Mag-log inJangan lupa follow for more information ya,biar kalian tidak ketinggalan setiap kali aku update bab baru.
Sepeninggal Dokter Han, lorong lantai dua presidential villa kembali tenggelam dalam kesunyian. Arka masih berdiri di depan pintu kamar Naura. Resep obat yang baru saja diberikan dokter itu masih berada di tangannya. Tanpa sadar, jemarinya mencengkeram kertas itu sedikit lebih kuat hingga sudutnya mulai terlipat.Angin dari balkon yang terbuka bergerak lembut melewati lorong, membuat ujung jas hitam yang dikenakannya sejak sesi pemotretan pagi tadi berkibar pelan. Tetapi pria itu sama sekali tidak bergeming. Pandagannya kosong, seolah sedang memandangi pintu di hadapannya, padahal pikirannya telah melayang jauh ke tempat lain."Melihat gejala mual, pusing, sensitif terhadap bau menyengat, ditambah siklus menstruasi yang terlambat... ada kemungkinan Nona saat ini sedang hamil, Tuan."Suara Dokter Han kembali terngiang-ngiang di benaknya.Arka memejamkan mata sejenak. "Hamil?"Kata itu terdengar asing ketika keluar begitu pelan dari bibirnya sendiri. Ia menghembuskan napas kasar."Tidak
Di sudut area istirahat kru, Crystal yang telah berganti pakaian dengan penyamaran yang tak dikenali siapa pun, membaur sebagai salah satu staf pendukung dari Indonesia. Senyum tipis menghiasi wajahnya saat ia melangkah mendekati kerumunan kru dan para asisten lokal yang sedang berbisik-bisik."Duh, Nona Naura kenapa ya tiba-tiba mual seperti itu? Pucat sekali wajahnya," cletuk Crystal, memancing percakapan dengan nada khawatir yang dibuat-buat."Iya ya, tadi saat berlari kelihatannya lemas sekali," sahut salah satu asisten wardrobe.Crystal merapatkan jarak, lalu menurunkan suaranya seolah hendak membagikan sebuah rahasia. "Jangan-jangan... Nona Naura sedang hamil lagi? Mual-mual di pagi menuju siang kan biasanya morning sickness."Mata para staf langsung melebar kaget. "Wah... masa sih? Tapi masuk akal juga ya!""Walah, pantas saja Tuan Arka sangat protektif sejak kemarin!" timpal salah seorang kru."Eh, bisa jadi sih..." wanita dengan name tag bertuliskan Rini itu mengangguk pelan.
"Perfect. Very beautiful!"Suara fotografer asal Korea itu terdengar penuh kepuasan sambil terus menekan tombol shutter kameranya.Klik. Klik. Klik.Di bawah langit Jeju yang cerah, hamparan tebing hijau berpadu dengan birunya samudra menciptakan latar yang nyaris tidak nyata. Angin laut berhembus lembut, memainkan ujung veil panjang yang menjuntai dari kepala Naura. Gaun putih rancangan Julian bergerak mengikuti arah angin memancarkan kesan mewah yang elegan.Di sisinya, Arka berdiri dalam balutan tuxedo hitam dengan bow tie senada. Pria itu bahkan tidak perlu banyak diarahkan. Posturnya yang tinggi dan kharisma dinginnya membuat setiap jepretan tampak layaknya sampul majalah internasional.Sang fotografer sampai berdecak kagum. "Seriously... kalian pasangan yang sangat fotogenik. Saya hampir tidak perlu mengarahkan apa pun."Beberapa anggota tim ikut mengangguk setuju."Chemistry mereka luar biasa ya.""Seperti benar-benar pasangan yang sedang jatuh cinta. Natural sekali...."Rangkai
Mentari pagi baru saja menyentuh garis cakrawala ketika kawasan private cliff resort yang menghadap langsung ke Samudra Pasifik mulai dipenuhi kesibukan. Cahaya keemasan perlahan menyelimuti tebing-tebing hijau Pulau Jeju, sementara angin laut berembus lembut, menggerakkan hamparan ilalang yang tumbuh di sepanjang sisi jurang.Suara debur ombak yang menghantam bebatuan di bawah sana berpadu dengan hiruk-pikuk langkah para kru yang tengah mempersiapkan sesi pemotretan pertama. Puluhan orang bergerak cepat sesuai tanggung jawab masing-masing.Tim lighting sibuk mengatur posisi reflektor besar untuk menangkap cahaya alami matahari pagi. Operator drone melakukan pengecekan terakhir sebelum kamera udara diterbangkan mengelilingi area resort. Di sisi lain, para stylist mondar-mandir membawa koper pakaian, kotak aksesori, serta perlengkapan wardrobe eksklusif yang nilainya bahkan mampu menyamai sebuah rumah mewah.Di tengah kesibukan itu, pintu utama presidential villa perlahan terbuka. Naur
