Om polisi itu benar-benar memanfaatkan sogokan yang kuberikan. Setelah dinas dua hari keluar kota waktu itu, dia lanjut menitipkan anaknya — yang ia antar pagi hari lalu sekitar pukul tiga sore akan dia jemput — selama hampir dua minggu berlalu.
Permintaan om polisi itu juga tidak main-main. Harus aku yang menjaga Gala selama anak itu berada di rumah ini. Bukan ibu maupun bapak.Sadis. Uang jajan pun tak diberi!Akupun juga tidak bisa kemana-mana karena harus menjaga Gala yang senang sekali bermain layangan. Memang tidak sulit untuk menjaga anak lima tahun itu, karena Gala termasuk anak yang penurut.Disuruh makan ya makan, disuruh tidur ya tidur, disuruh mandi ya nurut, semuanya Gala lakukan sesuai keinginanku. Gala memang anak yang pintar. Karena itu, dua minggu tak terasa berat bagiku mengasuh anak itu. Yang berat mungkin mesti melihat om kampret itu setiap pagi dan sore. Hatiku resah bukan karena suka padanya, tapi resah gelisah takut ia membongkar rahasiaku pada ibu ataupun bapak.Sudah pukul sembilan. Harusnya Gala diantar kemari. Tapi mungkin tidak untuk hari ini karena bertepatan dengan hari minggu. Mungkin Gala dan papanya sedang menghabiskan waktu bersama di hari libur seperti ini.Akhirnya...aku bebas!“Assalamualaikum.”Baru saja hendak menyalakan laptop, suara seorang pria dewasa terdengar dari luar. Aku yang memang sendirian di rumah mengintip terlebih dahulu siapa gerangan yang datang di minggu pagi begini. Saat kuintip dari luar, tampak mas Adi datang dengan pakaian rapi. Segera kubuka pintu setelah merapikan sedikit penampilanku.“Waalaikum salam, Mas Adi?”“Hei Mel,” sahutnya salah tingkah.Issh kalau kamu salah tingkah aku salah obat, mas.“Ada apa mas? Tumben kemari.”“Iya. Pengen mampir aja. Untung kamu di rumah.”Iya. Alhamdulillah banget aku di rumah. Kalau tadi aku ikut ibu ke pasar mungkin kita tidak akan bertemu, sahutku dalam hati.“Duduk mas. Aku ke dalam siapin minum dulu yah.”Mas Adi mengangguk sungkan kemudian dia duduk di dipan bambu yang ada di teras. Aku sendiri segera melesat ke dapur mencari cemilan yang mungkin masih ada di kulkas. Secangkir teh siap kuhidangkan dalam waktu singkat.Selesai menyiapkan minuman, aku langsung beranjak ke depan rumah. Mas Adi terlihat sibuk dengan gawainya namun kemudian beralih padaku saat aku duduk di hadapannya.“Harusnya nggak usah repot-repot Mel.”“Ini nggak repot kok. Nggak sampai lima menit kan?”Mas Adi tersenyum manis sekali sambil mengangguk.Selesai menyicipi tehnya, mas Adi duduk tegak dan terlihat tegang. Aku sendiri jadi ikut tegang karena dia tegang.Humm sepertinya kalimatnya ambigu yah.“Soal kita dirazia itu, aku minta maaf ya Mel.”“Heh? Kenapa mas yang minta maaf?” tanyaku bingung. Soalnya setelah hari itu, kami tidak membahas hal itu sama sekali. Bahkan dari pihak Jaka maupun Eko yang punya ide untuk menyelenggarakan acara tersebut sama sekali tidak ada ungkapan rasa bersalah sama sekali.Lagi pula kami semua dilepaskan karena tidak bersalah. Kecuali Rian dan Bayu yang ketahuan minum-minuman keras sebelum berencana ikut ke acara.“Iya....karena malam itu aku yang kasih ide buat kumpul di parkiran diskotik.”Aku cukup terkejut mendengarnya. Tapi entah kenapa, aku tidak marah mengetahui hal itu.“Kita lagi apes aja waktu itu.”“Iya. Mungkin sih,” jawabnya sambil tertunduk.