncanakan Arka untuk malam nanti. Belum lagi deretan lingerie dan underwear berenda yang tertata di salah satu sisi lemari, semuanya dengan ukuran yang sangat pas untuk tubuhnyaNaura berbalik dengan sentakan cepat, menatap Arka yang masih bersandar santai di kusen pintu dengan kedua tangan terlipat di dada. Wajahnya memanas hebat, campuran antara amarah dan kegugupan yang perlahan menggerogoti keberaniannya."Bagaimana b
"Sekarang... tidak ada lagi Vanessa, tidak ada lagi pria miskin itu, dan tidak ada lagi alasan medis lainnya," bisik Arka dengan senyum tipis. Tatapannya menggelap oleh gairah yang tertahan sejak pagi. "Malam ini... kamu harus membayar seluruh hakku di atas ranjangku, Naura Callista Wijaya."Kalimat terakhir Arka menggantung di udara basement yang dingin, berpadu dengan deru napas Naura yang mendadak tercekat. Sepasang mata pria itu menguncinya tanpa ampun, memancarkan kepuasan seorang pemenang yang berhasil memojokkan mangsanya hingga ke bibir jurang.Naura mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia bisa merasakan ponselnya kembali bergetar pelan di dalam saku. Sudah bisa dipastikan itu rentetan pesan panik dari Dion—namun ia tak lagi memiliki keberanian untuk sekadar menyentuhnya. Di hadapan Arka, satu langkah keliru saja bisa menjadi sumbu ledak yang menghancurkan sisa harga dirinya."Kenapa diam, Sayang?" Arka mengangkat sebelah alis. Sebuah seringai miring yang me