Malam di Pulau Jeju turun begitu tenang. Cahaya lampu kota memantul di permukaan kaca jendela kamar hotel kru Mahardika Aviation, sementara debur ombak yang memecah bibir pantai terdengar lirih dari kejauhan, nyaris menyerupai bisikan. Keheningan itu sama sekali tidak mampu meredakan kekacauan di dalam kepala Crystal.Baru saja pintu kamar tertutup, ia melempar tas kerjanya ke atas sofa.BRUK!Blazer seragam yang sedari tadi melekat di tubuhnya dilepas begitu saja. Sepasang sepatu hak tinggi meluncur ke dua arah berbeda setelah ia menendangnya tanpa peduli. Dengan langkah cepat, Crystal menghampiri wastafel, memutar keran hingga air mengalir deras, kemudian membasuh wajahnya berkali-kali berharap seluruh kejadian siang tadi ikut luruh bersama aliran air.Setiap kali memejamkan mata, bayangan itu kembali muncul dengan sangat jelas. Sorot lembut Arka saat memandang Naura. Senyum perempuan itu. Ciuman yang sempat ia saksikan. Dan bisikan "Sayang" penuh kehangatan yang terdengar begitu le
Pintu mobil BMW tertutup rapat, memisahkan mereka dari hiruk pikuk apron privat Bandara Jeju. Pantulan cahaya lampu jalan dan bayangan pepohonan cemara yang menjulang tinggi bergerak cepat di balik kaca gelap kendaraan.Sesuai protokol privasi yang telah ditetapkan Arka, kabin belakang mobil itu hanya ditempati oleh dirinya, Naura, serta seorang pengemudi profesional lokal Korea yang duduk tenang di balik kemudi. Sementara itu, Leon, Kevin, Dimas, dan seluruh rombongan pengawal mengikuti dari belakang menggunakan dua kendaraan terpisah.Tidak sampai setengah menit setelah mobil meninggalkan area pembatas bandara dan gerbang keamanan tertutup rapat di belakang mereka, suasana di dalam kabin berubah drastis.Sisi lain Naura yang tidak pernah terlihat publik akhirnya muncul kembali. Wanita itu segera melepaskan lengannya dari pelukan Arka seolah baru saja menyentuh benda panas. Ia bergeser menjauh hingga tubuhnya hampir menempel pada sisi pintu mobil, menciptakan jarak selebar mungkin an
Naura belum menyadari bahwa poin berikutnya dalam kontrak itu akan jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.Arka kembali membaca. "Poin ketiga. Privasi."Ia mengetuk kontrak itu dengan jarinya. "Kita tidak boleh mencampuri urusan pekerjaan masing-masing." Tatapannya tajam. "Aku tidak akan bertan
Suara tepuk tangan menggema di aula Hotel Grand Mahardika saat Arka Rajendra Mahardika berdiri di podium dengan satu tangan melingkar di pinggang Naura Callista Wijaya.Dari kejauhan, pemandangan itu tampak sempurna. Seorang pria berpengaruh yang berdiri bangga di samping wanita yang akan menjadi is
“Mari kita bicara sebentar,” bisiknya lembut.Cengkeramannya di pergelangan tangan Naura mengencang, cukup untuk mengingatkan bahwa ini bukan undangan.Ini perintah.Ia menggiring Naura menuju balkon privat di sisi aula. Begitu pintu kaca tertutup di belakang mereka, suara musik dan percakapan di da
Lampu gantung kristal di aula utama Hotel Grand Mahardika berpendar menyilaukan, memantulkan kilau kemewahan yang hampir terasa menyesakkan bagi siapa pun yang cukup peka untuk mencium bau busuk di baliknya. Udara di dalam ruangan dipenuhi aroma parfum mahal, cerutu impor, dan minuman beralkohol kel