“Udah jangan terlalu dipikirin. Yang penting kita selamat.”“Iya yah. Kayaknya aku yang terlalu mikirin kamu.”“Hah?”Tadi aku nggak salah dengar kan? Mana Mas Adi juga senyum-senyum sendiri lagi. Apa dia lagi bercanda?“Assalamualaikum!”Ibu pulang dari pasar. Menyusul bapak yang tengah menenteng plastik belanjaan ibu. Melihat ada tamu yang datang, bapak langsung pasang wajah jutek.“Waalaikum salam. Pak, ini temen.”Aku langsung kenalkan mas Adi sebelum bapak berbasa-basi untuk bertanya. Kumis bapak langsung berdiri. Bapak sudah siap berakting sangar ketika ada teman cowok yang datang ke rumah.Dasar ih, bapak!“Saya Adi pak.”“Anak mana kamu?” tanya bapak sambil menerima Salim darinya.“Anak simpang bengkel pak.”“Bapakmu kerja apa?”“Ish bapak. Baru ketemu udah nanyak bapaknya kerja apa,” omelku.“Ini urusan laki-laki. Sana masuk. Siapa yang suruh berduaan di rumah?”Aku hendak mengomel lagi tapi lenganku sudah ditarik oleh ibu ke dalam. Untungnya tidak jadi aku beranjak karena ada suara salam lainnya yang datang.Ini hari Minggu kan? Kenapa banyak tamu sih? Omelku lagi dalam hati.“Assalamualaikum —““Waalaikumsalam, oh pak Aiman. Hari Minggu kerja?”Aku melongok tak percaya. Terjadi diskriminasi di sini. Mas Adi disambut dengan jutek, sedangkan Om sompret itu disambut semringah nan bangga. Ternyata harta dan tahta itu memang berpengaruh yah.Seperti dugaanku, mas Adi langsung kaget melihat kedatangan om Aiman dan anaknya Gala. Apalagi si Gala juga datang-datang langsung memelukku seperti ibunya sendiri.“Kak Mela ikut Gala jalan-jalan yuk.”“Jalan kemana?”“Gini, tadi pagi saya pengen ajak Gala jalan-jalan ke kebun binatang. Gala mau, tapi dia maksa buat ajak kamu juga.”Dengan cepat aku menjawab, “Nggak bisa. Aku mau jalan sama temen.”Muka om Aiman langsung berubah. Terserah dia mau bilang apa, kali ini aku nggak mau jadi babunya. Aku ingin kebebasan!“Sama siapa?”“Tuh, sama mas Adi. Iya kan mas?”Aku berharap mas Adi mengiyakan. Karena sebenarnya aku cuma mengarang bebas agar bisa terhindar dari ajakan mendadak jalan-jalan bareng ini.Bapak kembali ketus, ibu bengong sendiri di depan pintu. Om Aiman terlihat sedang memantau sedangkan mas Adi masih loading.Say yes mas! Say yes!“Iya. Boleh kan, om?” ujar mas Adi yang langsung berdiri di hadapan bapak untuk meminta ijin.Yes! Berhasil!!Aku bersorak-sorai dalam hati melihat om Aiman tak berkutik kali ini. Karena aku tetap ngotot untuk keluar, bapak pun mengijinkan. Itupun hanya sebentar.Tak apalah, yang penting aku tidak perlu terlibat dalam acara jalan-jalan mendadak tersebut. Bisa dibayangkan bagaimana tertekannya aku nanti.“Maaf ya Gala, kakak nggak bisa jalan-jalan sama Gala hari ini. Lain waktu yah.”Gala tadinya terlihat murung. Tapi setelah kusemangati dan meminta maaf tulus padanya seperti tadi, wajah sedihnya telah pergi entah kemana. Gala menyambut dan mencium punggung tanganku. Ia lalu menerima dengan pasrah kecupan yang kuberikan di pipinya saat aku akan beranjak keluar dengan mas Adi.Papanya terlihat cuek. Tapi aku tahu dia sedang dongkol alias kesal. Bodo amat. Kali ini dia tidak bisa semena-mena.“Janji yah lain waktu kak Mel mau pergi sama Gala.”Aku mengacak rambut anak itu gemas, “Iya. Janji.”Tiba-tiba jadi sedih karena aku sendiri nggak tahu kapan bisa menepati janji itu dengan Gala. Sebentar lagi pun, aku juga harus ke Jakarta untuk kuliah. Dan anak ini terlihat tulus berharap padaku untuk merealisasikan janji yang kuucapkan padanya.Aah! Kenapa aku jadi dilema?“Nanti kita sering jalan-jalan ya pa kalau papa jadi bawa kak Mel.”Hah? Apa? Apa-apaan tuh?“Gala....jangan bilang dulu —“ cegah papanya. Om Aiman juga memasang wajah panik.Aku menaruh curiga pada om Aiman. Ada yang sedang dirahasiakan dari mereka berdua.“Bawa kak Mela kemana?”sahut ibu yang ternyata juga dengar apa yang dikatakan anak ganteng ini.Dengan mulut lemasnya dia berkata di depan semua orang, “Bawa kak Mel ke rumah Oma, biar kak Mel jadi mama Gala.”Hah?What?!Perdebatan diantara keduanya masih berlanjut. Aku dan Gala memilih diam sambil mendengarkan suamiku dan mantan istrinya saling membahas masa lalu.“Enggak bisa. Kamu nggak bisa ikut.”“Kenapa nggak boleh sih, Mas? Kalau kalian pergi, terus aku gimana? Aku kan mau main bareng Gala hari ini.”Yeu…makannya ngasih kabar. Biar situ nggak sia-sia datang ke sini, batinku.“Makannya kamu ngasih kabar dulu. Jadi kamu nggak sia-sia datang ke sini,” tukas Aiman dengan nada tegas.Eh eh…..tumben kita kompak?“Ya….aku kan mau kasih surprise ke anak kita. Lagian kalau aku ikut juga nggak akan ganggu kok. Anggep saja aku nggak ada.” Susan masih bersikeras dengan kemauannya.Dia sengaja menekan kata ‘anak kita’ sambil menoleh padaku. Tak sengaja pula kuputar bola mataku – jengah padanya setelah mendengar janda pirang satu itu tengah tebar pesona. Entahlah. Aku menganggapnya seperti itu. Mungkin karena sesama wanita yah jadi aku bisa membaca tingkah lakunya yang tak biasa.Susan berdandan dengan supe
“Mama udah sehat?” tanya Gala begitu ia keluar dari kamarnya.Dengan piyama dinasaurus hijau kesukaannya, Gala datang memelukku yang sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga kecil ini. Lebih tepatnya sih memanaskan makanan yang kemarin dibawa ibu mertua dan kakak ipar.“Lumayan. Gala sikat gigi dulu sana, habis itu bangunin papa terus kita sarapan.”“Papa sama mama udah nggak berantem, kan?” tanya Gala dengan tatapan memelas. Aih…apa dia masih kepikiran soal kemarin? Untung saja Gala nggak cerita soal pertengkaran kami pada Oma dan tantenya kemarin. Kalau tidak, mungkin kami sudah di sidang selama berjam-jam.Aku terdiam mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir mungilnya itu. Well….aku tak bisa bilang bahwa kami sudah baik-baik saja. Justru tadi malam terjadi hal yang membuatku tercengang sampai-sampai om sompret itu ingin kutelan hidup-hidup.Setelah kejadian tersedak itu, Aiman mulai bertingkah aneh. Atau mungkin sebenarnya sudah aneh sejak aku sakit beberapa hari yang lalu. Ai
Note : Maaf ya gak bisa tepati janji buat double up. Karena aku juga nulis di tempat lain dan itu keteteran. Jadi aku update sehari sekali aja yah. Mianhe===Siapa yang tidak terkejut setelah mendengar pengakuan Aiman tentang status kami?Bagai petir di siang bolong, aku sumpahin giginya Aiman ompong!Tanpa babibu, aku langsung mendorong Aiman menjauh dari pembicaraan ini. Tapi apalah daya, tenagaku tak cukup kuat untuk mendorongnya yang memiliki tubuh atletis bak binaragawan yang pernah ia pamerkan padaku di malam pertama kami tinggal bersama.Akhirnya….aku hanya bisa misuh-misuh padanya sambil menyipitkan mata.“Mau kamu apa sih! Lagi-lagi keluar dari perjanjian!”“Perjanjian apa?” balas Aiman ikut berbisik.“Kan aku ngasih syarat ke kamu….jangan sampai status aku terbongkar di kampus!““Mel,” panggil kak Rendi yang tanpa sadar sudah kubuat seperti emping kering karena kelamaan dijemur.Tanpa sadar aku sudah menatap kak Rendi dengan pandangan iba, “Kak! Ini tuh –““Kamu nggak usah
Setelah berbulan-bulan di Jakarta, baru kali ini aku sakit.Ibu bilang, badanku ini penuh dengan zat besi, kalsium, vitamin dan segala macam karena ketangguhanku yang tak mudah sakit sejak kecil. Di saat anak-anak dulu sakit berjamaah terserang demam, cacar, campak dan segala macam, aku malah sehat walafiat karena imun yang kuat. Mungkin pernah beberapa kali kurang enak badan, namun pada akhirnya aku pasti lekas sembuh sampai tak perlu pergi ke klinik.Mungkin musim dan udara di Jakarta kurang cocok denganku. Buktinya… aku terserang penyakit yang bernama meriang hampir selama dua hari.Aku terserang batuk dan juga demam. Alhasil, aku tak bisa melakukan rutinitas seperti biasa termasuk menyiapkan keperluan Gala dan bapaknya.KLONTANG!Suara nyaring dari dapur terdengar begitu jelas. Aku yang berada di dalam kamar sambil selimutan pun terpaksa harus bangun karena suara berisik yang sejak tadi terdengar di area dapur.Itu bapak sama anak lagi eksperimen apa sih di dapur? Ngerakit bom kal
“Pacar? Emang kamu udah punya pacar?”Oooh! Ngeremehin ane rupanya?“Ya ada dong! Emang kamu aja yang boleh pacaran sama si tepos?”Aiman menaikkan sebelah alisnya.“Baru beberapa bulan kuliah, jangan pacaran dulu! Nanti aku laporin ke bapak kamu!”“Ishh mentang-mentang polisi mainnya lapor-laporan. Aku juga bisa…laporin kamu ke mama!”Aiman mulai komat-kamit seperti mbah dukun. Daripada aku semakin kesal karena terus menghadapinya, akupun beranjak pergi sambil menutup pintu cukup kencang di hadapannya. Tak lama Aiman menyusul sambil bertolak pinggang.“Mel! Saya belum selesai bicara!“Aku mengabaikannya dengan terus berjalan keluar rumah. Terlihat di luar pagar, kak Rendi menungguku muncul dengan senyuman yang selalu terlihat tulus daripada om sompret yang ada di belakangku itu. Dengan mobil antiknya, kak Rendi menghampiriku untuk membawakan tas ransel yang cukup padat isinya itu.“Kayak mau minggat aja Mel,” celetuknya yang sama persis seperti ucapan om sompret.“Kok kalimat kalian
Aiman keluar dari mobil setelah memutarinya.“Gala –““Oh….jadi ini tugas pentingnya sampai lupa buat jemput anak?”Mendengar ocehanku, Aiman menepuk keningnya sambil berlutut di depan anaknya untuk meminta maaf.“Maafin papa yah. Papa lupa dan hp papa lowbet lupa di cas.”“Hp mama juga lowbet, tapi mama inget Gala,” balas Gala yang membuatku cukup tercengang. Aku pikir Gala bukan anak yang suka membalas ucapan papanya. Ternyata dia cukup cerdas untuk menjawab.Bagus Gala! Marahin aja papa kamu itu!“Gala – maafin papa yah.”Gala memalingkan wajahnya sambil melipat kedua tangannya di dada. Selama Aiman tengah membujuk putra semata wayangnya, aku tengah awasi betina bernama Raline yang pernah meremehkanku karena tak pantas menjadi istri Aiman. Di dalam mobil ia terus berdiam diri sambil memperhatikan ayah dan anak tersebut. Sesekali pandangan kami bertemu namun dengan cepat dia memalingkan wajahnya.Dih! Pant*t tepos aja sok banget! Omelku dalam hati.“Makannya inget anak sama istri di